Nyamuk sering dianggap sebagai makhluk hidup yang biasa dan tidak
penting. Namun, ternyata nyamuk itu sangat berarti untuk diteliti dan
dipikirkan sebab di dalamnya terdapat tanda kebesaran Allah. Inilah
sebabnya “Allah tiada segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang
lebih rendah dari itu”.
Seekor nyamuk jantan yang telah cukup dewasa untuk kawin akan
menggunakan antenanya-organ pendengar-untuk menemukan nyamuk betina.
Fungsi antena nyamuk jantan berbeda dengan antena nyamuk betina. Bulu
tipis di ujung antenanya sangat peka terhadap suara yang dipancarkan
nyamuk betina. Tepat di sebelah organ seksual nyamuk jantan, terdapat
anggota tubuh yang membantunya mencengkeram nyamuk betina ketika mereka
melakukan perkawinan di udara. Nyamuk jantan terbang berkelompok,
sehingga terlihat seperti awan. Ketika seekor betina memasuki kelompok
tersebut, nyamuk jantan yang berhasil mencengkeram nyamuk betina akan
melakukan perkawinan dengannya selama penerbangan. Perkawinan tidak
berlangsung lama dan nyamuk jantan akan kembali ke kelompoknya setelah
perkawinan. Sejak saat itu, nyamuk betina memerlukan darah untuk
perkembangan telurnya.
Alloh Subhanahu Wata'ala Berfirman;
{إِنَّ اللَّهَ لَا يَسْتَحْيِي أَنْ يَضْرِبَ مَثَلا مَا بَعُوضَةً فَمَا
فَوْقَهَا فَأَمَّا الَّذِينَ آمَنُوا فَيَعْلَمُونَ أَنَّهُ الْحَقُّ مِنْ
رَبِّهِمْ وَأَمَّا الَّذِينَ كَفَرُوا فَيَقُولُونَ مَاذَا أَرَادَ
اللَّهُ بِهَذَا مَثَلا يُضِلُّ بِهِ كَثِيرًا وَيَهْدِي بِهِ كَثِيرًا
وَمَا يُضِلُّ بِهِ إِلا الْفَاسِقِينَ (26) الَّذِينَ يَنْقُضُونَ عَهْدَ
اللَّهِ مِنْ بَعْدِ مِيثَاقِهِ وَيَقْطَعُونَ مَا أَمَرَ اللَّهُ بِهِ
أَنْ يُوصَلَ وَيُفْسِدُونَ فِي الأرْضِ أُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ
(27)
Sesungguhnya Allah tiada segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau
yang lebih rendah dari itu. Adapun orang-orang yang beriman, maka mereka
yakin bahwa perumpamaan itu benar dari Tuhan mereka, tetapi mereka yang
kafir mengatakan, "Apakah maksud Allah menjadikan ini untuk
perumpamaan?'' Dengan perumpamaan itu banyak orang yang disesatkan
Allah, dan dengan perumpamaan itu (pula) banyak orang yang diberi-Nya
petunjuk. Dan tidak ada yang disesatkan Allah kecuali orang-orang yang
fasik, (yaitu) orang-orang yang melanggar perjanjian Allah sesudah
perjanjian itu teguh, dan memutuskan apa yang diperintahkan Allah
(kepada mereka) untuk menghubungkannya dan membuat kerusakan di muka
bumi. Mereka itu-lah orang-orang yang rugi. (Al-Baqarah ayat 26-27)
As-Saddi di dalam kitab tafsirnya telah meriwayatkan dari Abu Malik,
dari Abu Saleh, dari Ibnu Abbas, juga dari Murrah, dari Ibnu Mas'ud,
dari sejumlah sahabat, bahwa ketika Allah membuat kedua perumpamaan ini
bagi orang-orang munafik, yakni firman-Nya:
{مَثَلُهُمْ كَمَثَلِ الَّذِي اسْتَوْقَدَ نَارًا}
Perumpamaan mereka adalah seperti orang yang menyalakan api. (Al-Baqarah: 17)
{أَوْ كَصَيِّبٍ مِنَ السَّمَاءِ}
Atau seperti (orang-orang yang ditimpa) hujan lebat dari langit. (Al-Baqarah: 19)
Yakni semuanya terdiri atas tiga ayat. Maka orang-orang munafik berkata
bahwa Allah Maha Tinggi lagi Mahaagung untuk membuat
perumpamaan-perumpamaan ini. Maka Allah menurunkan ayat ini (yakni
Al-Baqarah ayat 26-27) sampai dengan firman-Nya:
{هُمُ الْخَاسِرُونَ}
Mereka itulah orang-orang yang rugi. (Al-Baqarah: 27)
Abdur Razzaq meriwayatkan dari Ma'mar, dari Qatadah; ketika Allah
menyebutkan laba-laba dan lalat dalam perumpamaan yang dibuat-Nya, maka
orang-orang musyrik berkata, "Apa hubungannya laba-laba dan lalat
disebutkan?" Lalu Allah menurunkan firman-Nya: Sesungguhnya Allah tiada
segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu.
(Al-Baqarah: 26)
Sa'id meriwayatkan dari Qatadah, bahwa sesungguhnya Allah tiada segan
—demi perkara yang hak— untuk menyebutkan sesuatu hal, baik yang kecil
maupun yang besar. Sesungguhnya ketika Allah menyebutkan di dalam
Kitab-Nya mengenai lalat dan laba-laba, lalu orang-orang yang sesat
mengatakan, "Apakah yang dimaksud oleh Allah menyebut hal ini?" Maka
Allah menurunkan firman-Nya: Sesungguhnya Allah tiada segan membuat
perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu. (Al-Baqarah:
26)
Menurut kami, dalam riwayat pertama —dari Qatadah— mengandung isyarat
bahwa ayat ini termasuk ayat Makkiyyah, tetapi sebenarnya tidaklah
demikian (yakni Madaniyyah). Bahkan riwayat Sa'id yang dari Qatadah
lebih mendekati kepada kebenaran.
Ibnu Juraij meriwayatkan dari Mujahid semisal dengan riwayat kedua yang
dari Qatadah. Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah diriwayatkan dari
Al-Hasan dan Ismail ibnu Abu Khalid hal yang semisal dengan perkataan
As-Saddi dan Qatadah.
Abu Ja'far Ar-Razi meriwayatkan dari Ar-Rabi' ibnu Anas sehubungan
dengan ayat ini, bahwa hal ini merupakan perumpamaan yang dibuat oleh
Allah untuk menggambarkan dunia, yaitu nyamuk tetap hidup selagi dalam
keadaan lapar; tetapi bila telah gemuk (kekenyangan), maka ia mati.
Demikian pula perumpamaan kaum yang dibuatkan perumpamaannya oleh Allah
di dalam Al-Qur'an dengan perumpamaan ini. Dengan kata lain, bila mereka
kekenyangan karena berlimpah ruah dengan harta duniawi, maka pada saat
itulah Allah mengazab mereka. Kemudian Ar-Rabi' ibnu Anas membacakan
firman-Nya:
{فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ}
Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada
mereka, Kami pun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka,
hingga akhir ayat. (Al-An'am: 44)
Demikian riwayat Ibnu Jarir. Hal yang sama telah diriwayatkan pula oleh
Ibnu Abu Hatim melalui hadis Abu Ja'far, dari Ar-Rabi' ibnu Anas, dari
Abul Aliyah.
Demikian perbedaan pendapat di kalangan mereka mengenai Asbabun Nuzul
ayat ini, sedangkan Ibnu Jarir sendiri memilih riwayat yang dikemukakan
oleh As-Saddi; mengingat riwayatnya lebih menyentuh surat, maka lebih
cocok.
Makna ayat, Allah memberitakan bahwa Dia tidak merasa malu —yakni tidak
segan atau tidak takut— untuk membuat perumpamaan apa pun, baik
perumpamaan yang kecil ataupun yang besar.
Huruf ma pada lafaz masalan mamenunjukkan makna taqlil (sedikit atau
terkecil), dan lafaz ba'udah di-nasab-kan sebagai badal. Perihal makna
ma di sini sama dengan ucapan seseorang la-adriban-na darban ma, artinya
aku benar-benar akan memukul dengan suatu pukulan. Pengertiannya dapat
diartikan dengan pukulan yang paling ringan. Atau huruf ma di sini
dianggap sebagai ma nakirah mausufah, yakni huruf ma diartikan dengan
penjelasan lafaz ba'udah (nyamuk).
Firman Allah Swt.:
{فَمَا فَوْقَهَا}
atau yang lebih rendah dari itu. (Al-Baqarah: 26)
Sehubungan dengan makna ayat ini ada dua pendapat. Pendapat pertama
mengatakan, yang dimaksud ialah lebih kecil dan lebih rendah darinya.
Perihalnya sama dengan seorang lelaki jika disifati dengan karakter yang
tercela, yakni kikir. Lalu ada pendengar yang menjawabnya, "Memang
benar, dia lebih rendah dari apa yang digambarkannya." Demikian pendapat
Al-Kisai dan Abu Ubaid.
Ar-Razi dan kebanyakan ulama ahli tahqiq mengatakan bahwa di dalam hadis disebutkan:
"لَوْ أَنَّ الدُّنْيَا تَزِنُ عِنْدَ اللَّهِ جَنَاحَ بَعُوضَةٍ مَا سَقَى كَافِرًا مِنْهَا شَرْبَةَ مَاءٍ"
Seandainya dunia ini berbobot di sisi Allah sama dengan sayap nyamuk,
niscaya dia tidak akan memberi minum seteguk air pun darinya kepada
orang kafir.
Pendapat yang kedua mengatakan bahwa makna fama fauqaha ialah yang lebih
besar dari (nyamuk) itu, atas dasar kriteria bahwa tiada sesuatu pun
yang lebih rendah dan lebih kecil daripada nyamuk. Ini adalah pendapat
Qatadah ibnu Di'amah dan dipilih oleh Ibnu Jarir.
Pendapat ini diperkuat oleh sebuah hadis riwayat Imam Muslim melalui Siti Aisyah r.a., bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda:
"مَا مِنْ مُسْلِمٍ يُشَاكُ شَوْكَةً فَمَا فَوْقَهَا إِلَّا كُتِبَتْ لَهُ بِهَا دَرَجَةٌ وَمُحِيَتْ عَنْهُ بِهَا خَطِيئَةٌ"
Tiada seorang muslim pun yang tertusuk oleh sebuah duri hingga yang
lebih darinya melainkan dicatatkan baginya karena musibah tersebut suatu
derajat (pahala), dan dihapuskan darinya karena musibah itu suatu dosa.
Melalui ayat ini Allah memberitakan bahwa Dia tidak pernah menganggap
remeh sesuatu pun untuk dijadikan sebagai misal (perumpamaan), sekalipun
sesuatu itu hina lagi kecil seperti nyamuk; sebagaimana Dia tidak
segan-segan menciptakan makhluk yang kecil itu, Dia tidak segan-segan
pula membuat perumpamaan dengan makhluk kecil itu, sebagaimana membuat
perumpamaan memakai lalat dan laba-laba, seperti yang terdapat di dalam
firman-Nya:
{يَا أَيُّهَا النَّاسُ ضُرِبَ مَثَلٌ فَاسْتَمِعُوا لَهُ إِنَّ الَّذِينَ
تَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ لَنْ يَخْلُقُوا ذُبَابًا وَلَوِ اجْتَمَعُوا
لَهُ وَإِنْ يَسْلُبْهُمُ الذُّبَابُ شَيْئًا لَا يَسْتَنْقِذُوهُ مِنْهُ
ضَعُفَ الطَّالِبُ وَالْمَطْلُوبُ}
Hai manusia, telah dibuat perumpamaan, maka dengarkanlah oleh kalian
perumpamaan itu. Sesungguhnya segala yang kalian seru selain Allah
sekali-kali tidak dapat menciptakan seekor lalat pun, walaupun mereka
bersatu untuk menciptakannya. Dan jika lalat itu merampas sesuatu dari
mereka, tiadalah mereka dapat merebutnya kembali dari lalat itu. Amal
lemahlah yang menyembah dan amal lemah (pulalah) yang disembah.
(Al-Hajj': 73)
{مَثَلُ الَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِ اللَّهِ أَوْلِيَاءَ كَمَثَلِ
الْعَنْكَبُوتِ اتَّخَذَتْ بَيْتًا وَإِنَّ أَوْهَنَ الْبُيُوتِ لَبَيْتُ
الْعَنْكَبُوتِ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ}
Perumpamaan orang-orang yang mengambil pelindung-pelindung selain Allah
adalah seperti laba-laba yang membuat rumah. Dan sesungguhnya rumah yang
paling lemah ialah rumah laba-laba kalau mereka mengetahui.
(Al-Ankabut: 41)
Allah Swt. telah berfirman:
{أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلا كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ
طَيِّبَةٍ أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِي السَّمَاءِ * تُؤْتِي
أُكُلَهَا كُلَّ حِينٍ بِإِذْنِ رَبِّهَا وَيَضْرِبُ اللَّهُ الأمْثَالَ
لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ * وَمَثَلُ كَلِمَةٍ خَبِيثَةٍ
كَشَجَرَةٍ خَبِيثَةٍ اجْتُثَّتْ مِنْ فَوْقِ الأرْضِ مَا لَهَا مِنْ
قَرَارٍ * يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي
الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الآخِرَةِ وَيُضِلُّ اللَّهُ الظَّالِمِينَ
وَيَفْعَلُ اللَّهُ مَا يَشَاءُ}
Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan
kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh, dan cabangnya
(menjulang) ke langit; pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim
dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk
manusia supaya mereka selalu ingat. Dan perumpamaan kalimat yang buruk
seperti pohon yang buruk, yang telah dicabut dengan akar-akarnya dari
permukaan bumi; tidak dapat tetap (tegak) sedikit pun. Allah meneguhkan
(iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam
kehidupan di dunia dan di akhirat; dan Allah menyesatkan orang-orang
yang zalim dan memperbuat apa yang Dia kehendaki. (Ibrahim: 24-27)
{ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلا عَبْدًا مَمْلُوكًا لَا يَقْدِرُ عَلَى شَيْءٍ
Allah membuat perumpamaan dengan seorang hamba sahaya yang dimiliki yang
tidak dapat bertindak terhadap sesuatu pun. (An-Nahl: 75)
Kemudian dalam ayat selanjutnya Allah Swt. berfirman:
وَضَرَبَ اللَّهُ مَثَلا رَجُلَيْنِ أَحَدُهُمَا أَبْكَمُ لَا يَقْدِرُ
عَلَى شَيْءٍ وَهُوَ كَلٌّ عَلَى مَوْلاهُ أَيْنَمَا يُوَجِّهْهُ لَا
يَأْتِ بِخَيْرٍ [هَلْ يَسْتَوِي هُوَ وَمَنْ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ
Dan Allah membuat (pula) perumpamaan: Dua orang lelaki, yang seorang
bisu tidak dapat berbuat sesuatu pun dan dia menjadi beban atas
penanggungnya, ke mana saja dia disuruh oleh penanggungnya itu, dia
tidak dapat mendatangkan suatu kebajikan. Samakah orang itu dengan orang
yang menyuruh berbuat keadilan? (An-Nahl: 76)
Sama halnya dengan firman-Nya:
{ضَرَبَ لَكُمْ مَثَلا مِنْ أَنْفُسِكُمْ هَلْ لَكُمْ مِنْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ مِنْ شُرَكَاءَ فِي مَا رَزَقْنَاكُمْ}
Dia membuat perumpamaan untuk kalian dari diri kalian sendiri. Apakah
ada di antara hamba sahaya yang dimiliki oleh tangan kanan kalian,
sekutu bagi kalian dalam (memiliki) rezeki yang telah Kami berikan
kepada kalian. (Ar-Rum: 28)
Allah Swt. telah berfirman:
{ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلا رَجُلا فِيهِ شُرَكَاءُ مُتَشَاكِسُونَ [وَرَجُلا سَلَمًا لِرَجُلٍ] }
Allah membuat perumpamaan (yaitu) seorang laki-laki (budak) yang
dimiliki oleh beberapa orang yang berserikat yang dalam perselisihan.
(Az-Zumar: 29)
{وَتِلْكَ الأمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِ وَمَا يَعْقِلُهَا إِلا الْعَالِمُونَ}
Dan perumpamaan-perumpamaan ini Kami buatkan untuk manusia; dan tiada
yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu. (Al-Ankabut 43)
Di dalam Al-Qur’an terdapat banyak perumpamaan. Sebagian ulama Salaf
mengatakan, "Apabila aku mendengar perumpamaan di dalam Al-Qur'an, lalu
aku tidak memahaminya, maka aku menangisi diriku sendiri, karena Allah
Swt. telah berfirman: 'Dan perumpamaan-perumpamaan ini Kami buatkan
untuk manusia; dan tiada yang memahaminya kecuali orang-orang yang
berilmu (Al-Ankabut: 43)
Mujahid mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: Sesungguhnya
Allah tiada segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih
rendah dari itu. (Al-Baqarah: 26) Maksudnya, semua perumpamaan —baik
yang kecil maupun yang besar— orang-orang mukmin beriman kepadanya dan
mereka mengetahui bahwa hal itu merupakan perkara hak dari Tuhan mereka,
dan melaluinya Allah memberi petunjuk kepada mereka.
Qatadah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: Adapun
orang-orang yang beriman, maka mereka yakin bahwa perumpamaan itu benar
dari Tuhan mereka. (Al-Baqarah: 26) Menurutnya, mereka mengetahui dengan
yakin bahwa perumpamaan tersebut adalah Kalamullah Yang Maha Pemurah
dan datang dari sisi-Nya. Hal yang semisal telah diriwayatkan dari
Mujahid, Al-Hasan serta Ar-Rabi' ibnu Anas.
Abul Aliyah mengatakan, makna firman-Nya, "Adapun orang-orang yang
beriman, maka mereka yakin bahwa perumpamaan itu benar dari Tuhan
mereka." Yang dimaksud ialah perumpamaan ini. Tetapi mereka yang kafir
mengatakan, "Apakah maksud Allah menjadikan ini untuk perumpamaan?
(Al-Baqarah: 26)
Perihalnya sama dengan makna yang terkandung di dalam firman lainnya, yaitu:
{وَمَا جَعَلْنَا أَصْحَابَ النَّارِ إِلا مَلائِكَةً وَمَا جَعَلْنَا
عِدَّتَهُمْ إِلا فِتْنَةً لِلَّذِينَ كَفَرُوا لِيَسْتَيْقِنَ الَّذِينَ
أُوتُوا الْكِتَابَ وَيَزْدَادَ الَّذِينَ آمَنُوا إِيمَانًا وَلا
يَرْتَابَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ وَالْمُؤْمِنُونَ وَلِيَقُولَ
الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ وَالْكَافِرُونَ مَاذَا أَرَادَ اللَّهُ
بِهَذَا مَثَلا كَذَلِكَ يُضِلُّ اللَّهُ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي مَنْ
يَشَاءُ وَمَا يَعْلَمُ جُنُودَ رَبِّكَ إِلا هُوَ}
Dan tiada Kami jadikan penjaga neraka itu melainkan dari malaikat; dan
tidaklah Kami menjadikan bilangan mereka itu melainkan untuk jadi cobaan
bagi orang-orang kafir, supaya orang-orang yang diberi Al-Kitab menjadi
yakin dan supaya orang yang beriman bertambah imannya dan supaya
orang-orang yang diberi Al-Kitab dan orang-orang mukmin itu tidak
ragu-ragu dan supaya orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit dan
orang-orang kafir (mengatakan), "Apakah yang dikehendaki Allah dengan
bilangan ini sebagai suatu perumpamaan?" Demikianlah Allah membiarkan
sesat orang-orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada siapa
yang dikehendaki-Nya. Dan tidak ada yang mengetahui tentara Tuhanmu
melainkan Dia sendiri. (Al-Muddatstsir: 31)
Demikian pula dalam ayat ini (yakni Al-Baqarah: 26):
{يُضِلُّ بِهِ كَثِيرًا وَيَهْدِي بِهِ كَثِيرًا وَمَا يُضِلُّ بِهِ إِلا الْفَاسِقِينَ}
Dengan perumpamaan itu banyak orang yang disesatkan Allah, dan dengan
perumpamaan itu (pula) banyak orang yang diberi-Nya petunjuk. Dan tidak
ada yang disesatkan Allah kecuali orang-orang yang fasik. (Al-Baqarah:
26)
As-Saddi mengatakan sehubungan dengan tafsir ayat ini, dari Abu Malik
dan dari Abu Saleh, dari Ibnu Abbas, juga dari Murrah, dari Ibnu Mas'ud
dan dari sejumlah sahabat, yang dimaksud dengan pe-gertian yudillu bihi
kasiran adalah orang-orang munafik, sedangkan pengertian yahdi bihi
kasiranadalah orang-orang mukmin. Dengan demikian, berarti makin
bertambahlah kesesatan orang-orang munafik tersebut di samping kesesatan
mereka yang telah ada; karena mereka mendustakan apa yang mereka
ketahui sebagai perkara yang hak dan yakin, yaitu mendustakan
perumpamaan yang telah dibuat oleh Allah untuk menggambarkan keadaan
mereka sendiri. Ketika perumpamaan itu ternyata sesuai dengan keadaan
mereka, sedangkan mereka tidak mau percaya, maka hal itulah yang
dimaksud dengan penyesatan Allah terhadap mereka melalui perumpamaan
ini. Melalui perumpamaan ini Allah memberi petunjuk kepada banyak orang
dari kalangan ahli iman dan mereka yang mempercayainya. Maka Allah
menambahkan petunjuk kepada mereka di samping petunjuk yang telah ada
pada diri mereka, dan bertambah pula iman mereka karena mereka percaya
kepada apa yang mereka ketahui sebagai perkara yang hak dan yakin.
Mengingat apa yang dibuat oleh Allah sebagai perumpamaan ternyata sesuai
dengan kenyataan dan mereka mengakui kebenarannya, maka hal inilah yang
dimaksud sebagai hidayah dari Allah buat mereka melalui perumpamaan
tersebut.
Firman Allah Swt., "Dan tidak ada yang disesatkan Allah kecuali
orang-orang yang fasik" (Al-Baqarah: 26). Menurut As-Saddi, mereka
adalah orang-orang munafik.
Abul Aliyah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya, "Wama yudillu
bihi illal fasiqin" bahwa mereka adalah ahli kemunafikan. Hal yang sama
dikatakan pula oleh Ar-Rabi' ibnu Anas.
Ibnu Juraij mengatakan dari Mujahid, dari Ibnu Abbas mengenai
firman-Nya, "Wama yudillu bihi illal fasiqin.'"' Ibnu Abbas mengatakan,
"Orang-orang kafir mengetahui adanya Allah, tetapi mereka
mengingkari-Nya." Qatadah mengatakan sehubungan makna firman-Nya, "Wama
yudillu bihi illal fasiqin," bahwa mereka pada mulanya fasik, kemudian
Allah menyesatkan mereka di samping kefasikannya.
Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, dari
Ishaq ibnu Sulaiman, dari Abu Sinan, dari Amr ibnu Murrah, dari Mus'ab
ibnu Sa'd, dari Sa'd, yang dimaksud dengan kebanyakan orang dalam
firman-Nya, "Yudillu bihi kasiran," adalah orang-orang Khawarij.
Syu'bah meriwayatkan dari Amr ibnu Murrah, dari Mus'ab ibnu Sa'd yang
menceritakan bahwa ia pernah bertanya kepada ayahnya tentang makna
firman-Nya: (yaitu) orang-orang yang melanggar perjanjian Allah sesudah
perjanjian itu teguh. (Al-Baqarah: 27), sampai akhir ayat. Ayahnya
menjawab bahwa mereka adalah golongan Haruriyyah (Khawarij).
Sanad riwayat ini sekalipun sahih dari Sa'd ibnu Abu Waqqas r.a., tetapi
merupakan tafsir dari makna, bukan berarti makna yang dimaksud oleh
ayat me-nas-kan orang-orang Khawarij yang memberontak terhadap Khalifah
Ali di Nahrawan; karena sesungguhnya mereka masih belum ada pada saat
ayat diturunkan, melainkan mereka termasuk ke dalam golongan orang-orang
yang sifat-sifatnya digambarkan oleh Al-Qur'an.
Mereka dinamakan Khawarij karena membangkang, tidak mau taat kepada imam
dan tidak mau menegakkan syariat Islam. Sedangkan pengertian fasik
menurut istilah bahasa ialah sama dengannya, yaitu membangkang dan tidak
mau taat. Orang-orang Arab mengatakan, "Fasaqatir ratbah" bila buah
kurma terkelupas dari kulitnya. Karena itu, tikus dinamakan fuwaisiqah
karena ia keluar dari liangnya untuk mengadakan pengrusakan.
Di dalam hadis Sahihain dari Siti Aisyah r.a. dijelaskan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda:
"خَمْسُ فَوَاسَقَ يُقتلن فِي الْحِلِّ وَالْحَرَمِ: الْغُرَابُ، وَالْحِدَأَةُ، وَالْعَقْرَبُ، وَالْفَأْرَةُ، وَالْكَلْبُ العقور"
Lima jenis binatang perusak yang boleh dibunuh —baik di tanah halal
maupun di tanah haram— yaitu burung gagak, burung elang, kalajengking,
tikus, dan anjing gila.
Makna fasik mencakup orang kafir dan orang durhaka, tetapi kefasikan
orang kafir lebih kuat dan lebih parah. Makna yang dimaksud dengan
istilah 'fasik' dalam ayat ini ialah orang kafir. Sebagai dalilnya ialah
karena mereka disifati dalam ayat berikutnya dengan sifat berikut,
yaitu:
{الَّذِينَ يَنْقُضُونَ عَهْدَ اللَّهِ مِنْ بَعْدِ مِيثَاقِهِ
وَيَقْطَعُونَ مَا أَمَرَ اللَّهُ بِهِ أَنْ يُوصَلَ وَيُفْسِدُونَ فِي
الأرْضِ أُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ}
Orang-orang yang melanggar perjanjian Allah sesudah perjanjian itu
teguh, dan memutuskan apa yang diperintahkan Allah (kepada mereka) untuk
menghubungkannya dan membuat kerusakan di muka bumi. Mereka itulah
orang-orang yang merugi. (Al-Baqarah: 27)
Sifat-sifat tersebut merupakan ciri khas orang-orang kafir yang berbeda
dengan sifat-sifat orang mukmin, sebagaimana dijelaskan di dalam ayat
lainnya:
{أَفَمَنْ يَعْلَمُ أَنَّمَا أُنزلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ الْحَقُّ كَمَنْ
هُوَ أَعْمَى إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الألْبَابِ * الَّذِينَ
يُوفُونَ بِعَهْدِ اللَّهِ وَلا يَنْقُضُونَ الْمِيثَاقَ * وَالَّذِينَ
يَصِلُونَ مَا أَمَرَ اللَّهُ بِهِ أَنْ يُوصَلَ وَيَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ
وَيَخَافُونَ سُوءَ الْحِسَابِ}
Adakah orang yang mengetahui bahwasanya apa yang diturunkan kepadamu
dari Tuhanmu itu benar sama dengan orang yang buta? Hanyalah orang-orang
yang berakal saja yang dapat mengambil pelajaran, (yaitu) orang-orang
yang memenuhi janji Allah dan tidak merusak perjanjian, dan orang-orang
yang menghubungkan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan,
dan mereka takut kepada Tuhannya dan takut kepada hisab yang buruk.
(Ar-Ra'd: 19-21)
Seterusnya hingga sampai pada firman-Nya:
{وَالَّذِينَ يَنْقُضُونَ عَهْدَ اللَّهِ مِنْ بَعْدِ مِيثَاقِهِ
وَيَقْطَعُونَ مَا أَمَرَ اللَّهُ بِهِ أَنْ يُوصَلَ وَيُفْسِدُونَ فِي
الأرْضِ أُولَئِكَ لَهُمُ اللَّعْنَةُ وَلَهُمْ سُوءُ الدَّارِ}
Orang-orang yang merusak janji Allah setelah diikrarkan dengan teguh dan
memutuskan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan dan
mengadakan kerusakan di bumi, orang-orang itulah yang memperoleh kutukan
dan bagi mereka tempat kediaman yang buruk (Jahannam). (Ar-Ra'd: 25)
Ahli tafsir berbeda pendapat sehubungan dengan makna perjanjian yang
digambarkan, bahwa orang-orang fasik tersebut telah merusaknya. Sebagian
dari kalangan ahli tafsir mengatakan, perjanjian tersebut adalah wasiat
Allah kepada makhluk-Nya, perintah-Nya kepada mereka agar taat kepada
apa-apa yang diperintahkan-Nya, dan larangan-Nya kepada mereka agar
jangan berbuat durhaka dengan mengerjakan hal-hal yang telah
dilarang-Nya. Semua itu disebutkan di dalam kitab-kitab-Nya, juga
disampaikan kepada mereka melalui lisan Rasul-rasul-Nya. Pelanggaran
yang mereka lakukan ialah karena tidak mengamalkan hal tersebut.
Ahli tafsir lain mengatakan bahkan ayat ini berkenaan dengan orang-orang
kafir dari kalangan ahli kitab dan orang-orang munafik. Sedangkan yang
dimaksud dengan perjanjian Allah yang dirusak oleh mereka ialah
perjanjian yang diambil oleh Allah atas diri mereka di dalam kitab
Taurat, yaitu harus mengamalkan kandungan Taurat dan mengikuti Nabi
Muhammad bila telah diutus dan percaya kepada kitab yang diturunkan
kepadanya dari Tuhannya. Mereka merusak hal tersebut dengan menentangnya
sesudah mereka mengetahui hakikatnya, mengingkari serta menyembunyikan
pengetahuan mengenai hal tersebut dari orang-orang, padahal Allah telah
memberikan janji kepada mereka bahwa mereka harus menjelaskan kepada
orang-orang dan tidak boleh menyembunyikannya. Selanjutnya Allah
memberitakan bahwa ternyata mereka menyembunyikan hal tersebut di
belakang punggungnya dan menukarnya dengan harga yang sedikit. Pendapat
inilah yang dipilih oleh Ibnu Jarir, hal ini merupakan pendapat Muqatil
ibnu Hayyan.
Ahli tafsir lainnya mengatakan, yang dimaksud oleh ayat ini ialah semua
orang kafir, orang musyrik, dan orang munafik. Sedangkan janji Allah
kepada mereka yang berkaitan dengan masalah menauhidkan (mengesakan)-Nya
ialah segala sesuatu yang telah diciptakan bagi mereka berupa
dalil-dalil (tanda-tanda) yang semuanya menunjukkan kepada sifat
Rububiyyah Allah Swt. Janji Allah kepada mereka yang menyangkut masalah
perintah dan larangan-Nya ialah semua hal yang dijadikan hujah oleh para
rasul, yaitu berupa mukjizat-mukjizat yang tiada seorang manusia pun
selain mereka dapat membuat hal yang semisal dengannya.
Mukjizat-mukjizat tersebut menyaksikan akan kebenaran kerasulan mereka.
Mereka mengatakan bahwa pengrusakan janji yang dilakukan oleh mereka
ialah karena mereka tidak mau mengakui hal-hal yang telah jelas
kebenarannya di mata mereka melalui dalil-dalilnya, dan mereka
mendustakan para rasul serta kitab-kitab, padahal mereka mengetahui
bahwa apa yang diturunkan kepada para rasul itu adalah perkara yang hak.
Hal yang semisal diriwayatkan pula dari Muqatil ibnu Hayyan, pendapat
ini cukup baik; dan Az-Zamakhsyari memihak kepada pendapat tersebut.
Az-Zamakhsyari mengatakan bahwa jika ada yang mengatakan, "Apakah yang
dimaksud dengan janji Allah?" Jawabannya, "Hal itu merupakan sesuatu
yang telah dipancangkan di dalam akal mereka berupa hujah yang
menunjukkan ajaran tauhid. Jadi, seakan-akan Allah telah memerintahkan
dan mewasiatkan kepada mereka dan mengikatkan hal itu kepada mereka
sebagai janji." Pengertian inilah yang terkandung di dalam firman-Nya:
{وَأَشْهَدَهُمْ عَلَى أَنْفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ قَالُوا بَلَى}
Dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman),
"Bukankah Aku ini Tuhan kalian!" Mereka menjawab, "Betul (Engkau Tuhan
kami)." (Al-A'raf: 172)
Yaitu ketika Allah mengambil janji terhadap diri mereka dari kitab-kitab
yang diturunkan kepada mereka. Perihalnya sama dengan makna yang ada di
dalam firman-Nya:
{وَأَوْفُوا بِعَهْدِي أُوفِ بِعَهْدِكُمْ}
Dan penuhilah janji kalian kepada-Ku, niscaya Aku penuhi janji-Ku kepada kalian. (Al-Baqarah: 40)
Ahli tafsir lainnya mengatakan bahwa janji yang disebutkan oleh Allah
Swt. ialah janji yang diambil oleh Allah terhadap mereka di saat Allah
mengeluarkan mereka dari sulbi Adam. Hal ini digambarkan melalui
firman-Nya:
{وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنْ بَنِي آدَمَ مِنْ ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ
وَأَشْهَدَهُمْ عَلَى أَنْفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ قَالُوا بَلَى
[شَهِدْنَا]
Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari
sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya
berfirman), "Bukankah Aku ini Tuhan kalian?" Mereka menjawab, "Betul
(Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi." (Al-A'raf: 172)
Sedangkan yang dimaksud dengan pengrusakan mereka terhadap janji
tersebut ialah karena mereka tidak memenuhinya. Demikian pula menurut
riwayat dari Muqatil ibnu Hayyan; semua pendapat di atas diketengahkan
oleh Ibnu Jarir di dalam kitab tafsirnya.
Abu Ja'far Ar-Razi meriwayatkan dari Ar-Rabi' ibnu Anas, dari Abul
Aliyah sehubungan dengan makna firman-Nya: (yaitu) orang-orang yang
melanggar perjanjian Allah sesudah perjanjian itu teguh, dan memutuskan
apa yang diperintahkan Allah (kepada mereka) untuk menghubungkannya dan
membuat kerusakan di muka bumi. Mereka itulah orang-orang yang rugi.
(Al-Baqarah: 27) Menurutnya ada enam pekerti orang-orang munafik.
Apabila mereka mengalami kemenangan atas semua orang, maka mereka
menampakkan keenam pekerti tersebut, yaitu: Apabila bicara, berdusta;
apabila berjanji, ingkar akan janjinya; apabila dipercaya, khianat;
mereka melanggar perjanjian Allah sesudah perjanjian itu teguh,
memutuskan apa yang diperintahkan oleh Allah agar dihubungkan, dan suka
menimbulkan kerusakan di muka bumi.
Tetapi jika mereka dalam keadaan kalah, mereka hanya menampakkan ketiga
pekerti saja, yaitu: Apabila bicara, berdusta; apabila berjanji, ingkar;
dan apabila dipercaya, khianat.
Hal yang sama dikatakan pula oleh Ar-Rabi' ibnu Anas. As-Saddi di dalam
kitab tafsirnya mengatakan berikut sanadnya sehubungan dengan makna
firman-Nya: (yaitu) orang-orang yang melanggar perjanjian Allah sesudah
perjanjian itu teguh. (Al-Baqarah: 27) Disebutkan bahwa hal yang
dimaksud ialah perjanjian yang diberikan kepada mereka di dalam
Al-Qur'an, lalu mereka mengakuinya, kemudian kafir dan merusaknya.
Firman Allah Swt.:
{وَيَقْطَعُونَ مَا أَمَرَ اللَّهُ بِهِ أَنْ يُوصَلَ}
dan memutuskan apa yang diperintahkan Allah (kepada mereka) untuk menghubungkannya. (Al-Baqarah: 27)
Menurut suatu pendapat, makna yang dimaksud ialah silaturahmi dan
hubungan kekerabatan, seperti yang ditafsirkan oleh Qatadah dalam
firman-Nya:
{فَهَلْ عَسَيْتُمْ إِنْ تَوَلَّيْتُمْ أَنْ تُفْسِدُوا فِي الأرْضِ وَتُقَطِّعُوا أَرْحَامَكُمْ}
Maka apakah kiranya jika kalian berkuasa kalian akan membuat kerusakan
di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan (Muhammad: 22)
Pendapatnya itu didukung oleh Ibnu Jarir dan dinilainya kuat.
Menurut pendapat yang lain, makna yang dimaksud lebih umum dari itu,
yakni mencakup semua hal yang diperintahkan oleh Allah menghubungkan dan
mengerjakannya, kemudian mereka memutuskan dan meninggalkannya.
Muqatil ibnu Hayyan mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya:Mereka
itulah orang-orang yang rugi. (Al-Baqarah: 27) bahwa hal itu terjadi di
akhirat. Pengertiannya sama dengan makna yang terkandung di dalam
firman Allah Swt:
{أُولَئِكَ لَهُمُ اللَّعْنَةُ وَلَهُمْ سُوءُ الدَّارِ}
Orang-orang itulah yang memperoleh kutukan dan bagi mereka tempat kediaman yang buruk (Jahannam). (Ar-Ra'd: 25)
Menurut Dahhak, dari Ibnu Abbas, segala sesuatu yang dinisbatkan oleh
Allah kepada selain pemeluk Islam berupa suatu sebutan, misalnya merugi;
maka sesungguhnya yang dimaksud hanyalah kekufuran. Sedangkan hal
serupa yang dinisbatkan kepada pemeluk Islam, makna yang dimaksud
hanyalah dosa.
Ibnu Jarir mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya, "Ulaika humul
khasirun" bahwa lafaz al-khasirun adalah bentuk jamak dari lafaz
khasirun; mereka adalah orang-orang yang mengurangi bagian keberuntungan
mereka dari rahmat Allah karena perbuatan maksiat mereka. Perihalnya
sama dengan seorang lelaki yang mengalami kerugian dalam perniagaan,
misalnya sebagian modalnya amblas karena rugi dalam jual beli. Demikian
pula halnya orang munafik dan orang kafir, keduanya beroleh kerugian
karena terhalang tidak mendapat rahmat Allah yang diciptakan-Nya buat
hamba-hamba-Nya di hari kiamat, padahal saat itu yang paling mereka
perlukan adalah rahmat Allah Swt.
Termasuk ke dalam pengertian lafaz ini bila dikatakan khasirar rajulu
(lelaki itu mengalami kerugian), bentuk masdar-nya adalah khusran,
khusranan, dan khisaran, sebagaimana dikatakan Jarir ibnu Atiyyah:
إِنَّ سَلِيطًا فِي الخَسَارِ إنَّه ... أولادُ قَومٍ خُلقُوا أقِنَّه
Sesungguhnya si Sulait, kerugian yang dialaminya ialah karena ia dari
anak-anak suatu kaum yang sejak lahir ditakdirkan menjadi hamba sahaya.
إِنَّ اللَّهَ لَا يَسْتَحْيِي أَنْ يَضْرِبَ مَثَلًا مَا بَعُوضَةً فَمَا
فَوْقَهَا ۚ فَأَمَّا الَّذِينَ آمَنُوا فَيَعْلَمُونَ أَنَّهُ الْحَقُّ
مِنْ رَبِّهِمْ ۖ وَأَمَّا الَّذِينَ كَفَرُوا فَيَقُولُونَ مَاذَا أَرَادَ
اللَّهُ بِهَٰذَا مَثَلًا ۘ يُضِلُّ بِهِ كَثِيرًا وَيَهْدِي بِهِ
كَثِيرًا ۚ وَمَا يُضِلُّ بِهِ إِلَّا الْفَاسِقِينَ
Sesungguhnya Allah tiada segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau
yang lebih rendah dari itu. Adapun orang-orang yang beriman, maka mereka
yakin bahwa perumpamaan itu benar dari Tuhan mereka, tetapi mereka yang
kafir mengatakan: "Apakah maksud Allah menjadikan ini untuk
perumpamaan?". Dengan perumpamaan itu banyak orang yang disesatkan
Allah, dan dengan perumpamaan itu (pula) banyak orang yang diberi-Nya
petunjuk. Dan tidak ada yang disesatkan Allah kecuali orang-orang yang
fasik. (Al-baqoroh 26)
Dengan merenungkan ayat ini apa yang timbul dalam hati kita ? Yang
timbul dalam hati kita ialah pertambahan iman bahwa alQur'an ini memang
diturunkan untuk seluruh masa dan untuk orang yang berpikir dan
mencintai ilmu pengetahuan.
Orang-orang kafir itu menjadi sesat dan fasik karena bodohnya. Atau bodoh tetapi tidak sadar akan kebodohan.
Dan orang yang beriman tunduk kepada Allah dengan segala kerendahan
hati. Kalau ilmunya belum luas dan dalam, cukup dia menggantungkan
kepercayaan bahwa kalau tidak penting tidaklah Allah akan membuat misal
dengan nyamuk, lalat, laba-laba dan lain-lain itu.
Meskipun dia belum tahu apa pentingnya. Tetapi orang yang lebih dalam ilmunya, benar-benar kagumlah dia akan kebesaran Allah.
Di jaman modern kita ini sudahlah orang tahu bahwa perkara nyamuk atau
agas, bukanlah perkara kecil. Lalatpun bukan perkara kecil. Demikian
mikroskop telah meneropong hama-hama yang sangat kecil, beratus ribu
kali lebih kecil daripada nyamuk dan lalat. Nyamuk malaria, nyamuk
penyakit kuning dan nyamuk yang menyebabkan penyakit tidur Afrika;
menyimpulkan pendapat bahwa bahaya nyamuk lebih besar dari bahaya singa
dan harimau.
Teknik nyamuk untuk mengisap darah ini bergantung pada sistem kompleks
yang mengatur kerja sama antara berbagai struktur yang sangat
terperinci.
Setelah mendarat pada sasaran, mula-mula nyamuk mendeteksi sebuah titik
dengan bibir pada belalainya. Sengat nyamuk yang mirip alat suntik ini
dilindungi bungkus khusus yang membuka selama proses pengisapan darah.
Tidak seperti anggapan orang, nyamuk tidak menusuk kulit dengan cara
menghunjamkan belalainya dengan tekanan. Di sini, tugas utama dilakukan
oleh rahang atas yang setajam pisau dan rahang bawah yang memiliki gigi
yang membengkok ke belakang. Nyamuk menggerakkan rahang bawah
maju-mundur seperti gergaji dan mengiris kulit dengan bantuan rahang
atas. Ketika sengat diselipkan melalui irisan pada kulit ini dan
mencapai pembuluh darah, proses pengeboran berakhir. Sekarang waktunya
nyamuk mengisap darah.
Namun, sebagaimana kita ketahui, luka seringan apa pun pada pembuluh
darah akan menyebabkan tubuh manusia mengeluarkan enzim yang membekukan
darah dan menghentikan kebocoran. Enzim ini tentunya menjadi masalah
bagi nyamuk, sebab tubuh manusia juga akan segera bereaksi membekukan
darah pada lubang yang dibuat nyamuk dan menutup luka tersebut. Artinya,
nyamuk tidak akan bisa mengisap darah lagi.
Akan tetapi, masalah ini dapat diatasi. Sebelum mulai mengisap darah, ia
menyuntikkan cairan khusus dari tubuhnya ke dalam irisan yang telah
terbuka. Cairan ini menetralkan enzim pembeku darah. Maka, nyamuk dapat
mengisap darah yang ia butuhkan tanpa terjadi pembekuan darah. Rasa
gatal dan bengkak pada titik yang digigit nyamuk diakibatkan oleh cairan
pencegah pembekuan darah.
Jelaslah bahwa Allah, Tuhan dari langit dan bumi dan segala sesuatu yang
ada di dalamnya, telah menciptakan nyamuk dan manusia, dan memberikan
kemampuan-kemampuan luar biasa dan menakjubkan tersebut kepada nyamuk.
Di Sumatera beberapa puluh tahun yang lalu terkenal nyamuk malaria di
Panti dan Penyambungan yang menghabiskan orang senegeri-negeri. Penduduk
Rao" pindah berbondong ke Malaya kira-kira 60 tahun yang lalu karena
dashsyatnya serangan penyakit malaria.
Perserikatan Bangsa-bangsa dalam WHO memberantas hama-hama penyakit.
Ahli ahli kuman seperti Erlich, Pasteur dan lain-lain menghabiskan usia
dan tenaga buat menyelidiki kuman-kuman penyakit menular. Sekarang
dapatlah kita satu penafsiran lagi dari pada sabda tuhan pada Surat
al-Muddatstsir (Surat 74 ayat 31).
وَمَا جَعَلْنَا أَصْحَابَ النَّارِ إِلا مَلائِكَةً وَمَا جَعَلْنَا
عِدَّتَهُمْ إِلا فِتْنَةً لِلَّذِينَ كَفَرُوا لِيَسْتَيْقِنَ الَّذِينَ
أُوتُوا الْكِتَابَ وَيَزْدَادَ الَّذِينَ آمَنُوا إِيمَانًا وَلا
يَرْتَابَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ وَالْمُؤْمِنُونَ وَلِيَقُولَ
الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ وَالْكَافِرُونَ مَاذَا أَرَادَ اللَّهُ
بِهَذَا مَثَلا كَذَلِكَ يُضِلُّ اللَّهُ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي مَنْ
يَشَاءُ وَمَا يَعْلَمُ جُنُودَ رَبِّكَ إِلا هُوَ
Dan tiada Kami jadikan penjaga neraka itu melainkan dari malaikat; dan
tidaklah Kami menjadikan bilangan mereka itu melainkan untuk jadi cobaan
bagi orang-orang kafir, supaya orang-orang yang diberi Al-Kitab menjadi
yakin dan supaya orang yang beriman bertambah imannya dan supaya
orang-orang yang diberi Al-Kitab dan orang-orang mukmin itu tidak
ragu-ragu dan supaya orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit dan
orang-orang kafir (mengatakan), "Apakah yang dikehendaki Allah dengan
bilangan ini sebagai suatu perumpamaan?" Demikianlah Allah membiarkan
sesat orang-orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada siapa
yang dikehendaki-Nya. Dan tidak ada yang mengetahui tentara Tuhanmu
melainkan Dia sendiri. (Al-Muddatstsir: 31)
Hama penyakit pes (sampar), hama penyakit cacar, penyakit anjing gila;
masya Allah ! Alangkah banyaknya lagi yang terkandung di belakang sabda
Tuhan di ayat ini.
"Nyamuk atau yang lebih kecil daripadanya. "
Kadang-kadang kita harus belajar pada semangatkerjasama lebah dan semut.
Kadang-kadang kita kagum melihat kehidupan ulat bulu, serangga dan
lain-lain.
Tidak ada rupanya yang soal kecil. Kita bertambah iman bahwa daerah
kekuasaan Allah Ta'ala pun meliputi akan kehidupan mereka semuanya.
Janganlah kita menjadi orang fasik yang tersesat karena kebekuan hati dan kesombongan. Berlagak tahu padahal tidak tahu.
اَلَّذِيْنَ يَنْقُضُوْنَ عَهْدَ اللهِ مِن بَعْدِ مِيْثَاقِهِ
"Yaitu orang-orang yang memecahkan janji Allah sesudah dia diteguhkan. "
(pangkal ayat 27).
Apakah janji Allah yang teguh yang telah mereka pecah ? Janji Allah
terasa dalam diri kita sendiri-sendiri, yang ditunjukkan oleh akal kita.
Janji Allah bersuara dalam batin manusia sendiri.
Yaitu kesadaran akalnya. Tadi pada ayat 21 disuruh mempergunakan akal
buat mencari di mana janji itu. Apabila akal dipakai mestilah timbul
kesadaran akan kekuasaan Tuhan dan perlindungan kepada kita manusia,
kalau manusia itu insaf akan akalnya pastilah menimbul kan rasa terima
kasih dan rasa pengabdian, ibadah kepada Allah.
Sekarang janji di dalam batin itu sendirilah yang mereka pecahkan, mereka rusakkan, lalu mereka perturutkan hawa nafsu.
وَ يَقْطَعُوْنَ مَا أَمَرَ اللهُ بِهِ أَن يُوْصَلَ
dan mereka putuskan apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan.
Apa yang mesti dihubungkan ? Yaitu pikiran sehat dengan natijah
(konklusi) dari pikiran itu. Karena telah fasik mereka putuskan di
tengah-tengah, tidak mereka teruskan sampai ke ujung.
Sebagaimana orang-orang yang mengatakan dirinya Free thinker. Katanya
dia bebas berpikir. Lalu berpikirlah dia dengan bebas. Karena sifat
pikiran, sampailah dia kepada kesimpulan bahwa tidak mungkin alam yang
sangat teratur ini terjadi dengan sendirinya, dengan tidak ada
pengaturnya.
Pikirannya telah sampai ke sana, tetapi dia putuskan hingga itu saja.
Tidak diteruskannya sampai ke ujungnya> sebab itu dia telah fasik,
dan telah mendustai dirinya sendiri.
Katanya dia berpikir bebas, Free thinker, padahal dia tidak bisa lagi.
وَ يُفْسِدُوْنَ فِي الْأَرْضِ
"Dan merusak mereka di bumi."
Kalau pikiran sehat sudah diperkosa itu di tengah jalan, dan dengan
paksa dibelokkan kepada yang tidak benar, niscaya kekacauanlah yang
timbul. Kekacauan dan kerusakan yang paling hebat di atas dunia ialah
jika orang tidak bebas lagi menyatakan pikiran yang sehat. Inilah dia
fasik
أُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُوْنَ
"Mereka itulah orang-orang yang merugi. " (ujung ayat 27.
Sebab mereka telah berjalan di luar garis kebenaran.
Rugilah mereka karena kehinaan di dunia dan azab di akhirat. Yang lebih
merugikan lagi ialah karena biasanya orang-orang penentang kebenaran itu
ada yang hidupnya kelihatan mewah, sehingga orang-orang yang dungu
pikiran menyangka mereka benar, se umpama nya Qarun di jaman Fir'aun.
Orang yang kecil jiwanya menjadi segan kepada mereka kebesaran dan
kekayaan mereka, lantaran itu mereka bertambah sombong dan lupa
daratan.
Bertambah tenggelam mereka di dalam kesesatan dan kerusakan karena puji
dan sanjung. Lantaran itu bertambah tidaklah dapat lagi mereka
mengendalikaan diri sendiri. Timbullah sifat-sifat angkuh, tak mau
mendengarkan nasehat orang. Akhirnya mereka bertambah terangterang
berbuat fasik dan berbangga dengan dosa.
Akhir kelaknya karena tenaga manusia terbatas, usiapun tidak sepanjang
yang diharap, timbullah penyakit, baik rohani atau jasmani. Penyakit
gila hormat menimbulkan penyakit lain pula, yaitu cemburu kepada segala
orang, bahwa orang itu akan menentangnya. 'I'akut akan jatuh, timbul
berbagai was-was, sehingga pertimbangan akal yang sehat dikalahkan oleh
prasangka. Tadinya ingin bersenang-senang, hasilnya ialah kepayahan yang
tidak berunjung. Dicari sebabnya, tidak lain ialah karena kosongnya
dada dari pegangan kepercayaan.
Tadinya mereka mencari bahagia tetapi salah memahamkan bahagia. Lantaran
iman tidak ada, amalpun tidak menentu. Padahal kalau hendak mencari
bahagia, amallah yang akan diperbanyak.
Kesenangan dan istirahat jiwa ialah bila dapat mengerjakan suatu amalan
yang baik sampai selesai untuk memulai lagi amal yang baru, sampai
berhenti bila jenazah telah dihantar ke kubur.
Orang yang telah fasik, yang telah terpesona haluan bahtera hidupnya
dari tujuan yang benar, akan tenggelamlah dia ke dalam kesengsaraan
batin, yang walaupun sebesar gunung erztas persediaannya, tidaklah akan
dapat menolongnya.
Adakah rugi yang lebih dari ini ?
Kemudian datanglah bujuk rayuan Allah kembali untuk menyadarkan manusia
supaya jangan rnenerxipuh jalan yang fasik dan kufur itu.
كَيْفَ تَكْفُرُوْنَ بِاللهِ وَ كُنتُمْ أَمْوَاتًا فَأَحْيَاكُمْ
"Betapa kamu hendak kufur kepada Allah, padahal adalah kamu mati , lalu dihidupkanNya kamu. " (pangkal ayat 28).
Cobalah pikirkan kembali dari pada tidak ada, kamu telah Dia adakan.
Entah dimanalah kamu dahulunya tersebar; entah di daun kayu, entah di
biji bayam, entah di air mengalir, tidak ada bedanya dengan batu
tercampak, rumput yang lesa terpijak, ataupun serangga yang tengah
menjalar, kemudian dihidupkanNya kamu Terbentuklah mani dalam Shulbf
ayahmu dan taraib ibumu, yang berasal dari darah, dan darah itu berasal
dari makanan; hormon, kalori dan vitamin. Kemudian kamu dalam rahim
ibumu, dikandung sekian bulan lalu diberi akal. Mengembara di permukaan
bumi berusaha mencukupkan keperluan-keperluan hidup.
ثُمَّ يُمِيْتُكُمْ
"Kemudian Dia matikan kamu. "
Dicabut nyawamu dipisahkan dari badanmu. Badan dihantarkan kembali
kepada asalnya. Datang dari tanah dipulangkan ke tanah; kembali seperti
sernula, entah jadi rumput lesa terpijak, entah jadi tumpukan
tulang-tulang.
Orang membangun kota yang baru, kubur-kubur dibongkar, tulang-tulangnya
dipindahkan atau tidak diketahui lagi bahwa di sana ada kuburan
dahulunya, lalu didirikan orang gedung di atasnya.
ثُمَّ يُحْيِيْكُمْ
"Kemudian Dia hidupkan. "
Yaitu hidup yang kedua kali. Sebab nyawa yang pisah dari badan tadi
tidaklah kembali ke tanah, tetapi pulang ke tempat yang telah ditentukan
buat menungggu panggilan Hari Kiamat. Itulah hidup yang kedua kali;
hidup salah satu dari dua.
Yaitu hidup yang lebih tinggi dan lebih mulia. Karena di jaman hidup
pertama di dunia kamu memang melatih diri dari dalam kehidupan yang
tinggi dan mulia. Atau hidup yang lebih sengsara, karena memang dalam
kehidupan pertama kamu menempuh jalan kepada kesengsaraan itu.
ثُمَّ إِلَيْهِ تُرْجَعُوْنَ
"Kemudian kepadaNyalah kamu akan kembali. " (ujung ayat 28).
Artinya setelah kamu dihidupkan kembali, kamu dipanggil kembali
kehadirat Allah untuk diperhitungkan baik baik, dicocokkan bunyi catatan
Malaikat dengan perbuatanmu semasa hidupmu, lalu diputuskan ke tempat
mana kamu akan digolongkan, kepada golongan orang-orang yang
berbahagiakah atau kepada golongan orang-orang yang celaka.
Dan keadilan akan berlaku dan kezaliman tidak akan ada. Sedang belas
kasihan IIahi telah kamu rasai sejak dari kini. Kalau kamu mendapat
celaka, tidak lain hanyalah karena salahmu sendiri.
Begitulah Tuhan Allah telah membuat tingkat hidup yang kamu tempuh, maka bagaimana juga lagi kamu kufur terhadapNya.
Bagaimana juga lagi kamu hendak berbuat sesuka hati dalam kehidupan yang
pertama ini ? Padahal kamu tidak akan dapat membebaskan dirimu daripada
garis yang telah ditentukanNya itu.
Padahal bukan pula Dia menyia-nyiakan kamu dalam hidup ini; diutusNya
Rasul, dikirimNya wahyu, diberiNya petunjuk agama akan jadi pegangan
kamu. DiberikanNya bagi kamu bimbingan sejak matamu terbuka melihat alam
ini. Adakah patut, wahai, bimbingan kasih Tuhan yang sedemikian rupa
kamu mungkiri dan kamu kufuri Dia ?
Bawalah tafakkur, pakailah akal; adakah patut perbuatanmu itu ?
هُوَ الَّذِيْ خَلَقَ لَكُمْ مَّا فِي الْأَرْضِ جَمِيْعًا
"Dialah yang telah menjadikan untuk kamu apa yang di bumi ini sekaliannya. " (pangkal ayat 29).
Alangkah besar dan agung Qudrat al-Khaliq itu, dan alangkah besar Rahman
dan Rahim yang terkandung di dalamnya. Semuanya ini bukan untuk orang
lain, tetapi untuk kamu, untuk kamu saja, hai manusia !
Sehingga air yang mengalir, lautan yang terbentang, kayu yang tumbuh di
hutan, batu di sungai, pasir di pantai; untuk kamu! Binatang ternak,
ikan di laut; untuk kamu.
Dan apabila kamu gali bumi selapis dua lapis, bertemulah kekayaan entah
minyak tanah, mangan, uranium, besi dan segala macam logam; untuk kamu!
Dan diberi alat untuk mengarnbil manfaat dari sekalian pemberian rahmat,
nikmat dan karunia itu, yaitu akal, ilmu dan pengalaman kamu.
Cobalah perhatikan segala yang ada disekeliling kamu ini dan bertanyalah
kepada semuanya, niscaya semua akan menjawab: "Kami ini untuk Tuan!
ثُمَّ اسْتَوَى إِلَى السَّمَاءَ فَسَوَّاهُنَّ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ
"Kemudian menghadaplah Dia ke langit, lalu Dia jadikan dia tujuh langit. "
Artinya diselesaikanNya dahulu nasibmu disini, dibereskanNya segala
keperluanmu, barulah Allah menghadapkan perhatianNya menyusun tingkatan
langit, yang tadinya adalah Dukhan, yaitu asap belaka.
Dalam bahasa Ilmu pengetahuan disebut Khaos. Maka Tuhanpun mengatur
kelompok-kelompoknya, yang dikatakanNya kepada kita ialah tujuh.
Bagaimana tujuhnya kita tidak tahu. Kita hanya percaya; sebab urusan
kekayaan langit itu tidaklah terpermanai (terhitung) banyaknya.
Sedangkan bila kita duduk pada sebuah perpustakaan besar yang berisi
satu juta buku tulisan manusia, lalu kita baca, berumurpun kita 1.000
tahun tidaklah akan dapat dibaca satu juta jilid buku itu. Kononnya akan
mengetahui apa perbendaharaan di langit:
وَ هُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمٌ
"Dan Dia terhadap tiap-tiap sesuatu adalah Maha Tahu. " (ujung ayat 29).
Artinya Dialah Yang Maha Tahu bagaimana cara pembuatan dan pembangunan
alam itu. Bukanlah pula kamu dilarang buat mengetahuinya sekedar tenaga
dan akal yang ada padamu., bahkan dianjurkan kamu meniliknya, untuk
rnenambah yakinmu bahwa memang Dialah Maha Pengatur itu.
Dan dari ayat inipun dapatlah kita mengerti bahwa penyusunan Tuhan Allah
atas alam, baik penciptaan bintang-bintang termasuk bumi ini, ataupun
kejadian langit adalah memakai jaman dan waktu yang teratur, terletak di
luar daripada hitungan masa dan tahun kita ini. Sebab hitungan tahun
kita ini adalah sangat terbatas, hanya pada peredaran bumi rnengelilingi
matahari dan bulan mengelilingi bumi. Padahal di luar daerah kita entah
berapalah banyak lagi matahari dengan peredarannya sendiri dan
hitungannya sendiri. Tuhanlah yang Maha Tahu semuanya itu. Penyelidikan
kita hanyalah untuk tahu bahwa kita tidak tahu.
Dan amat janggal dalam perasaan beragama kalau sekiranya hasil
penyelidikan kita manusia tentang kejadian alam ini, yang baru bertumbuh
kemudian, lalu kita jadikan alat buat membatalkan keterangan wahyu.
Padahal maksud al-Qur'an, terutama maksud ayat ini ialah tertentu buat
mernberikan peringatan kepada manusia bahwasanya isi bumi ini disediakan
buat mereka semua.
Maka patutlah mereka bersyukur kepada Tuhan clan pergunakan kesempatan
buat mengambil faedah yang telah dibuka itu. Setelah siap Tuhan
menyediakan segala sesuatu untuk manusia hidup di dalam bumi, maka Tuhan
menghadapkan amar perintahNya kepada langit dan terjadilah langit itu
tujuh. Apakah manusia telah terjadi sebelum Allah mengatur tujuh langit ?
Apakah kernudian baru manusia baru diadakan dalam bumi setelah terlebih
dahulu persediaan buat hidupnya disediakan selengkapnya? Tidaklah ada
dalarn ayat ini.
Apakah yang dimaksud dengan tujuh langit ? Apakah benar-benar tujuh?
Atau hanya menurut undang-undang perbahasan Arabi bahwasanya bilangan
tujuh ialah menunjukkan banyak ? Dan bagaimanakah Tuhan menghadapkan
amar perintahNya kepada langit itu? Semuanya ini tidaklah akan dikuasai
oleh pengetahuan manusia.
Sebab itu janganlah kita belokkan maksud ayat ke sana. Tuntutlah ilmu
rahasia alam ini sedalam-dalamnya: Carilah fosil-fosil makhluk purbakala
yang telah terbenam dalam bumi berjuta tahun. Pakailah teori Darwin dan
lain-lain, moga-moga saja kian lama kian tersingkaplah bagi kita betapa
hebatnya kejadian alam itu dan bertambah iman akan adanya Yang Maha
Kuasa atas alam.
Tetapi jangan sekali-kali dengan ilmu kita yang terbatas mencoba membatalkan ayat dan ilmu Tuhan yang tidak terbatas.
Belayar ke pulau bakal. Bawa seraut dua tiga; Kalau kail panjang sejengkal, .Ianganlah laut hendak diduga
Maka dengan ayat ini sekali lagi kita tafakkur memikirkan betapa
kasih-sayang Allah kepada kita. Sehingga rencana pemeliharaan hidup
manusia didahulukan daripada perintah amar atas tujuh langit.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar