Waktu terus berjalan. Ia tak akan pernah berhenti, apalagi mundur. Apa
yang kita rasakan saat ini belum tentu dapat kita rasakan esok hari.
Masa depan adalah misteri.
Namun, segala sesuatu yang akan terjadi di masa depan bisa kita
persiapkan dari sekarang. Yaitu dengan mengumpulkan sedikit demi sedikit
bekal untuk sesuatu yang tak terduga. Semakin banyak bekal kita,
semakin banyak pula kesuksesan yang akan kita raih nantinya.
Kesuksesan yang dimaksud bukanlah kesuksesan di dunia semata, namun juga
di akhirat. Bahkan, itulah masa depan sesungguhnya. Kesuksesan manusia
benar-benar bisa dilihat ketika sudah berada di akhirat. Sekaya apapun,
sepintar apapun, atau sekuasa apapun seseorang di dunia, bila kekal di
neraka, apa gunanya?!
Bukankah kehidupan akhirat adalah kehidupan sebenarnya?! Allah –subhanahu wa ta'ala- berfirman :
وَمَا هَذِهِ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلاَّ لَهْوٌ وَلَعِبٌ وَإِنَّ
الدَّارَ الآخِرَةَ لَهِيَ الْحَيَوَانُ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ (
العنكبوت: 64)
Artinya: "Tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda-gurau dan
permainan saja. Sesungguhnya akhirat itulah kehidupan sebenarnya, jika
saja mereka mengetahui." (QS. Al-'Ankabut : 64)
Sebagian dari kita masih sering mensia-siakan waktu yang kita miliki
selama hidup di dunia ini, dengan melakukan hal-hal yang tidak
bermanfaat. Mungkin sebagian dari kita ada yang berpikir, nanti saja,
kalau sudah menjelang tua baru memperbaiki ibadah kepada Allah. Biasanya
orang menunda amal kebaikan karena lebih mengutamakan dunia dan tidak
mementingkan akhirat. Contohnya, karena kesibukan segala aktifitas
urusan dunia, seseorang jadi sering menunda-nunda kewajiban amal ibadah
atau amal kebaikan.
Padahal hal ini sangat salah, karena kita tidak pernah tahu, sampai
kapan kita akan hidup di dunia ini. Kita tidak bisa memastikan bahwa
kita akan dapat hidup sampai tua nanti. Bisa saja kematian mendatangi
kita disaat kita masih muda belia. Lalu mengapa kita harus menunda-nunda
amal ibadah dan kebaikan?
Ketahuilah setiap tarikan dan desahan nafas kita, saat kita menjalani
waktu demi waktu, adalah merupakan langkah menuju kubur. Dan waktu yang
kita jalani hidup di dunia ini, sebenarnya sangat singkat, karena itu
sangat ruginya kita apabila kita menjalaninya dengan sesuatu yang tidak
berharga. Kita sia-sia kan waktu dan kesempatan hidup di dunia ini,
dengan melakukan hal-hal yang tidak membawa kemaslahatan dunia akhirat
kita.
“Tiada suatu nafas yang terlepas dari kita, melainkan disitu pula ada
takdir Allah yang berlaku atas diri kita.” Karena itu, hendaklah kita
selalu menjaga, agar dalam setiap nafas kita, selalu kita upayakan
dengan sekuat tenaga, agar kita tetap berada dalam keimanan dan ketaatan
pada-Nya, serta jauh dari maksiat dan perbuatan dosa.
Banyak sekali orang yang membuang-buang waktunya hanya untuk hal-hal
yang tidak berguna. Dan kebanyakan dari mereka tidak menyadari bahwa
mereka telah mensia-siakan waktu yang tidak akan mungkin kembali lagi.
Orang yang akan melakukan perjalanan jauh pasti akan menyiapkan
perbekalan yang cukup. Lihatlah misalnya orang yang hendak menunaikan
ibadah haji. Terkadang ia mengumpulkan harta dan perbekalan sekian tahun
lamanya, padahal itu berlangsung sebentar, hanya beberapa hari saja.
Maka mengapa untuk suatu perjalanan yang tidak pernah ada akhirnya
–yakni perjalanan akhirat– kita tidak berbekal diri dengan ketaatan?!
Padahal kita yakin bahwa kehidupan dunia hanyalah bagaikan tempat
penyeberangan untuk sampai kepada kehidupan yang kekal nan abadi yaitu
kehidupan akhirat, di mana manusia terbagi menjadi: ashhabul jannah
(penghuni surga) dan ashhabul jahim (penghuni neraka).
Itulah hakikat perjalanan manusia di dunia ini. Maka sudah semestinya
kita mengisi waktu dan sisa umur yang ada dengan berbekal amal kebaikan
untuk menghadapi kehidupan yang panjang. Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا
قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللهَ إِنَّ اللهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah
setiap diri memerhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok
(akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha
Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Al-Hasyr: 18)
Tidak ada awal dan akhir tahun, yang ada hanyalah umur yang semakin
berkurang. Kenapa sebagian orang lebih girang menyambut awal tahun?
Padahal ulama dahulu begitu sedih jika makin hari terus dilewati, di
mana ajal semakin dekat. Bahkan mereka –para salaf– sampai bersedih jika
waktunya berlalu tanpa amal sholih. Yang mereka terus pikirkan adalah
ajal yang semakin dekat, namun amal sholih yang masih kurang.
Tanda Kebaikan Islam: Meninggalkan Hal yang Tidak Bermanfaat
Menunggu satu waktu saja tanpa amalan, itu sudah membuang-buang waktu.
Karena ingatlah saudaraku bahwa waktu itu amat berharga bagi seorang
muslim. Jika ia benar-benar menjaganya dalam ketaatan pada Allah atau
dalam hal yang bermanfaat, itu menunjukkan kebaikan dirinya. Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,
مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيهِ
“Di antara kebaikan islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak
bermanfaat” (HR. Tirmidzi no. 2317, Ibnu Majah no. 3976. Syaikh Al
Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).
Jika Islam seseorang itu baik, maka sudah barang tentu ia meninggalkan
pula perkara yang haram, yang syubhat dan perkata yang makruh, begitu
pula berlebihan dalam hal mubah yang sebenarnya ia tidak butuh.
Meninggalkan hal yang tidak bermanfaat semisal itu menunjukkan baiknya
seorang muslim. Demikian perkataan Ibnu Rajab Al Hambali yang kami olah
secara bebas (Lihat Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, 1: 289).
Jika kita menyia-nyiakan waktu, itu tanda Allah melupakan kita. ‘Arif Al Yamani berkata,
إن من إعراض الله عن العبد أن يشغله بما لا ينفعه
“Di antara tanda Allah berpaling dari seorang hamba, Allah menjadikannya
sibuk dalam hal yang sia-sia.” (Hilyatul Awliya’, 10: 134).
Waktu itu Begitu Berharga, Wahai Saudaraku
Waktu amat berharga, wahai saudaraku. Ia tidak mungkin kan kembali setelah berlalu pergi.
الوقت أنفاس لا تعود
“Waktu adalah nafas yang tidak mungkin akan kembali.”
Syaikh ‘Abdul Malik Al Qosim berkata, “Waktu yang sedikit adalah harta
berharga bagi seorang muslim di dunia ini. Waktu adalah nafas yang
terbatas dan hari-hari yang dapat terhitung. Jika waktu yang sedikit itu
yang hanya sesaat atau beberapa jam bisa berbuah kebaikan, maka ia
sangat beruntung. Sebaliknya jika waktu disia-siakan dan dilalaikan,
maka sungguh ia benar-benar merugi. Dan namanya waktu yang berlalu tidak
mungkin kembali selamanya.” (Lihat risalah “Al Waqtu Anfas Laa Ta’ud”,
hal. 3)
Tanda waktu itu begitu berharga bagi seorang muslim karena kelak ia akan ditanya, di mana waktu tersebut dihabiskan,
لاَ تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ
عُمْرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَا فَعَلَ وَعَنْ مَالِهِ
مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَا أَنْفَقَهُ وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَا
أَبْلاَهُ
“Kedua kaki seorang hamba tidaklah beranjak pada hari kiamat hingga ia
ditanya mengenai: (1) umurnya di manakah ia habiskan, (2) ilmunya di
manakah ia amalkan, (3) hartanya bagaimana ia peroleh dan (4) di mana ia
infakkan dan (5) mengenai tubuhnya di manakah usangnya.” (HR. Tirmidzi
no. 2417, dari Abi Barzah Al Aslami. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa
hadits ini shahih)
Menyia-nyiakan waktu hanya untuk menunggu-nunggu pergantian waktu, itu
sebenarnya lebih parah dari kematian. Ibnul Qayyim rahimahullah dalam Al
Fawa-id berkata,
اِضَاعَةُ الوَقْتِ اَشَدُّ مِنَ الموْتِ لِاَنَّ اِضَاعَةَ الوَقْتِ
تَقْطَعُكَ عَنِ اللهِ وَالدَّارِ الآخِرَةِ وَالموْتِ يَقْطَعُكَ عَنِ
الدُّنْيَا وَاَهْلِهَا
“Menyia-nyiakan waktu itu lebih parah dari kematian. Karena
menyia-nyiakan waktu memutuskanmu dari (mengingat) Allah dan negeri
akhirat. Sedangkan kematian hanya memutuskanmu dari dunia dan
penghuninya.”
Imam Syafi’i pernah mendapat nasehat dari seorang sufi,
الوقت كالسيف فإن قطعته وإلا قطعك، ونفسك إن لم تشغلها بالحق وإلا شغلتك بالباطل
“Waktu laksana pedang. Jika engkau tidak menggunakannya, maka ia yang
malah akan menebasmu. Dan dirimu jika tidak tersibukkan dalam kebaikan,
pasti akan tersibukkan dalam hal yang sia-sia.” Lihat Madarijus Salikin,
Ibnul Qayyim, 3: 129.
Mereka Selalu Menyesal Jika Waktu Berlalu Sia-Sia, Sedangkan Kita?
Basyr bin Al Harits berkata,
مررت برجل من العُبَّاد بالبصرة وهو يبكي فقلت ما يُبكيك فقال أبكي على ما فرطت من عمري وعلى يومٍ مضى من أجلي لم يتبين فيه عملي
“Aku pernah melewati seorang ahli ibadah di Bashroh dan ia sedang
menangis. Aku bertanya, “Apa yang menyebabkanmu menangis?” Ia menjawab,
“Aku menangis karena umur yang luput dariku dan atas hari yang telah
berlalu, semakin dekat pula ajalku, namun belum jelas juga amalku.”
(Mujalasah wa Jawahir Al ‘Ilm, 1: 46, Asy Syamilah).
Jangan Jadi Orang yang Menyesal Kelak
Sebagian orang kegirangan jikalau ia diberi waktu yang panjang di dunia.
Bahkan inilah harapan ketika nyawanya telah dicabut, ia ingin kembali
di dunia untuk dipanjangkan umurnya supaya bisa beramal sholih.
Orang-orang seperti inilah yang menyesal di akhirat kelak, semoga kita
tidak termasuk orang-orang semacam itu. Allah Ta’ala berfirman,
حَتَّى إِذَا جَاءَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ارْجِعُونِ لَعَلِّي
أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ كَلا إِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَائِلُهَا
وَمِنْ وَرَائِهِمْ بَرْزَخٌ إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ
“Hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia
berkata: “Ya Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia). Agar aku berbuat amal
yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak.
Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan
mereka ada dinding sampal hari mereka dibangkitkan” (QS. Al Mu’minun:
99-100).
Qatadah telah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: hingga
apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka. (Al Mu’minun: 99)
Al-Ala ibnu Ziyad pernah mengatakan, hendaknyalah seseorang di antara
kalian menganggap dirinya sedang menjelang kematiannya, lalu menghadap
kepada Tuhannya dan Tuhannya menanyainya, maka hendaklah seseorang
beramal ketaatan kepada Allah Swt. Qatadah mengatakan, "Demi Allah,
tiadalah berharap orang kafir itu melainkan ingin dikembalikan ke dunia,
lalu akan mengerjakan amal ketaatan kepada Allah. Maka perhatikanlah
oleh kalian harapan orang kafir itu kala melihat neraka; berharaplah
kalian seperti itu dan kerjakanlah apa yang dicita-citakannya, tiada
kekuatan (untuk mengerjakan ibadah dan ketaatan) kecuali hanya dengan
pertolongan Allah." Hal yang semisal telah diriwayatkan dari Muhammad
ibnu Ka'b Al-Qurazi.
Muhammad ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami
ayahku, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Yusuf, telah
menceritakan kepada kami Fudail ibnu Iyad, dari Lais, dari Talhah ibnu
Masraf, dari Abu Hazim, dari Abu Hurairah yang mengatakan bahwa apabila
orang kafir (jenazahnya) diletakkan di dalam kuburnya, maka ia melihat
tempat kedudukannya di neraka, lalu ia berkata, "Ya Tuhanku,
kembalikanlah aku ke dunia, maka aku akan bertobat dan beramal saleh."
Abu Hurairah melanjutkan kisahnya, bahwa lalu dikatakan kepadanya,
"Sesungguhnya engkau telah diberi usia yang cukup." Maka disempitkanlah
kuburnya dan menangkup menjadi satu, sedangkan dia sekarat karena
kesakitan; semua serangga yang ada di dalam bumi, ular-ular dan
kalajengking-kalajengking mematukinya.
Ibnu Abu Hatim mengatakan pula, telah menceritakan kepada kami ayahku,
telah menceritakan kepada kami Umar ibnu Ali, telah menceritakan
kepadaku Salamah ibnu Tamam, telah menceritakan kepada kami Ali ibnu
Zaid, dari Sa'id ibnul Musayyab, dari Aisyah r.a. yang mengatakan,
"Kecelakaan yang besarlah bagi para pelaku maksiat dalam kuburnya.
Kuburan mereka dimasuki oleh ular-ular yang hitam legam; ular yang ada
di kepalanya dan ular yang ada di kakinya menelan tubuhnya, hingga
keduanya bertemu di tengah-tengah tubuhnya. Yang demikian itu adalah
azab di alam barzakh (kubur)nya." Selanjutnya Siti Aisyah membaca
firman-nya: Dan di hadapan mereka ada dinding sampai hari mereka
dibangkitkan. (Al-Mu’minun: 100)
Abu Saleh dan lain-lainnya mengatakan sehubungan dengan makna
firman-Nya: Dan di hadapan mereka. (Al Mu’minun: 100) Makna asal wara'
ialah belakang, tetapi makna yang dimaksud dalam ayat ini ialah di
hadapan.
Mujahid mengatakan bahwa alam barzakh ialah alam yang membatasi antara alam dunia dan alam akhirat.
Muhammad ibnu Ka'b, barzakh adalah alam yang terletak diantara alam
dunia dan alam akhirat. Para penghuninya tidak sama dengan ahli dunia
yang dapat makan dan minum, tidak pula sama dengan ahli akhirat yang
mendapat balasan dari amal perbuatan mereka.
Abu Sakhr mengatakan bahwa barzakh adalah alam kubur, para penghuninya
tidak ada di dunia dan tidak pula di akhirat; mereka tinggal di alam
barzakh menunggu sampai hari berbangkit.
Ketika orang kafir masuk ke neraka, mereka berharap keluar dan kembali
ke dunia dan dipanjangkan umur supaya mereka bisa beramal. Allah Ta’ala
berfirman,
وَهُمْ يَصْطَرِخُونَ فِيهَا رَبَّنَا أَخْرِجْنَا نَعْمَلْ صَالِحًا
غَيْرَ الَّذِي كُنَّا نَعْمَلُ أَوَلَمْ نُعَمِّرْكُمْ مَا يَتَذَكَّرُ
فِيهِ مَنْ تَذَكَّرَ وَجَاءَكُمُ النَّذِيرُ فَذُوقُوا فَمَا
لِلظَّالِمِينَ مِنْ نَصِيرٍ
“Dan mereka berteriak di dalam neraka itu : “Ya Tuhan kami, keluarkanlah
kami niscaya kami akan mengerjakan amal yang saleh berlainan dengan
yang telah kami kerjakan”. Dan apakah Kami tidak memanjangkan umurmu
dalam masa yang cukup untuk berfikir bagi orang yang mau berfikir, dan
(apakah tidak) datang kepada kamu pemberi peringatan? maka rasakanlah
(azab Kami) dan tidak ada bagi orang-orang yang zalim seorang
penolongpun.” (QS. Fathir: 37).
Dalam ayat lainnya disebutkan pula,
وَلَوْ تَرَى إِذِ الْمُجْرِمُونَ نَاكِسُو رُءُوسِهِمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ
رَبَّنَا أَبْصَرْنَا وَسَمِعْنَا فَارْجِعْنَا نَعْمَلْ صَالِحًا إِنَّا
مُوقِنُونَ
“Dan, jika sekiranya kamu melihat mereka ketika orang-orang yang berdosa
itu menundukkan kepalanya di hadapan Tuhannya, (mereka berkata): “Ya
Rabb kami, kami telah melihat dan mendengar, maka kembalikanlah kami (ke
dunia), kami akan mengerjakan amal saleh, sesungguhnya kami adalah
orang-orang yang yakin.”” (QS. As Sajdah: 12).
وَتَرَى الظَّالِمِينَ لَمَّا رَأَوُا الْعَذَابَ يَقُولُونَ هَلْ إِلَى مَرَدٍّ مِنْ سَبِيلٍ
“Dan kamu akan melihat orang-orang yang zalim ketika mereka melihat azab
berkata: “Adakah kiranya jalan untuk kembali (ke dunia)?”” (QS. Asy
Syura: 44).
قَالُوا رَبَّنَا أَمَتَّنَا اثْنَتَيْنِ وَأَحْيَيْتَنَا اثْنَتَيْنِ
فَاعْتَرَفْنَا بِذُنُوبِنَا فَهَلْ إِلَى خُرُوجٍ مِنْ سَبِيلٍ ذَلِكُمْ
بِأَنَّهُ إِذَا دُعِيَ اللَّهُ وَحْدَهُ كَفَرْتُمْ وَإِنْ يُشْرَكْ بِهِ
تُؤْمِنُوا فَالْحُكْمُ لِلَّهِ الْعَلِيِّ الْكَبِيرِ
“Mereka menjawab: “Ya Tuhan kami Engkau telah mematikan kami dua kali
dan telah menghidupkan kami dua kali (pula), lalu kami mengakui
dosa-dosa kami. Maka adakah sesuatu jalan (bagi kami) untuk keluar (dari
neraka)?” Yang demikian itu adalah karena kamu kafir apabila Allah saja
disembah. Dan kamu percaya apabila Allah dipersekutukan. Maka putusan
(sekarang ini) adalah pada Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (QS.
Ghafir: 11-12).
Qotadah mengatakan, “Beramallah karena umur yang panjang itu akan
sebagai dalil yang bisa menjatuhkanmu. Marilah kita berlindung kepada
Allah dari menyia-nyiakan umur yang panjang dalam hal yang sia-sia.”
(Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 6: 553, pada tafsir surat Fathir ayat
37)
Renungkan: Umurmu yang Berkurang
Tidak ada awal dan akhir tahun, yang ada hanyalah umur yang semakin
berkurang. Mengapa kita selalu berpikir bahwa umur kita bertambah, namun
tidak memikirkan ajal semakin dekat? Benar kata Al Hasan Al Bashri,
seorang tabi’in terkemuka yang menasehati kita agar bisa merenungkan
bahwa semakin bertambah tahun, semakin bertambah hari, itu berarti
berkurangnya umur kita setiap saat.
Hasan Al Bashri mengatakan,
ابن آدم إنما أنت أيام كلما ذهب يوم ذهب بعضك
“Wahai manusia, sesungguhnya kalian hanyalah kumpulan hari. Tatkala satu
hari itu hilang, maka akan hilang pula sebagian dirimu.” (Hilyatul
Awliya’, 2: 148)
Al Hasan Al Bashri juga pernah berkata,
لم يزل الليلُ والنهار سريعين في نقص الأعمار ، وتقريبِ الآجال
“Malam dan siang akan terus berlalu dengan cepat dan umur pun berkurang,
ajal (kematian) pun semakin dekat.” (Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, 2: 383).
Semisal perkataan Al Hasan Al Bashri juga dikatakan oleh Al Fudhail bin
‘Iyadh. Beliau rahimahullah berkata pada seseorang, “Berapa umurmu
sampai saat ini?” “Enam puluh tahun”, jawabnya. Fudhail berkata, “Itu
berarti setelah 60 tahun, engkau akan menghadap Rabbmu.” Pria itu
berkata, “Inna lillah wa inna ilaihi rooji’un.” “Apa engkau tidak
memahami maksud kalimat itu?”, tanya Fudhail. Lantas Fudhail berkata,
“Maksud perkataanmu tadi adalah sesungguhnya kita adalah hamba yang akan
kembali pada Allah. Siapa yang yakin dia adalah hamba Allah, maka ia
pasti akan kembali pada-Nya. Jadi pada Allah-lah tempat terakhir kita
kembali. Jika tahu kita akan kembali pada Allah, maka pasti kita akan
ditanya. Kalau tahu kita akan ditanya, maka siapkanlah jawaban untuk
pertanyaan tersebut.” Lihat percakapan Fudhail ini dalam Jaami’ul ‘Ulum
wal Hikam, 2: 383.
Jadi sungguh keliru, jika sebagian kita malah merayakan ulang tahun
karena kita merasa telah bertambahnya umur. Seharusnya yang kita rasakan
adalah umur kita semakin berkurang, lalu kita renungkan bagaimanakah
amal kita selama hidup ini?
Bukankah yang Islam ajarkan, kita jangan hanya menunggu waktu, namun
beramallah demi persiapan bekal untuk akhirat. Ibnu ‘Umar pernah
berkata,
إِذَا أَمْسَيْتَ فَلاَ تَنْتَظِرِ الصَّبَاحَ ، وَإِذَا أَصْبَحْتَ فَلاَ
تَنْتَظِرِ الْمَسَاءَ ، وَخُذْ مِنْ صِحَّتِكَ لِمَرَضِكَ ، وَمِنْ
حَيَاتِكَ لِمَوْتِكَ
“Jika engkau berada di sore hari, maka janganlah menunggu waktu pagi.
Jika engkau berada di waktu pagi, janganlah menunggu sore. Isilah waktu
sehatmu sebelum datang sakitmu, dan isilah masa hidupmu sebelum datang
matimu.” (HR. Bukhari no. 6416). Hadits ini mengajarkan untuk tidak
panjang angan-angan, bahwa hidup kita tidak lama.
‘Aun bin ‘Abdullah berkata, “Sikapilah bahwa besok adalah ajalmu. Karena
begitu banyak orang yang menemui hari besok, ia malah tidak bisa
menyempurnakannya. Begitu banyak orang yang berangan-angan panjang umur,
ia malah tidak bisa menemui hari esok. Seharusnya ketika engkau
mengingat kematian, engkau akan benci terhadap sikap panjang
angan-angan.” ‘Aun juga berkata,
إنَّ من أنفع أيام المؤمن له في الدنيا ما ظن أنَّه لا يدرك آخره
“Sesungguhnya hari yang bermanfaat bagi seorang mukmin di dunia adalah
ia merasa bahwa hari besok sulit ia temui.” Lihat Jaami’ul ‘Ulum wal
Hikam, 2: 385.
Pada hari hisab nanti setiap diri akan ditanya tentang nikmat yang telah
didapatkannya. Telahkah ia syukuri dan telahkah mendorongnya untuk
semakin mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala?. Atau sebaliknya nikmat
tersebut malah disia-siakan dan digunakan untuk perbuatan maksiat.
Utamanya manusia akan ditanya tentang empat nikmat yang utama, yakni
tentang umurnya, ilmunya, hartanya dan badannya. Sebagaimana sabda
Rasulullah SAW:
لاَ تَزُوْلُ قَدَمَا عَبْدٍ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ أَرْبَعٍ: عَنْ عُمْرِهِ
فِيْمَ أَفْنَاهُ, وَعَنْ عِلْمِهِ مَا فَعَلَ بِهِ, وَعَنْ مَالِهِ مِنْ
أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيْمَ أَنْفَقَهُ, وَعَنْ جِسْمِهِ فِيْمَ
أَبْلاَهُ.
Artinya: “Tidak bergeser kaki seorang hamba sehingga ia akan ditanya
tentang empat perkara (yaitu):(1) Tentang umurnya untuk apa ia
habiskan?; (2) Tentang ilmunya untuk apa ia amalkan?; (3)Tentang
hartanya darimana ia dapatkan dan kemana ia belanjakan?; dan (4)
Tentang badannya untuk apa ia gunakan?. (Sunan At-Tirmidzî).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar