Allah yang menumbuhkan tanaman dari air hujan
Alloh Subhanahu Wata'ala Berfirman
وَهُوَ الَّذِي أَنْشَأَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ فَمُسْتَقَرٌّ وَمُسْتَوْدَعٌ قَدْ فَصَّلْنَا الْآيَاتِ لِقَوْمٍ يَفْقَهُونَ
{وَهُوَ الَّذِي أَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجْنَا بِهِ
نَبَاتَ كُلِّ شَيْءٍ فَأَخْرَجْنَا مِنْهُ خَضِرًا نُخْرِجُ مِنْهُ حَبًّا
مُتَرَاكِبًا وَمِنَ النَّخْلِ مِنْ طَلْعِهَا قِنْوَانٌ دَانِيَةٌ
وَجَنَّاتٍ مِنْ أَعْنَابٍ وَالزَّيْتُونَ وَالرُّمَّانَ مُشْتَبِهًا
وَغَيْرَ مُتَشَابِهٍ انْظُرُوا إِلَى ثَمَرِهِ إِذَا أَثْمَرَ وَيَنْعِهِ
إِنَّ فِي ذَلِكُمْ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ} [الأنعام: 98-99]
Dan Dialah yang menciptakan kalian dari seorang diri, maka (bagi kalian)
ada tempat tetap dan tempat simpanan. Sesungguhnya telah Kami jelaskan
tanda-tanda kebesaran Kami kepada orang-orang yang mengetahui. Dan
dialah yang menurunkan air hujan dari langit, lalu kami tumbuhkan dengan
air itu segala macam tumbuh-tumbuhan, maka kami keluarkan dari
tumbuh-tumbuhan itu tanaman yang menghijau. kami keluarkan dari tanaman
yang menghijau itu butir yang banyak; dan dari mayang korma mengurai
tangkai-tangkai yang menjulai, dan kebun-kebun anggur, dan (Kami
keluarkan pula) zaitun dan delima yang serupa dan yang tidak serupa.
perhatikanlah buahnya di waktu pohonnya berbuah dan (perhatikan pulalah)
kematangannya. Sesungguhnya pada yang demikian itu ada tanda-tanda
(kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang beriman. [QS Al-An'aam:99]
Firman Allah Swt.:
{وَهُوَ الَّذِي أَنْشَأَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ}
Dan Dialah yang menciptakan kalian dari seorang diri. (Al-An'am: 98)
Maksudnya dari Nabi Adam a.s, seperti halnya yang disebutkan oleh Allah Swt. dalam firman yang lain, yaitu:
{يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ
وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالا كَثِيرًا
وَنِسَاءً}
Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan kalian yang telah
menciptakan kalian dari seorang diri, dan darinya Allah menciptakan
istrinya; dan dari keduanya Allah memperkembang-biakkan laki-laki dan
perempuan yang banyak. (An-Nisa: 1)
Adapun firman Allah Swt.:
{فَمُسْتَقَرٌ وَمُسْتَوْدَعٌ}
maka (bagi kalian) ada tempat tetap dan tempat simpanan. (Al-An'am: 98)
Para ulama tafsir berbeda pendapat mengenai makna ayat ini. Dari Ibnu
Mas'ud, Ibnu Abbas, Abu Abdur Rahman As-Sulami, Qais ibnu Abu Hazim,
Mujahid, Ata, Ibrahim An-Nakha'i, Ad-Dahhak, Qatadah, As-Saddi, Ata
Al-Khurrasani, dan lain-lainnya disebutkan bahwa makna mustaqarrun
adalah tempat menetap di dalam rahim. Mereka atau sebagian besar dari
mereka mengatakan bahwa mustauda' yaitu tempat simpanan di dalam tulang
sulbi.
Tetapi dari Ibnu Mas'ud dan sejumlah ulama yang lain disebutkan hal yang
sebaliknya. Demikian pula dari Ibnu Mas'ud serta sejumlah ulama,
disebutkan bahwa tempat tetap adalah di dunia, dan tempat simpanan
adalah setelah mati.
Sa'id ibnu Jubair mengatakan bahwa tempat menetap itu adalah di dalam
rahim, di permukaan bumi, dan sesudah meninggal dunia. Menurut Al-Hasan
Al-Basri, mustaqar ialah bagi orang yang telah meninggal dunia, karena
amalnya telah ditetapkan dengan kematian itu.
Disebutkan dari Ibnu Mas'ud, bahwa yang dimaksud dengan tempat simpanan
atau mustauda ialah hari akhirat. Akan tetapi, pendapat pertamalah yang
lebih kuat.
Firman Allah Swt.:
{قَدْ فَصَّلْنَا الآيَاتِ لِقَوْمٍ يَفْقَهُونَ}
Sesungguhnya Kami telah jelaskan tanda-tanda kebesaran (Kami) kepada orang-orang yang mengetahui. (Al-An'am: 98)
Artinya, orang-orang yang mengerti dan memahami Kalamullah serta makna yang terkandung di dalamnya.
Firman Allah Swt.:
{وَهُوَ الَّذِي أَنزلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً}
Dan Dialah yang menurunkan air hujan dari langit.(Al-An'am: 99)
Yakni dengan kepastian dalam keadaan diberkati sebagai rezeki buat
hamba-hamba Allah, untuk menyuburkan, dan sebagai pertolongan buat semua
makhluk dan rahmat dari Allah buat mereka semua.
{فَأَخْرَجْنَا بِهِ نَبَاتَ كُلِّ شَيْءٍ}
Lalu Kami tumbuhkan dengan air itu segala macam tumbuh-tumbuhan. (Al-An'am: 99)
Ayat ini semakna dengan firman Allah Swt. yang lain, yaitu:
{وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ}
Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. (Al-Anbiya: 30).
Adapun firman Allah Swt.:
{فَأَخْرَجْنَا مِنْهُ خَضِرًا}
Maka Kami keluarkan dari tumbuh-tumbuhan itu tanaman yang menghijau. (Al-An'am: 99)
Artinya, tanaman dan pepohonan yang hijau; sesudah itu Kami ciptakan
padanya biji-bijian dan buah-buahan. Karena itu, dalam firman
selanjutnya disebutkan:
{نُخْرِجُ مِنْهُ حَبًّا مُتَرَاكِبًا}
Kami keluarkan dari tanaman yang menghijau itu butir yang banyak. (Al-An'am: 99)
Yakni sebagian darinya bertumpang tindih dengan sebagian yang lain seperti pada bulir-bulirnya dan lain sebagainya.
{وَمِنَ النَّخْلِ مِنْ طَلْعِهَا قِنْوَانٌ}
dan dari mayang kurma mengurai tangkai-tangkai.(Al-An'am: 99)
Qinwan adalah bentuk jamak dari qinwun, artinya tangkai ketandan (mayang) kurma.
{دَانِيَةٌ}
yang menjulai. (Al-An'am: 99)
Maksudnya, dekat untuk dipetik dan mudah memetiknya
Perihalnya sama dengan apa yang dikatakan oleh Ali ibnu Abu Talhah
Al-Walibi, dari Ibnu Abbas, sehubungan dengan makna firman-Nya:
tangkai-tangkai yang menjulai. (Al-An'am: 99) Yakni tangkai yang
menjulai ke bawah bagi pohon kurma yang pendek, sehingga mayangnya yang
dipenuhi dengan tangkai buah berada dekat tanah dan mudah dipetik.
Demikianlah menurut riwayat Ibnu Jarir.
Sehubungan dengan ini orang-orang Hijaz mengatakan bahwa qinwanun
artinya tangkai-tangkai mayang, begitu pula halnya yang dikatakan oleh
orang-orang Bani Qais. Sehubungan dengan makna lafaz ini, Imru-ul Qais
(seorang penyair Jahiliyyah yang ternama) mengatakan:
فَأَثَّت أَعَالِيهِ وَآدَتْ أصولهُ ...ومَالَ بقنْوانٍ مِنَ البُسر أحْمَرَا ...
Pucuk pohonnya berdiri tegak, akarnya menghujam ke tanah, dan mayangnya
yang dipenuhi dengan tangkai-tangkai menjulai ke bawah, penuh dengan
buah kurma yang merah.
Sedangkan orang-orang Bani Tamim mengatakan bentuk jamaknya adalah
qinyan dengan memakaiya. Ibnu Jarir mengatakan bahwa qinwan adalah
bentuk jamak dari qinwun, sebagaimana lafaz sinwan adalah bentuk jamak
dari lafaz sinwun.
Firman Allah Swt.:
{وَجَنَّاتٍ مِنْ أَعْنَابٍ}
dan kebun-kebun anggur. (Al-An'am: 99)
Artinya, Kami keluarkan pula darinya kebun-kebun anggur; kedua jenis
buah-buahan ini —yakni kurma dan anggur— menurut penduduk Hijaz termasuk
buah-buahan yang paling digemari, dan barangkali keduanya merupakan
buah-buahan yang terbaik di dunia. Perihal kedua buah itu disebutkan
oleh Allah kepada hamba-hamba-Nya dalam firman-Nya:
{وَمِنْ ثَمَرَاتِ النَّخِيلِ وَالأعْنَابِ تَتَّخِذُونَ مِنْهُ سَكَرًا وَرِزْقًا حَسَنًا}
Dan dari buah kurma dan anggur, kalian buat minuman yang memabukkan dan rezeki yang baik.(An-Nahl: 67)
Hal ini disebutkan oleh Allah Swt. sebelum khamr diharamkan. Juga dalam firman Allah Swt. yang lainnya, yaitu:
{وَجَعَلْنَا فِيهَا جَنَّاتٍ مِنْ نَخِيلٍ وَأَعْنَابٍ}
Dan Kami jadikan padanya kebun-kebun kurma dan anggur. (Yasin: 34)
Adapun firman Allah Swt.:
{وَالزَّيْتُونَ وَالرُّمَّانَ مُشْتَبِهًا وَغَيْرَ مُتَشَابِهٍ}
dan (Kami keluarkan pula) zaitun dan delima yang serupa dan yang tidak serupa. (Al-An'am: 99)
Qatadah dan lain-lainnya mengatakan bahwa gairu mutasyabih artinya yang
tidak serupa dedaunannya, tetapi bentuknya serupa; sebagian darinya
serupa dengan sebagian yang lain, tetapi berbeda dalam buah yang
dihasilkannya, baik dari bentuk, rasa, maupun kandungannya.
Firman Allah Swt.:
{انْظُرُوا إِلَى ثَمَرِهِ إِذَا أَثْمَرَ وَيَنْعِهِ}
Perhatikanlah buahnya di waktu pohonnya berbuah, dan (perhatikanlah pula) kematangannya.(Al-An'am: 99)
Yakni bila telah masak, menurut Al-Barra ibnu Azib, Ibnu Abbas,
Ad-Dahhak, Ata Al-Khurrasani, As-Saddi, Qatadah, dan lain-lainnya.
Dengan kata lain, perhatikanlah kekuasaan Penciptanya yang telah
menciptakannya dari tidak ada menjadi ada. Pada mulanya berupa
tumbuh-tumbuhan, lalu menjadi pohon, dan menghasilkan buah; ada yang
menghasilkan anggur, ada yang menghasilkan kurma, dan lain sebagainya
dari semua jenis tumbuh-tumbuhan dan pohon-pohonan yang berbeda-beda
warna dan bentuknya serta berbeda-beda rasa dan bau hasil buahnya.
Perihalnya sama dengan apa yang disebutkan di dalam firman-Nya:
{وَفِي الأرْضِ قِطَعٌ مُتَجَاوِرَاتٌ وَجَنَّاتٌ مِنْ أَعْنَابٍ وَزَرْعٌ
وَنَخِيلٌ صِنْوَانٌ وَغَيْرُ صِنْوَانٍ يُسْقَى بِمَاءٍ وَاحِدٍ
وَنُفَضِّلُ بَعْضَهَا عَلَى بَعْضٍ فِي الأكُلِ }
Dan di bumi ini terdapat bagian-bagian yang berdampingan, dan
kebun-kebun anggur, tanaman-tanaman, dan pohon kurma yang bercabang dan
yang tidak bercabang, disirami dengan air yang sama, Kami melebihkan
sebagian tanaman-tanaman itu atas sebagian yang lain tentang rasanya.
(Ar-Ra'd: 4), hingga akhir ayat.
Karena itulah dalam ayat ini disebutkan:
{إِنَّ فِي ذَلِكُمْ}
Sesungguhnya pada yang demikian itu. (Al-An'am: 99)
hai manusia.
لآيَاتٍ
ada tanda-tanda (kekuasaan Allah). (Al-An'am: 99)
Yakni tanda-tanda yang menunjukkan kesempurnaan kekuasaan Pencipta semuanya itu, kebijaksanaan, dan rahmat-Nya.
{لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ}
bagi orang-orang yang beriman. (Al-An'am: 99)
Maksudnya, orang-orang yang percaya kepada-Nya dan mengikuti rasul-rasul-Nya.
Pada ayat ini Allah s.w.t. menjelaskan kejadian hal-hal yang menjadi
kebutuhan manusia sehari-hari, agar mereka secara mudah dapat memahami
kekuasaan, kebijaksanaan, serta pengetahuan Allah. Allah s.w.t.
menjelaskan bahwa Allah-lah yang menurunkan hujan dari langit, yang
menyebabkan tumbuhnya berbagai jenis tumbuh-tumbuhan yang terdiri dari
berbagai ragam bentuk, macam dan rasa seperti firman Allah:
يُسْقَى بِمَاءٍ وَاحِدٍ وَنُفَضِّلُ بَعْضَهَا عَلَى بَعْضٍ فِي الأكُلِ
“Disirami dengan air yang sama, Kami melebihkan sebagian tanam-tanaman
itu atas sebagian yang lain tentang rasanya.” (Q.S. Ar Ra’d: 4)
Disebutkan hujan turun dari langit adalah menurut kebiasaan mereka.
“Sama” atau langit digunakan untuk apa saja yang berada di atas, sedang
yang dimaksud dengan ‘sama’ dalam ayat ini ialah “sahab” yang berarti
awan seperti ditujukan dalam firman Allah:
أَفَرَأَيْتُمُ الْمَاءَ الَّذِي تَشْرَبُونَ (٦٨)أَأَنْتُمْ أَنْزَلْتُمُوهُ مِنَ الْمُزْنِ أَمْ نَحْنُ الْمُنْزِلُونَ (٦٩)
“Maka terangkanlah kepadaku tentang air yang kamu minum. Kamukah yang
menurunkannya dari awan ataukah Kami yang menurunkan.(Q.S Al-Waqi’ah:
68-69)
Allah menjelaskan bahwa air itu sebagai sebab bagi tumbuhnya segala
macam tumbuh-tumbuhan yang beraneka ragam bentuk jenis dan rasanya
supaya manusia dapat mengetahui betapa kekuasaan Allah mengatur
kehidupan tumbuh-tumbuhan itu. Manusia yang suka memperhatikan siklus
peredaran air akan dapat mengetahui betapa tingginya hukum-hukum Allah.
Hukum-Nya berlaku secara tetap dan berlangsung terus tanpa
henti-hentinya, sampai tiba saat yang telah ditentukan.
Kemudian disebutkan pula perincian dari tumbuh-tumbuhan yang beraneka
ragam itu; diantaranya ialah rerumputan yang tumbuh berumpun-rumpun
sehingga kelihatan menghijau. Tumbuh-tumbuhan jenis ini mengeluarkan
buah yang berbentuk butiran-butiran kecil yang terhimpun dalam sebuah
tangkai seperti gandum, syair dan padi. Jenis yang lain dari
tumbuh-tumbuhan itu ialah pohon palma yang mengeluarkan buah yang
terhimpun dalam sebuah tandan yang menjulai rendah sehingga mudah
dipetik.
Jenis yang lain lagi dan jenis tumbuh-tumbuhan yang beraneka ragam itu
ialah anggur, zaitun, dan delima. Ketiga jenis buah-buahan ini
disebutkan secara beruntun, karena masing-masing ada yang mempunyai
persamaan dan perbedaan, sifat, bentuk dan rasanya, sehingga ada yang
berwarna kehitam-hitaman dan ada pula yang berwarna kehijau-hijauan; ada
yang berdaun agak lebar, dan ada pula yang berdaun agak kecil; begitu
pula ada yang rasanya manis dan ada yang asam.
Kesemuanya itu adalah untuk menunjukkan kekuasaan Allah yang menciptakan
tumbuh-tumbuhan yang beraneka ragam itu. Allah s.w.t. memerintahkan
kepada manusia agar memperhatikan tumbuh tumbuhan yang beraneka ragam
itu pada saat berbuah bagaimana buah-buahan itu tersembul dan batang
atau rantingnya, kemudian merekah sebagai bunga, setelah nampak buahnya,
akhirnya menjadi buah yang sempurna (matang).
Pada akhir ayat ini Allah s.w.t. menegaskan bahwa dalam proses kejadian
pembuahan itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah yang sangat teliti
pengurusannya serta tinggi ilmu-Nya. Tanda-tanda kekuasaan Allah itu
menjadi bukti bagi orang yang beriman. Dari ayat-ayat ini dapat dipahami
bahwa perhatian manusia pada segala macam tumbuh-tumbuhan hanya
terbatas pada keadaan lahir sebagai bukti adanya kekuasaan Allah, tidak
sampai mengungkap rahasia dari kekuasaan Allah terhadap penciptaan
tumbuh-tumbuhan itu. Hal ini dapat diketahui dari kenyataan, bahwa
kekuasaan-Nya adalah menjadi bukti wujud-Nya bagi orang yang beriman.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar