Menurut kesepakatan Ahlus Sunnah wal Jama’ah, setiap manusia akan
ditanya setelah ia meninggal, biar ia dikubur atau pun tidak. Maka
seandainya ia menjadi mangsa biantang buas, atau terbakar hingga
menjadi abu dan membumbung ke angkasa, atau tenggelam di dasar laut, ia
akan tetap ditanya tentang amal perbuatannya, mereka akan ditanyakan
oleh malaikat Munkar danNakir tentang amalnya dikala hidup yang kemudian
akan dibalas dengan kebaikan atau keburukan. Balasan itu akan diterima
oleh rohani dan jasmaninya dalam bentuk kenikmatan atau azab kubur.
Walaupun demikian ada pula yang berpendapat bahwa siksa kubur atau
kenikmatan di alam kubur itu hanyalah dalam segi rohaninya semata dan
tidak pada jasmaninya. Sedangkan yang mempertahankan adanya siksaan atau
nikmat kerohanian dan jasmani di alam kubur adalah beralasan pada
hadits-hadists yang menyebutkan “Ia akan mendengar suara sandal mereka,”
“terdengarkah suaranya ketika dipukul dengan palu”’ “ Akan dipukul
diantara dua telinganya”dll, yang kesemuanya menunjukkan adanya
sifat-sifat jasmani atau badan seperti ketika hidupnya.
Melalui pengamatan nas-nas yang shohih dari Al Quran dan sunnah serta di
topang oleh pemahaman dan pandangan para ulama dalam memahami
nansh-nash tersebut, bahwa manusia menempuh kehidupan empat Alam: alam
rahim, alam dunia, alam barzahk (kubur), alam akhirat.
Yang mana proses kehidupan setiap alam tersebut memiliki kekhususan
masing-masing, tidak bisa disamakan proses kehidupan dalam setiap alam
tersebut dengan kehidupan alam yang lainnya, alam rahim umpamanya
mungkin saja bisa diketahui sebahagian proses kehidupan disana melalui
peralatan kedokteran yang canggih, tapi di balik itu semua masih banyak
keajaiban yang tidak terungkap dengan jalan bagaimanapun, semua itu
merupakan rahasia yang sengaja Allah tutup dari ilmu dan pandangan umat
manusia.
Allah telah menerangkan dalam firmannya yang berbunyi:
{وَمَا أُوتِيتُمْ مِنَ الْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا} [الإسراء/85]
“Tidaklah kalian diberi ilmu kecuali sedikit saja”
Apalagi bila kita hendak berbicara tentang kehidupan alam kubur dan alam
akhirat, tiada pintu yang bisa kita buka kecuali pintu keimanan dengan
yang ghaib, melalui teropong nas-nas Al Quran dan sunnah. Beriman dengan
hal yang ghaib adalah barometer pembeda antara seorang mu’min dengan
seorang kafir.
Sebagaimana termaktub dalam firman Allah:
ذَلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ (2) الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ [البقرة/2، 3]
“Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka
yang bertaqwa (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib”.
Banyak sekali nas-nas dari Al Quran dan sunnah yang mengukuhkan
persoalan ini yang tidak mungkin untuk kita urai dalam tulisan yang
singkat ini.
Keadaan manusia dalam alam kubur
Setiap manusia yang hidup di dunia ini pasti akan melewati Alam kubur.
Alam ini disebut pula alam barzakh yang artinya perantara antara alam
dunia dengan alam akhirat.
Sebagaimana terdapat dalam firman Allah:
حَتَّى إِذَا جَاءَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ارْجِعُونِ (99)
لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ كَلَّا إِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ
قَائِلُهَا وَمِنْ وَرَائِهِمْ بَرْزَخٌ إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ
[المؤمنون/99، 100]
“Apabila kematian datang kepada seseorang dari mereka, ia berkata: “Ya
Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia). Agar aku berbuat amal yang saleh
terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu
adalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada
Barzakh (pembatas) hingga hari mereka dibangkitkan”.
Para ahli tafsir dari ulama salaf sepakat mengatakan: “Barzakh adalah
perantara antara dunia dan akhirat, atau perantara antara masa setelah
mati dan hari berbangkit“.
Dinamakan alam Barzakh dengan alam kubur adalah atas keadaan yang umum
terjadi, karena umumnya manusia bila meninggal dunia di kubur dalam
tanah. Namun bukan berarti orang yang tidak dikubur telepas dari
peristiwa-peristiwa alam barzakh. Seperti orang yang dimakan binatang
buas, tenggelam di lautan, dibakar ataupun terbakar. Sebab Allah Maha
Kuasa atas segala sesuatu.
Seperti yang diceritakan Rasulullah Sallallahu Alaihi Wa Sallam dalam sabdanya:
عن أبي هريرة رضي الله عنه : أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال (قال رجل
لم يعمل خيرا قط فإذا مات فحرقوه واذروا نصفه في البر ونصفه في البحر
فوالله لئن قدر الله عليه ليعذبنه عذابا لا يعذبه أحدا من العالمين فأمر
الله البحر فجمع ما فيه وأمر البر فجمع ما فيه ثم قال لم فعلت ؟ قال من
خشيتك وأنت أعلم فغفر له ) متفق عليه.
Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Sallallahu Alaihi
Wa Sallam bersabda: “Seorang yang tidak pernah beramal baik sedikitpun
berkata kepada keluarganya: apabila ia meninggal maka bakarlah dia, lalu
tumbuk tulangnya sehalus-halusnya. Kemudian sebarkan saat terjadi angin
kencanng bertiup, sebagian di daratan dan sebagian lagi di lautan. Lalu
ia berkata: Demi Allah, Jika Allah mampu untuk menghidupkannya, tentu
Allah akan mengazabnya dengan azab yang tidak diazab dengannya
seorangpun dari penduduk alam. Maka Allah memerintahkan kepada lautan
dan daratan untuk mengumpulkan debunya yang terdapat dalamnya. Maka
tiba-tiba ia berdiri tegak. Lalu Allah bertanya kepadanya: Apa yang
mendorongnya untuk melakukan hal tersebut?
Dari kisah yang disebutkan dalam hadits di atas dapat kita lihat
bagaimana seseorang tersebut berusaha untuk lari dari azab Allah dengan
cara yang menurut akal pikirannya dapat membuatnya lolos dan lepas dari
azab Allah. Tetapi hal tersebut tidak dapat melemahkan kekuasaan Allah.
Bila seandainya ada seseorang mau melakukan tipuan terhadap Allah agar
ia terlepas dari azab kubur, sesungguhnya kekuasan jauh lebih kuat
daripada tipuanya. Pada hakikatnya yang ditipunya adalah dirinya
sendiri.
Di alam kubur manusia akan mengalami kehidupan sampai teropet sangkakal
ditiup oleh malaikat Isrofil. Di sana ada yang bersukacita dan ada pula
yang berdukacita, ada yang bahagia dan ada pula yang menderita.
Alam kubur atau biasanya orang menyebut dengan alam barzah adalah suatu
yang membatasi alam dunia dan akherat. Setiap manusia akan mengalami
mati, kemudian berada pada alam kubur atau alam barzah, yaitu masa
setelah manusia mati sampai hari kiamat atau tempat persinggahan pertama
menuju akherat.
Orang yang sudah mati di dalam kubur akan mengalami :
Himpitan kubur
Pertanyaan kubur
Siksa kubur atau nikmat kubur
Diperlihatkan tempat duduknya (surga atau neraka)
Tempat ketetapan ruh
Hadits-hadits Rasulullah SAW :
Diperlihatkan Tempat Duduknya (Surga Atau Neraka)
عَنِ ابْنِ عُمَرَ اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص قَالَ: اِنَّ اَحَدَكُمْ اِذَا
مَاتَ عُرِضَ عَلَيْهِ مَقْعَدُهُ بِاْلغَدَاةِ وَ اْلعَشِيّ اِنْ كَانَ
مِنْ اَهْلِ اْلجَنَّةِ فَمِنْ اَهْلِ اْلجَنَّةِ وَ اِنْ كَانَ مِنْ
اَهْلِ النَّارِ فَمِنْ اَهْلِ النَّارِ. يُقَالُ: هذَا مَقْعَدُكَ حَتَّى
يَبْعَثَكَ اللهُ اِلَيْهِ يَوْمَ اْلقِيَامَةِ. مسلم 4: 2199
Dari Ibnu ‘Umar bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya salah
seorang diantara kalian apabila meninggal dunia akan diperlihatkan
kepadanya tempat duduknya di waktu pagi dan sore. Jika ia termasuk ahli
surga, maka akan diperlihatkan surga kepadanya. Dan jika ia termasuk
ahli neraka, akan diperlihatkan neraka kepadanya. Lalu dikatakan
kepadanya, “Ini adalah tempatmu hingga Allah membangkitkan kamu
kepadanya pada hari qiyamat”. [HR. Muslim juz 4, hal. 2199]
عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ ص: اِذَا مَاتَ الرَّجُلُ
عُرِضَ عَلَيْهِ مَقْعَدُهُ بِاْلغَدَاةِ وَ اْلعَشِيّ اِنْ كَانَ مِنْ
اَهْلِ اْلجَنَّةِ فَاْلجَنَّةُ وَ اِنْ كَانَ مِنْ اَهْلِ النَّارِ
فَالنَّارُ. قَالَ ثُمَّ يُقَالُ: هذَا مَقْعَدُكَ الَّذِى تُبْعَثُ
اِلَيْهِ يَوْمَ اْلقِيَامَةِ. مسلم 4: 2199
Dari Ibnu ‘Umar, ia berkata : Nabi SAW bersabda, “Apabila seseorang
meninggal dunia, akan diperlihatkan tempat duduknya pada pagi dan petang
hari. Apabila ia termasuk ahli surga maka diperlihatkan surga. Dan jika
ia termasuk ahli neraka maka diperlihatkan neraka”. Nabi SAW bersabda :
Kemudian dikatakan kepadanya, “Ini adalah tempatmu yang kamu akan
dibangkitkan padanya besok pada hari qiyamat”. [HR. Muslim juz 4, hal.
2199]
Siksa Kubur Atau Nikmat Kubur, Himpitan Kubur Dan Pertanyaan Kubur
عَنْ زَيْدِ بْنِ ثَابِتٍ قَالَ: بَيْنَمَا النَّبِيُّ ص فِى حَائِطٍ
لِبَنِى النَّجَّارِ عَلَى بَغْلَةٍ لَهُ وَ نَحْنُ مَعَهُ اِذْ حَادَتْ
بِهِ فَكَادَتْ تُلْقِيْهِ وَ اِذَا اَقْبُرٌ سِتَّةٌ اَوْ خَمْسَةٌ اَوْ
اَرْبَعَةٌ. (قَالَ: كَذَا كَانَ يَقُوْلُ اْلجُرَيْرِيُّ) فَقَالَ: مَنْ
يَعْرِفُ اَصْحَابَ هذِهِ اْلاَقْبُرِ فَقَالَ رَجُلٌ: اَنَا. قَالَ:
فَمَتَى مَاتَ هؤُلاَءِ. قَالَ: مَاتُوْا فِى اْلاِشْرَاكِ. فَقَالَ: اِنَّ
هذِهِ اْلاُمَّةَ تُبْتَلَى فِى قُبُوْرِهَا فَلَوْلاَ اَنْ لاَ
تَدَافَنُوْا لَدَعَوْتُ اللهَ اَنْ يُسْمِعَكُمْ مِنْ عَذَابِ اْلقَبْرِ
الَّذِى اَسْمَعُ مِنْهُ، ثُمَّ اَقْبَلَ عَلَيْنَا بِوَجْهِهِ. فَقَالَ:
تَعَوَّذُوْا بِاللهِ مِنْ عَذَابِ النَّارِ. قَالُوْا: نَعُوْذُ بِاللهِ
مِنْ عَذَابِ النَّارِ. فَقَالَ: تَعَوَّذُوْا بِاللهِ مِنْ عَذَابِ
اْلقَبْرِ. قَالُوْا: نَعُوْذُ بِاللَّهِ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ. قَالَ:
تَعَوَّذُوْا بِاللهِ مِنَ اْلفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَ مَا بَطَنَ.
قَالُوْا: نَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ اْلفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَ مَا
بَطَنَ. قَالَ: تَعَوَّذُوْا بِاللهِ مِنْ فِتْنَةِ الدَّجَّالِ. قَالُوْا:
نَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ فِتْنَةِ الدَّجَّالِ. مسلم 4: 2199
Dari Zaid bin Tsabit, ia berkata : Ketika Nabi SAW berada di kebun banu
Najjar dengan mengendarai baghal dan kami bersama beliau, tiba-tiba
baghal tersebut berbelok dan lari kencang hampir-hampir melemparkan
beliau SAW, lalu berhenti. Dan ternyata di situ ada enam, lima atau
empat pusara (demikian yang dikatakan oleh Al-Jurairi). Lalu Nabi SAW
bersabda, “Siapa yang mengenal penghuni kubur ini?”. Lalu ada seorang
sahabat yang menjawab, “Saya”. Beliau bertanya lagi, “Kapan mereka itu
meninggal?”. Sahabat tadi menjawab, “Mereka itu meninggal dalam
kemusyrikan”. Nabi SAW bersabda, “Sesungguhnya umat ini akan diuji di
dalam kuburnya. Sekiranya aku tidak khawatir bahwa kalian akan takut
mengubur (mayat), tentu aku berdoa kepada Allah agar Allah
memperdengarkan siksa kubur kepada kalian sebagaimana yang aku dengar”.
Kemudian beliau menghadap kepada kami, lalu bersabda, “Mohonlah
perlindungan kepada Allah dari siksa neraka!”. Lalu para sahabat berdoa,
“Kami berlindung kepada Allah dari siksa neraka”. Beliau bersabda lagi,
“Mohonlah perlindungan kepada Allah dari siksa kubur!”. Lalu para
sahabat berdoa, “Kami berlindung kepada Allah dari siksa kubur”. Beliau
bersabda lagi, “Mohonlah perlindungan kepada Allah dari fitnah-fitnah
yang tampak maupun yang tersembunyi!”. Lalu para sahabat berdoa, “Kami
berlindung kepada Allah dari fitnah-fitnah yang tampak dan yang
tersembunyi”. Beliau bersabda lagi, “Mohonlah perlindungan kepada Allah
dari firnah Dajjal!”. Para sahabat berdoa, “Kami berlindung kepada Allah
dari fitnah Dajjal”. [HR. Muslim juz 4, hal. 2199]
اِنَّ لِلْقَبْرِ ضَغْطَةً لَوْ كَانَ اَحَدٌ مِنْهَا نَاجِيًا لَنَجَا مِنْهَا سَعْدُ بْنُ مُعَاذٍ. احمد و ابن جرير
Sesungguhnya qubur itu mempunyai himpitan. Seandainya ada orang yang
terlepas dari padanya, niscaya terlepaslah Sa'ad bin Mu’dz dari padanya.
[HR. Ahmad dan Ibnu Jarir]
لَوْ نَجَا مِنْ ضَمَّةِ اْلقَبْرِ اَحَدٌ لَنَجَا سَعْدُ بْنُ مُعَاذٍ وَ
لَقَدْ ضُمَّ ضَمَّةً ثُمَّ اُرْخِيَ عَنْهُ. الترمذى و الطبرانى و البيهقى
Seandainya ada seorang yang bisa terselamat dari pada himpitan qubur,
niscaya terselamatlah Sa'ad bin Mu’adz. Sesungguhnya ia telah dihimpit
dengan satu himpitan, kemudian dikendorkan dari padanya. [HR. Tirmidzi,
Thabrani dan Baihaqi]
وَ اِنَّ ضَغْطَةَ اْلقَبْرِ عَلَى اْلمُؤْمِنِ كَاْلاُمّ الشَّفِيْقَةِ
يَشْكُوْ اِلَيْهَا ابْنُهَا الصُّدَاعَ فَتَغْمَزُ رَأْسَهُ غَمْزًا
رَفِيْقًا وَ لكِنْ يَـا عَائِشَةُ وَيْلٌ لِلشَّاكّيْنَ فِى اللهِ كَيْفَ
يُضْغَطُوْنَ فِى قُبُوْرِهِمْ كَضَغْطَةِ الصَّخْرَةِ عَلَى اْلبَيْضَةِ.
البيهقى و الديلمى
Sesungguhnya himpitan qubur atas mukmin itu, seperti ibu yang sayang,
yang anaknya mengadu sakit kepala kepadanya, lalu dipijit olehnya dengan
pijitan yang lembut, tetapi, ya 'Aisyah! Celaka orang-orang yang syak
tentang Allah! Dengan amat dahsyat akan dihimpit mereka itu di
qubur-qubur mereka, sebagaimana himpitan batu gunung yang besar atas
sebutir telur. [HR Baihaqi dan Dailami]
عَنْ اَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ: قَالَ نَبِيُّ اللهِ ص: اِنَّ اْلعَبْدَ
اِذَا وُضِعَ فِى قَبْرِهِ وَ تَوَلَّى عَنْهُ اَصْحَابُهُ، اِنَّهُ
لَيَسْمَعُ قَرْعَ نِعَالِهِمْ. قَالَ: يَأْتِيْهِ مَلَكَاِن
فَيُقْعِدَانِهِ فَيَقُوْلاَنِ لَهُ. مَا كُنْتَ تَقُوْلُ فِى هذَا
الرَّجُلِ؟ قَالَ: فَاَمَّا اْلمُؤْمِنُ فَيَقُوْلُ: اَشْهَدُ اَنَّهُ
عَبْدُ اللهِ وَ رَسُوْلُهُ. قَالَ: فَيُقَالُ لَهُ: اُنْظُرْ اِلَى
مَقْعَدِكَ مِنَ النَّارِ قَدْ اَبْدَلَكَ اللهُ بِهِ مَقْعَدًا مِنَ
اْلجَنَّةِ. قَالَ نَبِيُّ اللهِ ص: فَيَرَاهُمَا جَمِيْعًا. قَالَ
قَتَادَةُ: وَ ذُكِرَ لَنَا اَنَّهُ يُفْسَحُ لَهُ فِى قَبْرِهِ سَبْعُوْنَ
ذِرَاعًا وَ يُمْـَلأُ عَلَيْهِ خَضِرًا اِلَى يَوْمِ يُبْعَثُوْنَ . مسلم
4: 2200
Dari Anas bin Malik, ia berkata : Nabiyullah SAW bersabda, “Sesungguhnya
seorang hamba jika diletakkan di dalam quburnya dan teman-temannya
sudah meninggalkannya, ia mendengar suara sandal mereka. Kemudian ia
didatangi dua malaikat, lalu mendudukkannya dan bertanya, “Apa
pendapatmu tentang laki-laki ini (Muhammad SAW)?”. Adapun orang mukmin
akan menjawab, “Aku bersaksi bahwa dia hamba Allah dan utusan-Nya”. Maka
dikatakan kepadanya, “Lihatlah tempatmu di nereka, Allah telah
menggantinya dengan tempat di surga”. Maka ia dapat melihat keduanya”.
Qatadah berkata, “Dan disebutkan kepada kami bahwasanya mayyit itu
diluaskan quburnya seluas 70 hasta, dan dipenuhi quburnya dengan
kenikmatan hingga hari mereka dibangkitkan. [HR. Muslim juz 4, hal.
2200]
عَنْ اَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: اِنَّ اْلمَيّتَ
اِذَا وُضِعَ فِى قَبْرِهِ اِنَّهُ لَيَسْمَعُ خَفْقَ نِعَالِهِمْ اِذَا
انْصَرَفُوْا. مسلم 4: 2201
Dari Anas bin Malik, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya
orang mati ketika diletakkan di dalam quburnya, ia masih mendengar
suara sandal orang-orang yang melayatnya ketika mereka pergi
meninggalkannya”. [HR. Muslim juz 4, hal. 2201]
عَنْ اَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رض اَنَّهُ حَدَّثَهُمْ اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص
قَالَ: اِنَّ اْلعَبْدَ اِذَا وُضِعَ فِى قَبْرِهِ وَ تَوَلَّى عَنْهُ
اَصْحَابُهُ وَ اِنَّهُ لَيَسْمَعُ قَرْعَ نِعَالِهِمْ اَتَاهُ مَلَكَانِ
فَيُقْعِدَانِهِ فَيَقُوْلاَنِ: مَا كُنْتَ تَقُوْلُ فِى هذَا الرَّجُلِ
لِمُحَمَّدٍ ص؟ فَاَمَّا اْلمُؤْمِنُ فَيَقُوْلُ: اَشْهَدُ اَنَّهُ عَبْدُ
اللهِ وَ رَسُوْلُهُ. فَيُقَالُ لَهُ: اُنْظُرْ اِلَى مَقْعَدِكَ مِنَ
النَّارِ قَدْ اَبْدَلَكَ اللهُ بِهِ مَقْعَدًا مِنَ
اْلجَنَّةِ.فَيَرَاهُمَا جَمِيْعًا.قَالَ وَاَمَّا اْلمُنَافِقُ
وَاْلكَافِرُ فَيُقَالُ لَهُ: مَا كُنْتَ تَقُوْلُ فِى هذَا الرَّجُلِ؟
فَيَقُوْلُ: لاَ اَدْرِى، كُنْتُ اَقُوْلُ مَا يَقُوْلُ النَّاسُ.
فَيُقَالُ: لاَ دَرَيْتَ وَ لاَ تَلَيْتَ؟ وَ يُضْرَبُ بِمَطَارِقَ مِنْ
حَدِيْدٍ ضَرْبَةً فَيَصِيْحُ صَيْحَةً يَسْمَعُهَا مَنْ يَلِيْهِ غَيْرَ
الثَّقَلَيْنِ. البخارى 2: 102
Dari Anas bin Malik RA bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya
apabila manusia diletakkan dalam quburnya, setelah teman-temannya
berpaling dan pergi hingga ia mendengar suara sandal mereka, lalu
datanglah kedua malaikat, mendudukkannya dan bertanya kepadanya, “Apa
yang dahulu kamu katakan (ketika di dunia) tentang laki-laki ini, yaitu
Muhammad SAW?”. Adapun orang mukmin, maka ia menjawab, “Aku bersaksi
bahwa dia adalah hamba Allah dan utusan-Nya”. Maka dikatakan kepadanya,
“Lihatlah tempat dudukmu di neraka, Allah telah menggantinya dengan
tempat duduk di surga”. Maka ia melihat keduanya. Adapun orang munafiq
dan kafir ketika ditanya, “Apa yang dahulu kamu katakan tentang
laki-laki ini?”. Ia akan menjawab, “Saya tidak tahu, saya dulu
mengatakan apa-apa yang dikatakan oleh orang-orang”. Maka dikatakan
kepadanya, “Kamu tidak tahu dan tidak membaca”. Kemudian ia dipukul
dengan pemukul dari besi diantara kedua telinganya, lalu ia berteriak
sekeras-kerasnya yang didengar oleh apa yang didekatnya selain jin dan
manusia”. [HR. Bukhari juz 2, hal. 102]
عَنْ اَبِى سَعِيْدٍ اْلخُدْرِيِّ رض اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص قَالَ: اِذَا
وُضِعَتِ اْلجَنَازَةُ وَ احْتَمَلَهَا الرّجَالُ عَلَى اَعْنَاقِهِمْ
فَاِنْ كَانَتْ صَالِحَةً قَالَتْ قَدّمُوْنِى. وَ اِنْ كَانَتْ غَيْرَ
صَالِحَةٍ قَالَتْ: يَا وَيْلَهَا، اَيْنَ تَذْهَبُوْنَ بِهَا؟ يَسْمَعُ
صَوْتَهَا كُلُّ شَيْءٍ اِلاَّ اْلاِنْسَانَ وَ لَوْ سَمِعَهُ صَعِقَ.
البخارى 2: 87
Dari Abu Sa’id Al-Khudriy RA bahwasanya Rasulullah SAW bersabda,
“Apabila jenazah diletakkan dan orang-orang mengangkatnya di atas pundak
mereka, jika jenazah itu baik maka ia berkata, “Ajukanlah saya”. Jika
jenazah itu tidak baik maka ia berkata, “Wahai celakanya, kemanakah
kalian pergi membawa jenazah?”. Segala sesuatu mendengarnya kecuali
manusia. Seandainya manusia mendengarnya niscaya ia pingsan”. [HR.
Bukhari juz 2, hal. 87]
عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ: اِذَا خَرَجَتْ رُوْحُ اْلمُؤْمِنِ
تَلَقَّاهَا مَلَكَانِ يُصْعِدَانِهَا، قَالَ حَمَّادٌ: فَذَكَرَ مِنْ
طِيْبِ رِيْحِهَا وَ ذَكَرَ اْلمِسْكَ، قَالَ: وَ يَقُوْلُ اَهْلُ
السَّمَاءِ: رُوْحٌ طَيّبَةٌ جَاءَتْ مِنْ قِبَلِ اْلاَرْضِ صَلَّى اللهُ
عَلَيْكِ وَ عَلَى جَسَدٍ كُنْتِ تَعْمُرِيْنَهُ. فَيُنْطَلَقُ بِهِ اِلَى
رَبّهِ عَزَّ وَ جَلَّ ثُمَّ يَقُوْلُ: اِنْطَلِقُوْا بِهِ اِلَى آخِرِ
اْلاَجَلِ. قَالَ: وَ اِنَّ اْلكَافِرَ اِذَا خَرَجَتْ رُوْحُهُ قَالَ
حَمَّادٌ: وَ ذَكَرَ مِنْ نَتْنِهَا وَ ذَكَرَ لَعْنًا وَ يَقُوْلُ اَهْلُ
السَّمَاءِ: رُوْحٌ خَبِيْثَةٌ جَاءَتْ مِنْ قِبَلِ اْلاَرْضِ. قَالَ:
فَيُقَالُ: اِنْطَلِقُوْا بِهِ اِلَى آخِرِ اْلاَجَلِ. قَالَ اَبُوْ
هُرَيْرَةَ: فَرَدَّ رَسُوْلُ اللهِ ص رَيْطَةً كَانَتْ عَلَيْهِ عَلَى
اَنْفِهِ هكَذَا. مسلم 4: 2202
Dari Abu Hurairah, ia berkata : Apabila ruh orang mukmin keluar, dua
malaikat menjemputnya dan membawanya naik. (Hammad berkata : Abu
Hurairah menyebutkan harum baunya seperti minyak wangi). Dan penghuni
langit berkata, “Ini adalah ruh yang baik yang datang dari bumi. Semoga
Allah memberikan rahmat kepadamu dan kepada jasad yang engkau tempati”.
Lalu ruh itu dibawa ke hadapan Tuhannya ‘Azza wa Jalla, lalu Dia
berfirman, “Bawalah ia ke batas yang terakhir (Sidratul Muntaha)”. Dan
apabila ruh orang kafir keluar, (Hammad berkata : Abu Hurairah
menyebutkan busuknya bau ruh itu dan ia dilaknati). Kemudian penghuni
langit berkata, “Ini adalah ruh yang jelek yang datang dari bumi”.
Kemudian difirmankan, “Bawalah ia ke tempat terakhir (ke Sijjin)”. Abu
Hurairah berkata, “Lalu Rasulullah SAW menutupkan kain tipis ke
hidungnya demikian”. [HR. Muslim juz 2, hal. 2202]
عَنِ اْلبَرَاءِ بْنِ عَازِبٍ عَنِ النَّبِيّ ص قَالَ: ( يُثَبّتُ اللهُ
الَّذِيْنَ امَنُوْا بِاْلقَوْلِ الثَّابِتِ ) قَالَ: نَزَلَتْ فِى عَذَابِ
اْلقَبْرِ فَيُقَالُ لَهُ: مَنْ رَبُّكَ؟ فَيَقُوْلُ رَبّيَ اللهُ وَ
نَبِيّى مُحَمَّدٌ ص. فَذلِكَ قَوْلُهُ عَزَّ وَجَلَّ: ( يُثَبّتُ اللهُ
الَّذِيْنَ امَنُوْا بِاْلقَوْلِ الثَّابِتِ فِى اْلحَيوةِ الدُّنْيَا وَ
فِى اْلاخِرَةِ ). مسلم 4: 2201
Dari Baraa’ bin ‘Aazib dari Nabi SAW beliau membaca
“Yutsabbitul-loohul-ladziina aamanuu bil qoulits-tsaabit” (Allah
meneguhkan iman orang-orang mukmin dengan ucapan yang teguh). [QS.
Ibrahim : 27] Lalu beliau bersabda, “Ayat ini turun mengenai siksa
qubur. Ditanyakan kepada orang mukmin, “Siapakah Tuhanmu?”. Ia menjawab,
“Tuhanku Allah, dan nabiku Muhammad SAW”. Itulah yang dimaksudkan
dengan firman Allah “Allah meneguhkan iman orang-orang mukmin dengan
ucapan yang teguh di dalam kehidupan dunia dan akhirat”. [HR. Muslim juz
4, hal. 2201]
عَنْ اَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ: كُنَّا مَعَ عُمَرَ بَيْنَ مَكَّةَ وَ
اْلمَدِيْنَةِ فَتَرَاءَيْنَا اْلهِلاَلَ وَ كُنْتُ رَجُلاً حَدِيْدَ
اْلبَصَرِ فَرَاَيْتُهُ وَ لَيْسَ اَحَدٌ يَزْعُمُ اَنَّهُ رَآهُ غَيْرِى.
قَالَ: فَجَعَلْتُ اَقُوْلُ لِعُمَرَ: اَمَا تَرَاهُ؟ فَجَعَلَ لاَ
يَرَاهُ. قَالَ: يَقُوْلُ عُمَرُ: سَاَرَاهُ وَ اَنَا مُسْتَلْقٍ عَلَى
فِرَاشِى ثُمَّ اَنْشَأَ يُحَدّثُنَا عَنْ اَهْلِ بَدْرٍ. فَقَالَ: اِنَّ
رَسُوْلَ اللهِ صَ كَانَ يُرِيْنَا مَصَارِعَ اَهْلِ بَدْرٍ بِاْلاَمْسِ
يَقُوْلُ: هذَا مَصْرَعُ فُلاَنٍ غَدًا، اِنْ شَاءَ اللهُ، قَالَ فَقَالَ
عُمَرُ. فَوَ الَّذِى بَعَثَهُ بِاْلحَقّ مَا اَخْطَئُوا اْلحُدُوْدَ
الَّتِى حَدَّ رَسُوْلُ اللهِ ص. قَالَ: فَجُعِلُوْا فِى بِئْرٍ بَعْضُهُمْ
عَلَى بَعْضٍ فَانْطَلَقَ رَسُوْلُ اللهِ ص حَتَّى انْتَهَى اِلَيْهِمْ
فَقَالَ: يَا فُلاَنَ بْنَ فُلاَنٍ وَ يَا فُلاَنَ بْنَ فُلاَنٍ هَلْ
وَجَدْتُمْ مَا وَعَدَكُمُ اللهُ وَ رَسُوْلُهُ حَقًّا؟ فَاِنّى قَدْ
وَجَدْتُ مَا وَعَدَنِى اللهُ حَقًّا. قَالَ عُمَرُ: يَا رَسُوْلَ اللهِ
كَيْفَ تُكَلّمُ اَجْسَادًا لاَ اَرْوَاحَ فِيْهَا؟ قَالَ: مَا اَنْتُمْ
بِاَسْمَعَ لِمَا اَقُوْلُ مِنْهُمْ غَيْرَ اَنَّهُمْ لاَ يَسْتَطِيْعُوْنَ
اَنْ يَرُدُّوْا عَلَيَّ شَيْئًا. مسلم 4: 2202
Dari Anas bin Malik, ia berkata : Dahulu kami berada diantara Makkah dan
Madinah bersama ‘Umar. Kami berusaha melihat bulan (tanggal muda),
sedangkan aku orang yang berpenglihatan tajam, maka aku dapat
melihatnya, dan tidak ada seorangpun yang menyangka bahwa selain aku
dapat melihatnya. Kemudian aku berkata kepada ‘Umar, “Apakah kamu dapat
melihatnya?”. Ternyata ia tidak melihatnya, lalu ‘Umar berkata, “Aku
akan melihatnya dengan berbaring diatas pembaringanku”. Kemudian ia
mulai bercerita kepada kami tentang Ahli Badr, katanya, “Sesungguhnya
Rasulullah SAW dahulu pernah menunjukkan kepada kami tempat-tempat
terbunuhnya Ahli Badr sebelum terjadi. Sabda beliau, “Ini tempat
terbunuhnya si fulan besuk, insya Allah”. ‘Umar berkata, “Demi Tuhan
yang telah mengutusnya dengan haq, mereka (yang terbunuh) tidak
melampaui batas-batas tempat yang telah ditetapkan Rasulullah SAW”.
Kemudian mereka dimasukkan ke dalam sumur, bertumpuk-tumpuk, setelah itu
beliau menuju ke tempat mereka, lalu bersabda, “Hai fulan bin fulan,
hai fulan bin fulan, apakah kamu telah mendapatkan apa yang pernah
dijanjikan Allah dan Rasul-Nya dengan nyata? Sesungguhnya aku telah
mendapatkan apa yang pernah dijanjikan Allah kepadaku dengan nyata”.
‘Umar berkata, “Ya Rasulullah, bagaimana engkau berbicara dengan
jasad-jasad yang tidak mempunyai ruh?”. Beliau bersabda, “Kamu tidak
lebih mendengar dari pada mereka akan apa yang aku katakan, hanya saja
mereka tidak bisa menjawab kepadaku sedikitpun”. [HR. Muslim juz 4, hal.
2202]
عَنْ اَنَسِ بْنِ مَالِكٍ اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص تَرَكَ قَتْلَى بَدْرٍ
ثَلاَثًا ثُمَّ اَتَاهُمْ فَقَامَ عَلَيْهِمْ فَنَادَاهُمْ فَقَالَ: يَا
اَبَا جَهْلِ بْنَ هِشَامٍ، يَا اُمَيَّةَ بْنَ خَلَفٍ، يَا عُتْبَةَ بْنَ
رَبِيْعَةَ، يَا شَيْبَةَ بْنَ رَبِيْعَةَ، اَلَيْسَ قَدْ وَجَدْتُمْ مَا
وَعَدَ رَبُّكُمْ حَقًّا؟ فَاِنّى قَدْ وَجَدْتُ مَا وَعَدَنِى رَبّى
حَقًّا. فَسَمِعَ عُمَرُ قَوْلَ النَّبِيّ ص فَقَالَ: يَا رَسُوْلَ اللهِ
كَيْفَ يَسْمَعُوْا وَ اَنَّى يُجِيْبُوْا وَ قَدْ جَيَّفُوْا؟ قَالَ: وَ
الَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ مَا اَنْتُمْ بِاَسْمَعَ لِمَا اَقُوْلُ مِنْهُمْ
وَ لكِنَّهُمْ لاَ يَقْدِرُوْنَ اَنْ يُجِيْبُوْا. ثُمَّ اَمَرَ بِهِمْ
فَسُحِبُوْا فَاُلْقُوْا فِى قَلِيْبِ بَدْرٍ. مسلم 4: 2203
Dari Anas bin Malik, bahwa Rasulullah SAW membiarkan tiga orang yang
terbunuh di Badr, kemudian beliau mendatangi mereka dan berdiri diatas
mereka lalu memanggil mereka, “Hai Abu Jahl bin Hisyam, hai Ummayah bin
Khalaf, hai ‘Utbah bin Rabi’ah, hai Syaibah bin Rabi’ah, bukankah kamu
telah mendapatkan apa yang dijanjikan Tuhanmu dengan nyata? Sesungguhnya
aku telah mendapatkan apa yang telah dijanjikan Tuhanku dengan nyata”.
Mendengar sabda Nabi SAW demikian itu ‘Umar bertanya, “Ya Rasulullah,
bagaimana mereka bisa mendengar dan menjawab, sedangkan mereka telah
menjadi bangkai?”. Beliau bersabda, “Demi Tuhan yang jiwaku di
tangan-Nya, kamu tidak lebih mendengar dari pada mereka tentang apa yang
aku katakan, tetapi mereka tidak bisa menjawab”. Setelah itu beliau
memerintahkan agar mereka disingkirkan, lalu mereka diseret dan
dimasukkan ke dalam sumur di Badr. [HR. Muslim juz 4, hal. 2203]
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رض عَنِ النَّبِيّ ص اَنَّهُ مَرَّ بِقَبْرَيْنِ
يُعَذَّبَانِ فَقَالَ: اِنَّهُمَا لَيُعَذَّبَانِ وَ مَا يُعَذَّبَانِ فِى
كَبِيْرٍ. اَمَّا اَحَدُهُمَا فَكَانَ لاَ يَسْتَتِرُ مِنَ اْلبَوْلِ، وَ
اَمَّا اْلآخَرُ فَكَانَ يَمْشِى بِالنَّمِيْمَةِ. ثُمَّ اَخَذَ جَرِيْدَةً
رَطْبَةً فَشَقَّهَا بِنِصْفَيْنِ، ثُمَّ غَرَزَ فِى كُلّ قَبْرٍ
وَاحِدَةً. فَقَالُوْا: يَا رَسُوْلَ اللهِ، لِمَ صَنَعْتَ هذَا؟ فَقَالَ:
لَعَلَّهُ اَنْ يُخَفَّفَ عَنْهُمَا مَا لَمْ يَيْبَسَا. البخارى 2: 98
Dari Ibnu ‘Abbas RA, dari Nabi SAW : Bahwasanya Nabi SAW melewati dua
qubur, lalu bersabda, “Sesungguhnya kedua-duanya sedang disiksa, dan
keduanya tidak disiksa dalam urusan yang (dianggap) besar. Adapun salah
seorang dari keduanya, ia tidak mau membersihkan diri dari kencingnya.
Sedangkan yang lain, suka mengadu domba”. Kemudian beliau mengambil
pelepah kurma yang masih basah, lalu beliau membelahnya menjadi dua
bagian, kemudian menancapkan tiap bagian pada setiap qubur. Para
shahabat lalu bertanya, “Untuk apakah engkau melakukan itu ya Rasulullah
?”. Beliau bersabda, “Mudah-mudahan akan diringankan siksa kedua orang
ini selama pelepah kurma itu belum menjadi kering”. [HR. Bukhari juz 2,
hal. 98]
ذَكَرَ رَسُوْلُ اللهِ ص فَتَّانَيِ الْقَبْرِ فَقَالَ عُمَرُ: اَتُرَدُّ
اِلَيْنَا عُقُوْلُنَا يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص:
نَعَمْ، كَهَيْئَتِكُمُ اْليَوْمَ. فَقَالَ عُمَرُ: بِفِيْهِ اْلحَجَرُ.
احمد و الطبرانى
Rasulullah SAW pernah menyebut dua malaikat pemeriksa kubur. Lalu Umar
bertanya : "Apakah akal kita akan dikembalikan kepada kita ya
Rasulullah?" Jawab Rasulullah SAW : "Ya, seperti keadaan kamu sekarang
ini". Maka Umar berkata : "Batu di mulutnya. (Aku akan memberi jawaban
yang tepat)". [HR Ahmad dan Thabrani]
قَالَ النَّبِيُّ ص: يُسَلَّطُ عَلَى اْلكَافِرِ فِى قَبْرِهِ تِسْعَةٌ وَ
تِسْعُوْنَ تِنّيْنًا تَلْدَغُهُ حَتَّى تَقُوْمَ السَّاعَةُ. احمد و ابو
يعلى
Nabi SAW bersabda, “Dilepaskan pada orang kafir dalam quburnya 99 ular
mematuk (menggigit)nya hingga hari qiyamat”. [HR. Ahmad dan Abu Ya’la]
قَالَ النَّبِيُّ ص: اِنَّ عَذَابَ اْلقَبْرِ مِنْ ثَلاَثَةٍ مِنَ
اْلغِيْبَةِ وَ النَّمِيْمَةِ وَ اْلبَوْلِ. فَاِيَّاكُمْ وَ ذلِكَ.
البيهقى
Nabi SAW bersabda, “Sesungguhnya ‘adzab qubur itu disebabkan oleh tiga
hal. Yaitu mengumpat, mengadu-adu dan karena (tidak bersih dari)
kencing. Karena itu jagalah diri kalian dari tiga hal tersebut”. [HR.
Baihaqi]
Tempat ketetapan ruh
Tempat ketetapan ruh, yakni orang yang sudah mati itu ruhnya akan tetap di tempat yang ditentukan baginya. Nabi SAW bersabda :
اَرْوَاحُ الشُّهَدَاءِ عِنْدَ اللهِ فِى حَوَاصِلِ طَيْرٍ حُضْرٍ تَسْرَحُ
فِى اَنْهَارِ اْلجَنَّةِ حَيْثُ شَاءَتْ ثُمَّ تَأْوِى اِلَى قَنَادِيْلَ
تَحْتَ اْلعَرْشِ. مسلم
Ruh-ruh orang-orang yang mati syahid itu di sisi Allah di
tembolok-tembolok burung hijau, berjalan-jalan di sungai-sungai surga
kemana saja ia suka, kemudian kembali kepada lampu-lampu di bawah ‘Arsy.
[HR. Muslim]
اِنَّمَا نَسَمَةُ اْلمُؤْمِنِ طَائِرٌ تَعَلَّقَ فِى شَجَرِ اْلجَنَّةِ
حَتَّى يُرْجِعَهُ اللهُ اِلَى جَسَدِهِ يَوْمَ اْلقِيَامَةِ. مالك و احمد و
النسائى
Sesungguhnya ruh orang mukmin itu adalah burung yang tergantung di pohon
surga hingga Allah mengembalikannya ke badannya di hari qiyamat. [HR.
Malik, Ahmad dan Nasai]
قَالَ النَّبِيُّ ص: تَكُوْنُ النَّسَمُ طَيْرًا تَعَلَّقَ بِالشَّجَرِ
حَتَّى اِذَا كَانَ يَوْمَ اْلقِيَامَةِ دَخَلَتْ كُلُّ نَفْسٍ فِى
جَسَدِهَا. احمد و الطبرانى
Nabi SAW bersabda, “Ruh-ruh itu adalah burung-burung yang bergantung di
pohon-pohon, hingga apabila (tiba) hari qiyamat, masuklah tiap-tiap ruh
ke badannya”. [HR. Ahmad dan Thabrani]
قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: اِنَّ نَسَمَةَ اْلمُؤْمِنِ تَسْرَحُ فِى
اْلجَنَّةِ حَيْثُ شَاءَتْ وَ نَسَمَةَ اْلكَافِرِ فِى سِجّيْنٍ. ابن ماجه و
الطبرانى
Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya ruh orang mukmin itu
berjalan-jalan ke manasaja di surga sesukanya dan ruh orang kafir itu di
neraka”. [HR. Ibnu Majah dan Thabrani]
قَالَ النَّبِيُّ ص: اِنَّ اَرْوَاحَ اْلمُؤْمِنِيْنَ فِى السَّمَاءِ
السَّابِعَةِ يَنْظُرُوْنَ اِلَى مَنَازِلِهِمْ فِى اْلجَنَّةِ. ابو نعيم
Nabi SAW bersabda, “Sesungguhnya ruh-ruh kaum mukminin itu adalah di
langit yang ke tujuh, melihat tempat kedudukan mereka di surga”. [HR.
Abu Nu’aim]
اِنَّ ابْنَ عُمَرَ عَزَّى اَسْمَاءَ بِابْنِهَا عَبْدِ اللهِ بْنِ
الزُّبَيْرِ وَ جُثَّتُهُ مَصْلُوْبَةٌ فَقَالَ: لاَ تَحْزَنِى فَاِنَّ
اْلاَرْوَاحَ عِنْدَ اللهِ فِى السَّمَاءِ وَ اِنَّمَا هذِهِ جُثَّةٌ. سعيد
بن منصور
Sesungguhnya Ibnu ‘Umar pernah menghibur Asma’ karena kematian anaknya
yang bernama ‘Abdullah bin Zubair, sedang mayyitnya di salib orang. Ibnu
‘Umar berkata, “Janganlah engkau berduka cita, karena sesungguhnya
ruh-ruh itu di sisi Allah di langit. Adapun (yang di depan kita) ini
hanyalah badannya”. [HR. Sa’id bin Manshur]
FITNAH (UJIAN) KUBUR
Jika seorang hamba telah diletakkan di dalam kubur, dua malaikat akan
mendatanginya dan memberikan pertanyaan-pertanyaan. Inilah yang dimaksud
dengan fitnah (ujian) kubur. Dalam hadits shahih riwayat Imam Ahmad
rahimahullah dari sahabat al-Barro bin ‘Azib Radhiyallahu anhu ,
Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
فَيَأْتِيهِ مَلَكَانِ فَيُجْلِسَانِهِ:فَيَقُولَانِ لَهُ : مَنْ رَبُّكَ ؟
فَيَقُولُ: رَبِّيَ اللَّهُ فَيَقُولَانِ لَهُ : مَا دِينُكَ ؟ فَيَقُولُ:
دِينِيَ الْإِسْلَامُ فَيَقُولَانِ لَهُ: مَا هَذَا الرَّجُلُ الَّذِي
بُعِثَ فِيكُمْ ؟ فَيَقُولُ هُوَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ فَيَقُولَانِ لَهُ : وَمَا يُدْرِيْكَ ؟ فَيَقُولُ: قَرَأْتُ
كِتَابَ اللَّهِ فَآمَنْتُ بِهِ وَصَدَّقْتُ فَيُنَادِي مُنَادٍ فِي
السَّمَاءِ: أَنْ قَدْ صَدَقَ عَبْدِيفَأَفْرِشُوهُ مِنَ الْجَنَّةِ
(وَأَلْبِسُوهُ مِنَ الْجَنَّةِ) وَافْتَحُوا لَهُ بَابًا إِلَى الْجَنَّةِ
, قَالَ: فَيَأْتِيهِ مِنْ رَوْحِهَا وَطِيبِهَا وَيُفْسَحُ لَهُ فِي
قَبْرِهِ مَدَّ بَصَرِهِ قَالَ وَيَأْتِيهِ رَجُلٌ حَسَنُ الْوَجْهِ حَسَنُ
الثِّيَابِ طَيِّبُ الرِّيحِ فَيَقُولُ : أَبْشِرْ بِالَّذِي يَسُرُّكَ
هَذَا يَوْمُكَ الَّذِي كُنْتَ تُوعَدُ , فَيَقُولُ لَهُ : مَنْ أَنْتَ ,
فَوَجْهُكَ الْوَجْهُ يَجِيءُ بِالْخَيْرِ, فَيَقُولُ: أَنَا عَمَلُكَ
الصَّالِحُ, فَيَقُولُ: رَبِّ أَقِمِ السَّاعَةَ حَتَّى أَرْجِعَ إِلَى
أَهْلِي وَمَالِي
Kemudian dua malaikat mendatanginya dan mendudukannya, lalu keduanya
bertanya, “Siapakah Rabbmu ?” Dia (si mayyit) menjawab, “Rabbku adalah
Allâh”. Kedua malaikat itu bertanya, “Apa agamamu?”Dia menjawab:
“Agamaku adalah al-Islam”.
Kedua malaikat itu bertanya, “Siapakah laki-laki yang telah diutus kepada kamu ini?” Dia menjawab, “Beliau utusan Allâh”.
Kedua malaikat itu bertanya, “Apakah ilmumu?” Dia menjawab, “Aku membaca kitab Allâh, aku mengimaninya dan membenarkannya”.
Lalu seorang penyeru dari langit berseru, “HambaKu telah (berkata)
benar, berilah dia hamparan dari surga, (dan berilah dia pakaian dari
surga), bukakanlah sebuah pintu untuknya ke surga.
Maka datanglah kepadanya bau dan wangi surga. Dan diluaskan baginya di
dalam kuburnya sejauh mata memandang. Dan datanglah seorang laki-laki
berwajah tampan kepadanya, berpakaian bagus, beraroma wangi, lalu
mengatakan, “Bergembiralah dengan apa yang menyenangkanmu, inilah harimu
yang engkau telah dijanjikan (kebaikan)”. Maka ruh orang Mukmin itu
bertanya kepadanya, “Siapakah engkau, wajahmu adalah wajah yang membawa
kebaikan?” Dia menjawab, “Aku adalah amalmu yang shalih”. Maka ruh itu
berkata, “Rabbku, tegakkanlah hari kiamat, sehingga aku akan kembali
kepada istriku dan hartaku”.
Pertanyaan ini juga dilontarkan kepada orang kafir, sebagaimana yang dijelaskan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam :
وَيَأْتِيهِ مَلَكَانِ فَيُجْلِسَانِهِ فَيَقُولَانِ لَهُ : مَنْ رَبُّكَ؟
فَيَقُولُ : هَاهْ هَاهْ لَا أَدْرِي فَيَقُولَانِ لَهُ: مَا دِينُكَ ؟
فَيَقُولُ : هَاهْ هَاهْ لَا أَدْرِي فَيَقُولَانِ لَهُ مَا هَذَا
الرَّجُلُ الَّذِي بُعِثَ فِيكُمْ ؟ فَيَقُولُ: هَاهْ هَاهْ لَا أَدْرِي
فَيُنَادِي مُنَادٍ مِنَ السَّمَاءِ أَنْ كَذَبَ فَافْرِشُوا لَهُ مِنَ
النَّارِ وَافْتَحُوا لَهُ بَابًا إِلَى النَّارِ فَيَأْتِيهِ مِنْ
حَرِّهَا وَسَمُومِهَا وَيُضَيَّقُ عَلَيْهِ قَبْرُهُ حَتَّى تَخْتَلِفَ
فِيهِ أَضْلَاعُهُ وَيَأْتِيهِ رَجُلٌ قَبِيحُ الْوَجْهِ قَبِيحُ
الثِّيَابِ مُنْتِنُ الرِّيحِ فَيَقُولُ: أَبْشِرْ بِالَّذِي يَسُوءُكَ
هَذَا يَوْمُكَ الَّذِي كُنْتَ تُوعَدُ, فَيَقُولُ: مَنْ أَنْتَ فَوَجْهُكَ
الْوَجْهُ يَجِيءُ بِالشَّرِّ فَيَقُولُ: أَنَا عَمَلُكَ الْخَبِيثُ
فَيَقُولُ رَبِّ لَا تُقِمِ السَّاعَةَ
Kemudian ruhnya dikembalikan di dalam jasadnya. Dan dua malaikat
mendatanginya dan mendudukannya. Kedua malaikat itu bertanya, “Sipakah
Rabbmu?” Dia menjawab: “Hah, hah, aku tidak tahu”.
Kedua malaikat itu bertanya, “Apakah agamamu?” Dia menjawab, “Hah, hah, aku tidak tahu”.
Kedua malaikat itu bertanya, “Siapakah laki-laki yang telah diutus kepada kamu ini?”Dia menjawab: “Hah, hah, aku tidak tahu”.
Lalu penyeru dari langit berseru, “HambaKu telah (berkata) dusta,
berilah dia hamparan dari neraka, dan bukakanlah sebuah pintu untuknya
ke neraka.” Maka panas neraka dan asapnya datang mendatanginya. Dan
kuburnya disempitkan, sehingga tulang-tulang rusuknya berhimpitan.
Dan datanglah seorang laki-laki berwajah buruk kepadanya, berpakaian
buruk, beraroma busuk, lalu mengatakan, “Terimalah kabar yang
menyusahkanmu ! Inilah harimu yang telah dijanjikan (keburukan)
kepadamu”. Maka ruh orang kafir itu bertanya kepadanya, “Siapakah
engkau, wajahmu adalah wajah yang membawa keburukan?” Dia menjawab, “Aku
adalah amalmu yang buruk”. Maka ruh itu berkata, “Rabbku, janganlah
Engkau tegakkan hari kiamat”. [Lihat Shahîhul Jâmi’ no: 1672]
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ سُلَيْمَانَ الْأَنْبَارِيُّ حَدَّثَنَا عَبْدُ
الْوَهَّابِ بْنُ عَطَاءٍ الْخَفَّافُ أَبُو نَصْرٍ عَنْ سَعِيدٍ عَنْ
قَتَادَةَ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ إِنَّ نَبِيَّ اللَّهِ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَخَلَ نَخْلًا لِبَنِي النَّجَّارِ فَسَمِعَ
صَوْتًا فَفَزِعَ فَقَالَ مَنْ أَصْحَابُ هَذِهِ الْقُبُورِ قَالُوا يَا
رَسُولَ اللَّهِ نَاسٌ مَاتُوا فِي الْجَاهِلِيَّةِ فَقَالَ تَعَوَّذُوا
بِاللَّهِ مِنْ عَذَابِ النَّارِ وَمِنْ فِتْنَةِ الدَّجَّالِ قَالُوا
وَمِمَّ ذَاكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ إِنَّ الْمُؤْمِنَ إِذَا وُضِعَ
فِي قَبْرِهِ أَتَاهُ مَلَكٌ فَيَقُولُ لَهُ مَا كُنْتَ تَعْبُدُ فَإِنْ
اللَّهُ هَدَاهُ قَالَ كُنْتُ أَعْبُدُ اللَّهَ فَيُقَالُ لَهُ مَا كُنْتَ
تَقُولُ فِي هَذَا الرَّجُلِ فَيَقُولُ هُوَ عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ
فَمَا يُسْأَلُ عَنْ شَيْءٍ غَيْرِهَا فَيُنْطَلَقُ بِهِ إِلَى بَيْتٍ
كَانَ لَهُ فِي النَّارِ فَيُقَالُ لَهُ هَذَا بَيْتُكَ كَانَ لَكَ فِي
النَّارِ وَلَكِنَّ اللَّهَ عَصَمَكَ وَرَحِمَكَ فَأَبْدَلَكَ بِهِ بَيْتًا
فِي الْجَنَّةِ فَيَقُولُ دَعُونِي حَتَّى أَذْهَبَ فَأُبَشِّرَ أَهْلِي
فَيُقَالُ لَهُ اسْكُنْ وَإِنَّ الْكَافِرَ إِذَا وُضِعَ فِي قَبْرِهِ
أَتَاهُ مَلَكٌ فَيَنْتَهِرُهُ فَيَقُولُ لَهُ مَا كُنْتَ تَعْبُدُ
فَيَقُولُ لَا أَدْرِي فَيُقَالُ لَهُ لَا دَرَيْتَ وَلَا تَلَيْتَ
فَيُقَالُ لَهُ فَمَا كُنْتَ تَقُولُ فِي هَذَا الرَّجُلِ فَيَقُولُ كُنْتُ
أَقُولُ مَا يَقُولُ النَّاسُ فَيَضْرِبُهُ بِمِطْرَاقٍ مِنْ حَدِيدٍ
بَيْنَ أُذُنَيْهِ فَيَصِيحُ صَيْحَةً يَسْمَعُهَا الْخَلْقُ غَيْرُ
الثَّقَلَيْنِ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ سُلَيْمَانَ حَدَّثَنَا عَبْدُ
الْوَهَّابِ بِمِثْلِ هَذَا الْإِسْنَادِ نَحْوَهُ قَالَ إِنَّ الْعَبْدَ
إِذَا وُضِعَ فِي قَبْرِهِ وَتَوَلَّى عَنْهُ أَصْحَابُهُ إِنَّهُ
لَيَسْمَعُ قَرْعَ نِعَالِهِمْ فَيَأْتِيهِ مَلَكَانِ فَيَقُولَانِ لَهُ
فَذَكَرَ قَرِيبًا مِنْ حَدِيثِ الْأَوَّلِ قَالَ فِيهِ وَأَمَّا
الْكَافِرُ وَالْمُنَافِقُ فَيَقُولَانِ لَهُ زَادَ الْمُنَافِقَ وَقَالَ
يَسْمَعُهَا مَنْ وَلِيَهُ غَيْرُ الثَّقَلَيْنِ
Telah menceritakan kepada kami [Muhammad bin Sulaiman Al Anbari]
berkata, telah menceritakan kepada kami [Abdul Wahhab bin Atha Al
Khaffaf Abu Nashr] dari [Sa'id] dari [Qatadah] dari [Anas bin Malik] ia
berkata, "Nabi shallallahu 'alaihi wasallam pernah masuk ke sebuah kebun
milik bani Najjar, lalu beliau mendengar suara hingga beliau kawatir.
Beliau bertanya: "Siapa yang dikubur ini?" Para sahabat menjawab, "Wahai
Rasulullah, orang-orang yang mati pada masa Jahilliyah." Beliau
bersabda: "Berlindunglah kalian kepada Allah dari siksa neraka &
fitnah Dajjal. Para sahabat berkata, Wahai Rasulullah, memang kenapa?
Beliau menjawab: Seorang mukmin jika telah diletakkan dalam kuburnya,
maka seorang malaikat akan datang kepadanya seraya berkata, Apa yg kamu
sembah?
Jika Allah memberinya pentunjuk maka ia akan menjawab, Aku menyembah
Allah. Lalu ditanyakan kepadanya, Apa yg kau katakan tentang laki-laki
ini (Muhammad)?
Lalu ia menjawab, Dia adl hamba Allah & rasul-Nya. Dan ia tak
ditanya kecuali pertanyaan tersebut. Lalu ia dibawa menuju rumah yg
disediakan untuknya dalam neraka, dikatakan kepadanya, Ini adl rumah yg
semula disediakan untukmu di neraka, tetapi Allah telah melindungi &
memberimu rahmat lalu Allah menggantikan rumah di surga. Laki-laki
mukmin itu pun berkata, Biarkanlah aku mengabarkan berita baik ini
kepada keluargaku. Lalu dikatakan kepadanya, Diamlah., Dan seorang kafir
jika telah diletakkan dalam kuburnya, maka seorang malaikat akan datang
kepadanya seraya menghardiknya, lalu malaikat itu bertanya, Siapa yg
kamu sembah?
Laki-laki itu menjawab, Aku tak tahu. Lalu dikatakan kepadanya, Engkau
tak tahu tapi tak mau membaca! Lalu dikatakan kepadanya, Apa yg kamu
katakan tentang ini (Muhammad)?
Laki-laki itu menjawab, Aku mengatakan sebagaimana yg dikatakan oleh
manusia. Malaikat itu lalu memukulnya dgn palu besi antara dua
telinganya hingga ia melolong & menjerit kesakitan dgn jeritan yg
dapat didengar oleh para semua makhluk kecuali jin & manusia. Telah
menceritakan kepada kami Muhammad bin Sulaiman berkata, telah
menceritakan kepada kami Abdul Wahhab dgn sanad yg sama; seperti hadits
tersebut. Beliau bersabda:
Jika seorang hamba diletakkan dalam kuburnya, & orang-orang yg
menghantarkannya telah kembali, maka ia dapat mendengar bunyi sandal
mereka. setelah itu ada dua malaikat mendatanginya & bertanya
kepadanya. …lalu ia menyebutkan redaksi yg hampir sama dgn hadits
pertama ia menyebutkan (dalam riwayatnya); Adapun orang kafir &
munafik, maka kedua malaikat itu akan berkata kepadanya, - ia
menambahkan kaliamat, 'munafik', & ia juga menyebutkan dalam
riwayatnya; akan dapat didengar oleh makhluk yg disekitarnya selain jin
& manusia. [HR. Abudaud No.4126].
حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا جَرِيرٌ ح و
حَدَّثَنَا هَنَّادُ بْنُ السَّرِيِّ حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ وَهَذَا
لَفْظُ هَنَّادٍ عَنْ الْأَعْمَشِ عَنْ الْمِنْهَالِ عَنْ زَاذَانَ عَنْ
الْبَرَاءِ بْنِ عَازِبٍ قَالَ خَرَجْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي جَنَازَةِ رَجُلٍ مِنْ الْأَنْصَارِ
فَانْتَهَيْنَا إِلَى الْقَبْرِ وَلَمَّا يُلْحَدْ فَجَلَسَ رَسُولُ
اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَجَلَسْنَا حَوْلَهُ
كَأَنَّمَا عَلَى رُءُوسِنَا الطَّيْرُ وَفِي يَدِهِ عُودٌ يَنْكُتُ بِهِ
فِي الْأَرْضِ فَرَفَعَ رَأْسَهُ فَقَالَ اسْتَعِيذُوا بِاللَّهِ مِنْ
عَذَابِ الْقَبْرِ مَرَّتَيْنِ أَوْ ثَلَاثًا زَادَ فِي حَدِيثِ جَرِيرٍ
هَاهُنَا وَقَالَ وَإِنَّهُ لَيَسْمَعُ خَفْقَ نِعَالِهِمْ إِذَا وَلَّوْا
مُدْبِرِينَ حِينَ يُقَالُ لَهُ يَا هَذَا مَنْ رَبُّكَ وَمَا دِينُكَ
وَمَنْ نَبِيُّكَ قَالَ هَنَّادٌ قَالَ وَيَأْتِيهِ مَلَكَانِ
فَيُجْلِسَانِهِ فَيَقُولَانِ لَهُ مَنْ رَبُّكَ فَيَقُولُ رَبِّيَ اللَّهُ
فَيَقُولَانِ لَهُ مَا دِينُكَ فَيَقُولُ دِينِيَ الْإِسْلَامُ
فَيَقُولَانِ لَهُ مَا هَذَا الرَّجُلُ الَّذِي بُعِثَ فِيكُمْ قَالَ
فَيَقُولُ هُوَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
فَيَقُولَانِ وَمَا يُدْرِيكَ فَيَقُولُ قَرَأْتُ كِتَابَ اللَّهِ
فَآمَنْتُ بِهِ وَصَدَّقْتُ زَادَ فِي حَدِيثِ جَرِيرٍ فَذَلِكَ قَوْلُ
اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ { يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا } الْآيَةُ
ثُمَّ اتَّفَقَا قَالَ فَيُنَادِي مُنَادٍ مِنْ السَّمَاءِ أَنْ قَدْ
صَدَقَ عَبْدِي فَأَفْرِشُوهُ مِنْ الْجَنَّةِ وَافْتَحُوا لَهُ بَابًا
إِلَى الْجَنَّةِ وَأَلْبِسُوهُ مِنْ الْجَنَّةِ قَالَ فَيَأْتِيهِ مِنْ
رَوْحِهَا وَطِيبِهَا قَالَ وَيُفْتَحُ لَهُ فِيهَا مَدَّ بَصَرِهِ قَالَ
وَإِنَّ الْكَافِرَ فَذَكَرَ مَوْتَهُ قَالَ وَتُعَادُ رُوحُهُ فِي
جَسَدِهِ وَيَأْتِيهِ مَلَكَانِ فَيُجْلِسَانِهِ فَيَقُولَانِ لَهُ مَنْ
رَبُّكَ فَيَقُولُ هَاهْ هَاهْ هَاهْ لَا أَدْرِي فَيَقُولَانِ لَهُ مَا
دِينُكَ فَيَقُولُ هَاهْ هَاهْ لَا أَدْرِي فَيَقُولَانِ مَا هَذَا
الرَّجُلُ الَّذِي بُعِثَ فِيكُمْ فَيَقُولُ هَاهْ هَاهْ لَا أَدْرِي
فَيُنَادِي مُنَادٍ مِنْ السَّمَاءِ أَنْ كَذَبَ فَأَفْرِشُوهُ مِنْ
النَّارِ وَأَلْبِسُوهُ مِنْ النَّارِ وَافْتَحُوا لَهُ بَابًا إِلَى
النَّارِ قَالَ فَيَأْتِيهِ مِنْ حَرِّهَا وَسَمُومِهَا قَالَ وَيُضَيَّقُ
عَلَيْهِ قَبْرُهُ حَتَّى تَخْتَلِفَ فِيهِ أَضْلَاعُهُ زَادَ فِي حَدِيثِ
جَرِيرٍ قَالَ ثُمَّ يُقَيَّضُ لَهُ أَعْمَى أَبْكَمُ مَعَهُ مِرْزَبَّةٌ
مِنْ حَدِيدٍ لَوْ ضُرِبَ بِهَا جَبَلٌ لَصَارَ تُرَابًا قَالَ
فَيَضْرِبُهُ بِهَا ضَرْبَةً يَسْمَعُهَا مَا بَيْنَ الْمَشْرِقِ
وَالْمَغْرِبِ إِلَّا الثَّقَلَيْنِ فَيَصِيرُ تُرَابًا قَالَ ثُمَّ
تُعَادُ فِيهِ الرُّوحُ حَدَّثَنَا هَنَّادُ بْنُ السَّرِيِّ حَدَّثَنَا
عَبْدُ اللَّهِ بْنُ نُمَيْرٍ حَدَّثَنَا الْأَعْمَشُ حَدَّثَنَا
الْمِنْهَالُ عَنْ أَبِي عُمَرَ زَاذَانَ قَالَ سَمِعْتُ الْبَرَاءَ عَنْ
النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ فَذَكَرَ نَحْوَهُ
Telah menceritakan kepada kami [Utsman bin Abu Syaibah] berkata, telah
menceritakan kepada kami [Jarir]. (dalam jalur lain disebutkan) Telah
menceritakan kepada kami [Hannad As Sari] berkata, telah menceritakan
kepada kami [Abu Mu'awiyah] - dan ini adalah lafadz Hannad- dari [Al
A'masy] dari [Al Minhal] dari [Zadzan] dari [Al Bara bin Azib] ia
berkata, "Kami bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam keluar
untuk melihat jenazah seorang laki-laki Anshar, kami pun tiba di
pemakaman. Ketika lubang lahad telah dibuat, Rasulullah shallallahu
'alaihi wasallam duduk, lalu kami ikut duduk di sisinya. Kami diam,
seakan-akan di atas kepala kami ada burung. Saat itu beliau memegang
sebatang kayu yang ditancapkan ke dalam tanah, beliau lalu mengangkat
kepalanya dan bersabda: "Mintalah perlindungan kepada Allah dari siksa
kubur. Beliau ucapkan kalimat itu hingga dua atau tiga kali. Demikanlah
tambahan dalam hadits Jarir. Beliau melanjutkan: Sungguh, mayat itu akan
dapat mendengar derap sandal mereka saat berlalau pulang; yakni ketika
ditanyakan kepadanya, 'Wahai kamu, siapa Rabbmu?
Apa agamamu?
Dan siapa Nabimu?
' -Hannad menyebutkan; Beliau bersabda:
- lalu ada dua malaikat mendatanginya seranya mendudukkannya. Malaikat itu bertanya, Siapa Rabbmu?
ia menjawab, Rabbku adl Allah. Malaikat itu bertanya lagi, Apa agamamu?
ia menjawab, Agamaku adl Islam. Malaikat itu bertanya lagi, Siapa laki-laki yg diutus kepada kalian ini?
' ia menjawab, Dia adl Rasulullah . malaikat itu bertanya lagi, Apa yg kamu ketahui?
ia menjawab, Aku membaca Kitabullah, aku mengimaninya &
membenarkannya. Dalam hadits Jarir ditambahkan, Maka inilah makna firman
Allah: '(Allah meneguhkan (iman) orang-orang yg beriman…) ' hingga
akhir ayat. -Qs. Ibrahim: 27- kemudian kedua perawi sepakat pada lafadz,
Beliau bersabda:
Kemudian ada suara dari langit yg menyeru, Benarlah apa yg dikatakan
oleh hamba-Ku, hamparkanlah permadani untuknya di surga, bukakan baginya
pintu-pintu surga & berikan kepadanya pakaian surga. beliau
melanjutkan: Kemudian didatangkan kepadanya wewangian surga, lalu
kuburnya diluaskan sejauh mata memandang. Beliau melanjutkan: Jika yg
meninggal adl orang kafir, maka ruhnya akan dikembalikan kepada
jasadnya. Saat itu datanglah dua malaikat serya mendudukkannya. Kedua
malaikat itu bertanya, Siapa Rabbmu?
ia menjawab, Hah, hah, hah. Aku tak tahu. Malaikat itu bertanya, Apa agamamu?
ia menjawab, Hah, hah. Aku tak tahu. Malaikat itu bertanya lagi, Siapa laki-laki yg diutus kepada kalian ini?
' ia menjawab, Hah, hah. Aku tak tahu. Setelah itu terdengar suara dari
langit: Ia telah berdusta. Berilah ia hamparan permadani dari neraka,
berikan pakaian dari neraka, & bukakanlah pintu-pintu neraka
untuknya. Beliau melanjutkan: Kemudian didatangkan kepadanya panas &
baunya neraka. Lalu kuburnya disempitkan hingga tulangnya saling
berhimpitan. Dalam hadits Jarir ditambahkan, Beliau bersabda:
Lalu ia dibelenggu dalam keadaan buta & bisu. Dan baginya disediakan
sebuah pemukul dari besi, sekiranya pemukul itu dipukulkan pada sebuah
gunung niscaya akan menjadi debu. Beliau melanjutkan: Laki-laki kafir
itu kemudian dipukul dgn pemukul tersebut hingga suaranya dapat didengar
oleh semua makhluk; dari ujung timur hingga ujung barat -kecuali jin
& manusia- hingga menjadi debu. Beliau meneruskan ceritanya: Setelah
itu, ruhnya dikembalikan lagi. Telah menceritakan kepada kami Hannad
bin As Sari berkata, telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Numair
berkata, telah menceritakan kepada kami Al A'masy berkata, telah
menceritakan kepada kami Al Minhal dari Abu Umar Zadzan ia berkata; Aku
mendengar Al Bara dari Nabi , beliau bersabda…. lalu ia menyebutkan
seperti hadits tersebut. [HR. Abudaud No.4127].
Dari hadits yang telah dikemukakan di atas menunjukkan bahwa pertanyaan
dalam kubur berlaku untuk umum, baik orang Mukmin maupun kafir.
ADZAB DAN NIKMAT KUBUR
Banyak sekali hadits yang menjelaskan keberadaan adzab dan nikmat kubur.
Hal ini telah disepakati oleh Ahlus Sunnah wal Jamâ’ah. Imam Ibnu Abil
‘Izzi rahimahullah , penulis kitab al-Aqîdah ath-Thahâwiyah, berkata,
“Telah mutawatir hadits-hadits dari Rasûlullâh tentang keberadaan adzab
dan nikmat kubur bagi orang yang berhak mendapatkannya; Demikian juga
pertanyaan dua malaikat. Oleh karena itu, wajib meyakini dan mengimani
kepastian ini. Dan kita tidak membicarakan bagaimana caranya, karena
akal tidak memahami bagaimana caranya, karena keadaan itu tidak dikenal
di dunia ini. Syari’at tidaklah datang membawa perkara yang mustahil
bagi akal, tetapi terkadang membawa perkara yang membingungkan akal.
Karena kembalinya ruh ke jasad (di alam kubur) tidaklah dengan cara yang
diketahui di dunia, namun ruh dikembalikan ke jasad dengan cara yang
berlainan dengan yang ada di dunia.” [Kitab Syarah al-Aqîdah
ath-Thahâwiyah, hlm.450; al-Minhah al-Ilâhiyah fii Tahdzîb Syarh
ath-Thahâwiyah, hlm. 238]
Kalangan atheis dan orang-orang Islam yang mengikuti pendapat para
filosof mengingkari adanya adzab kubur. Mereka beralasan bahwa setelah
membongkar kubur, mereka tidak melihat sama sekali apa yang diberitakan
oleh nash-nash syariat. Mereka semua tidak mempercayai apa yang di luar
jangkauan ilmu mereka. Mereka mengira bahwa penglihatan mereka dapat
melihat segala sesuatu dan pendengaran mereka dapat mendengar segala
sesuatu, padahal kita saat ini telah mengetahui beberapa rahasia alam
yang oleh penglihatan dan pendengaran kita tidak dapat menangkapnya.
Adapun orang-orang yang beriman kepada Allâh Subhanahu wa Ta’ala akan membenarkan berita-Nya.
Di dalam al-Qur’ân terdapat isyarat-isyarat yang menunjukkan adanya
adzab kubur. Antara lain adalah Firman Allâh Azza wa Jalla tentang
Fir’aun dan kaumnya :
وَحَاقَ بِآلِ فِرْعَوْنَ سُوءُ الْعَذَابِ ﴿٤٥﴾ النَّارُ يُعْرَضُونَ
عَلَيْهَا غُدُوًّا وَعَشِيًّا ۖ وَيَوْمَ تَقُومُ السَّاعَةُ أَدْخِلُوا
آلَ فِرْعَوْنَ أَشَدَّ الْعَذَابِ
Fir’aun beserta kaumnya dikepung oleh adzab yang amat buruk. Kepada
mereka dinampakkan neraka pada pagi dan petang, dan pada hari terjadinya
kiamat. (dikatakan kepada malaikat), “Masukkanlah Fir’aun dan kaumnya
ke dalam adzab yang sangat keras”. [al-Mukmin/40: 45-46]
Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata tentang ayat ini, “Fir’aun beserta
kaumnya dikepung oleh adzab yang amat buruk”, yaitu tenggelam di
lautan, kemudian pindah ke neraka Jahim. “Kepada mereka dinampakkan
neraka pada pagi dan petang”, sesungguhnya ruh-ruh mereka dihadapkan ke
neraka pada waktu pagi dan petang sampai hari kiamat. Jika hari kiamat
telah terjadi ruh dan jasad mereka berkumpul di neraka. Oleh karena
inilah Allâh Azza wa Jalla berfirman (yang artinya), “dan pada hari
terjadinya kiamat. (dikatakan kepada malaikat), “Masukkanlah Fir’aun dan
kaumnya ke dalam adzab yang sangat keras”, yaitu kepedihannya lebih
dahsyat dan siksanya lebih besar. Dan ayat ini merupakan fondasi yang
besar dalam pengambilan dalil Ahlus Sunnah terhadap adanya siksaan
barzakh di dalam kubur, yaitu firmanNya ‘Kepada mereka dinampakkan
neraka pada pagi dan petang’. [Tafsir surat al-Mukmin/40: 45-46]
Setiap kali meninggal, manusia mesti kembali kepada Tuhannya. Namun
demikian, ia akan memasuki alam kubur terlebih dahulu. Di alam inilah,
malaikat Munkar dan Nakir bekerja. Dua malaikat ini akan menanyakan
sikap si mayit perihal tuhan, malaikat, agama, kitab, kiblat, rasul,
takdir, nikmat-siksa kubur, hari Kiamat, Surga-Neraka, dan lainnya.
Dalam tanya-jawab inilah penentuan nasib si mayit ke depannya. Kalau di
tahap ini gagal, ia akan sengsara di kubur hingga hari Kiamat tiba. Ia
akan mengalami pelbagai macam siksa kubur yang dahsyat dan mengerikan.
Lebih-lebih nanti pada hari Kiamat kelak.
Mengingat hebatnya tanya-jawab di kubur, setiap manusia perlu
mempersiapkannya sejak semasa hidup. Bahkan kalau perlu, manusia
melakukan sesuatu agar ia terbilang orang-orang yang dikecualikan dari
pertanyaan dua malaikat yang hebat itu. Demikian disebutkan Syekh Sa’id
bin Muhammad Ba’asyin dalam karyanya Busyrol Karim.
والسؤال لكل مكلف إلا من استثني كالأنبياء والشهداء والصديق والمرابط
والمبطون وملازم قراءة تبارك أو حم السجدة كل ليلة والميت بالطاعون أو يوم
الجمعة وكذا كل شهيد كما قاله القرطبي. ومن لايسأل في قبره لايعذب فيه. وكل
مؤمن يوفق للجواب ولو عاصيا ولو بعد تلجلج.
Artinya, pertanyaan malaikat di kubur, berlaku bagi setiap mukallaf
kecuali orang yang dibebaskan. Mereka yang dibebaskan misalnya para
nabi, syuhada, siddiq, penjaga di perbatasan daerah musuh, wafat karena
sakit perut, orang yang melazimkan bacaan surat “Tabarok” atau “Haa
Miiim As-Sajdah” setiap malam, mereka yang mati diserang penyakit
sampar, atau mereka yang wafat hari Jum’at. Demikian berlaku bagi orang
mati syahid. Demikian disebutkan Al-Qurthubi.
Sementara orang yang tidak ditanya Munkar-Nakir, tidak akan disiksa di
kuburnya. Setiap orang beriman meskipun bermaksiat, akan diberi taufiq
untuk menjawab pertanyaan malaikat. Tetap diberi taufiq kendati setelah
tergagap-gagap saat ditanya.
Untuk itu, sebaiknya manusia betul-betul mempersiapkan sejak dini masa
depannya untuk di dunia, di alam barzakh, maupun di akhirat kelak.
Dengan persiapan yang cukup,insya Allah masa depan sekurang-kurangnya
lebih sejahtera.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar