Banyak di antara kaum muslimin yang ketika bangun tidur baik di malam
hari atau siang hari mengerjakan beberapa amalan yang melalaikan lagi
tidak dicontohkan oleh Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam semisal;
ngulet, menguap dengan bersuara keras danpanjang, menarik bantal kembali
dan melanjutkan tidur dan lain sebagainya. Hal tersebut biasanya karena
kurangnya mereka dalam mempelajari aturan-aturan agama mereka sendiri,
apakah karena malas, sibuk, bersikap masa bodoh dan lain sebagainya dari
sifat dan sikap buruk lainnya. Sehingga perilaku mereka tersebut
akhirnya menjerumuskan mereka dalam kejahilan dan kebodohan dengan agama
mereka sendiri.
Ternyata ada beberapa amalan yang telah diperintahkan dan dicontohkan
oleh Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bagi setiap muslim agar
semuanya mereka mengikuti dan menteladaninya.
Di antara amalan yang banyak dilalaikan adalah sebagai berikut,
1)). Doa pada waktu bangun tidur.
Dari al-Barra’ bin Azib radliyallahu anhu, ‘Dan apabila (Rosulullah
Shallallahu alaihi wa sallam) bangun dari tidur, Beliau berdoa,
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِى أَحْيَانَا بَعْدَ مَا أَمَاتَنَا وَ إِلَيْهِ النُّشُوْرُ
Alhamdulillaahil ladzii ahyaanaa ba’da maa amaatanaa wa ilaihin nusyuur.
“Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan kami setelah ia
mewafatkan (menidurkan) kami dan kepada-Nya kami akan dibangkitkan”. [HR
Muslim: 2711, Ibnu Majah: 3880, al-Bukhoriy: 6312, 6314, 6324, 6325,
7394, Abu Dawud: 5049 dan at-Turmudziy: 3417.]
Dari Ubadah bin ash-Shamit radliyallahu anhu berkata, telah bersabda
Rosulullah Shallalahu alaihi wa sallam, “Barangsiapa yang terbangun di
waktu malam lalu ketika terjaga ia mengucapkan,
لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ لَهُ اْلمـُلْكُ
وَ لَهُ اْلحَمْدُ وَ هُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ سُبْحَانَ اللهِ وَ
اْلحَمْدُ لِلَّهِ وَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَ اللهُ أَكْبَرُ وَ لَا
حَوْلَ وَ لَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ اْلعَلِيِّ اْلعَظِيْمِ
Laa ilaaha illallah wahdahu laa syariika lahu lahul mulku wa lahul hamdu
wa huwa alaa kulli syai’in qodiir, Subhaanallahu wal hamdulillahi wa
laa ilaaha illallahu wallahu akbar wa laa haula wa laa quwwata illa
billiahil aliyyil azhiim
“Tidak ada ilah yang berhak disembah kecuali Allah saja, tiada sekutu
baginya. Milik-Nya-lah semua kerajaan dan puji-pujian, dan Dia Maha
kuasa di atas segala sesuatu. Mahasuci Allah, segala puji-pujian bagi
Allah, tiada ilah yang berhak disembah kecuali Allah, Allah Maha besar
dan tiada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Yang Maha tinggi
lagi Maha agung. Kemudian ia berdoa, ‘Wahai Rabbku ampunilah aku’,
niscaya ia akan diampuni”. Berkata al-Walid, ‘Atau Beliau bersabda, “Ia
berdoa niscaya akan dikabulkan, lalu jika ia berdiri kemudian berwudlu
lalu sholat maka akan diterimalah sholatnya”. [HR Ibnu Majah: 3878,
al-Bukhoriy: 1154, at-Turmudziy: 3414 dan Abu Dawud: 5060.]
Yakni hendaknya setiap muslim membaca doa-doa yang diajarkan oleh Nabi
mereka Shallallahu alaihi wa sallam, satu waktu dengan doa yang ini dan
di waktu yang lain dengan doa yang itu.
2)). Mengusap bekas-bekas tidur yang ada di wajah dengan tangan.
Dari Ibnu Abbas radliyallahu anhuma, bahwa ia telah
mengkhabarkan bahwa ia pernah bermalam di rumah Maimunah istri Nabi
Shallallahu alaihi wa sallam – dan ia adalah bibinya-. Ia berkata, ‘Lalu
aku tidur dengan meletakkan kepala di tepi bantal, sedangkan Rosulullah
Shallallahu alaihi wa sallam dan istrinya berada di tengah-tengah
bantal. Kemudian Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam tidur hingga
ketika tengah malam -atau sebelum tengah malam kurang sedikit atau
setelah tengah malam lewat sedikit-,
اسْتَيْقَظَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم فَجَلَسَ يَمْسَحُ النَّوْمَ عَنْ وَجْهِهِ بَيَدِهِ
Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bangun lalu duduk seraya
mengusap bekas tidur dari wajahnya dengan tangannya. Kemudian membaca 10
ayat terakhir dari surat Ali Imran,… dan seterusnya hadits”. [HR
al-Bukhoriy: 183, Muslim: 763, Abu Dawud: 5043 dan Ibnu Majah: 1363.]
Berkata al-Imam an-Nawawi rahimahullah, “Ungkapan Ibnu Abbas
radliyallahu anhuma ((mengusap bekas tidur dari wajahnya)) adalah
bekas-bekas tidur Beliau. Hal ini menunjukkan sunnahnya mengusap wajah
setelah bangun tidur”.
Yakni ketika bangun tidur hendaknya seorang muslim itu segera mengusap
wajahnya dengan kedua tangannya dalam rangka menteladani Nabi
Shallallahu alaihi wa sallam.
3)). Membaca 10 ayat terakhir dari Surat Ali Imran .
عن عبد الله بن عباس رضي الله عنهما قَالَ: بِتُّ لَيْلَةً عِنْدَ
النَّبِيِّ صلى الله عليه و سلم فَلَمَّا اسْتَيْقَظَ مِنْ مَنَامِهِ أَتَى
طَهُوْرَهُ فَأَخَذَ سِوَاكَهُ فَاسْتَاكَ ثُمَّ تَلاَ هَذِهِ اْلآيَاتِ
((إِنَّ فِى خَلْقِ السَّمَوَاتِ وَ اْلأَرْضِ وَ اخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَ
النَّهَارِ لَأَيَاتٍ لِّأُولِى اَلأَلْبَابِ)) حَتىَّ قَارَبَ أَنْ
يَخْتِمَ السُّوْرَةَ أَوْ خَتَمَهَا
Dari Abdullah bin Abbas radliyallahu anhumaberkata, ‘Aku pernah bermalam
suatu malam di sisi Nabi Shallallahu alaihi wa sallam, ketika Beliau
terbangun dari tidurnya, Beliau mendatangi air wudlunya lalu mengambil
siwaknya dan bersiwak kemudian membaca ayat ini ((Sesungguhnya di dalam
penciptaan langit dan bumi serta perselisihan siang dan malam terdapat
tanda-tanda bagi orang yang memiliki pikiran. Q.S. Ali Imran/3: 190))
sehingga mendekati selesainya surat atau bahkan sampai selesai”. [HR Abu
Dawud: 58 dan Muslim: 256. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih].
Dari Ibnu Abbas radliyallahu anhuma, bahwa ia telah mengkhabarkan bahwa
ia pernah bermalam di rumah Maimunah istri Nabi Shallallahu alaihi wa
sallam – dan ia adalah bibinya-. Ia berkata, ‘Lalu aku tidur dengan
meletakkan kepala di tepi bantal, sedangkan Rosulullah Shallallahu
alaihi wa sallam dan istrinya berada di tengah-tengah bantal. Kemudian
Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam tidur hingga ketika tengah malam
-atau sebelum tengah malam kurang sedikit atau setelah tengah malam
lewat sedikit-,
اسْتَيْقَظَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم فَجَلَسَ يَمْسَحُ
النَّوْمَ عَنْ وَجْهِهِ بَيَدِهِ ثُمَّ قَرَأَ اَلْعَشْرَ اْلآيَاتِ
اْلخَوَاتِمَ مِنْ سُوْرَةِ آلِ عَمْرَانَ
Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bangun lalu duduk seraya
mengusap bekas tidur dari wajahnya dengan tangannya. Kemudian membaca 10
ayat terakhir dari surat Ali Imran,… dan seterusnya hadits”. [HR
al-Bukhoriy: 183, Muslim: 763, Abu Dawud: 5043 dan Ibnu Majah: 1363.
Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih].
Dari dua hadits di atas, Nabi Shallallahu alaihi wa sallam biasa membaca
10 ayat terakhir dari surat Ali Imran setelah bangun dari tidurnya.
Maka setiap muslim dianjurkan untuk menteladani dan mengamalkan apa yang
telah Beliau amalkan dalam rangka memuliakannya.
Telah disebutkan di dalam sebuah hadis bahwa Rasulullah Saw. acapkali
membaca sepuluh ayat dari akhir surat Ali Imran ini apabila bangkit di
sebagian malam hari untuk tahajudnya. Untuk itu Imam Bukhari
mengatakan:
حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ أَبِي مَرْيَمَ، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ
جَعْفَرٍ، أَخْبَرَنِي شَرِيكُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنُ أَبِي نَمْر، عَنْ
كُرَيب عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: بِتُّ عِنْدَ خَالَتِي مَيْمُونَةَ،
فَتَحَدَّثَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَعَ
أَهْلِهِ سَاعَةً ثُمَّ رَقَدَ، فَلَمَّا كَانَ ثُلث اللَّيْلِ الْآخِرِ
قَعد فَنَظَرَ إِلَى السَّمَاءِ فَقَالَ: {إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ
وَالأرْضِ وَاخْتِلافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لآيَاتٍ لأولِي الألْبَابِ}
ثُمَّ قَامَ فَتَوَضَّأَ وَاسْتَنَّ. فَصَلَّى إِحْدَى عَشْرَة رَكْعَةً.
ثُمَّ أَذَّنَ بلالٌ فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ، ثُمَّ خَرَجَ فَصَلَّى
بِالنَّاسِ الصُّبْحَ.
Telah menceritakan kepada kami Sa'id ibnu Abu Maryam, telah menceritakan
kepada kami Muhammad ibnu Ja'far, telah menceritakan kepadaku Syarik
ibnu Abdullah ibnu Abu Namir, dari Kuraib, dari Ibnu Abbas r.a. yang
menceritakan bahwa ia tidur di rumah bibinya (yaitu Siti Maimunah). Lalu
Rasulullah Saw. bercakap-cakap dengan istrinya selama sesaat. kemudian
beliau tidur. Ketika malam hari tinggal sepertiganya lagi, beliau bangun
dan duduk, lalu memandang ke arah langit seraya mengucapkan:
Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya
malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.(Ali
Imran: 190), hingga beberapa ayat selanjutnya. Setelah itu beliau
bangkit dan melakukan wudu. Setelah bersiwak, beliau melakukan salat
sebanyak sebelas rakaat. Kemudian Bilal menyerukan azannya, maka beliau
Saw. salat dua rakaat, lalu keluar dan salat Subuh menjadi imam
orang-orang.
Demikian pula Imam Muslim meriwayatkannya dari Abu Bakar ibnu Ishaq As-San'ani, dari Ibnu Abu Maryam dengan lafaz yang sama.
ثُمَّ رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ مِنْ طُرقٍ عَنْ مَالِكٍ، عَنْ مَخْرَمَة بْنِ
سُلَيْمَانَ، عَنْ كُرَيْبٍ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّهُ بَاتَ عِنْدَ
مَيْمُونَةَ زَوْجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَهِيَ
خَالَتُهُ، قَالَ: فَاضْطَجَعْتُ فِي عَرْض الْوِسَادَةِ، وَاضْطَجَعَ
رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَهْلُهُ فِي طُولها،
فَنَامَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَتَّى إِذَا
انْتَصَفَ اللَّيْلُ -أَوْ قَبْلَهُ بِقَلِيلٍ، أَوْ بَعْدَهُ بِقَلِيلٍ
-استيقظَ رسولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ مَنَامِهِ،
فَجَعَلَ يمسحُ النومَ عَنْ وَجْهِهِ بِيَدِهِ، ثُمَّ قَرَأَ الْعَشْرَ
الْآيَاتِ الخواتيمَ مِنْ سُورة آلِ عِمْرَانَ، ثُم قَامَ إِلَى شَنّ
مُعَلَّقَةٍ فَتَوَضَّأَ مِنْهَا فَأَحْسَنَ وُضُوءه ثُمَّ قَامَ يُصَلِّي
-قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ: فَقُمْتُ فَصَنَعْتُ مِثْلَ مَا صَنَعَ، ثُمَّ
ذَهَبتُ فَقُمْتُ إِلَى جَنْبه -فَوَضَعَ رسولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَدَه الْيُمْنَى عَلَى رَأْسِي، وَأَخَذَ بِأُذُنِي
الْيُمْنَى يَفْتلُها فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ، ثُمَّ رَكْعَتَيْنِ، ثُمَّ
رَكْعَتَيْنِ، ثُمَّ رَكْعَتَيْنِ، ثُمَّ رَكْعَتَيْنِ، ثُمَّ رَكْعَتَيْنِ
ثُمَّ أَوْتَرَ، ثُمَّ اضْطَجَعَ حَتَّى جَاءَهُ الْمُؤَذِّنُ، فَقَامَ
فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ خَفِيفَتَيْنِ، ثُمَّ خَرَجَ فَصَلَّى الصُّبْحَ.
Imam Bukhari meriwayatkannya pula melalui berbagai jalur dari Malik,
dari Makhramah ibnu Sulaiman, dari Kuraib, bahwa Ibnu Abbas pernah
menceritakan kepadanya bahwa ia pernah menginap di rumah Siti Maimunah,
istri Nabi Saw. yang juga bibinya. Ibnu Abbas melanjutkan kisahnya,
bahwa ia tidur pada bagian dari bantal yang melebar, sedangkan
Rasulullah Saw. bersama istrinya (Siti Maimunah) tidur pada bagian yang
memanjang dari bantal itu. Rasulullah Saw. tidur hingga tengah malam,
atau sedikit sebelumnya atau sedikit sesudahnya. Rasulullah Saw. bangun
dari tidurnya, lalu mengusap wajah dengan tangannya untuk mengusir rasa
kantuk. Setelah itu beliau membaca sepuluh ayat yang mengakhiri surat
Ali Imran. Lalu bangkit menuju arah tempat air yang digantungkan,
mengambil air wudu darinya, dan melakukan wudu dengan baik. Sesudah itu
beliau berdiri mengerjakan salat. Ibnu Abbas melanjutkan kisahnya, "Maka
aku berdiri dan melakukan hal yang sama seperti yang dilakukannya.
Setelah itu aku menuju kepadanya dan berdiri di sebelahnya. Maka
Rasulullah Saw. meletakkan tangan kanannya di atas kepalaku dan memegang
telinga kananku, lalu menjewernya (yakni memindahkan Ibnu Abbas dari
sebelah kiri ke sebelah kanannya). Beliau melakukan salat dua rakaat,
lalu dua rakaat lagi, lalu dua rakaat lagi, lalu dua rakaat lagi, lalu
dua rakaat lagi, lalu dua rakaat lagi, kemudian witir. Sesudah itu
beliau berbaring hingga juru azan datang kepadanya. Kemudian beliau
bangkit dan melakukan salat dua rakaat secara ringan, lalu keluar
(menuju masjid) dan salat Subuh (sebagai imam semua orang)."
Demikianlah hal yang diketengahkan oleh Jamaah lainnya melalui berbagai jalur dari Malik dengan lafaz yang sama.
Imam Muslim meriwayatkannya pula —juga Imam Abu Daud— melalui berbagai
jalur dari Makhramah ibnu Sulaiman dengan lafaz yang sama.
Jalur lain diriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan hadis ini oleh Abu Bakar ibnu Murdawaih.
حدثنا محمد بن أحمد بن محمد بْنِ عَلِيٍّ، أَخْبَرَنَا أَبُو يَحْيَى بْنُ
أَبِي مسرَّة أَنْبَأَنَا خَلاد بْنُ يَحْيَى، أَنْبَأَنَا يُونُسُ بْنُ
أَبِي إِسْحَاقَ، عَنِ الْمِنْهَالِ بْنِ عَمْرو، عَنْ عَلِيِّ بْنِ عَبْدِ
اللَّهِ بْنِ عَبَّاسٍ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبَّاسٍ قَالَ:
أَمَرَنِي الْعَبَّاسُ أَنْ أَبِيتَ بِآلِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَحْفَظُ صَلَاتَهُ. قَالَ: فَصَلَّى رَسُولُ اللَّهِ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالنَّاسِ صَلَاةَ الْعِشَاءِ
الْآخِرَةِ، حَتَّى إِذَا لَمْ يَبْقَ فِي الْمَسْجِدِ أَحَدٌ غَيْرُهُ
قَامَ فَمَرَّ بِي، فَقَالَ: "مَنْ هَذَا؟ عَبْدُ اللَّهِ؟ " فَقُلْتُ
نَعَمْ. قَالَ: "فَمَه؟ " قُلْتُ: أَمَرَنِي العباسُ أَنْ أَبِيتَ بِكُمُ
اللَّيْلَةَ. قَالَ: "فَالْحَقِ الْحَقْ" فَلَمَّا أَنْ دَخَلَ قَالَ:
"افرشَنْ عَبْدَ اللَّهِ؟ " فَأَتَى بِوِسَادَةٍ مِنْ مُسُوحٍ، قَالَ
فَنَامَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَيْهَا
حَتَّى سَمعتُ غَطِيطه، ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى فِرَاشِهِ قَاعِدًا، قَالَ:
فَرَفَع رأسَه إِلَى السَّمَاءِ فَقَالَ: "سُبحان الْمَلِكِ الْقُدُّوسِ"
ثَلَاثَ مَرَّاتٍ، ثُمَّ تَلَا هَذِهِ الْآيَاتِ مِنْ آخِرِ سُورَةِ آلِ
عِمْرَانَ حَتَّى خَتَمَهَا.
Disebutkan bahwa telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ahmad ibnu
Muhammad ibnu Ali, telah menceritakan kepada kami Abu Yahya. dari Abu
Mai-sarah, telah menceritakan kepada kami Khallad ibnu Yahya, telah
menceritakan kepada kami Yunus, dari Abi Ishaq, dari Al-Minhal ibnu Amr,
dari Ali ibnu Abdullah ibnu Abbas, dari Abdullah ibnu Abbas yang
menceritakan bahwa Al-Abbas memerintahkan kepadaku untuk menginap di
rumah keluarga Rasulullah Saw. untuk menghafalkan cara salat (malam
hari)nya. Ibnu Abbas melanjutkan kisahnya,- bahwa Rasulullah Saw.
melakukan salat Isya bersama orang banyak. Setelah di dalam masjid tidak
terdapat seorang pun selain diriku, maka beliau berdiri dan lewat di
hadapanku. Beliau bertanya, "Siapakah ini? Abdullah bukan?" Aku
menjawab, "Ya." Rasulullah Saw. bertanya, "Mengapa masih di sini?" Aku
menjawab, "Al-Abbas (ayahku) telah memerintahkan aku untuk menginap di
rumahmu malam ini." Rasulullah Saw. bersabda, "Mari masuk, mari masuk."
Setelah masuk ke dalam rumah, beliau Saw. bersabda, "Mau memakai kasur,
Abdullah?" Beliau Saw. mengambil sebuah bantal yang berlapiskan kain
bulu. Rasulullah Saw. tidur memakai bantal itu hingga aku mendengar
dengkurannya. setelah itu beliau duduk tegak di atas kasurnya dan
mengarahkan pandangannya ke langit, lalu mengucapkan:Subhanal Malikil
Quddus (Mahasuci Raja Yang Mahasuci). sebanyak tiga kali, lalu
membacakan ayat-ayat yang berada di akhir surat Ali Imran hingga akhir
surat Ali Imran.
Imam Muslim, Imam Abu Daud, dan Imam Nasai meriwayatkan melalui hadis
Ali ibnu Abdullah ibnu Abbas, dari ayahnya sebuah hadis mengenai hal
yang sama.
Jalur lain diriwayatkan oleh Ibnu Murdawaih melalui hadis Asim ibnu
Bahdalah, dari salah seorang muridnya, dari Sa'id ibnu Jubair, dari Ibnu
Abbas, bahwa di suatu malam Rasulullah Saw. keluar sesudah sebagian
malam hari telah berlalu. Lalu beliau memandang ke arah langit dan
membaca ayat berikut, yaitu firman-Nya: Sesungguhnya dalam penciptaan
langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat
tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. (Ali Imran: 190), hingga
akhir surat.
Sesudah itu beliau Saw. berdoa:
«اللَّهُمَّ اجْعَلْ فِي قَلْبِي نُورًا، وَفِي سَمْعِي نُورًا وَفِي
بَصَرِي نُورًا، وَعَنْ يَمِينِي نُورًا، وَعَنْ شِمَالِي نُورًا، وَمِنْ
بَيْنِ يَدَيَّ نُورًا، وَمِنْ خَلْفِي نُورًا، وَمِنْ فَوْقِي نُورًا،
وَمِنْ تَحْتِي نُورًا وَأَعْظِمْ لِي نُورًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ»
Ya Allah, jadikanlah di dalam kalbuku nur (cahaya), di dalam
pendengaranku nur, di dalam pandanganku nur, di sebelah kananku nur, di
sebelah kiriku nur, di hadapanku nur, di belakangku nur, di atasku nur,
di bawahku nur, dan besarkanlah nur bagiku kelak di hari kiamat.
Doa ini ditetapkan pada sebagian jalur-jalur yang sahih melalui riwayat Kuraib, dari Ibnu Abbas r.a.
Kemudian ibnu Murdawaih dan Ibnu Abu Hatim meriwayatkan melalui hadis
Ja'far ibnu Abul Mugirah. dari Sa’id ibnu Jubair. dari Ibnu Abbas yang
menceritakan bahwa orang-orang Quraisy datang kepada orang-orang Yahudi,
Lalu mereka bertanya, "Mukjizat-mukjizat apakah yang dibawa oleh Musa
kepada kalian?" Orang-orang Yahudi menjawab, "Tongkatnya dan tangannya
yang kelihatan putih bagi orang-orang yang memandangnya." Orang-orang
Quraisy datang kepada orang-orang Nasrani. Lalu mereka bertanya,
"Bagaimanakah yang dilakukan oleh Isa di antara kalian?" Orang-orang
Nasrani menjawab.”Dia dapat menyembuhkan orang buta, orang berpenyakit
supak. dan dapat menghidupkan orang-orang mati." Mereka datang kepada
Nabi Saw., Lalu berkata, "Mintakanlah buat kami kepada Tuhanmu agar Dia
menjadikan Bukit Safa ini emas." Maka Nabi Saw. berdoa kepada Tuhannya,
Lalu turunlah firman-Nya:Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi,
dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi
orang-orang yang berakal. (Ali Imran: 190) Dengan kata lain, hendaklah
mereka merenungkan semuanya itu.
Lafaz hadis ini berdasarkan riwayat Ibnu Murdawaih. Hadis ini disebutkan
dalam permulaan pembahasan ayat melalui riwayat Imam Tabrani.
Berdasarkan keterangan ini dapat disimpulkan bahwa ayat-ayat ini adalah
Makkiyyah.
Tetapi menurut pendapat yang masyhur, ayat-ayat ini adalah Madaniyah,
sebagai dalilnya ialah hadis lain yang diriwayatkan oleh Ibnu Murdawaih,
telah menceritakan kepada kami Ali ibnu Ismail, telah menceritakan
kepada kami Ahmad ibnu Ali Al-Harrani, telah menceritakan kepada kami
Syuja' ibnu Asyras, telah menceritakan kepada kami Hasyraj ibnu Nabatah
Al-Wasiti, telah menceritakan kepada kami Abu Makram, dari Al-Kalbi
(yaitu Ibnu Junab), dari Ata yang menceritakan, "Aku dan Ibnu Umar serta
Ubaid ibnu Umair berangkat menuju rumah Siti Aisyah r.a. Lalu kami
masuk ke dalam rumahnya dan menjumpainya, sedangkan antara kami dengan
dia terdapat hijab." Siti Aisyah bertanya, "Hai Ubaid, apakah yang
menghalang-halangi dirimu untuk berkunjung kepadaku?" Ubaid menjawab,
"Perkataan seorang penyair yang mengatakan, 'Jarang-jaranglah
berkunjung, niscaya menambah rasa kangen'." Ibnu Umar memotong
pembicaraan, "Biarkanlah kami, ceritakanlah kepada kami hal yang paling
mengagumkan yang pernah engkau lihat dari Rasulullah Saw." Siti Aisyah
menangis dan mengatakan bahwa semua perkara Nabi Saw. adalah
mengagumkan, "Beliau mendatangiku di malam giliranku hingga kulit beliau
bersentuhan dengan kulitku. Setelah itu beliau bersabda, 'Biarkanlah
aku menyembah Tuhanku.' Maka aku berkata, 'Demi Allah, sesungguhnya aku
suka berada di dekatmu, dan sesungguhnya aku suka menyembah Tuhanmu'."
Nabi Saw. bangkit menuju qirbah (tempat air dari kulit), lalu berwudu
tanpa banyak mengucurkan air. Setelah itu beliau berdiri mengerjakan
salat, dan beliau menangis sehingga jenggotnya basah oleh air mata. Lalu
sujud dan menangis pula hingga air matanya membasahi tanah. Kemudian
berbaring pada lambungnya dan menangis lagi. Ketika Bilal datang
memberitahukan kepadanya waktu salat Subuh, seraya bertanya, "Wahai
Rasulullah, apakah yang menyebabkan engkau menangis, padahal Allah telah
memberikan ampunan kepadamu terhadap dosa-dosamu yang telah lalu dan
yang akan datang?" Nabi Saw. menjawab, "Celakalah kamu, hai Bilal,
apakah yang menghalang-halangiku menangis, sedangkan Allah telah
menurunkan kepadaku malam ini ayat berikut: 'Sesungguhnya dalam
penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang hari
terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal (Ali Imran: 190)."
Kemudian Nabi Saw. bersabda pula,'Celakalah bagi orang yang membacanya,
lalu ia tidak merenungkan semuanya itu."
Abdu ibnu Humaid meriwayatkannya di dalam kitab tafsir, dari Ja'far ibnu
Auf Al-Kalbi, dari Abu Hubab (yaitu Ata) yang menceritakan bahwa ia dan
Abdullah ibnu Umar serta Ubaid ibnu Umair masuk ke dalam rumah Siti
Aisyah Ummul Mukminin r.a. yang saat itu berada di dalam rumah
(kemah)nya. Maka kami mengucapkan salam penghormatan kepadanya, dan ia
bertanya, "Siapakah mereka?" Kami menjawab, "Abdullah ibnu Umar dan
Ubaid ibnu Umair."' Siti Aisyah berkata, "Hai Ubaid ibnu Umair, apakah
yang menghalang-halangi dirimu untuk berkunjung kepadaku?" Ubaid ibnu
Umair mengucapkan kata-kata tadi yang telah disebutkan di atas, yaitu:
Jarang-jaranglah berkunjung, niscaya akan bertambah kangen. Siti Aisyah
berkata, "Sesungguhnya aku senang bila dikunjungi olehmu dan
berbincang-bincang denganmu." Abdullah ibnu Umar berkata, "Bebaskanlah
kami dari obrolan kamu berdua yang ini. Sekarang ceritakanlah kepada
kami hal yang paling menakjubkan yang pernah engkau lihat dari
Rasulullah Saw." Siti Aisyah menangis, kemudian berkata, "Semua perkara
Nabi Saw. adalah menakjubkan belaka. Beliau datang kepadaku di malam
giliranku hingga masuk bersama dan merebahkan diri di atas tempat
tidurku hingga kulit beliau bersentuhan dengan kulitku. Kemudian beliau
bersabda, 'Hai Aisyah, izinkanlah aku, sekarang aku akan menyembah
Tuhanku'." Siti Aisyah berkata, "Sesungguhnya aku suka berada di dekatmu
dan aku suka apa yang engkau suka." Rasulullah Saw. bangkit menuju
qirbah (wadah air) yang ada di dalam rumah. dan dalam wudunya itu beliau
menghemat air. Lalu berdiri dan membaca Al-Qur'an seraya menangis
sehingga aku melihat air matanya sampai mengenai kedua sisi pinggangnya.
Setelah itu beliau Saw. duduk, lalu membaca hamdalah dan memuji Allah
Swt., kemudian menangis lagi sehingga aku melihat air matanya sampai
membasahi pangkuannya. Kemudian beliau merebahkan diri pada lambung
sebelah kanannya dan meletakkan lengan kanannya pada pipinya, lalu
beliau menangis lagi sehingga aku melihat air matanya sampai membasahi
tanah. Lalu masuklah Bilal memberitahukan kepadanya bahwa waktu salat
Subuh telah masuk. Untuk itu Bilal berkata, "Wahai Rasulullah, sekarang
waktu salat." Tetapi ketika Bilal melihat Rasulullah Saw. menangis, maka
ia bertanya, "Wahai Rasulullah, apakah engkau menangis, padahal Allah
telah memberikan ampunan-Nya bagimu atas semua dosamu yang telah lalu
dan yang kemudian?" Rasulullah Saw. menjawab, "Hai Bilal, bukankah aku
ingin menjadi seorang hamba yang banyak bersyukur? Mengapa aku tidak
menangis, sedangkan malam ini telah diturunkan kepadaku
firman-Nya:'Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih
bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang
berakal' (Ali Imran: 190). sampai dengan firman-Nya: 'Mahasuci Engkau,
maka peliharalah kami dari siksa neraka' (Ali Imran: 191)." Kemudian
beliau Saw. bersabda: Celakalah bagi orang yang membaca ayat-ayat ini,
lalu ia tidak merenungkannya.
Hal yang sama diriwayatkan oleh Ibnu Abu Hatim dan Ibnu Hibban di dalam
kitab sahihnya, dari Imran ibnu Musa, dari Usman ibnu Abu Syaibah, dari
Yahya ibnu Zakaria, dari Ibrahim ibnu Suwaid An-Nakha'i, dari Abdul
Malik ibnu Abu Sulaiman, dari Ata yang menceritakan bahwa dia dan Ubaid
ibnu Umair masuk ke dalam rumah Siti Aisyah, dan seterusnya hingga akhir
hadis.
Hal yang sama diriwayatkan oleh Abdullah ibnu Muhammad ibnu Abud Dunia
di dalam kitab At-Tafakkur wal I'tibar, dari Syuja" ibnu Asyras.
Selanjutnya disebutkan bahwa telah menceritakan kepadaku Al-Hasan ibnu
Abdul Aziz, ia pernah mendengar Sunaid menceritakan dari Sufyan As-Sauri
yang me-rafa'-kannya. bahwa barang siapa yang membaca akhir surat Ali
Imran, lalu ia tidak memikirkan maknanya, celakalah dia. Ia mengatakan
demikian seraya menghitung dengan jari-jarinya sebanyak sepuluh buah
(yakni sepuhih ayat terakhir dari surat Ali Imran).
Al-Hasan ibnu Abdul Aziz mengatakan, telah menceritakan kepadaku Ubaid
ibnus Saib yang menceritakan bahwa pernah dikatakan kepada Al-Auza'i,
"Apakah yang dimaksud dengan pengertian memikirkan ayat-ayat tersebut?"
Al-Auza'i menjawab, "Membacanya seraya merenungkan maknanya."
Ibnu Abud Dunia mengatakan, telah menceritakan kepadaku Qasim ibnu
Hasyim, telah menceritakan kepada kami Ali ibnu Iyasy, telah
menceritakan kepada kami Abdur Rahman ibnu Sulaiman yang menceritakan
bahwa ia pernah bertanya kepada Al-Auza'i tentang batas minimal dari
pengertian memikirkan ayat-ayat tersebut dan jalan menyelamatkan diri
dari kecelakaan tersebut." Maka Al-Auza'i menundukkan kepalanya sejenak,
lalu berkata, "Hendaklah seseorang membaca ayat-ayat tersebut seraya
memikirkan maknanya."
Hadis lain mengandung garabah (keanehan). Abu Bakar ibnu Murdawaih
mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abdur Rahman ibnu Basyir ibnu
Numair, telah menceritakan kepada kami Ishaq ibnu Ibrahim Al-Busti.
Telah menceritakan kepada kami Ishaq ibnu Ibrahim ibnu Zaid, telah
menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Amr, telah menceritakan kepada kami
Hisyam ibnu Ammar, telah menceritakan kepada kami Ammar, telah
menceritakan kepada kami Sulaiman ibnu Musa Az-Zuhri, telah menceritakan
kepada kami Mu-zahir ibnu Aslam Al-Makhzumi, telah menceritakan kepada
kami Sa'id ibnu Abu Sa'id Al-Maqbari, dari Abu Hurairah yang
menceritakan: Setiap malam Rasulullah Saw. selalu membaca sepuluh ayat
dari akhir surat Ali Imran.
Muzahir ibnu Aslam orangnya daif.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar