Allah Subhanahu Wa Ta'ala Berfirman :
مَثَلُ الْجَنَّةِ الَّتِي وُعِدَ الْمُتَّقُونَ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا
الأنْهَارُ أُكُلُهَا دَائِمٌ وَظِلُّهَا تِلْكَ عُقْبَى الَّذِينَ
اتَّقَوْا وَعُقْبَى الْكَافِرِينَ النَّارُ
"Perumpamaan surga yang dijanjikan kepada orang-orang yang takwa ialah
(seperti taman); mengalir sungai-sungai di dalamnya; buahnya tak
henti-henti sedang naungannya (demikian pula). Itulah tempat kesudahan
bagi orang-orang yang bertakwa, sedang tempat kesudahan bagi orang-orang
kafir ialah neraka". (QS. Ar Ra'd : 35)
Yaitu sungai-sungai yang mengalir di sekitar daerah dan sisi-sisinya,
menuruti apa yang dikehendaki oleh penduduknya. Sungai-sungai itu
mengalirkan air surgawi yang berlimpah, dan penduduk surga dapat
mengalirkannya ke arah mana yang mereka kehendaki. Makna ayat ini
semisal dengan yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya:'
{مَثَلُ الْجَنَّةِ الَّتِي وُعِدَ الْمُتَّقُونَ فِيهَا أَنْهَارٌ مِنْ
مَاءٍ غَيْرِ آسِنٍ وَأَنْهَارٌ مِنْ لَبَنٍ لَمْ يَتَغَيَّرْ طَعْمُهُ
وَأَنْهَارٌ مِنْ خَمْرٍ لَذَّةٍ لِلشَّارِبِينَ وَأَنْهَارٌ مِنْ عَسَلٍ
مُصَفًّى وَلَهُمْ فِيهَا مِنْ كُلِّ الثَّمَرَاتِ وَمَغْفِرَةٌ مِنْ
رَبِّهِمْ كَمَنْ هُوَ خَالِدٌ فِي النَّارِ وَسُقُوا مَاءً حَمِيمًا
فَقَطَّعَ أَمْعَاءَهُمْ}
(Apakah) perumpamaan (penghuni) surga yang dijanjikan kepada orang-orang
yang bertakwa yang di dalamnya ada sungai-sungai dari air yang tiada
berubah rasa dan baunya, sungai-sungai dari air susu yang tiada berubah
rasanya, sungai-sungai dari khamr (arak) yang lezat rasanya bagi
peminumnya dan sungai-sungai dari madu yang disaring; dan mereka
memperoleh di dalamnya segala macam buah-buahan dan ampunan dari Tuhan
mereka. (Muhammad: 15), hingga akhir ayat.
Firman Allah Swt.:
{أُكُلُهَا دَائِمٌ وَظِلُّهَا}
buahnya tak henti-henti sedang naungannya (demikian pula). (Ar-Ra'd: 35)
Maksudnya, di dalamnya terdapat buah-buahan, makanan-makanan, dan
minuman-minuman yang tiada henti-hentinya dan tidak pernah habis.
Di dalam kitab Sahihain disebutkan hadis Ibnu Abbas tentang masalah
salat gerhana matahari, yang di dalamnya antara lain disebutkan bahwa:
قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، رَأَيْنَاكَ تَنَاوَلْتَ شَيْئًا فِي
مَقَامِكَ هَذَا، ثُمَّ رَأَيْنَاكَ تَكعْكعت فَقَالَ: "إِنِّي رَأَيْتُ
الْجَنَّةَ -أَوْ: أُرِيتُ الْجَنَّةَ -فَتَنَاوَلْتُ مِنْهَا عُنْقُودًا،
وَلَوْ أَخَذْتُهُ لَأَكَلْتُمْ مِنْهُ مَا بَقِيَتِ الدُّنْيَا".
mereka (para sahabat) bertanya, "Wahai Rasulullah, kami melihat engkau
meraih sesuatu dari tempatmu itu, kemudian kami lihat engkau mundur."
Maka Rasulullah Saw. menjawab: Sesungguhnya aku melihat surga —atau aku
melihat surga— lalu aku berniat memetik setangkai anggur darinya.
Seandainya aku benar-benar memetiknya, niscaya kalian akan makan
sebagian darinya selama dunia ini masih ada.
قَالَ الْحَافِظُ أَبُو يَعْلَى: حَدَّثَنَا أَبُو خَيْثَمَةَ، حَدَّثَنَا
عَبْدُ اللَّهِ بْنُ جَعْفَرٍ، حَدَّثَنَا عُبَيْدُ اللَّهِ، حَدَّثَنَا
أَبُو عَقيل، عَنْ جَابِرٍ قَالَ: بَيْنَمَا نَحْنُ فِي صَلَاةِ الظُّهْرِ،
إِذْ تَقَدَّمُ رسولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
فَتَقَدَّمْنَا، ثُمَّ تَنَاوَلَ شَيْئًا لِيَأْخُذَهُ ثُمَّ تَأَخَّرَ.
فَلَمَّا قَضَى الصَّلَاةَ قَالَ لَهُ أُبَيُّ بْنُ كَعْبٍ: يَا رَسُولَ
اللَّهِ، صَنَعْتَ الْيَوْمَ فِي الصَّلَاةِ شَيْئًا مَا رَأَيْنَاكَ
كُنْتَ تَصْنَعُهُ. فَقَالَ: "إِنِّي عُرِضَتْ عَلَيَّ الْجَنَّةُ وَمَا
فِيهَا مِنَ الزَّهْرَةِ وَالنَّضْرَةِ، فَتَنَاوَلْتُ مِنْهَا قِطْفًا
مِنْ عِنَبٍ لِآتِيَكُمْ بِهِ، فَحِيلَ بَيْنِي وَبَيْنَهُ، وَلَوْ
أَتَيْتُكُمْ بِهِ لَأَكَلَ مِنْهُ مِنْ بَيْنِ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ لَا
يَنْقُصونَه".
Al-Hafiz Abu Ya'la mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu
Khaisamah, telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnu Ja'far, telah
menceritakan kepada kami Ubaidillah, telah menceritakan kepada kami Abu
Uqail, dari Jabir yang mengatakan, "Ketika kami dalam salat Lohor,
tiba-tiba Rasulullah Saw. maju ke depan, kemudian Rasulullah Saw. meraih
sesuatu seakan-akan hendak mengambilnya, tetapi setelah itu beliau
mundur kembali. Setelah salat selesai, Ubay ibnu Ka'b bertanya kepada
beliau, 'Wahai Rasulullah, pada hari ini engkau telah melakukan sesuatu
dalam salat yang belum pernah kami lihat engkau melakukannya sebelum
itu.' Maka Rasulullah Saw. menjawab: 'Sesungguhnya surga ditampilkan
kepadaku dan semua bunga serta pohonnya yang hijau, maka aku bermaksud
hendak memetik setangkai buah anggur darinya untuk diberikan kepada
kalian, tetapi antara aku dan buah anggur ada penghalang. Seandainya aku
dapat mendatangkannya buat kalian, tentulah semua makhluk yang ada di
antara langit dan bumi dapat memakannya tanpa menguranginya'.”
Imam Muslim meriwayatkan melalui hadis Abuz Zubair, dari Jabir yang berkedudukan sebagai syahid (bukti) bagi sebagiannya.
عَنْ عُتْبَةَ بْنِ عَبْدٍ السُّلَمِيِّ: أَنَّ أَعْرَابِيًّا سَأَلَ
النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ الْجَنَّةِ، فَقَالَ:
فِيهَا عِنَبٌ؟ قَالَ: "نَعَمْ". قَالَ: فَمَا عِظَم الْعُنْقُودِ؟ قَالَ:
"مَسِيرَةُ شَهْرٍ لِلْغُرَابِ الْأَبْقَعِ وَلَا يَفْتُرُ"
Dari Atabah ibnu Abdus Salma, disebutkan bahwa ada seorang Badui
bertanya kepada Nabi Saw. tentang surga. Ia bertanya, "Apakah di dalam
surga ada buah anggur?" Nabi Saw. menjawab, "Ya." Lelaki Badui bertanya,
"Sebesar apakah tangkai buah anggurnya?" Rasulullah Saw.
menjawab,"Besarnya sama dengan perjalanan satu bulan bagi burung gagak
yang hitam legam (bila terbang) tanpa berhenti."
Hadis ini merupakan riwayat Imam Ahmad.
قَالَ الطَّبَرَانِيُّ: حَدَّثَنَا مُعَاذُ بْنُ الْمُثَنَّى، حَدَّثَنَا
عَلِيُّ بْنُ الْمَدِينِيِّ، حَدَّثَنَا رَيْحَانُ بْنُ سَعِيدٍ، عَنْ
عُبَادَةَ بْنِ مَنْصُورٍ، عَنْ أَيُّوبَ، عَنْ أَبِي قِلابة، عَنْ أَبِي
أَسْمَاءَ، عَنْ ثَوْبان قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "إِنَّ الرَّجُلَ إِذَا نَزَعَ ثَمَرَةً مِنَ
الْجَنَّةِ عَادَتْ مَكَانَهَا أُخْرَى".
Imam Tabrani mengatakan, telah menceritakan kepada kami Mu'az ibnul
Musanna, telah menceritakan kepada kami Ali ibnul Madini, telah
menceritakan kepada kami Raihan ibnu Sa'id, dari Abbad ibnu Mansur, dari
Ayyub, dari Abu Qilabah, dari Abu Asma, dari Sauban yang mengatakan
bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda:Sesungguhnya seseorang apabila
memetik sebiji buah dari surga, maka tumbuh lagi buah lain yang
menggantikan kedudukannya.
Dari Jabir ibnu Abdullah, disebutkan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda:
"يَأْكُلُ أَهْلُ الْجَنَّةِ وَيَشْرَبُونَ، وَلَا يَمْتَخِطُونَ وَلَا
يَتَغَوَّطُونَ وَلَا يَبُولُونَ، طَعَامُهُمْ جُشَاء كَرِيحِ الْمِسْكِ،
وَيُلْهَمُونَ التَّسْبِيحَ وَالتَّقْدِيسَ كَمَا يُلْهَمُونَ النَّفَسَ".
Penduduk surga makan dan minum tanpa mengeluarkan ingus, tanpa buang air
besar dan tanpa buang air kecil, makanan mereka(dikeluarkan melalui)
bersendawa yang baunya wangi seperti minyak kesturi, dan mereka diilhami
untuk bertasbih dan bertaqdis (menyucikan Allah) sebagaimana mereka
diilhami untuk bernapas.
Hadis ini adalah riwayat Imam Muslim.
Imam Ahmad dan Imam Nasai meriwayatkan:
مِنْ حَدِيثِ الْأَعْمَشِ، عَنْ ثُمَامَةَ بْنِ عُقْبَةَ سَمِعْتُ زَيْدَ
بْنَ أَرْقَمَ قَالَ: جَاءَ رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ فَقَالَ: يَا
أَبَا الْقَاسِمِ، تَزْعُمُ أَنَّ أَهْلَ الْجَنَّةِ يَأْكُلُونَ
وَيَشْرَبُونَ؟ قال: نَعَمْ، وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ، [إِنَّ
الرَّجُلَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ] لَيُعْطَى قُوَّةَ مِائَةِ رَجُلٍ فِي
الْأَكْلِ وَالشُّرْبِ وَالْجِمَاعِ وَالشَّهْوَةِ". قَالَ: فَإِنَّ
الَّذِي يَأْكُلُ وَيَشْرَبُ تَكُونُ لَهُ الْحَاجَةُ، وَلَيْسَ فِي
الْجَنَّةِ أَذًى؟ قَالَ: "حَاجَةُ أَحَدِهِمْ رَشْحٌ يَفِيضُ مِنْ
جُلُودِهِمْ، كَرِيحِ الْمِسْكِ، فَيَضْمُرُ بَطْنُهُ".
Melalui hadis Al-A'masy, dari Tamam ibnu Uqbah; ia pernah mendengar Zaid
ibnu Arqam mengatakan bahwa seorang lelaki dari kalangan ahli kitab
pernah datang, lalu bertanya, "Wahai Abul Qasim, engkau menduga bahwa
penduduk surga makan dan minum?" Rasulullah Saw. menjawab: Ya, demi
Tuhan yang jiwa Muhammad berada di dalam genggaman kekuasaan-Nya,
sesungguhnya seseorang dari penduduk surga benar-benar diberi kekuatan
seratus orang lelaki dalam hal makan, minum, bersetubuh, dan syahwat
(berahi). Lelaki ahli kitab bertanya, "Sesungguhnya orang yang makan dan
minum itu tentunya akan membuang hajat, sedangkan di dalam surga tidak
terdapat kotoran." Rasulullah Saw. menjawab: Hajat seseorang dari mereka
berupa keringat yang keluar dari kulit mereka, baunya wangi seperti
minyak kesturi, lalu perut mereka mengempes (mengecil). (Riwayat Ahmad
dan Nasai)
قَالَ الْحَسَنُ بْنُ عَرَفَةَ: حَدَّثَنَا خَلَفُ بْنُ خَلِيفَةَ، عَنْ
حُمَيْدٍ الْأَعْرَجِ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الْحَارِثِ، عَنْ عَبْدِ
اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: قَالَ لِي رَسُولُ
اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "إِنَّكَ لَتَنْظُرُ إِلَى
الطَّيْرِ فِي الْجَنَّةِ، فَيَخِرُّ بَيْنَ يَدَيْكَ مَشْوِيًّا
Al-Hasan ibnu Arafah mengatakan, telah menceritakan kepada kami Khalaf
ibnu Khalifah, dari Humaid ibnul A'raj, dari Abdullah ibnul Haris, dari
Abdullah ibnu Mas'ud r.a. yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. pernah
bersabda kepadanya:Sesungguhnya kamu benar-benar memandang seekor burung
di surga, maka burung itu jatuh terjungkal di hadapanmu dalam keadaan
telah terpanggang (siap untuk dimakan).
Di dalam sebagian hadis disebutkan bahwa apabila seseorang telah
memakannya, maka burung panggang itu kembali berujud burung dan terbang
seperti sediakala dengan seizin Allah Swt.
{وَفَاكِهَةٍ كَثِيرَةٍ لَا مَقْطُوعَةٍ وَلا مَمْنُوعَةٍ}
dan buah-buahan yang banyak, yang tidak berhenti (buahnya) dan tidak terlarang mengambilnya. (Al-Waqi'ah: 32-33)
Dan firman Allah Swt.:
{وَدَانِيَةً عَلَيْهِمْ ظِلالُهَا وَذُلِّلَتْ قُطُوفُهَا تَذْلِيلا}
Dan naungan (pohon-pohon surga itu) dekat di atas mereka dan buahnya dimudahkan memetiknya semudah-mudahnya. (Al-Insan: 14)
Demikian pula naungannya, tidak pernah hilang dan tidak pernah surut, seperti yang disebutkan dalam firman Allah Swt.:
{وَالَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ سَنُدْخِلُهُمْ جَنَّاتٍ
تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا لَهُمْ
فِيهَا أَزْوَاجٌ مُطَهَّرَةٌ وَنُدْخِلُهُمْ ظِلا ظَلِيلا}
Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amalan-amalan yang saleh,
kelak akan Kami masukkan mereka ke dalam surga yang di dalamnya mengalir
sungai-sungai; kekal mereka di dalamnya; mereka di dalamnya mempunyai
istri-istri yang suci, dan Kami masukkan mereka ke tempat yang teduh
lagi nyaman. (An-Nisa: 57)
Di dalam kitab Sahihain telah disebutkan sebuah hadis melalui berbagai jalur, bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda:
"إِنَّ فِي الْجَنَّةِ شَجَرَةً، يَسِيرُ الرَّاكِبُ الْمُجِدُّ الْجَوَادَ
الْمُضَمَّرَ السَّرِيعَ فِي ظِلِّهَا مِائَةَ عَامٍ لَا يَقْطَعُهَا"،
ثُمَّ قَرَأَ: {وَظِلٍّ مَمْدُودٍ}
Sesungguhnya di dalam surga terdapat sebuah pohon, seorang pengendara
yang tangguh memacu kuda balapnya dengan cepat di bawah naungannya
selama seratus tahun (tanpa berhenti) masih belum melampauinya. Kemudian
Rasulullah Saw. membacakan firman-Nya: dan naungan yang terbentang
luas. (Al-Waqi'ah: 30)
Allah Swt. sering kali menyebutkan gambaran surga dan neraka secara
beriringan, agar surga diingini dan neraka dihindari. Karena itulah
setelah Allah menyebut gambaran tentang surga dalam ayat ini, maka Dia
mengiringinya dengan firman-Nya:
{تِلْكَ عُقْبَى الَّذِينَ اتَّقَوْا وَعُقْبَى الْكَافِرِينَ النَّارُ}
Itulah tempat kesudahan bagi orang-orang yang bertakwa, sedangkan tempat
kesudahan bagi orang-orang kafir ialah neraka. (Ar-Ra'd: 35)
Sama halnya dengan yang disebutkan di dalam firman-Nya:
{لَا يَسْتَوِي أَصْحَابُ النَّارِ وَأَصْحَابُ الْجَنَّةِ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ هُمُ الْفَائِزُونَ}
Tiada sama penghuni-penghuni neraka dengan penghuni-penghuni surga,
penghuni-penghuni surga itulah orang-orang yang beruntung. (Al-Hasyr:
20)
Bilal ibnu Sa'd—khatib kota Dimasyq—mengatakan dalam salah satu
khotbahnya: Hai hamba-hamba Allah, bukankah telah datang kepada kalian
juru pewarta yang mewartakan kepada kalian bahwa sesuatu dari ibadah
kalian diterima dari kalian atau sesuatu dari kesalahan kalian diampuni
bagi kalian? Maka apakah kalian mengira bahwa sesungguhnya Kami
menciptakan kalian secara main-main (saja), dan bahwa kalian tidak akan
dikembalikan kepada Kami? (Al-Mu’minun: 115) Demi Allah, seandainya
disegerakan bagi kalian pahala di dunia, niscaya kalian semua akan malas
mengerjakan hal-hal yang difardukan kepada kalian, atau kalian menjadi
orang yang cinta taat kepada Allah demi pahala duniawi kalian dan kalian
tidak akan bersaing (berlomba) dalam meraih surga. buahnya tak
henti-henti. (Ar-Ra'd: 35)
Demikianlah menurut riwayat Ibnu Abu Hatim.
Emas adalah logam istimewa. Dialah mata uang pertama dan mata uang yang
sesungguhnya. Karena, dia bisa menjadi standar nilai suatu barang
ataupun jasa secara konstan.
Emas juga memiliki keistimewaan tak bisa berubah dan tak bisa berkarat.
Itulah maka emas disebut sebagai logam mulia. Nabi SAW bersabda,
مَثَلَ الْمُؤْمِنِ مَثَلَ سَبِيْلَةِ الذَّهَبِ إِنَّ نَفَخَتْ عَلَيْهَا اَحَمَرَتْ وَإِنَّ وَزَنَتْ لَمْ تَنْقُصْ.
"Perumpamaan orang mukmin (sejati) adalah seperti emas. Emas itu bila
dibakar tak akan berkurang dan tak akan berubah." (HR Baihaqi).
Dalam kehidupan ini banyak tantangan, ujian, dan cobaan. Orang bisa saja
jatuh bangun diempas badai godaan dunia. Banyak orang yang pagi tampil
sangat baik, sorenya bergelimang dosa dan kemaksiatan. Sepanjang siang
tampil sebagai sosok pemimpin yang berpidato berapi-api, malamnya bisa
tenggelam dalam dekapan maut minuman keras, dansa, dan gelora syahwat.
Dulu dikenal sangat alim, ternyata kini menjadi zalim. Dulu dikenal
sangat pemurah, sekarang berubah menjadi pemarah. Dulu dikenal rajin ke
tempat ibadah, sekarang rajin ke tempat pesta wanita. Dulu dikenal
pemalu, tapi kini berubah menjadi tak ada rasa malu.
Manusia mudah sekali berubah-ubah sesuai dengan tempat dan kondisi di
mana dia berada. Saat berkumpul dengan orang-orang baik, dia bisa
menjadi tiba-tiba baik. Saat berkumpul dengan orang-orang yang buruk,
juga bisa tiba-tiba menjadi buruk.
Kondisi pun sering kali memengaruhi manusia. Ada orang yang ketika kaya
rajin beribadah dan pandai bersyukur kepada Allah, ternyata suatu ketika
diuji dengan kebangkrutan harta lalu jatuh menjadi papa, tak bisa
bersabar hingga akhirnya tak mau lagi ibadah. Dan, ada yang sebaliknya.
Ketika masih miskin sangat khusyuk berdoa dan rajin ke masjid, tapi
tatkala kaya tak lagi bisa berdoa dan tak mau lagi ke masjid beralasan
karena sibuk.
Manusia-manusia yang suka berubah-ubah seperti itu adalah
manusia-manusia buruk, SDM yang berkualitas rendah. Orang yang bisa baik
ketika kaya saja adalah buruk. Orang yang bisa baik hanya di saat
miskin juga buruk. Orang yang bisa baik hanya di saat berkumpul dengan
orang-orang baik adalah buruk.
Manusia yang unggul adalah manusia yang kepribadiannya laksana emas, di
kala sulit baik dan di kala mudah juga baik. Berkumpul dengan
orang-orang yang baik dia baik dan berkumpul dengan orang-orang yang
buruk dia tetap baik.
Seperti emas, tak pernah berkarat, tak pernah berubah meski dibakar, dan
tak bisa menjadi kurang. Emas tetap emas, sekalipun jatuh di comberan
atau tempat sampah. Itulah orang beriman sejati. Bukan hanya beriman di
mulut. Bukan beriman semata karena keturunan. Bukan juga beriman karena
orang-orang semua mengaku beriman.
Orang yang benar-benar beriman adalah memiliki kepribadian yang kokoh.
Ujian apa pun yang datang kepadanya tak pernah membuat ia berubah.
Dicaci atau dipuji tetap takkan menyurutkan langkahnya menegakkan
kebenaran. Datang ujian jabatan atau kekayaan tak membuatnya lupa kepada
Allah.
Bergumul di lingkungan para penyamun, ia pun tak ikut menjadi penyamun.
Di manapun dan dalam kondisi apa pun dia tetap tegak berdiri, berbicara,
bertindak dan berakhlak sebagai orang yang beriman. Yaitu, berbuat dan
menebar kebaikan.
Tak peduli, kebaikan itu tumbuh dan diterima oleh orang banyak atau kering dan ditolak.
إِنَّمَا نُطْعِمُكُمْ لِوَجْهِ اللَّهِ لَا نُرِيدُ مِنْكُمْ جَزَاءً
وَلَا شُكُورًا (9) إِنَّا نَخَافُ مِنْ رَبِّنَا يَوْمًا عَبُوسًا
قَمْطَرِيرًا (10) فَوَقَاهُمُ اللَّهُ شَرَّ ذَلِكَ الْيَوْمِ
وَلَقَّاهُمْ نَضْرَةً وَسُرُورًا (11) وَجَزَاهُمْ بِمَا صَبَرُوا جَنَّةً
وَحَرِيرًا (12)
"Sesungguhnya, kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan
keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak
pula (ucapan) terima kasih. Sesungguhnya kami takut akan (azab) Tuhan
kami pada suatu hari yang (di hari itu) orang-orang bermuka masam penuh
kesulitan. Maka Tuhan memelihara mereka dari kesusahan hari itu, dan
memberikan kepada mereka kejernihan (wajah) dan kegembiraaan hati. Dan
Dia memberi balasan kepada mereka karena kesabarannya (berupa) surga dan
(pakaian) sutra." (al-Insan: 9-12).
Emas tetaplah emas itulah filosofi yang dapat kita ambil. Dimanapun
berada emas itu tetaplah emas. Selalu digunakan dan disenangi banyak
orang. Banyak orang ingin memiliki emas.
Filosofi emas dapat kita pelajari dan kita terapkan dalam kehidupan kita
sehari – hari. Menjadikan diri kita seperti emas membutuhkan proses dan
waktu yang cukup lama. Menempa diri kita menjadi emas membutuhkan
perjuangan serta tantangan yang dapat menimbulkan rasa putus asa. Emas
murni memiliki nilai yang tinggi, namun membutuhkan proses peleburan
berkali – kali di api yang sangat panas agar kita mendapatkan emas
murni.
Menjadikan diri untuk menjadi emas murni merupakan suatu kebanggaan,
karena apabila diri kita sudah menjadi emas, maka tidak akan diragukan
lagi bahwa kita akan selalu dibutuhkan oleh banyak orang.
Karakter atau pribadi emas, yang terlihat indah bukan hanya di mata,
tapi terasa di hati pasti diidam-idamkan banyak orang. Pribadi seperti
itu tidak hadir dalam waktu semenit dua menit ketika kita mengubahnya.
Ada banyak jalan, banyak cara, dan banyak ujian sehingga pribadi
layaknya emas itu muncul ke permukaan dan menjadi pribadi andalan kita.
Bila kita merasa masih ada yang salah dengan karakter kita, masih ada
yang harus ditempa dengan apa yang sudah kita dapatkan, beberapa hal ini
bisa menjadi acuan kita dalam mengubahnya.
Berawal Dari Sesuatu yang Tidak Berharga
Di mana kita bisa mendapatkan emas? Emas tidak muncul sembarang seperti
rumput di pinggir jalan yang karena sering mengganggu pemandangan karena
terlalu tinggi lalu dibabat habis. Emas juga tidak tumbuh seperti bunga
sehingga begitu hilang bisa muncul lagi lalu setiap tangan bisa
menyentuhnya. Emas ada di lapisan dalam tanah. Mencarinya harus dengan
kerja keras, bahkan superkeras. Tidak langsung mendapat bongkahan, tapi
sedikit demi sedikit saja, bahkan perlu kerja keras dari pagi hingga
petang. Meraih kepribadian seperti emas juga seperti itu.
Pribadi layaknya emas yang disukai banyak orang dan dihargai dengan
penghargaan tinggi, tidak tumbuh secepat jamur. Pengalaman hidup dan
ketangguhan dalam menghadapi segala cobaan yang akan membuatnya
cemerlang. Yakin akan mimpinya dan terus berjuang di tengah cacian juga
pandangan sinis orang lain sama seperti proses penyaringan emas di
sungai. Dipisahkan dari pasir-pasir, disaring lagi, dicari lagi,
berujung pada emas kecil yang bisa dijual dengan harga tinggi.
Jika kita sekarang berada pada posisi diremehkan, direndahkan atau
hal-hal lainnya yang membuat kita merasa memang tidak berharga, ingatlah
proses perjalanan emas. Mimpi kita bisa jadi dianggap sebagai suatu
yang sepele pada saat ini. Tapi bila mimpi itu baik dan berguna, yakin
saja saringan waktu bukan saja akan membuat mimpi itu menjadi nyata,
tapi karakter kita juga menjadi cemerlang seperti emas.
Proses Panjang
Setiap kehidupan memiliki proses. Proses emas sebelum ditemukan hingga
akhirnya ditemukan dan diproses menjadi serpihan kecil emas adalah
proses yang panjang. Proses itu meliputi kesabaran, kerja keras, dan
harapan tidak kenal henti.
Pribadi dengan karakter emas juga bukan pribadi yang sudah mendapatkan
karakter seperti itu karena bawaan lahir. Mereka tidak datang dari
orangtua yang sudah memiliki karakter emas. Tapi mereka menyerap
pelajaran dari karakter orangtua, lingkungan di sekeliling mereka.
Banyak Orang sukses dengan karakter emasnya sebab ia mengalami masa
pahit dan manis yang dilaluinya. Karakter emasnya begitu kuat menarik
banyak simpati dari sesama. Kita, tentu saja bisa seperti itu. Dengan
jalan kita sendiri, ujian kita sendiri, juga keyakinan kita sendiri
untuk mengolah segala hambatan yang ada di hadapan kita.
Melalui Proses Cetakan
Untuk menjadikan emas sebagai bahan perhiasan yang disukai, proses yang
harus dilaluinya adalah dengan mencetak emas sesuai dengan pesanan.
Cetakan untuk karakter emas kita adalah bayangan kita tentang diri kita
sendiri. Ingin diarahkan seperti apa kita ini?
Apakah kita ingin tercetak sebagai seorang sukses yang baik hati dan itu
menjadi poin emas karakter kita? Atau kita ingin dicetak sebagai
seorang yang pintar yang tidak bosan-bosannya membagi ilmu? Atau kita
ingin tampil sebagai seorang bintang yang membuat orang lain
terinsipirasi dengan kita? Bayangkan cetakan yang ingin kita masuki
untuk membentuk karakter kita. Membayangkannya akan lebih mudah sehingga
mimpi kita tidak melebar terlalu jauh.
Melewati Proses Pembakaran
Tembikar menjadi lebih indah dan kuat setelah masuk tungku pembakaran.
Emas menjadi perhiasan ketika ia sudah masuk ke dalam pembakaran juga.
Menghasilkan karakter seindah emas juga seperti itu. Tungku pembakaran
kita adalah batu bara kehidupan berupa caci maki, dipandang sebelah
mata, ujian hidup, hingga cibiran. Tungku pembakaran itu bukan berasal
dari orang-orang yang mendukung kita. Karena terlalu banyak didukung
juga terkadang melemahkan kita sehingga kita tidak menemukan jati diri
kita sendiri.
Tungku pembakaran kita yang sejati adalah orang-orang yang menyepelekan
mimpi kita, bahkan menganggap mimpi kita adalah mimpi konyol yang bila
pun terwujud tidak akan ada manfaatnya. Berada dalam tungku pembakaran
akan membuat saripati keindahan prinsip hidup kita ke luar. Bisa jadi
kita yang tadinya keras kepala bahkan untuk prinsip yang salah justru
karena masuk dalam tungku pembakaran cacian akan membuat kita menyadari
keras kepala kita harus diarahkan untuk tujuan seperti apa. Masuk dalam
tungku pembakaran kehidupan juga akan membuat kita mampu memahami mana
teman yang akan membawa kita pada kebaikan dan mana teman yang akan
mengarahkan kita pada keburukan.
Emas adalah Emas!
Emas adalah emas yang dijadikan apa saja mendapat harga yang selalu
tinggi dibandingkan dengan besi atau bahkan perak. Kilau emas akan
terlihat bahkan ketika lampu tidak menyinarinya. Itu mungkin yang
membuat emas selalu saja diminati oleh banyak orang. Emas juga selalu
tampak indah dan terlihat jelas ketika ia ditempatkan berdampingan
dengan emas lain atau berdampingan dengan benda lain. Setiap orang akan
mengenalinya. Karakter emas kita akan membuat kita berharga di mata
orang lain dan penghargaan itu mengangkat harga diri kita.
Jika ingin memiliki karakter emas, maka kita harus mulai dari sekarang.
Nah, langkah apa saja yang sudah kita tempuh untuk menempa mentalitas
dan karakter emas dalam diri kita? Yakini dan perjuangkan, maka emas
dalam diri kita akan muncul dengan berbagai potensi yang ada dalam diri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar