Di antara metode Al Qur’an dalam menyampaikan ajarannya adalah dengan
menggunakan permisalan, karena permisalan itu akan lebih mendekatkan
pemahaman dari selainnya. Di antara sekian banyak permisalan yang
terdapat dalam Al Qur’an adalah permisalan dan perumpamaan kehidupan
dunia.
Alloh Subhanahu Wata'ala Berfirman;
إِنَّمَا مَثَلُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا كَمَاءٍ أَنزلْنَاهُ مِنَ
السَّمَاءِ فَاخْتَلَطَ بِهِ نَبَاتُ الأرْضِ مِمَّا يَأْكُلُ النَّاسُ
وَالأنْعَامُ حَتَّى إِذَا أَخَذَتِ الأرْضُ زُخْرُفَهَا وَازَّيَّنَتْ
وَظَنَّ أَهْلُهَا أَنَّهُمْ قَادِرُونَ عَلَيْهَا أَتَاهَا أَمْرُنَا
لَيْلا أَوْ نَهَارًا فَجَعَلْنَاهَا حَصِيدًا كَأَنْ لَمْ تَغْنَ
بِالأمْسِ كَذَلِكَ نُفَصِّلُ الآيَاتِ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ (24)
وَاللَّهُ يَدْعُو إِلَى دَارِ السَّلامِ وَيَهْدِي مَنْ يَشَاءُ إِلَى
صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ (25)
Sesungguhnya perumpamaan kehidupan duniawi itu adalah seperti air
(hujan) yang Kami turunkan dari langit, lalu tumbuhlah dengan suburnya
karena air itu tanam-tanaman bumi, di antaranya ada yang dimakan manusia
dan binatang ternak. Hingga apabila bumi itu telah sempurna
keindahannya, dan memakai (pula) perhiasannya, dan pemilik-pemiliknya
mengira bahwa mereka pasti menguasainya, tiba-tiba datanglah kepadanya
azab Kami di waktu malam atau siang, lalu Kami jadikan (tanam-tanaman)
laksana tanam-tanaman yang sudah disabit, seakan-akan belum pernah
tumbuh kemarin. Demikianlah Kami menjelaskan tanda-tanda kekuasaan
(Kami)kepada orang-orang yang berpikir. Allah menyeru (manusia) ke
Darussalam (surga) dan menunjuki orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan
yang lurus (Islam). (QS Yunus: 24)
Allah Swt. membuat perumpamaan tentang bunga kehidupan dunia dan
perhiasannya serta kefanaannya yang cepat dengan tumbuh-tumbuhan yang
dikeluarkan oleh Allah dari tanah melalui air hujan yang diturunkan dari
langit. Tumbuh-tumbuhan dan buah-buahan yang beraneka ragam macam dan
jenisnya itu ada yang dimakan oleh manusia; ada pula yang dimakan oleh
binatang ternak, seperti rumput, ilalang, dan lain sebagainya.
{حَتَّى إِذَا أَخَذَتِ الأرْضُ زُخْرُفَهَا}
Hingga apabila bumi itu telah sempurna keindahannya. (Yunus: 24)
Yakni perhiasannya yang fana telah sempurna.
{وَازَّيَّنَتْ}
dan memakai (pula) perhiasannya. (Yunus: 24)
Sehingga semua yang dikeluarkannya tampak indah dihiasi dengan bunga-bungaan yang aneka ragam warna dan bentuknya.
{وَظَنَّ أَهْلُهَا} الَّذِينَ زَرَعُوهَا وَغَرَسُوهَا {أَنَّهُمْ قَادِرُونَ عَلَيْهَا}
dan pemilik-pemiliknya mengira bahwa mereka pasti menguasainya (Yunus: 24)
Maksudnya, mampu menuai dan memetik hasilnya. Ketika mereka dalam
keadaan seperti itu, tiba-tiba datanglah sa'iqah atau angin kencang yang
sangat dingin sehingga dedaunannya menjadi kering dan buahnya membusuk.
Karena itu, dalam firman selanjutnya disebutkan:
{أَتَاهَا أَمْرُنَا لَيْلا أَوْ نَهَارًا فَجَعَلْنَاهَا حَصِيدًا}
tiba-tiba datanglah kepadanya azab Kami di waktu malam atau siang hari,
lalu Kami jadikan (tanam-tanamannya) laksana tanam-tanaman yang sudah
disabit. (Yunus: 24)
Yakni menjadi kering, sebelumnya segar lagi hijau.
{كَأَنْ لَمْ تَغْنَ بِالأمْسِ}
seakan-akan belum pernah tumbuh kemarin.(Yunus: 24)
Yaitu seakan-akan tidak pernah tumbuh sebelum itu.
Menurut Qatadah, seakan-akan belum pernah tumbuh dengan segar.
Demikianlah keadaan semua urusan sesudah kehancurannya, maka akan
kelihatan seakan-akan belum pernah ada.
Di dalam sebuah hadis disebutkan seperti berikut:
يُؤْتَى بِأَنْعَمِ أَهْلِ الدُّنْيَا، فيُغْمَس فِي النَّارِ غَمْسَة
ثُمَّ يُقَالُ لَهُ: هَلْ رَأَيْتَ خَيْرًا قَطُّ؟ [هَلْ مَرَّ بِكَ
نَعِيمٌ قَطُّ؟] فَيَقُولُ: لَا. وَيُؤْتَى بِأَشَدِّ النَّاسِ عَذَابًا
فِي الدُّنْيَا فَيُغْمَسُ فِي النَّعِيمِ غَمْسَةً، ثُمَّ يُقَالُ لَهُ:
هَلْ رَأَيْتَ بُؤْسًا قَطُّ؟ فَيَقُولُ: لَا"
(Kelak di hari kiamat) didatangkan seorang penghuni dunia yang paling
senang, lalu ia dicelupkan ke dalam neraka sekali celup, kemudian
dikatakan kepadanya, "Apakah kamu pernah mengalami suatu kebaikan? Dan
apakah kamu pernah mengalami suatu kesenangan?” Maka ia menjawab,
"Tidak.” Lalu didatangkan seorang yang paling sengsara di dunia,
kemudian ia dimasukkan ke dalam kehidupan yang penuh dengan kenikmatan
(surga) sekali masuk. Sesudah itu dikatakan kepadanya, "Apakah kamu
pernah mengalami suatu kesengsaraan?” Maka dia menjawab, "Tidak.”
Dan Allah Swt. telah berfirman menceritakan tentang orang-orang yang binasa:
{فَأَصْبَحُوا فِي دِيَارِهِمْ جَاثِمِينَ كَأَنْ لَمْ يَغْنَوْا فِيهَا}
lalu mereka mati bergelimpangan di dalam rumahnya, seolah-olah mereka belum pernah berdiam di tempat itu. (Hud: 67-68)
Kemudian Allah Swt. berfirman:
{كَذَلِكَ نُفَصِّلُ الآيَاتِ}
Demikianlah Kami menjelaskan tanda-tanda kekuasaan (Kami). (Yunus: 24)
Maksudnya, begitulah caranya Kami menjelaskan bukti-bukti dan dalil-dalil:
{لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ}
kepada orang-orang yang berpikir. (Yunus: 24)
Agar mereka mengambil pelajaran dari perumpamaan ini yang menunjukkan
akan lenyapnya dunia dari pemiliknya dengan cepat, tetapi mereka
teperdaya olehnya, merasa yakin dan pasti bahwa diri mereka pasti dapat
memetik hasilnya pada waktunya, tetapi akhirnya dunia luput dari mereka.
Karena sesungguhnya watak dunia itu selalu lari dari orang yang
memburunya dan selalu memburu orang yang menghindarinya.
Allah Swt. telah membuat perumpamaan dunia dengan tumbuh-tumbuhan dalam
berbagai ayat dari Kitab-Nya. Di dalam surat Al-Kahfi, Allah Swt. telah
berfirman:
{وَاضْرِبْ لَهُمْ مَثَلَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا كَمَاءٍ أَنزلْنَاهُ مِنَ
السَّمَاءِ فَاخْتَلَطَ بِهِ نَبَاتُ الأرْضِ فَأَصْبَحَ هَشِيمًا
تَذْرُوهُ الرِّيَاحُ وَكَانَ اللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ مُقْتَدِرًا}
Dan berilah perumpamaan kepada mereka (manusia) kehidupan dunia sebagai
air hujan yang Kami turunkan dari langit, maka menjadi subur karenanya
tumbuh-tumbuhan di muka bumi, kemudian tumbuh-tumbuhan itu menjadi
kering yang diterbangkan oleh angin. Dan adalah Allah Mahakuasa atas
segala sesuatu. (Al-Kahfi: 45)
Demikian pula yang terdapat di dalam surat Az-Zumar dan Al-Hadid, Allah
membuat perumpamaan untuk kehidupan dunia dengan hal tersebut.
Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepadaku Al-Haris, telah
menceritakan kepada kami Abdul Aziz, telah menceritakan kepada kami Ibnu
Uyaynah, dari Amr ibnu Dinar, dari Abdur Rahman ibnu Abu Bakar ibnu
Abdur Rahman ibnul Haris ibnu Hisyam yang mengatakan bahwa ia pernah
mendengar Marwan ibnul Hakam membaca ayat berikut di atas mimbarnya,
yaitu firman Allah Swt.: dan memakai (pula)perhiasannya, dan
pemilik-pemiliknya mengira bahwa mereka pasti menguasainya; dan tidak
sekali-kali Allah membinasakannya melainkan karena dosa para pemiliknya.
Kemudian Marwan berkata, "Saya biasa membacanya seperti ini, tetapi ia
(tambahannya) tidak terdapat di dalam mushaf." Maka Abbas ibnu Abdullah
ibnu Abbas berkata, "Begitu pula yang biasa dibacakan oleh Ibnu Abbas."
Lalu mereka mengirimkan utusan kepada Ibnu Abbas untuk menanyakannya,
maka Ibnu Abbas menjawab, "Begitulah yang dibacakan kepadaku oleh Ubay
ibnu Ka'b."
Ini adalah qiraat yang gharib, seakan-akan kalimat tersebut ditambahkan sebagai tafsirannya.
Kehidupan dunia ini merupakan perhiasan indah yang menggoda mata orang
yang memandangnya, menarik perhatian dan mengagumkan, menimbulkan hasrat
keinginan untuk memilikinya, dan membuat setiap orang di sekitarnya
merasa menguasainya. Kehidupan dunia yang demikian ini Allah umpamakan
dengan tanah yang dihujani air, kemudian tumbuh rerumputan dan pepohonan
yang berwarna-warni yang menarik dipandang, menggiurkan, serta
mendorong orang-orang di sekitarnya menguasainya secara penuh. Dari
tumbuhan-tumbuhan itu ada yang dimakan manusia dan adapula yang dimakan
hewan-hewan.
Sampai ketika bumi itu di puncak keindahan dan keelokannya sehingga
penduduknya mengira akan segera memetik dan menikmatinya, tiba-tiba
Allah membalikkan keadaan dengan datangnya petir atau angin dingin yang
kencang sehingga membuat kering daun-daunnya dan merusak buah-buahannya.
Oleh karena itu Allah berfirman (yang artinya), “Tiba-tiba datanglah
kepadanya azab Kami di waktu malam atau siang, lalu Kami jadikan
(tanam-tanamannya) laksana tanam-tanaman yang sudah disabit,”yaitu
menjadi kering setalah sebelumnya hijau dan elok dipandang, seakan-akan
sebelumnya tidak bagus atau, sebagaimana kata Qatadah rahimahullah,
seakan-akan belum pernah menyenangkan.
Demikianlah perkara-perkara setelah lenyapnya, seakan-akan tidak pernah
ada. Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan dari Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Didatangkan (di hari kiamat) orang yang
paling menikmati dunia, dari kalangan penduduk neraka, lalu dicelupkan
ke dalam neraka dengan satu celupan. Ditanyakan kepadanya, ‘Hai anak
adam, apakah kamu melihat kebaikan sedikit saja? Apakah kamu merasakan
kenikmatan sekecil pun?’ Ia menjawab, ‘Tidak,demi Allah, wahai Rabb-ku.’
Dan didatangkan orang yang paling merasakan kepedihan ketika di dunia,
dari kalangan ahli surga, kemudian dicelupkan pada kesenangan (surga).
Ditanyakan kepadanya, ‘Apakah Anda meraskan kesusahan sedikit pun?Dan
apakah Anda merasakan kesulitan sekecil pun?’ Ia menjawab, ‘Tidak, demi
Allah, wahai Rabb-ku. Sedikit pun aku tidak mersakan kesudahan, tidak
pula kesusahan sekecil pun.’ (HR. Muslim dan Ahmad)
Firman Allah Swt.:
{وَاللَّهُ يَدْعُو إِلَى دَارِ السَّلامِ}
Allah menyeru (manusia) ke Darussalam (surga). (Yunus: 25)
Setelah menceritakan perihal dunia dan kelenyapannya yang cepat, maka
Allah menyebutkan tentang surga dan menyeru kepadanya serta menamainya
dengan sebutan Darussalam, yakni rumah yang aman dari semua penyakit,
semua kekurangan, dan semua musibah. Untuk itu, Allah Swt. berfirman:
{وَاللَّهُ يَدْعُو إِلَى دَارِ السَّلامِ وَيَهْدِي مَنْ يَشَاءُ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ}
Allah menyeru (manusia) ke Darussalam (surga),dan menunjuki orang yang
dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus (Islam). (Yunus: 25)
Ayyub telah meriwayatkan dari Abu Qilabah, dari Nabi Saw., yang telah bersabda:
"قِيلَ لِي: لتنَمْ عينُك، وليعقلْ قَلْبُكَ، وَلْتَسْمَعْ أُذُنُكَ
فَنَامَتْ عَيْنِي، وَعَقَلَ قَلْبِي، وَسَمِعَتْ أُذُنِي. ثُمَّ قِيلَ:
سيّدٌ بَنَى دَارًا، ثُمَّ صَنَعَ مَأْدُبَةً، وَأَرْسَلَ دَاعِيًا، فَمَنْ
أَجَابَ الدَّاعِيَ دَخَلَ الدَّارَ، وَأَكَلَ مِنَ الْمَأْدُبَةِ،
وَرَضِيَ عَنْهُ السَّيِّدُ، وَمَنْ لَمْ يُجِبِ الدَّاعِيَ لَمْ يَدْخُلِ
الدَّارَ، وَلَمْ يَأْكُلْ مِنَ الْمَأْدُبَةِ، وَلَمْ يَرْضَ عَنْهُ
السَّيِّدُ فَاللَّهُ السَّيِّدُ، وَالدَّارُ الْإِسْلَامُ،
وَالْمَأْدُبَةُ الْجَنَّةُ، وَالدَّاعِي مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.
Dikatakan kepadaku, "Tidurlah kedua matamu, tetapi sadarlah hatimu dan
mendengarlah dengan telingamu!" Maka mataku tertidur dan hatiku sadar
serta kedua telingaku mendengar. Kemudian dikatakan kepadaku, "Seperti
seorang tuan yang membangun sebuah gedung, lalu membuat perjamuan
(pesta) dan mengutus seseorang untuk menyampaikan undangan. Maka barang
siapa yang memenuhi undangannya masuk ke dalam gedung itu dan memakan
jamuannya, dan si tuan merasa puas (rida) kepadanya. Dan barang siapa
yang tidak memenuhi undangannya, tidak masuk ke dalam gedung itu dan
tidak makan jamuannya, serta si tuan tidak rela kepadanya Allah adalah
si tuan itu, sedang gedung itu adalah agama Islam, dan jamuannya adalah
surga, sedangkan penyampai undangan itu adalah Muhammad Saw."
Hadis ini mursal, tetapi diriwayatkan pula secara muttasil melalui
hadis Al-Lais dari Khalid ibnu Yazid dari Sa'id ibnu Abu Hilal dari
Jabir ibnu Abdullah r.a. yang menceritakan.”Pada suatu hari Rasulullah
Saw. keluar (dari rumah) dan menjumpai kami, lalu beliau bersabda:
"إِنِّي رَأَيْتُ فِي الْمَنَامِ كَأَنَّ جِبْرِيلَ عِنْدَ رَأْسِي،
وَمِيكَائِيلَ عِنْدَ رِجْلِي، يَقُولُ أَحَدُهُمَا لِصَاحِبِهِ: اضْرِبْ
لَهُ مَثَلًا. فَقَالَ: اسْمَعْ سَمعت أُذُنُكَ، وَاعْقِلْ عَقَل قَلْبُكَ،
إِنَّمَا مَثَلُك وَمَثَلُ أمَّتك كَمَثَلِ مَلِكٍ اتَّخَذَ دَارًا، ثُمَّ
بَنَى فِيهَا بَيْتًا، ثُمَّ جَعَلَ فِيهَا مَأْدُبَةً، ثُمَّ بَعَثَ
رَسُولًا يَدْعُو النَّاسَ إِلَى طَعَامِهِ، فَمِنْهُمْ مَنْ أَجَابَ
الرَّسُولَ، وَمِنْهُمْ مَنْ تَرَكَهُ، فَاللَّهُ الْمَلِكُ، وَالدَّارُ
الْإِسْلَامُ، وَالْبَيْتُ الْجَنَّةُ، وَأَنْتَ يَا مُحَمَّدُ الرسُول،
فَمَنْ أَجَابَكَ دَخَلَ الْإِسْلَامَ، وَمَنْ دَخَلَ الْإِسْلَامَ دَخَلَ
الْجَنَّةَ، وَمَنْ دَخَلَ الْجَنَّةَ أَكَلَ مِنْهَا"
Sesungguhnya aku melihat dalam mimpiku seakan-akan Jibril berada di
dekat kepalaku dan Mikail berada di dekat kedua kakiku. Salah satunya
berkata kepada yang lain, 'Buatlah suatu perumpamaan baginya.' Maka yang
ditanya menjawab, 'Dengarkanlah dengan baik oleh telingamu dan
resapilah dengan baik oleh hatimu. Sesungguhnya perumpamaanmu dan
perumpamaan umatmu sama dengan seorang raja yang menempati sebuah
istana, lalu ia membangun sebuah rumah di dalamnya dan mengadakan pesta
perjamuan di dalamnya, untuk itu lalu ia mengutus seorang utusan guna
memanggil orang-orang menghadiri perjamuannya. Maka di antara mereka ada
yang memenuhi undangan utusannya, dan di antara mereka ada pula yang
tidak memenuhinya. Raja itu adalah perumpamaan Allah, istana itu
perumpamaan Islam, rumah itu perumpamaan surga, dan engkau —hai
Muhammad— adalah perumpamaan utusan itu. Barang siapa yang memenuhi
undanganmu, niscaya masuk Islam; dan barang siapa masuk Islam, pasti
masuk surga; dan barang siapa masuk surga, pasti memakan makanan yang
ada di dalamnya'.”
Hadis ini merupakan riwayat Ibnu Jarir.
Qatadah mengatakan bahwa telah menceritakan kepadaku Khulaid Al-Asri,
dari Abu Darda secara marfu', bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda:
"مَا مِنْ يَوْمٍ طَلَعَتْ فِيهِ شَمْسُهُ إِلَّا وبجنَبَتَيْها مَلَكَانِ
يُنَادِيَانِ يَسْمَعُهُمَا خَلْقُ اللَّهِ كُلُّهُمْ إِلَّا
الثَّقَلَيْنِ: يَا أيها الناس، هَلُمُّوا إِلَى رَبِّكُمْ، إِنَّ مَا قلَّ
وكَفَى، خَيْرٌ مِمَّا كَثُرَ وَأَلْهَى".
Tiada suatu hari pun yang matahari terbit padanya, melainkan pada kedua
sisinya terdapat dua malaikat, kedua-duanya menyerukan kalimat berikut
yang seruannya dapat didengar oleh semua makhluk Allah kecuali manusia
dan jin, yaitu: "Hai manusia, kemarilah kepada Tuhan kalian.
Sesungguhnya sesuatu yang sedikit tetapi mencukupi adalah lebih baik
daripada sesuatu yang banyak tetapi melalaikan (kalian kepada Allah).”
Sehubungan dengan perkataan, "Hai manusia, kemarilah kepada Tuhan
kalian," Abu Darda mengatakan bahwa diturunkan firman Allah Swt.:Allah
menyeru (manusia) ke Darussalam (surga). (Yunus: 25), hingga akhir ayat.
Demikianlah menurut riwayat Ibnu Abu Hatim dan Ibnu Jarir.
Manusia di dunia ini bagai musafir dan pelawat untuk mencari bekal
sebanyak mungkin untuk membangun rumahnya di kampung halamanannya, yaitu
surga. Bukankah negeri asal orangtua mereka adalah surga? Maka bisa
dibenarkan ungkapan, “Cinta negeri bagian dari iman,” jika yang dimaksud
negeri adalah negeri akhirat.
Cukup dunia itu dijadikan bagaikan ladang untuk menanam amal shalih
supaya bisa dipanen di akhirat. Alangkah indahnya syair yang dibawakan
Imam An Nawawi dalam muqaddimah kitabnya, Riyadhush Shalihin, yang konon
syair Imam Asy Syafi’i:
Sesungguhnya Allah memiliki hamba-hamba yang cerdik,
Mereka menceraikan dunia dan takut akan fitnah bencana.
Mereka memperhatikan perkara dunia, sampai ketika mereka mengetahui
Dunia bukanlah tanah air abadi untuk hidup
Mereka menganggap dunia ini bagaikan samudera
Dan mereka menjadikan amal-amal shalih sebagai bahtera untuk mengarunginya
Terakhir, berikut adalah seruan Allah‘Azza wa Jalla kepada orang-orang
yang mengaku dirinya beriman yang sepantasnya direnungkan:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا
قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا
تَعْمَلُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah
setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok
(akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha
Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”(QS Al Hasyr: 18)
يَقُولُ يَا لَيْتَنِي قَدَّمْتُ لِحَيَاتِي فَيَوْمَئِذٍ لَا يُعَذِّبُ عَذَابَهُ أَحَدٌ
“Dia mengatakan: ‘Alangkah baiknya kiranya aku dahulu mengerjakan (amal
saleh) untuk hidupku ini’. Maka pada hari itu tiada seorangpun yang
menyiksa seperti siksa-Nya, dan tidak ada seorang pun yang mengikat
seperti ikatan-Nya.” (QS Al Fajr: 24-25)
Alloh Berfirman;
اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ
وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الأمْوَالِ وَالأوْلادِ كَمَثَلِ
غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا
ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا وَفِي الآخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ
مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٌ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلا مَتَاعُ
الْغُرُورِ (20) سَابِقُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ
عَرْضُهَا كَعَرْضِ السَّمَاءِ وَالأرْضِ أُعِدَّتْ لِلَّذِينَ آمَنُوا
بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ ذَلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ
وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ (21)
Ketahuilah bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan
suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta
berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang
tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi
kering dan kamu lihat warnanya kuning, kemudian menjadi hancur. Dan di
akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta
keridaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan
yang- menipu. Berlomba-lombalah kamu kepada (mendapatkan) ampunan dari
Tuhanmu dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan
bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-rasul-Nya. Itulah
karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan
Allah mempunyai karunia yang besar. (QS Al-Hadid Ayat 20-21)
Allah Swt. berfirman, menceritakan hinanya kehidupan dunia dan kerendahannya. Untuk itu maka Dia berfirman:
{أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الأمْوَالِ وَالأوْلادِ}
sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang
melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta
berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak. (Al-Hadid: 20)
Yakni sesungguhnya kesimpulan dari kehidupan dunia bagi para pemiliknya
adalah hal-hal tersebut, sebagaimana yang disebutkan dalam ayat lain
melalui firman-Nya:
{زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ
وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ
الْمُسَوَّمَةِ وَالأنْعَامِ وَالْحَرْثِ ذَلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ
الدُّنْيَا وَاللَّهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الْمَآبِ}
Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang
diingini, yaitu wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis
emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak, dan sawah ladang.
Itulah kesenangan hidup di dunia; dan di sisi Allah-lah tempat kembali
yang baik (surga). (Ali Imran: 14)
Kemudian Allah Swt. menggambarkan tentang perumpamaan kehidupan dunia,
bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu adalah kemewahan yang fana dan
nikmat yang pasti lenyap. Untuk itu Dia berfirman:
{كَمَثَلِ غَيْثٍ}
seperti hujan. (Al-Hadid: 20)
Yaitu hujan yang turun sesudah manusia berputus asa dari kedatangannya, seperti yang diungkapkan oleh firman-Nya:
وَهُوَ الَّذِي يُنزلُ الْغَيْثَ مِنْ بَعْدِ مَا قَنَطُوا
Dan Dialah Yang menurunkan hujan sesudah mereka berputus asa. (Asy-Syura: 28)
Adapun firman Allah Swt.:
{أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ}
yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani. (Al-Hadid: 20)
Artinya, tanam-tanaman yang ditumbuhkan berkat hujan itu mengagumkan
para petaninya. Maka sebagaimana para petani merasa kagum dengan hal
tersebut, begitu pula halnya orang-orang kafir mengagumi kehidupan
dunia; sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang paling menyenanginya
dan tiada yang terlintas dalam benak mereka selain darinya.
{ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا}
kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning, kemudian menjadi hancur.(Al-Hadid: 20)
Yakni tanam-tanaman itu kering dan kelihatan kuning, padahal sebelumnya
tampak hijau dan segar, kemudian semuanya menjadi hancur berantakan
alias kering kerontang. Demikian pula kehidupan dunia, pada mulanya
kelihatan muda, lalu tumbuh dewasa dan menua, akhirnya pikun dan peot.
Demikian pula manusia pada permulaan usianya dan usia mudanya, ia
kelihatan segar, padat, berisi, serta penampilannya hebat. Kemudian
secara berangsur-angsur mulai menua dan semua wataknya berubah dan
merasa kehilangan sebagian dari kekuatannya. Lalu jadilah ia manusia
yang lanjut usia dan lemah kekuatannya, sedikit geraknya dan tidak mampu
mengerjakan sedikit pekerjaan pun, sebagaimana yang disebutkan oleh
Allah Swt. dalam firman-Nya:
{اللَّهُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ ضَعْفٍ ثُمَّ جَعَلَ مِنْ بَعْدِ ضَعْفٍ
قُوَّةً ثُمَّ جَعَلَ مِنْ بَعْدِ قُوَّةٍ ضَعْفًا وَشَيْبَةً يَخْلُقُ مَا
يَشَاءُ وَهُوَ الْعَلِيمُ الْقَدِيرُ}
Allah, Dialah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia
menjadikan (kamu)sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia
menjadikan (kamu) sesudah kuat itu lemah (kembali) dan beruban. Dia
menciptakan apa yang dikehendaki-Nya dan Dialah Yang Maha Mengetahui
lagi Mahakuasa. (Ar-Rum: 54)
Mengingat perumpamaan ini menunjukkan akan lenyapnya dunia dan
kehancurannya serta kehabisan usianya sebagai suatu kepastian, dan bahwa
negeri akhirat itu ada dan pasti, maka diperingatkanlah untuk
berhati-hati dalam menghadapinya, sekaligus mengandung anjuran untuk
berbuat kebaikan yang akan membawa pahala kebaikan di negeri akhirat
nanti. Untuk itu Allah Swt. berfirman:
{وَفِي الآخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٌ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلا مَتَاعُ الْغُرُورِ}
Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta
keridaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan
yang menipu. (Al-Hadid: 20)
Artinya, tiada di negeri akhirat yang akan datang dalam waktu yang dekat
kecuali ini atau itu, yakni adakalanya azab yang keras dan adakalanya
ampunan dari Allah dan rida-Nya. Firman Allah Swt.:
{وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلا مَتَاعُ الْغُرُورِ}
Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu. (Al-Hadid: 20)
Yakni kesenangan yang fana lagi memperdayakan orang yang cenderung
kepadanya, karena hanya dialah yang teperdaya olehnya dan merasa kagum
dengannya, hingga ia mempunyai keyakinan bahwa tiada negeri lain selain
dunia ini dan di balik ini tidak ada hari berbangkit. Padahal kehidupan
dunia ini amatlah hina/rendah bila dibandingkan dengan kehidupan
akhirat.
قَالَ ابْنُ جَرِيرٍ: حَدَّثَنَا عَلَيُّ ابْنُ حَرْبٍ الْمَوْصِلِيُّ،
حَدَّثَنَا الْمُحَارِبِيُّ، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَمْرٍو، عَنْ
أَبِي سَلَمَةَ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "مَوْضِعُ سَوْطٍ فِي الجنة خير من
الدنيا وما فيها. اقرؤوا: {وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلا مَتَاعُ
الْغُرُورِ}
Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ali ibnu Harb
Al-Mausuli, telah menceritakan kepada kami Al-Muharibi, telah
menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Amr, dari Abu Salamah, dari Abu
Hurairah r.a. yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda:
Tempat cambuk di dalam surga lebih baik daripada dunia dan seisinya,
bacalah oleh kalian akan firman-Nya, "Dan kehidupan dunia ini tidak lain
hanyalah kesenangan yang menipu.”
Hadis ini telah disebutkan di dalam kitab sahih, tanpa tambahan ayat; hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui.
قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا ابْنُ نُمَيْرٍ ووَكِيع، كِلَاهُمَا
عَنِ الْأَعْمَشُ، عَنْ شَقِيقٍ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ: قَالَ
رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "لَلْجنة أَقْرَبُ
إِلَى أَحَدِكُمْ مِنْ شِرَاك نَعْلِهِ، وَالنَّارُ مِثْلُ ذَلِكَ".
Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ibnu Namir dan
Waki', keduanya dari Al-A'masy, dari Syaqiq, dari Abdullah yang
mengatakan bahwa Rasulullah Saw. telah bersabda: Sesungguhnya surga itu
lebih dekat kepada seseorang dari kamu daripada tali terompahnya, dan
neraka pun sama seperti itu.
Imam Bukhari meriwayatkan hadis ini secara tunggal di dalam kitab
Raqa-iq melalui hadis As-Sauri, dari Al-A'masy dengan sanad yang sama.
Di dalam hadis ini terkandung makna yang menunjukkan dekatnya kebaikan
dan keburukan dengan manusia.
Oleh karena itulah maka Allah menganjurkan kepada manusia untuk
bersegera mengerjakan kebaikan yaitu berupa amal-amal ketaatan, dan
meninggalkan hal-hal yang diharamkan. Karena dengan mengerjakan
amal-amal ketaatan terhapuslah dosa-dosa dan kesalahan-kesalahan orang
yang bersangkutan, sekaligus menghasilkan baginya pahala dan derajat.
Untuk itu Allah Swt. berfirman:
{سَابِقُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا كَعَرْضِ السَّمَاءِ وَالأرْضِ}
Berlomba-lombalah kamu kepada (mendapatkan) ampunan dari Tuhanmu dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi. (Al-Hadid:21)
Makna yang dimaksud ialah jenis langit dan bumi. Semakna dengan apa yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya:
{وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالأرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ}
Dan bergegaslah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang
luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang
bertakwa. (Ali-Imran: 133)
Dan dalam surat ini disebutkan:
{أُعِدَّتْ لِلَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ ذَلِكَ فَضْلُ اللَّهِ
يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ}
yang disediakan bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan
Rasul-rasul-Nya. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang
dikehendaki-Nya. Dan Allah mempunyai karunia yang besar. (Al-Hadid: 21)
Yakni apa yang telah disediakan oleh Allah bagi mereka merupakan karunia
dan kebaikan dari-Nya kepada mereka. Sebagaimana yang telah kami
kemukakan dalam hadis sahih yang menyebutkan:
أَنَّ فُقَرَاءَ الْمُهَاجِرِينَ قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، ذَهَبَ
أَهْلُ الدُّثور بِالدَّرَجَاتِ الْعُلَى وَالنَّعِيمِ الْمُقِيمِ. قَالَ:
"وَمَا ذَاكَ؟ ". قَالُوا: يُصلُّون كَمَا نُصَلِّي، وَيَصُومُونَ كَمَا
نَصُومُ، وَيَتَصَدَّقُونَ وَلَا نَتَصَدَّقُ، ويُعتقون وَلَا نُعْتِق.
قَالَ: "أَفَلَا أَدُلُّكُمْ عَلَى شَيْءٍ إِذَا فَعَلْتُمُوهُ سَبَقْتُمْ
مَنْ بَعْدَكُمْ، وَلَا يَكُونُ أَحَدٌ أَفْضَلَ مِنْكُمْ إِلَّا مَنْ
صَنَعَ مِثْلَ مَا صَنَعْتُمْ: تُسَبِّحُونَ وَتُكَبِّرُونَ وَتَحْمَدُونَ
دُبُر كُلِّ صَلَاةٍ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ". قَالَ: فَرَجَعُوا فَقَالُوا:
سَمِعَ إِخْوَانُنَا أَهْلُ الْأَمْوَالِ مَا فَعَلْنَا، فَفَعَلُوا
مِثْلَهُ! فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:
"ذَلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يؤتيه من يشاء"
Bahwa orang-orang fakir dari kalangan muhajirin berkata, "Wahai
Rasulullah, orang-orang yang hartawan telah memborong semua pahala dan
derajat yang tinggi serta kenikmatan yang abadi." Rasulullah Saw.
bertanya, "Mengapa demikian?" Mereka menjawab, "Mereka salat seperti
kami salat, dan mereka puasa seperti kami puasa. Mereka berzakat,
sedangkan kami tidak dapat berzakat. Mereka memerdekakan budak,
sedangkan kami tidak dapat memerdekakan budak." Maka Rasulullah Saw.
bersabda: Maukah kalian kutunjukkan kepada sesuatu hal yang apabila
kalian mengerjakannya dapat mendahului orang-orang yang sesudah kalian,
dan tidak ada seorang pun yang lebih utama daripada kalian kecuali orang
yang melakukan hal yang sama dengan kalian. Yaitu hendaknya kalian
bertasbih, bertakbir, dan bertahmid setiap selesai dari salat kalian
sebanyak tiga puluh tiga kali. Tetapi tidak berapa lama mereka kembali
lagi kepada Rasulullah Saw. dan berkata, "Saudara-saudara kami yang
hartawan telah mendengar apa yang kami kerjakan, lalu mereka mengerjakan
hal yang semisal dengan kami." Maka Rasulullah Saw. bersabda: Itu
merupakan karunia Allah yang diberikan-Nya kepada siapa yang
dikehendaki-Nya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar