Kita telah tahu bahwa ada dua sisi berbeda dari jiwa manusia, yang satu
mengarah kepada kebaikan dan yang satunya lagi mengarah kepada
kejahatan. Bijaksana atau tidaknya seseorang bergantung pada dua sisi
jiwa orang itu. Al-Qur'an memberitahu kita bahwa tingkah laku yang
mengikuti nafsu adalah tidak bijaksana. Sebaliknya, setia kepada sisi
baik dari jiwa membawa kepada kebijaksanaan.
Semua nabi dan rasul, termasuk Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam
diutus oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala supaya mengajarkan persoalan
kebijaksanaan. Sebagaimana Firman Alloh dalam kitab Suci al-Qur’an:
كَمَا اَرْسَلْنَا فِيْكُمْ رَسُوْلًا مِنْكُمْ يَتْلُو عَلَيْكُمْ ايتِنَا
وَيُزَكِّيْكُمْ وَيُعَلِّمُكُمُ الْكِتبَ وَالْحِكْمَةَ وَيُعَلِّمُكُمْ
مَالَمْ تَكُوْنُوْا تَعْلَمُونَ [البقرة:151]
“Sebagaimana Kami telah mengutus seorang Rasul di antara kamu supaya
membacakan ayat-ayat Kami, mensucikanmu dan mengajarkanmu al-kitab dan
kebijaksanaan (al-hikmah) dan mengajarkanmu apa-apa yang belum kamu
ketahui.” (QS: al-Baqarah; 151).
Seseorang yang menjadi budak dari hawa nafsunya tidak dapat mengisi
hatinya dengan ingat kepada Allah, maka dengan segera dia kehilangan
kebijaksanaan. Al-Qur'an merujuk orang-orang seperti ini sebagai
orang-orang yang kehilangan kebijaksanaan. Alloh Subhanahu Wata'ala
Berfirman;
لَا يُقَاتِلُونَكُمْ جَمِيعًا إِلَّا فِي قُرًى مُحَصَّنَةٍ أَوْ مِنْ
وَرَاءِ جُدُرٍ ۚ بَأْسُهُمْ بَيْنَهُمْ شَدِيدٌ ۚ تَحْسَبُهُمْ جَمِيعًا
وَقُلُوبُهُمْ شَتَّىٰ ۚ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ قَوْمٌ لَا يَعْقِلُونَ
Mereka tiada akan memerangi kamu dalam keadaan bersatu padu, kecuali
dalam kampung-kampung yang berbenteng atau di balik tembok. Permusuhan
antara sesama mereka adalah sangat hebat. Kamu kira mereka itu bersatu
sedang hati mereka berpecah belah. Yang demikian itu karena sesungguhnya
mereka adalah kaum yang tiada mengerti.Al-Hasyr:14
Awalnya memang tak dapat dipahami. Sebab kebanyakan orang menganggap
bahwa semua orang itu bijaksana dan menganggap bahwa kebijaksanaan itu
tidak pernah berubah. Namun ada hal yang lebih membingungkan seputar
perbedaan kebijaksanaan dan kecerdasan. Orang menganggap bahwa keduanya
sama padahal berbeda. Setiap orang dapat memiliki kecerdasan tetapi
kebijaksanaan hanya dimiliki oleh orang-orang yang beriman.
Dengan mengetahui bahwa sisi jahat jiwa dapat membuat seseorang
kehilangan kebijaksanaan, maka kita harus tahu bagaimana cara memperoleh
kebijaksanaan. Jawabannya jelas. Seseorang memperoleh kebijaksanaan
ketika dia mematuhi kesadarannya yang memberinya cara untuk menghalangi
sisi jahat dari jiwanya mengambil alih.
Kebijaksanaan sebagaimana diacu di dalam Al-Qur'an, merupakan gejolak
yang dialami di dalam jiwa. Dalam lebih dari satu ayat diterangkan bahwa
hati belajar untuk bijaksana. Dengan demikian kita mengetahui bahwa
kebijaksanaan berbeda dari kecerdasan yang merupakan fungsi otak semata.
Kebijaksanaan ada di dalam hati dan jiwa manusia. Al-Qur'an menjelaskan
bahwa kebijaksanaan ada di dalam hati, dan orang yang tanpa
kebijaksanaan, akan kurang pemahamannya karena hati mereka terkunci.
Firman Alloh Subhanahu Wata'ala:
أَفَلَمْ يَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَتَكُونَ لَهُمْ قُلُوبٌ يَعْقِلُونَ
بِهَا أَوْ آذَانٌ يَسْمَعُونَ بِهَا ۖ فَإِنَّهَا لَا تَعْمَى
الْأَبْصَارُ وَلَٰكِنْ تَعْمَى الْقُلُوبُ الَّتِي فِي الصُّدُورِ
Apakah mereka yang mendustai Rasul itu tidak pernah bepergian di muka
bumi ini, supaya hatinya tersentak untuk memikirkan kemusnahan itu, atau
mengiang di telinganya untuk didengarkan? Sebenarnya yang buta bukan
mata yang ada di kepala, tetapi hati yang ada di dalam dada. Al-Hajj:46
Yang dimaksud bukanlah buta mata, melainkan buta pandangan hati.
Kendatipun pandangan mata seseorang sehat dan tajam, tetapi tidak dapat
mencerna pelajaran-pelajaran dan tidak dapat menanggapi apa yang
didengar. Alangkah indahnya apa yang dikatakan oleh seorang penyair
berikut sehubungan dengan pengertian ini. Dia adalah Abu Muhammad
Abudullah ibnu Muhammad ibnu Hayyan Al-Andalusi Asy-Syantrini yang tutup
usia pada tahun 517 Hijriah. Dia mengatakan seperti berikut:
يَا مَن يُصيخُ إِلَى دَاعي الشَقَاء، وقَد ... نَادَى بِهِ الناعيَان: الشيبُ والكبَرُ ...
إِنْ كُنتَ لَا تَسْمَع الذكْرَى، فَفِيمَ تُرَى ... فِي رَأسك الوَاعيان: السمعُ والبَصَرُ? ...
ليسَ الأصَمّ وَلَا الأعمَى سوَى رَجُل... لَمْ يَهْده الهَاديان: العَينُ والأثَرُ...
لَا الدَّهْرُ يَبْقَى وَلا الدُّنْيَا، وَلا الفَلَك الْـ ... أَعْلَى وَلَا النَّيّران: الشَّمْسُ وَالقَمَرُ ...
لَيَرْحَلَنّ عَن الدَّنْيَا، وَإن كَرِها فرَاقها، الثَّاوِيَانِ: البَدْو والحَضَرُ ...
Hai orang yang mendengar dengan patuh kepada penyeru yang
mencelakakannya, padahal dua pembela sungkawa telah berseru kepadanya,
yaitu uban dan usia yang lanjut.
Jika kamu tidak dapat mendengar peringatan, maka apakah kamu tidak
melihat dua peringatan yang ada pada kepalamu, yaitu pendengaran dan
penglihatan.
Sesungguhnya orang yang buta dan tuli itu hanyalah seorang lelaki yang
tidak dapat memanfaatkan dua pemberi petunjuknya, yaitu mata dan
jejak-jejak peninggalan (umat terdahulu).
Masa tidak dapat membuatnya hidup kekal, begitu pula dunia, cakrawala yang tinggi, api, matahari, dan rembulan.
Ia pasti pergi meninggalkan dunia ini, sekalipun ia tidak
menginginkannya; berpisah dengan dua tempat tinggalnya, yaitu tubuh
kasar dan keramaian tempat tinggalnya.
Karenanya kebijaksanaan yang diacu dalam Al-Qur'an secara langsung berhubungan dengan hati dan jiwa.
Satu hal yang pantas untuk disebutkan di sini, kebijaksanaan tidaklah
tetap namun berubah-ubah. Kecerdasan tetap dan tidak akan berubah
kecuali kalau secara fisik terluka atau gila. Setiap orang memiliki IQ
tetap. Sebaliknya kebijaksanaan dapat meningkat atau menurun, bergantung
pada penguatan jiwa dan rasa takut kepada Allah (taqwa). Dalam hal ini
seseorang memperoleh patokan yang dengan patokan itu dia dapat
membedakan benar dan salah:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَتَّقُوا اللَّهَ يَجْعَلْ لَكُمْ
فُرْقَانًا وَيُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ
وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ
Hai orang-orang yang beriman! Jika kamu bertakwa kepada Allah, pasti Dia
akan memberimu furqan Suatu petunjuk merupakan pelita hati yang dapat
membedakan antara yang salah dan yang benar antara yang terang dan yang
gelap dan sebagainya, akan menghapus segala kesalahanmu dan
mengampunimu. Allah mempunyai karunia yang amat besar. Al-Anfal:29
Ibnu Abbas, As-Saddi, Mujahid, Ikrimah, Ad-Dahhak, Qatadah, dan Muqatil
ibnu Hayyan serta ulama lainnya yang bukan hanya seorang telah
mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya:. Furqan. (Al-Anfal: 29)
Bahwa yang dimaksud ialah jalan keluar.
Menurut Mujahid di tambahkan di dunia dan akhirat.
Menurut suatu riwayat dari Ibnu Abbas, yang dimaksiat dengan Furqan
ialah keselamatan. Sedangkan menurut riwayat yang lain —Juga dari Ibnu
Abbas— yang dimaksud dengan furqan ialah pertolongan Allah.
Muhammad ibnu Ishaq mengatakan bahwa makna furqan ialah pemisah antara perkara yang hak dan yang batil.
Tafsir yang dikemukakan oleh Ibnu Ishaq ini pengertiannya lebih mencakup
daripada pendapat lainnya, dan memang apa yang dikemukakannya itu
mencakup kesemuanya. Karena sesungguhnya orang yang bertakwa kepada
Allah dengan mengerjakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya
berarti dia mendapat taufik untuk mengetahui perbedaan antara perkara
yang hak dan yang batil. Maka yang demikian itu merupakan penyebab
datangnya pertolongan Allah, jalan keselamatan, dan jalan keluar dari
semua urusan dunia serta kebahagiaan di hari kiamat, penghapus segala
dosa, beroleh ampunan dan disembunyikan dari semua orang serta menjadi
penyebab beroleh pahala Allah yang berlimpah. Pengertiannya sama dengan
apa yang disebutkan di dalam firman-Nya:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَآمِنُوا بِرَسُولِهِ
يُؤْتِكُمْ كِفْلَيْنِ مِنْ رَحْمَتِهِ وَيَجْعَلْ لَكُمْ نُورًا تَمْشُونَ
بِهِ وَيَغْفِرْ لَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan berimanlah
kepada Rasul-Nya, niscaya Allah memberikan rahmat-Nya kepada kalian dua
bagian, dan menjadikan untuk kalian cahaya yang dengan cahaya itu
kalian dapat berjalan dan Dia mengampuni kalian. Dan Allah Maha
Pengampun lagi Maha Penyayang. (Al-Hadid: 28)
Di samping itu Allah swt. menjanjikan kepada mereka itu akan menghapus
segala kesalahan mereka dan mengampuni dosa-dosa mereka lantaran mereka
itu bertakwa, dan diberi pula furqan, sehingga mereka dapat mengetahui
mana perbuatan yang harus dijauhi karena dilarang Allah, serta dapat
pula memelihara dirinya dari hal-hal yang menjatuhkan kepada kerusakan.
Orang-orang yang mendapat pengampunan Allah berarti ia hidup bahagia.
Hal yang demikian ini dapat mereka capai adalah karena karunia Allah
semata.
Di akhir ayat Allah swt. menegaskan bahwa Allah mempunyai karunia yang
besar karena Dialah yang dapat memberikan keutamaan yang besar kepada
makhluk-Nya, baik keutamaan yang merata kepada hamba-Nya di dunia atau
pun magfirah dan surga-Nya yang diberikan kepada hamba-Nya yang dikasihi
di akhirat.
Seseorang yang tidak takut kepada Allah sepenuhnya kehilangan patokan
untuk membedakan antara benar dan salah. Seseorang bisa saja sangat
cerdas. Dia mungkin seorang fisikawan hebat, ahli sosiologi, atau
seseorang yang terhormat di masyarakat. Dia bisa saja memiliki prestasi
yang luar biasa demi kabanggaannya. Namun jika dia tidak memiliki suara
hati, dia akan kurang bijaksana. Dengan menjadi ilmuwan terkenal, dia
mungkin menemukan misteri tubuh manusia tapi dia tidak memiliki semangat
dan pengertian untuk memahami Pencipta dari tubuh itu. Ketimbang
menunjukkan keheranan atas keajaiban penciptaan dan memuji penciptanya,
dia lebih suka memuji dirinya sendiri atas penemuannya. Ilmuwan semacam
ini adalah "orang yang telah mengambil nafsu menjadi tuhannya";
karenanya Allah sengaja membiarkannya tersesat.
Seseorang yang cerdas bisa saja kekurangan pengertian dan kemampuan
untuk membedakan benar dan salah. Dia bisa jadi menemukan penemuan yang
luar biasa, dia bisa jadi seorang usahawan yang berhasil, atau unggul
dalam politik. Akan tetapi dia kurang pemahaman akan perkara benar dan
perkara salah. Walaupun dia sudah diberitahu berulang-ulang, dia tetap
buta dan tuli kepada pesan Al-Qur'an. Ini adalah akibat nyata dari
kurangnya pengertian.
"Hati mereka terkunci sehingga mereka tidak dapat paham" adalah
pernyataan penting di dalam Al-Qur'an yang menandakan berartinya hati
dan pengertian.
Di dalam Al-Qur'an sejumlah ayat menerangkan hubungan antara hati dan
kelakuan manusia. Hubungan ini dihadirkan dalam beberapa judul.
ALLAH HADIR ANTARA MANUSIA DAN HATINYA
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا
دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَحُولُ بَيْنَ
الْمَرْءِ وَقَلْبِهِ وَأَنَّهُ إِلَيْهِ تُحْشَرُونَ
Hai orang-orang yang beriman! Perkenankanlah seruan Allah dan Rasul,
bila kamu dipanggilnya ke jalan kehidupan rohaniahmu Maksudnya kehidupan
yang kekal dengan kenikmatan yang abadi di akhirat. Dan ketahuilah
bahwa Allah membuat batasan antara manusia dan hatinya Hati adalah pusat
pengatur seluruh aktifitas jasmaniah dan rohaniah manusia, misalnya
daya sadar, daya cipta, daya tindak dan sebagainya. Allah menghalangi
kegiatan daya-daya tersebut, yang menjurus kepada kejahatan, dan
bahwasanya kepada dialah kamu akan dikumpulkan. Al-Anfal:24
Imam Bukhari mengatakan bahwa makna istajibu ialah penuhilah, dan limayuhyikum artinya sesuatu yang memperbaiki keadaan kalian.
حَدَّثَنَا إِسْحَاقُ، حَدَّثَنَا رَوْحٌ، حَدَّثَنَا شُعْبَةُ، عَنْ
خُبَيْبِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ قَالَ: سَمِعْتُ حَفْصَ بْنَ عَاصِمٍ
يُحَدِّثُ عَنْ أَبِي سَعِيدِ بْنِ الْمُعَلَّى قَالَ: كُنْتُ أُصَلِّي،
فَمَرَّ بِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ،
فَدَعَانِي فَلَمْ آتِهِ حَتَّى صَلَّيْتُ، ثُمَّ أَتَيْتُهُ فَقَالَ: "مَا
مَنَعَكَ أَنْ تَأْتِيَنِي؟ " أَلَمْ يَقُلِ اللَّهُ: {يَا أَيُّهَا
الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ
لِمَا يُحْيِيكُمْ} ثُمَّ قَالَ: "لَأُعَلِّمَنَّكَ أَعْظَمَ سُورَةٍ فِي
الْقُرْآنِ قَبْلَ أَنْ أَخْرُجَ"، فَذَهَبَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِيَخْرُجَ، فَذَكَرْتُ لَهُ -وَقَالَ مُعَاذٌ:
حَدَّثَنَا شُعْبَةُ، عَنْ خُبَيْب بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ، سَمِعَ
حَفْصَ بْنَ عَاصِمٍ، سَمِعَ أَبَا سَعِيدٍ رَجُلًا مِنْ أَصْحَابِ
النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِهَذَا -وَقَالَ: " هِيَ
{الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ} السَّبْعُ الْمَثَانِي"
Imam Bukhari mengatakan, telah menceritakan kepadaku Ishaq, telah
menceritakan kepada kami Rauh, telah menceritakan kepada kami Syu'bah,
dari khubaib ibnu Abdur Rahman yang mengatakan, "Saya pernah mendengar
Hafs ibnu Asim menceritakan hadis berikut dari Abu Sa'd ibnu Al-Ma'la
r.a. yang menceritakan bahwa ketika ia sedang salat, tiba-tiba Nabi Saw.
lewat dan memanggilnya, tetapi ia tidak memenuhi panggilannya hingga ia
menyelesaikan salatnya. Setelah itu barulah datang kepada beliau. Maka
beliau Saw. bertanya,' Apakah gerangan yang menghalang-halangi dirimu
untuk datang kepadaku? Bukankah Allah Swt. telah berfirman: Hai
orang-orang yang beriman, penuhilah seruan'Allah dan seruan Rasul
apabila Rasul menyeru kalian kepada suatu yang memberi kehidupan kepada
kalian. (Al-Anfal: 24) Kemudian Rasulullah Saw. bersabda, "Sesungguhnya
aku akan mengajarkan kepadamu surat yang paling besar dari Al-Qur’an
sebelum aku keluar dari Masjid ini.' Rasulullah Saw. bangkit untuk
keluar dari masjid, lalu saya mengingatkan janji beliau itu." Mu'az
mengatakan, telah menceritakan kepada kami Syu'bah, dari Khubaib ibnu
Abdur Rahman, bahwa ia pernah mendengar Hafs ibnu Asim menceritakan hal
berikut dari Abu Sa'id, bahwa ada seorang lelaki dari kalangan sahabat
Nabi Saw. yang mengatakan surat yang dimaksud di atas, yaitu firman
Allah Swt. yang mengatakan: Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.
(Al-Fatihah: 2)hingga akhir surat. Itulah yang dimaksud dengan sab’ul
masani (tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang dalam salat).
Demikianlah menurut lafaz yang diketengahkannya berikut huruf-hurufnya
tanpa ada yang dikurangi. Pembahasan mengenai hadis ini telah disebutkan
dalam tafsir surat Al-Fatihah berikut semua jalur periwayatannya.
Mujahid mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: Kepada sesuatu
yang memberi kehidupan kepada kalian. (Al-Anfal: 24) Yakni kepada
perkara yang hak.
Qatadah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: kepada sesuatu
yang memberi kehidupan kepada kalian. (Al-Anfal: 24) Maksudnya kepada
Al-Qur'an ini; di dalamnya terkandung keselamatan, kelestarian, dan
kehidupan.
As-Saddi mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: kepada sesuatu
yang memberi kehidupan kepada kalian. (Al-Anfal: 24) Di dalam agama
Islam terkandung kehidupan bagi mereka yang pada sebelumnya mereka mati
karena kekafiran.
Muhammad ibnu Ishaq telah meriwayatkan dari Muhammad ibnu Ja'far ibnuz
Zubair, dari Urwah ibnuz Zubair sehubungan dengan makna firman-Nya: Hai
orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul
apabila Rasul menyeru kalian kepada suatu yang memberi kehidupan kepada
kalian. (Al-Anfal: 24) Yakni kepada peperangan yang menyebabkan Allah
memenangkan kalian dengan melaluinya, sebelum itu kalian dalam keadaan
terhina (kalah). Allah menjadikan kalian kuat karenanya, sebelum itu
kalian dalam keadaan lemah. Dan Dia mencegah musuh kalian untuk dapat
menyerang kalian, sebelum itu kalian kalah oleh mereka.
Firman Allah Swt.:
{وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَحُولُ بَيْنَ الْمَرْءِ وَقَلْبِهِ}
dan ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah mendinding antara manusia dan hatinya.(Al-Anfal: 24)
Ibnu Abbas mengatakan bahwa Allah menghalang-halangi orang mukmin dan
kekafiran, serta orang kafir dan keimanan. Demikianlah menurut riwayat
Imam Hakim di dalam kitab Mustadrak-nya secara mauquf (hanya sampai pada
Ibnu Abbas). Kemudian Imam Hakim mengatakan bahwa asar ini sahih,
tetapi keduanya (Bukhari dan Muslim) tidak mengetengahkannya.
Imam Ibnu Murdawaih telah meriwayatkannya melalui jalur lain dengan
sanad yang marfu' (sampai kepada Nabi Saw.), tetapi predikatnya tidak
sahih, mengingat sanadnya lemah, justru yang berpredikat mauquf-lah yang
sahih sanadnya.
Hal yang sama telah dikatakan oleh Mujahid, Sa'id Ikrimah, Ad-Dahhak, Abu Saleh, Atiyyah, Muqatil bin Hayyan, dan As-Saddi.
Menurut riwayat lain, dari Mujahid, sehubungan dengan makna
firman-Nya:mendinding antara manusia dan hatinya.(Al-Anfal: 24)
Maksudnya yaitu hingga Allah meninggalkan (membiarkan)nya sampai dia
tidak menyadarinya.
Menurut As-Saddi, makna yang dimaksud ialah Allah menghalang-halangi
antara seseorang dan hatinya, sehingga ia tidak dapat beriman —tidak
pula kafir— kecuali hanya dengan seizin Allah.
Qatadah mengatakan bahwa ayat ini semakna dengan firman-Nya:
{وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ}
dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya. (Qaf: 16)
Banyak hadis dari Rasulullah Saw. yang menerangkan hal yang selaras dengan pengertian ayat ini.
قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ، عَنِ
الْأَعْمَشِ، عَنْ أَبِي سُفْيَانَ، عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، رَضِيَ
اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ يُكْثِرُ أَنْ يَقُولُ: " يَا مُقَلِّب الْقُلُوبِ، ثَبِّتْ
قَلْبِي عَلَى دِينِكَ". قَالَ: فَقُلْنَا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، آمَنَّا
بِكَ وَبِمَا جِئْتَ بِهِ، فَهَلْ تَخَافُ عَلَيْنَا؟ قَالَ نَعَمْ، إِنَّ
الْقُلُوبَ بَيْنَ إِصْبَعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ اللَّهِ تَعَالَى
يُقَلِّبُهَا".
Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Mu'awiyah,
dari Al-A'masy, dari Abu Sufyan, dari Anas ibnu Malik r.a. yang
menceritakan bahwa Nabi Saw. acapkali mengucapkan doa berikut: Wahai
(Tuhan) yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku pada agama-Mu.
Anas ibnu Malik melanjutkan kisahnya, "Lalu kami bertanya, 'Wahai
Rasulullah, kami telah beriman kepadamu dan kepada apa yang engkau
sampaikan, maka apakah engkau merasa khawatir terhadap iman kami?'
Rasulullah Saw. menjawab: 'Ya, sesungguhnya hati manusia itu berada di
antara dua jari kekuasaan Allah Swt. Dia membolak-balikkannya'.”
Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Imam Turmuzi di dalam pembahasan
mengenai takdir, bagian dari kitab Jami-nya, dari Hannad ibnus Sirri,
dari Abu Mu'awiyah Muhammad ibnu Hazim Ad-Darir (tuna netra), dari
Al-A'masy yang namanya ialah Sulaiman ibnu Mahran, dari Abu Sufyan yang
namanya Talhah ibnu Nafi', dari Anas, kemudian Imam Ahmad mengatakan
bahwa hadis ini hasan. Telah diriwayatkan pula melalui berbagai perawi
yang tidak hanya seorang, semuanya bersumber dari Al-A'masy. Dan
sebagian dari mereka telah meriwayatkannya dari Abu Sufyan, dari Jabir,
dari Nabi Saw. Tetapi hadis Abu Sufyan dari Anas lebih sahih sanadnya.
Hadis lain diriwayatkan oleh Abdu ibnu Humaid di dalam kitab Musnad-nya. Dia mengatakan bahwa:
حَدَّثَنَا عَبْدُ الْمَلِكِ بْنُ عَمْرٍو، حَدَّثَنَا شُعْبَةُ، عَنِ
الْحَكَمِ، عَنِ ابْنِ أَبِي لَيْلَى، عَنْ بِلَالٍ، رَضِيَ اللَّهُ
عَنْهُ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ
يَدْعُو: "يَا مُقَلِّب الْقُلُوبِ ثَبِّت قَلْبِي عَلَى دينك".
Telah menceritakan kepada kami Abdul Malik ibnu Amr, telah menceritakan
kepada kami Syu'bah, dari Al-Hakam, dari Ibnu Abu Laila, dari Bilal
r.a., bahwa Nabi Saw. pernah berdoa dengan doa berikut: Wahai (Tuhan)
yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku pada agama-Mu.
Hadis ini jayyid sanadnya, hanya padanya terdapat inqita’. Tetapi
sekalipun demikian predikat hadis ini sesuai syarat ahlus sunan, hanya
mereka tidak mengetengahkannya.
Hadis yang lain diriwayatkan oleh Imam Ahmad. Disebutkan bahwa:
حَدَّثَنَا الْوَلِيدُ بْنُ مُسْلِمٍ قَالَ: سَمِعْتُ ابْنَ جَابِرٍ
يَقُولُ: حَدَّثَنِي بُسْرُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ الْحَضْرَمِيُّ: أَنَّهُ
سَمِعَ أَبَا إِدْرِيسَ الْخَوْلَانِيَّ يَقُولُ: سَمِعْتُ النَّوَّاسَ
بْنَ سَمْعَان الْكِلَابِيَّ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، يَقُولُ: سَمِعْتُ
رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: " مَا مِنْ
قَلْبٍ إِلَّا وَهُوَ بَيْنُ أُصْبُعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ الرَّحْمَنِ
رَبِّ الْعَالَمِينَ، إِذَا شَاءَ أَنْ يُقِيمَهُ أَقَامَهُ، وَإِذَا شَاءَ
أَنْ يُزِيغَهُ أَزَاغَهُ". وَكَانَ يَقُولُ: "يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ،
ثَبِّتْ قُلُوبَنَا عَلَى دِينِكَ". قَالَ: "وَالْمِيزَانُ بِيَدِ
الرَّحْمَنِ يَخْفِضُهُ وَيَرْفَعُهُ".
Telah menceritakan kepada kami Al-Walid ibnu Muslim yang mengatakan
bahwa ia pernah mendengar Ibnu Jabir mengatakan, telah menceritakan
kepadanya Bisyr ibnu Ubaidillah Al-Hadrami, ia mendengar dari Abu Idris
Al-Khaulani yang mengatakan bahwa ia pernah mendengar An-Nuwwas ibnu
Sam'an Al-Kilabi r.a. mengatakan bahwa ia pernah mendengar Nabi Saw.
bersabda:Tidak ada suatu hati pun melainkan berada di antara kedua jari
kekuasaan Tuhan Yang Maha Pemurah, Tuhan semesta alam. Jika Dia
menghendaki kelurusannya, maka Dia akan meluruskannya; dan jika Dia
menghendaki kesesatannya, maka Dia akan menyesatkannya Dan tersebutlah
bahwa Nabi Saw. acapkali mengucapkan doa berikut: Wahai (Tuhan) yang
membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku pada agama-Mu. Nabi Saw.
telah bersabda pula:Neraca itu berada di tangan kekuasaan Tuhan Yang
Maha Pemurah; Dialah Yang merendahkan dan yang mengangkatnya.
Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Imam Nasai dan Imam Ibnu Majah
melalui hadis Abdur Rahman ibnu Yazid ibnu Jabir, lalu disebutkan hal
yang semisal.
Hadis lain diriwayatkan oleh Imam Ahmad. Imam Ahmad mengatakan:
حَدَّثَنَا يُونُسُ، حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ زَيْدٍ، عَنِ الْمُعَلَّى
بْنِ زِيَادٍ، عَنِ الْحَسَنِ؛ أَنَّ عَائِشَةَ قَالَتْ: دَعَوَاتٌ كَانَ
رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَدْعُو بِهَا: "يَا
مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ، ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ". قَالَتْ: فَقُلْتُ:
يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنَّكَ تُكْثِرُ تَدْعُو بِهَذَا الدُّعَاءِ.
فَقَالَ: "إِنَّ قَلْبَ الْآدَمِيِّ بَيْنَ إِصْبَعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ
اللَّهِ، فَإِذَا شَاءَ أَزَاغَهُ وَإِذَا شَاءَ أَقَامَهُ
Telah menceritakan kepada kami Yunus, telah menceritakan kepada kami
Hammad ibnu Zaid, dari Al-Ma'la ibnu Ziyad, dari Al-Hasan, bahwa Siti
Aisyah pernah mengatakan bahwa di antara doa-doa yang sering diucapkan
oleh Rasulullah Saw. ialah: Wahai Tuhan yang membolak-balikkan hati.
tetapkanlah hatiku pada agama-Mu. Siti Aisyah melanjutkan kisahnya,
bahwa lalu ia bertanya, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya engkau sering
sekali mengucapkan doa ini." Maka beliau Saw. menjawab: Sesungguhnya
kalbu anak Adam itu berada di antara dua jari kekuasaan Allah jika Dia
menghendaki kesesatannya (niscaya Dia membuatnya sesat), dan jika Dia
menghendaki kelurusannya (niscaya Dia membuatnya lurus)
Hadis lain diriwayatkan oleh Imam Ahmad. Disebutkan bahwa:
حَدَّثَنَا هَاشِمُ، حَدَّثَنَا عَبْدُ الْحَمِيدِ، حَدَّثَنِي شَهْرٌ،
سَمِعْتُ أُمَّ سَلَمَةَ تُحَدِّثُ: أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُكْثِرُ فِي دُعَائِهِ يَقُولُ: "اللَّهُمَّ يَا
مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ، ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ". قالت: فقلت يا
رسول الله، أو إن الْقُلُوبَ لَتُقَلَّبُ ؟ قَالَ: "نَعَمْ، مَا خَلَقَ
اللَّهُ مِنْ بَشَرٍ مِنْ بَنِي آدَمَ إِلَّا أَنَّ قَلْبَهُ بَيْنَ
أُصْبُعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ اللَّهِ، عَزَّ وَجَلَّ، فَإِنْ شَاءَ
أَقَامَهُ، وَإِنْ شَاءَ أَزَاغَهُ. فَنَسْأَلُ اللَّهَ رَبَّنَا أَنْ لَا
يُزِيغَ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَانَا، وَنَسْأَلُهُ أَنْ يَهَبَ لَنَا
مِنْ لَدُنْهُ رَحْمَةً إِنَّهُ هُوَ الْوَهَّابُ". قَالَتْ: قُلْتُ: يَا
رَسُولَ اللَّهِ، أَلَا تُعَلِّمُنِي دَعْوَةً أَدْعُو بِهَا لِنَفْسِي؟
قَالَ: " بَلَى، قُولِي: اللَّهُمَّ رَبَّ النَّبِيِّ مُحَمَّدٍ، اغْفِرْ
لِي ذَنْبِي، وَأَذْهِبْ غَيْظَ قَلْبِي، وَأَجِرْنِي مِنْ مُضِلَّاتِ
الْفِتَنِ مَا أَحْيَيْتَنِي"
Telah menceritakan kepada kami Hasyim, telah menceritakan kepada kami
Abdul Hamid, telah menceritakan kepadanya Syahr; ia telah mendengar Ummu
Salamah menceritakan bahwa-di antara doa yang sering diucapkan oleh
Rasulullah Saw. ialah:Ya Allah Wahai Tuhan Yang membolak-balikkan hati,
tetapkanlah hatiku pada agama-Mu. Ummu Salamah melanjutkan kisahnya,
bahwa lalu ia bertanya, "Wahai Rasulullah, apakah hati itu dapat
dibolak-balikkan?" Rasulullah Saw. menjawab: Ya, tidak sekali-kali Allah
menciptakan manusia dari Bani Adam melainkan kalbunya berada di antara
dua jari kekuasaan Allah Swt. Jika Dia menghendaki kelurusannya (tentu
Dia meluruskannya), dan jika Dia menghendaki kesesatannya (tentu Dia
menyesatkannya). Maka kami memohon kepada Allah Tuhan kami. semoga Dia
tidak menyesatkan hati kami sesudah Dia menunjuki kami. DanJkami memohon
kepada-Nya semoga Dia menganugerahkan kepada kami dari sisi-Nya rahmat
yang luas. Sesungguhnya Dia Maha Pemberi karunia. Ummu Salamah
melanjutkan kisahnya, bahwa lalu ia bertanya, "Wahai Rasulullah, sudikah
kiranya engkau mengajarkan kepadaku suatu doa yang akan kubacakan untuk
diriku sendiri?" Rasulullah Saw. bersabda: Tentu saja. Ucapkanlah, "Ya
Allah, Tuhan Nabi Muhammad, ampunilah dosa-dosaku, lenyapkanlah
kedengkian hatiku, dan lindungilah aku dari fitnah-fitnah yang
menyesatkan selama Engkau membiarkan aku hidup.
Hadis lain diriwayatkan oleh Imam Ahmad. Disebutkan bahwa:
حَدَّثَنَا أَبُو عَبْدِ الرَّحْمَنِ، حَدَّثَنَا حَيْوَةُ، أَخْبَرَنِي
أَبُو هَانِئٍ، أَنَّهُ سَمِعَ أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ الحُبَلي أَنَّهُ
سَمِعَ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عَمْرٍو؛ أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللَّهِ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وسلم يَقُولُ: " إِنَّ قُلُوبَ بَنِي آدَمَ بَيْنَ
إِصْبَعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ الرَّحْمَنِ، كَقَلْبٍ وَاحِدٍ يُصَرِّف
كَيْفَ شَاءَ. ثُمَّ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ: "اللَّهُمَّ مُصَرِّف الْقُلُوبِ، صَرِّف قُلُوبَنَا إلى
طاعتك".
Telah menceritakan kepada kami Abu Abdur Rahman, telah menceritakan
kepada kami Haiwah, telah menceritakan kepadanya Abu Hani; ia pernah
mendengar Abu Abdur Rahman Al-Habli mengatakan bahwa ia pernah mendengar
Abdullah ibnu Amr mengatakan bahwa ia pernah mendengar Rasulullah Saw.
bersabda: Sesungguhnya hati Bani Adam itu berada di antara dua jari
kekuasaan Tuhan Yang Maha Pemurah seperti halnya satu hati, Dia
mengaturnya menurut apa yang dikehendaki-Nya. Kemudian Rasulullah Saw.
berdoa: Ya Allah, Tuhan Yang membolak-balikkan hati, arahkanlah hati
kami untuk taat kepada Engkau.
Hadis ini diketengahkan oleh Imam Muslim secara munfarid dari Imam
Bukhari. Dan ia meriwayatkannya bersama Imam Nasai melalui hadis Haiwah
ibnu Syuraih Al-Misri.
Bagaimana juga perbedaan pendapat di kalangan para mufassir mengenai
penafsiran ayat ini, tetapi hal yang tidak dapat disangkal ialah bahwa
Allah swt. telah membuat bakat-bakat dalam diri seseorang. Bakat baik
dan bakat buruk kedua-duanya dapat berkembang menurut sunah Allah yang
telah ditetapkan bagi manusia. Berkembangnya bakat-bakat itu bergantung
pada situasi, kondisi dan lingkungan. Apabila seseorang dididik dengan
baik, niscaya jiwanya akan menjadi baik. Sebaliknya apabila jiwa itu
dididik dengan jahat, atau berada dalam lingkungan yang jahat niscaya
jiwa itu akan menjadi jahat. Hati adalah merupakan pusat dari perasaan,
kemampuan serta kehendak seseorang yang dapat mengendalikan jasmaninya
untuk mewujudkan amal perbuatan.
Maka pantaslah kalau di dalam ayat ini dikatakan, bahwa Allah mendinding
antara seseorang dengan hatinya, karena Allahlah Yang lebih mengetahui
hati nurani seseorang. Dan Dialah Yang menguasai hati itu, karena Dialah
pula yang menciptakan bakat-bakat yang terdapat dalam hati dan Dia pula
yang paling dapat menentukan ke mana hati itu mengarah.
Kemudian di akhir ayat Allah swt. menegaskan, bahwa sesungguhnya seluruh
manusia itu akan dikumpulkan kepada Allah swt., yaitu mereka pada hari
akhir akan dikumpulkan di padang Mahsyar untuk mempertanggungjawabkan
segala macam amalnya dan menerima pembalasan yang setimpal dengan amal
perbuatan mereka.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar