Al Qur’an pun diturunkan bukan membuat susah. Allah Ta’ala berfirman,
طه (1) مَا أَنْزَلْنَا عَلَيْكَ الْقُرْآَنَ لِتَشْقَى (2) إِلَّا
تَذْكِرَةً لِمَنْ يَخْشَى (3) تَنْزِيلًا مِمَّنْ خَلَقَ الْأَرْضَ
وَالسَّمَاوَاتِ الْعُلَا
“Thoha. Kami tidak menurunkan Al Quran ini kepadamu agar kamu menjadi
susah; tetapi sebagai peringatan bagi orang yang takut (kepada Allah),
yaitu diturunkan dari Allah yang menciptakan bumi dan langit yang
tinggi.” (QS. Thoha: 1-4).
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,
إِنَّ الدِّينَ يُسْرٌ
“Sesungguhnya agama Islam itu mudah.” (HR. Bukhari no. 39).
Sebagai seorang muslim pastinya kita mengharapkan mempunyai rezeki
lancar dan melimpah sehingga kita tidak mengalami kesulitan dlm
menjalani kehidupan inii, tetapi perlu diingatkan bahwa setiap makhluk
hidup sdh di tetapkan dan diatur pintu rezekinya masing – masing oleh
Alloh swt sehingga kita sebagai manusia hanya berusaha dlm mencarinya
baik dg cara berikhtiar langsung dan berdoa atau meminta kpd Alloh
karena Alloh.
Untuk itu kita harus bekerja keras dlm mencari rezeki kita masing –
masing tanpa bekerja keras maka rezeki tidak akan mendatangi kita secara
tiba – tiba, selain berikhtiar kita sebagai seorang muslim jg di
wajibkan untuk berdoa kpd Alloh untuk memudahkan rezeki kita.
Sebagian orang menjadikan ayat ini sebagai alat untuk mendapat pesugihan atau cepat kaya. Apa boleh?
Ayat 1000 dinar yang dimaksudkan adalah,
وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا (2) وَيَرْزُقْهُ مِنْ
حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ
إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ
قَدْرًا (3)
“Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya
jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada
disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah
niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah
melaksanakan urusan yang (dikehendaki)-Nya. Sesungguhnya Allah telah
mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” (QS. Ath Tholaq: 2-3)
Apa keistimewaan ayat tersebut?
Sebenarnya dalam ayat tersebut tidak disebutkan bahwa siapa yang
membacanya 1000 kali, maka akan mendapatkan pesugihan, cepat kaya atau
mendapatkan kelapangan rezeki. Apalagi tidak tersurat akan mendapatkan
1000 dinar.
Namun ada yang mengamalkan ayat tersebut seperti ini:
1- Bacalah surat Al-Fatihah pada malam pertama dari tiap-tiap bulan
kalender Hijriyah (bukan bulan kalender Masehi) sebanyak 1000 kali dan
membaca surat Al Maidah ayat 114. Lalu baca ayat 1000 dinar yang disebut
di atas sebanyak 21 kali. Kemudian dilanjutkan dengan membaca asma
Allah.
2- Lalu setiap harinya dilanjutkan dengan membaca ayat 1000 dinar yaitu
surat Ath Thalaq ayat 2-3 sebanyak 1000 kali dalam sehari. Seperti
diwasiatkan untuk dibaca rutin.
Setelah pembacaan tadi, diperintahkan membaca doa sesuai dengan hajat yang diminta.
Beberapa Kekeliruan dari Pengamalan Ayat 1000 Dinar
Menamakan ayat tanpa petunjuk
Menetapkan waktu pembacaan yang tidak berdalil
Dua hal di atas intinya tidak ditetapkan dengan dalil. Padahal penamaan
ayat atau penyebutan surat dalam Al Qur’an jelas ada petunjuk dari Rasul
atau para ulama. Sedangkan apa yang disebutkan dengan ayat 1000 dinar,
hanya penyebutan orang masa kini tanpa ada petunjuk dari wahyu.
Begitu pula penetapan waktu pembacaan ayat 1000 dinar yang dibaca setiap
malam ataukah dibaca pada malam pertama setiap awal bulan Hijriyah juga
tidak berdalil.
Yang ada dalil dalam Islam, Rasulshallallahu ‘alaihi wa sallam
mengajarkan membaca surat Al Kahfi setiap malam Jumat atau hari Jumat.
Sedangkan ayat 1000 dinar, mana dalil yang menyebutkan waktu
pembacaannya seperti yang disebutkan?
Ingat kaedah baku yang sudah para ulama tetapkan: hukum asal ibadah itu haram sampai adanya dalil.
Dalam kitab ulama Syafi’iyah lainnya, yaitu kitab Ghoyatul Bayan Syarh Zubd Ibnu Ruslan disebutkan,
الأَصْلُ فِي العِبَادَاتِ التَّوْقِيْفُ
“Hukum asal ibadah adalah tawqif (menunggu sampai adanya dalil).”
Ibnu Muflih berkata dalam Al Adabu Asy Syar’iyah,
أَنَّ الْأَعْمَالَ الدِّينِيَّةَ لَا يَجُوزُ أَنْ يُتَّخَذَ شَيْءٌ
سَبَبًا إلَّا أَنْ تَكُونَ مَشْرُوعَةً فَإِنَّ الْعِبَادَاتِ مَبْنَاهَا
عَلَى التَّوْقِيفِ
“Sesungguhnya amal diniyah (amal ibadah) tidak boleh dijadikan sebagai
sebab kecuali jika telah disyari’atkan karena standar ibadah boleh
dilakukan sampai ada dalil.”
Imam Ahmad dan para fuqoha ahli hadits -Imam Syafi’i termasuk di dalamnya- berkata,
إنَّ الْأَصْلَ فِي الْعِبَادَاتِ التَّوْقِيفُ
“Hukum asal ibadah adalah tauqif (menunggu sampai adanya dalil)” (Dinukil dari Majmu’ Al Fatawa karya Ibnu Taimiyah, 29: 17)
Menentukan jumlah bilangan yang melelahkan
Jujur saja, kita jarang melihat atau bahkan melihat dzikir-dzikir Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan pembacaan 1000 kali dalam sehari
seperti pada pengamalamn ayat 1000 dinar. Yang ada, dzikir paling banyak
hitungannya adalah 100 kali. Contoh misalnya bacaan dzikir,
لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرُ
Laa ilaha illallah wahdahu laa syarika lah, lahul mulku walahul hamdu wa huwa ‘ala kulli syai-in qodiir.
Dzikir di atas dibaca dalam sehari 100 kali. Keutamaanya, barangsiapa
yang mengucapkan dzikir tersebut dalam sehari sebanyak 100 x, maka itu
seperti membebaskan 10 orang budak, dicatat baginya 100 kebaikan,
dihapus baginya 100 kesalahan, dirinya akan terjaga dari gangguan setan
dari pagi hingga petang hari, dan tidak ada seorang pun yang lebih baik
dari yang ia lakukan kecuali oleh orang yang mengamalkan lebih dari itu.
(HR. Bukhari no. 3293 dan Muslim no. 2691)
Al Qur’an pun diturunkan bukan membuat susah. Allah Ta’ala berfirman,
طه (1) مَا أَنْزَلْنَا عَلَيْكَ الْقُرْآَنَ لِتَشْقَى (2) إِلَّا
تَذْكِرَةً لِمَنْ يَخْشَى (3) تَنْزِيلًا مِمَّنْ خَلَقَ الْأَرْضَ
وَالسَّمَاوَاتِ الْعُلَا
“Thoha. Kami tidak menurunkan Al Quran ini kepadamu agar kamu menjadi
susah; tetapi sebagai peringatan bagi orang yang takut (kepada Allah),
yaitu diturunkan dari Allah yang menciptakan bumi dan langit yang
tinggi.” (QS. Thoha: 1-4).
Ayat Al Qur’an semestinya ditadabburi, direnungkan dan dipahami maknanya. Allah Ta’ala berfirman,
كِتَابٌ أَنزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِّيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُوْلُوا الْأَلْبَابِ
“Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah
supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran
orang-orang yang mempunyai fikiran” (QS. Shod: 29)
Namanya tadabbur Al Qur’an itu sebagaimana disebutkan oleh Al Hasan Al Bashri rahimahullah -seorang tabi’in-,
وَاللهِ مَا تَدَبُّره بِحِفْظِ حُرُوْفِهِ وَإِضَاعَةِ حُدُوْدِهِ، حَتَّى
إِنَّ أَحَدَهُمْ لَيَقُوْل: قَرَأْتُ القُرْآنَ كُلَّهُ مَا يَرَى لَهُ
القُرْآنُ فِي خُلُقٍ وَلاَ عَمَلٍ
“Demi Allah, Al Qur’an bukanlah ditadabburi dengan sekedar menghafal
huruf-hurufnya, namun lalai dari memperhatikan hukum-hukumnya
(maksudnya: mentadabburinya). Hingga nanti ada yang mengatakan, “Aku
sudah membaca Al Qur’an seluruhnya.” Namun sayangnya Al Qur’an tidak
Nampak pada akhlak dan amalannya.” Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim.
(Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 6: 419).
Dari ‘Umar bin Khottob, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لَوْ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَوَكَّلُونَ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ
لَرُزِقْتُمْ كَمَا تُرْزَقُ الطَّيْرُ تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوحُ
بِطَانًا
“Seandainya kalian benar-benar bertawakkal pada Allah, tentu kalian akan
diberi rezeki sebagaimana burung diberi rezeki. Ia pergi di pagi hari
dalam keadaan lapar dan kembali di sore hari dalam keadaan kenyang.”
(HR. Tirmidzi no. 2344. Abu ‘Isa Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini
hasan shahih).
Hadits di atas sekaligus menunjukkan bahwa yang disebut tawakkal berarti
melakukan usaha, bukan hanya sekedar menyandarkan hati pada Allah.
Karena burung saja pergi di pagi hari untuk mengais rezeki. Maka manusia
yang berakal tentu melakukan usaha, bukan hanya bertopang dagu menunggu
rezeki turun dari langit.
Luruskan Niyat Dalam Ibadah
Termasuk penyimpangan niat yang banyak menimpa manusia dan menodai
kesucian ibadah mereka, selain perbuatan riya’, adalah terselipnya niat
dan keinginan duniawi pada amal ibadah yang dikerjakan manusia.
Penyimpangan ini penting untuk diketahui, karena sering menimpa seorang
yang berbuat amal kebaikan tapi dia tidak menyadari terselipnya niat
tersebut, padahal ini termasuk bentuk kesyirikan yang bisa menodai
bahkan merusak amal kebaikan seorang hamba.
Allah Ta’ala berfirman:
{مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ
إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لا يُبْخَسُونَ. أُولَئِكَ
الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي الآخِرَةِ إِلا النَّارُ وَحَبِطَ مَا
صَنَعُوا فِيهَا وَبَاطِلٌ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ}
“Barangsiapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya kami
berikan kepada mereka balasan amal perbuatan mereka di dunia dengan
sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Merekalah
orang-orang yang di akhirat (kelak) tidak akan memperoleh (balasan)
kecuali neraka dan lenyaplah apa (amal kebaikan) yang telah mereka
usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka lakukan” (QS
Huud: 15-16).
Ayat yang mulia ini menunjukkan bahwa amal shaleh yang dilakukan dengan
niat duniawi adalah termasuk perbuatan syirik yang bisa merusak
kesempurnaan tauhid yang semestinya dijaga dan perbuatan ini bisa
menggugurkan amal kebaikan. Bahkan perbuatan ini lebih buruk dari
perbuatan riya’ (memperlihatkan amal shaleh untuk mendapatkan pujian dan
sanjungan), karena seorang yang menginginkan dunia dengan amal shaleh
yang dilakukannya, terkadang keinginannya itu menguasai niatnya dalam
meyoritas amal shaleh yang dilakukannya. Ini berbeda dengan perbuatan
riya’, karena riya’ biasanya hanya terjadi pada amal tertentu dan bukan
pada mayoritas amal, itupun tidak terus-menerus. Meskipun demikian,
orang yang yang beriman tentu harus mewaspadai semua keburukan tersebut.
Abu Bakr al-Jaza`iri berpandangan:
العِبَادَة : الخُضُوع والتَّذَلُّل وَفِي الشَّرْعِ العِبَادة طَاعة
الله ورسوُلِه ِبِالإيْمَانِ وَفِعْل الأمْر وَاجْتِنَاب النَّهْي مَعَ
غَايَةِ الْحُبِّ والتَّعْظِيْم لَهُما والتَّذَلُّل لِلَّهِ وَحْدَه
Ibadah dalam arti bahasa ialah tunduk, patuh, dan merendah. Sedangkan
menurut istilah syar’iy ialah taat pada Allâh dan Rasûl-Nya dengan iman
dan menjalankan segala perintahnya, menjauhi segala yang dilarangnya,
yang dilatar belakangi cinta dan hormat, serta merendahkan diri hanya
pada Allâh SWT semata.
Allah Ta’ala berfirman:
{مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ
إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لا يُبْخَسُونَ. أُولَئِكَ
الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي الآخِرَةِ إِلا النَّارُ وَحَبِطَ مَا
صَنَعُوا فِيهَا وَبَاطِلٌ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ}
“Barangsiapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya kami
berikan kepada mereka balasan amal perbuatan mereka di dunia dengan
sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Merekalah
orang-orang yang di akhirat (kelak) tidak akan memperoleh (balasan)
kecuali neraka dan lenyaplah apa (amal kebaikan) yang telah mereka
usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka lakukan” (QS
Huud: 15-16).
Ayat yang mulia ini dibatasi kemutlakannya dengan firman Allah Ta’ala dalam ayat lain;
{مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْعَاجِلَةَ عَجَّلْنَا لَهُ فِيهَا مَا نَشَاءُ
لِمَنْ نُرِيدُ ثُمَّ جَعَلْنَا لَهُ جَهَنَّمَ يَصْلاهَا مَذْمُومًا
مَدْحُورًا}
“Barangsiapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), maka Kami
segerakan baginya di dunia itu apa (balasan dunia) yang Kami kehendaki
bagi orang yang Kami inginkan, kemudian Kami jadikan baginya neraka
Jahannam; ia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir” (QS
al-Israa’: 18).
Maka kesimpulan makna kedua ayat ini adalah: orang yang menginginkan
balasan duniawi dengan amal shaleh yang dilakukannya, maka Allah Ta’ala
akan memberikan balasan duniawi yang diinginkannya jika Allah Ta’ala
menghendaki, dan terkadang dia tidak mendapatkan balasan duniawi yang
diinginkannya karena Allah Ta’ala tidak menghendakinya.
Oleh sebab itu, semakin jelaslah keburukan dan kehinaan perbuatan ini di
dunia dan akhirat, karena keinginan orang yang melakukannya untuk
mendapat balasan duniawi terkadang terpenuhi dan terkadang tidak
terpenuhi, semua tergantung dari kehendak AllahTa’ala. Inilah balasan
bagi mereka di dunia, dan di akhirat kelak mereka tidak mendapatkan
balasan kebaikan sedikitpun, bahkan mereka akan mendapatkan azab neraka
Jahannam dalam keadaan hina dan tercela.
Benarlah Rasulullah Shallallahu ’alaihi Wasallam yang bersabda:
“Barangsiapa yang (menjadikan) dunia tujuannya maka Allah akan
mencerai-beraikan urusannya dan menjadikan kemiskinan/tidak pernah
merasa cukup (selalu ada) di hadapannya, padahal dia tidak akan
mendapatkan (harta benda) duniawi melebihi dari apa yang Allah tetapkan
baginya. Dan barangsiapa yang (menjadikan) akhirat niatnya maka Allah
akan menghimpunkan urusannya, menjadikan kekayaan/selalu merasa cukup
(ada) dalam hatinya, dan (harta benda) duniawi datang kepadanya dalam
keadaan rendah (tidak bernilai di hadapannya)“.
Dalam hadits shahih lainnya, Rasulullah Shallallahu ’alaihi Wasallam
bersabda tentang buruknya perbuatan ini: “Binasalah (orang yang menjadi)
budak (harta berupa) emas, celakalah (orang yang menjadi) budak (harta
berupa) perak, binasalah budak (harta berupa) pakaian indah, kalau dia
mendapatkan harta tersebut maka dia akan ridha (senang), tapi kalau dia
tidak mendapatkannya maka dia akan murka. Celakalah dia tersungkur
wajahnya (merugi serta gagal usahanya), dan jika dia tertusuk duri
(bencana akibat perbuatannya) maka dia tidak akan lepas darinya”.
Hadits yang agung ini menunjukkan besarnya keburukan dan kehinaan
perbuatan ini, karena orang yang melakukannya berarti dia menjadikan
dirinya sebagai budak harta, karena harta menjadi puncak kecintaan dan
keinginannya dalam setiap perbuatannya, sehingga kalau dia
mendapatkannya maka dia akan ridha (senang), tapi kalau tidak maka dia
akan murka.
Kemudian Rasulullah menggabarkan keadaannya yang buruk bahwa orang
tersebut jika ditimpa keburukan atau bencana akibat perbuatannya maka
dia tidak bisa terlepas darinya dan dia tidak akan beruntung selamanya.
Maka dengan perbuatan buruk ini dia tidak mendapatkan keinginannya dan
dia pun tidak bisa lepas dari keburukan yang menimpanya. Inilah keadaan
orang yang menjadi budak harta, na’uudzu billahi min dzaalik.
Ujian dan Kesulitan Datang Dari Allah
Ketahuilah bahwa musibah dan kesusahan yang menimpa, pada hakikatnya
adalah ketetapan Allah dan atas izin Allah itu terjadi. Allah Ta’ala
berfirman:
مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّـهِ ۗ وَمَنْ يُؤْمِنْ
بِاللَّـهِ يَهْدِ قَلْبَهُ ۚ وَاللَّـهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ
“Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan ijin
Allah; dan barangsiapa yang beriman kepada Allah niscaya Dia akan
memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala
sesuatu.” (QS. At Taghabun: 11)
bahkan setiap musibah dan kesusahan yang kita alami dan yang akan
datang, itu semua sudah tercatat dalam Lauhul Mahfduz. Allah Ta’ala
berfirman:
مَا أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنفُسِكُمْ إِلَّا
فِي كِتَابٍ مِّن قَبْلِ أَن نَّبْرَأَهَا إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى اللَّـهِ
يَسِيرٌ
“Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada
dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh)
sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah
bagi Allah” (QS. Al Hadid: 22)
Semua itu adalah ujian dari Allah bagi hamba-Nya. Sebagaimana namanya,
ujian, dengannya Allah akan mempersaksikan dihadapan para makhluk-Nya
mana hamba yang benar-benar jujur beriman kepada Allah dan mana yang
dusta imannya. Karena ketika musibah datang, hal itu akan nampak. Allah
Ta’ala berfirman:
أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا
يُفْتَنُونَ ﴿٢﴾ وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ ۖ
فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّـهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ
الْكَاذِبِينَ
“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan:
“Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya
kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya
Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui
orang-orang yang dusta” (QS. Al Ankabut: 2-3)
Diantara tanda jujurnya keimanan seseorang, ketika datang musibah,
pertolongan Allah lah yang diharapnya, ia bergantung dan berserah diri
kepada Allah.
حَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُمْ مَثَلُ
الَّذِينَ خَلَوْا مِنْ قَبْلِكُمْ ۖ مَسَّتْهُمُ الْبَأْسَاءُ
وَالضَّرَّاءُ وَزُلْزِلُوا حَتَّىٰ يَقُولَ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ
آمَنُوا مَعَهُ مَتَىٰ نَصْرُ اللَّـهِ ۗ أَلَا إِنَّ نَصْرَ اللَّـهِ
قَرِيبٌ
“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang
kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu?
Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan
(dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang
yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?”
Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.” (QS. Al
Baqarah: 214)
Tidak tergoda untuk mengambil jalan yang haram atau memalingkan ibadah kepada sesembahan selain Allah demi mencari pertolongan.
Allah-lah Yang Menghilangkan Kesulitan
Kita telah ketahui bahwa musibah dan cobaan itu adalah ketetapan Allah.
Maka ketahui juga bahwa musibah dan cobaan itu hanya Allah lah yang bisa
menghilangkannya. Allah Ta’ala berfirman:
وَإِن يَمْسَسْكَ اللَّـهُ بِضُرٍّ فَلَا كَاشِفَ لَهُ إِلَّا هُوَ
“jika Allah menimpakan suatu mudharat kepadamu, maka tidak ada yang
dapat menghilangkannya kecuali Allah sendiri” (QS. Al An’am: 17).
Jika pada hakikatnya hanya Allah-lah yang dapat menghilangkan segala
kemudharatan, maka orang yang berfikir waras dan logis, tentu akan
meminta tolong kepada Allah dari segala kesulitan dan kesusahan serta
bergantung pada-Nya. Allah Ta’ala berfirman:
وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللَّـهِ ۖ ثُمَّ إِذَا مَسَّكُمُ الضُّرُّ فَإِلَيْهِ تَجْأَرُونَ
“Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah
(datangnya), dan bila kamu ditimpa oleh kemudharatan, maka hanya
kepada-Nya-lah kamu meminta pertolongan.” (QS. An Nahl: 53)
Adapun orang yang meminta tolong kepada sesembahan-sesembahan selain
Allah ketika mendapat musibah, ia adalah orang yang durhaka kepada Allah
akibat hatinya lalai dari berdzikir kepada Allah. Allah Ta’ala
berfirman:
أَمَّنْ يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ
وَيَجْعَلُكُمْ خُلَفَاءَ الْأَرْضِ ۗ أَإِلَـٰهٌ مَعَ اللَّـهِ ۚ قَلِيلًا
مَا تَذَكَّرُونَ
“Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan
apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang
menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi? Apakah disamping
Allah ada tuhan (yang lain)? Amat sedikitlah kamu mengingati(Nya)” (QS.
An Naml: 62)
Mintalah Pertolongan Hanya Kepada Allah
Isti’anah dan istighatsah adalah ibadah. Isti’anah artinya, meminta
pertolongan dan dukungan dalam suatu urusan. Sedang istighatsahberarti
meminta dihilangkannya musibah dan kesulitan. Dalil bahwaisti’anah
adalah ibadah adalah ayat:
إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ
“hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami (ber-isti’anah) memohon pertolongan” (QS. Al Fatihah: 5)
Istighatsah merupakan ibadah berdasarkan ayat:
إِذْ تَسْتَغِيثُونَ رَبَّكُمْ فَاسْتَجَابَ لَكُمْ أَنِّي مُمِدُّكُم بِأَلْفٍ مِّنَ الْمَلآئِكَةِ مُرْدِفِينَ
“(Ingatlah), ketika kamu beristightsah (memohon pertolongan) kepada
Tuhanmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu: “Sesungguhnya Aku akan
mendatangkan bala bantuan kepada kamu dengan seribu malaikat yang datang
berturut-turut.” (QS. Al-Anfal: 9)
dengan demikian hendaknya kita meminta pertolongan hanya kepada Allah,
dan tidak boleh meminta pertolongan kepada sesembahan lain selain Allah.
Perhatikan ayat kelima dari surat Al Fatihah yang sering kita baca
setiap hari “iyaaka na’budu wa iyyaka nasta’in”, mari kita dalami makna
ayat ini.
Kalimat ini bentuk normalnya adalah “na’buduka wa nasta’inuka” (aku
beribadah kepadamu dan memohon pertolongan kepadamu), namun ternyata
objek kalimat didahulukan menjadi “iyaaka na’budu wa iyyaka nasta’in”.
Secara bahasa Arab, ini menghasilkan makna al hashr(pembatasan),
sehingga maknanya “hanya kepada-Mu satu-satunya kami menyembah dan hanya
kepada-Mu satu-satunya kami memohon pertolongan”.
Oleh karena itu, Allah pun melarang hamba-Nya meminta pertolongan kepada
sesembahan-sesembahan selain Allah. Allah Ta’ala berfirman:
وَلَا تَدْعُ مِنْ دُونِ اللَّـهِ مَا لَا يَنْفَعُكَ وَلَا يَضُرُّكَ ۖ فَإِنْ فَعَلْتَ فَإِنَّكَ إِذًا مِنَ الظَّالِمِينَ
“Dan janganlah kamu berdoa kepada apa-apa yang tidak memberi manfaat dan
tidak (pula) memberi mudharat kepadamu selain Allah; sebab jika kamu
berbuat (yang demikian), itu, maka sesungguhnya kamu kalau begitu
termasuk orang-orang yang zalim”” (QS. Yunus: 106).
Dan banyak diantara manusia mempersembahkan ibadahnya kepada selain
Allah, demi mengharapkan pertolongan ketika ia merasa susah dan merasa
terhimpit oleh cobaan. Allah ta’ala berfirman:
وَاتَّخَذُوا مِنْ دُونِ اللَّـهِ آلِهَةً لَعَلَّهُمْ يُنْصَرُونَ ﴿٧٤﴾
لَا يَسْتَطِيعُونَ نَصْرَهُمْ وَهُمْ لَهُمْ جُنْدٌ مُحْضَرُونَ
“Mereka mengambil sembahan-sembahan selain Allah, agar mereka mendapat
pertolongan. Berhala-berhala itu tiada dapat menolong mereka; padahal
berhala-berhala itu menjadi tentara yang disiapkan untuk menjaga
mereka.” (QS. Yasin: 74-75).
Padahal sebagaimana sudah dijelaskan, musibah dan kesusahan itu
ketetapan Allah, hanya Allah yang dapat menghilangkannya dan para
sesembahan yang disembah selain Allah itu sama sekali tidak mampu
memberi manfaat atau mudharat sedikit pun. Baik itu berupa berhala,
pohon, batu, benda keramat, kuburan, orang mati atau yang lainnya,
mereka tidak dapat memberi manfaat dan pertolongan. Allah Ta’ala
berfirman:
وَلَا يَسْتَطِيعُونَ لَهُمْ نَصْرًا وَلَا أَنْفُسَهُمْ يَنْصُرُونَ
“Dan berhala-berhala itu tidak mampu memberi pertolongan kepada
penyembah-penyembahnya dan kepada dirinya sendiripun berhala-berha]a itu
tidak dapat memberi pertolongan.” (QS. Al A’raf: 192)
Maka orang-orang yang meminta tolong kepada sesembahan selain Allah itu
sungguh tidak logis, tidak waras dan menyelisihi fitrah yang bersih.
Mereka jatuh dalam kesesatan yang jauh dan terkekufuran yang besar.
Allah Ta’ala berfirman:
وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنْ يَدْعُو مِنْ دُونِ اللَّـهِ مَنْ لَا يَسْتَجِيبُ
لَهُ إِلَىٰ يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَهُمْ عَنْ دُعَائِهِمْ غَافِلُونَ
وَإِذَا حُشِرَ النَّاسُ كَانُوا لَهُمْ أَعْدَاءً وَكَانُوا
بِعِبَادَتِهِمْ كَافِرِينَ
“Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang menyembah
sembahan-sembahan selain Allah yang tiada dapat memperkenankan (doa)nya
sampai hari kiamat dan mereka lalai dari (memperhatikan) doa mereka? Dan
apabila manusia dikumpulkan (pada hari kiamat) niscaya
sembahan-sembahan itu menjadi musuh mereka dan mengingkari
pemujaan-pemujaan mereka” (QS. Al Ahqaf: 5-6)
Jangan Ragu Meminta Tolong Kepada Allah
Mengapa anda ragu meminta tolong kepada Allah? Bukankah Allah yang telah
menciptakan anda? Bukanlah Allah yang memiliki alam semesta ini
termasuk bumi yang anda pijak? Maka sangat mudah bagi Allah memberi
pertolongan kepada anda. Renungkan perkataan Nabi Musa ‘alaihissalam:
قَالَ مُوسَىٰ لِقَوْمِهِ اسْتَعِينُوا بِاللَّـهِ وَاصْبِرُوا ۖ إِنَّ
الْأَرْضَ لِلَّـهِ يُورِثُهَا مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ ۖ
وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ
“Musa berkata kepada kaumnya: “Mohonlah pertolongan kepada Allah dan
bersabarlah; sesungguhnya bumi (ini) kepunyaan Allah; dipusakakan-Nya
kepada siapa yang dihendaki-Nya dari hamba-hamba-Nya. Dan kesudahan yang
baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa”.” (QS. Al A’raf: 128).
Maka mintalah pertolongan kepada Allah dengan taqwa kepada-Nya. Yaitu
dengan mengamalkan apa yang Allah perintahkan dan apa yang diperintahkan
dan dianjurkankan oleh Rasul-Nya, serta menjauhi apa yang mereka
larang. Oleh karena itu Allah Ta’ala berfirman:
وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ ۚ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى الْخَاشِعِينَ
“Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang
demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu‘” (QS.
Al Baqarah: 45)
Perbanyak istighfar karena memohon ampun pada Allah itulah yang akan memudahkan rezeki
Terdapat sebuah atsar dari Hasan Al Bashri rahimahullah yang menunjukkan bagaimana faedah istighfar yang luar biasa.
أَنَّ رَجُلًا شَكَى إِلَيْهِ الْجَدْب فَقَالَ اِسْتَغْفِرْ اللَّه ،
وَشَكَى إِلَيْهِ آخَر الْفَقْر فَقَالَ اِسْتَغْفِرْ اللَّه ، وَشَكَى
إِلَيْهِ آخَر جَفَاف بُسْتَانه فَقَالَ اِسْتَغْفِرْ اللَّه ، وَشَكَى
إِلَيْهِ آخَر عَدَم الْوَلَد فَقَالَ اِسْتَغْفِرْ اللَّه ، ثُمَّ تَلَا
عَلَيْهِمْ هَذِهِ الْآيَة
“Sesungguhnya seseorang pernah mengadukan kepada Al Hasan tentang musim
paceklik yang terjadi. Lalu Al Hasan menasehatkan, “Beristigfarlah
(mohon ampunlah) kepada Allah”.
Kemudian orang lain mengadu lagi kepada beliau tentang kemiskinannya.
Lalu Al Hasan menasehatkan, “Beristigfarlah (mohon ampunlah) kepada
Allah”.
Kemudian orang lain mengadu lagi kepada beliau tentang kekeringan pada
lahan (kebunnya). Lalu Al Hasan menasehatkan, “Beristigfarlah (mohon
ampunlah) kepada Allah”.
Kemudian orang lain mengadu lagi kepada beliau karena sampai waktu itu
belum memiliki anak. Lalu Al Hasan menasehatkan, “Beristigfarlah (mohon
ampunlah) kepada Allah”.
Kemudian setelah itu Al Hasan Al Bashri membacakan surat Nuh,
فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا (10) يُرْسِلِ
السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا (11) وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ
وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارً ) 12)
“Maka aku katakan kepada mereka: ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu,
sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan
hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan
mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya)
untukmu sungai-sungai.” (QS. Nuh: 10-12). (Riwayat ini disebutkan oleh
Al Hafidz Ibnu Hajar dalam Fathul Bari, 11: 98)
Jadi, istighfar adalah pembuka pintu rezeki dan pembuka jalan agar terlepas dari utang yang memberatkan.
Lebih giat lagi untuk bekerja
Dengan makin kiat bekerja dan terus memperhatikan nafkah keluarga, maka
Allah akan memberikan ganti dan memberikan jalan keluar. Dari Abu
Hurairah, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَا مِنْ يَوْمٍ يُصْبِحُ الْعِبَادُ فِيهِ إِلاَّ مَلَكَانِ يَنْزِلاَنِ
فَيَقُولُ أَحَدُهُمَا اللَّهُمَّ أَعْطِ مُنْفِقًا خَلَفًا ، وَيَقُولُ
الآخَرُ اللَّهُمَّ أَعْطِ مُمْسِكًا تَلَفًا
“Ketika hamba berada di setiap pagi, ada dua malaikat yang turun dan
berdoa, “Ya Allah berikanlah ganti pada yang gemar berinfak (rajin
memberi nafkah pada keluarga).” Malaikat yang lain berdoa, “Ya Allah,
berikanlah kebangkrutan bagi yang enggan bersedekah (memberi
nafkah).”(HR. Bukhari no. 1442 dan Muslim no. 1010)
Perbanyak doa yang dicontohkan Rosululloh
Beberapa do’a berikut bisa diamalkan dan sangat manfaat, berisi
permintaan kaya dan lepas dari utang. Namun tentu saja kaya yang penuh
berkah, bukan sekedar perbanyak harta. Apalagi hakekat kaya adalah diri
yang selalu merasa cukup.
Do’a Meminta Panjang Umur dan Banyak Harta
اللَّهُمَّ أكْثِرْ مَالِي، وَوَلَدِي، وَبَارِكْ لِي فِيمَا أعْطَيْتَنِي
وَأطِلْ حَيَاتِي عَلَى طَاعَتِكَ، وَأحْسِنْ عَمَلِي وَاغْفِرْ لِي
Allahumma ak-tsir maalii wa waladii, wa baarik lii fiimaa a’thoitanii wa
athil hayaatii ‘ala tho’atik wa ahsin ‘amalii wagh-fir lii
Artinya: Ya Allah perbanyaklah harta dan anakku serta berkahilah karunia
yang Engkau beri. Panjangkanlah umurku dalam ketaatan pada-Mu dan
baguskanlah amalku serta ampunilah dosa-dosaku. (HR. Bukhari no. 6334
dan Muslim no. 2480)
Do’a Memohon Kemudahan
اللَّهُمَّ لاَ سَهْلَ إِلاَّ مَا جَعَلْتَهُ سَهْلاً وَأَنْتَ تَجْعَلُ الحَزْنَ إِذَا شِئْتَ سَهْلاً
Allahumma laa sahla illa maa ja’altahu sahlaa, wa anta taj’alul hazna idza syi’ta sahlaa
Artinya: Ya Allah, tidak ada kemudahan kecuali yang Engkau buat mudah.
Dan Engkau menjadikan kesedihan (kesulitan), jika Engkau kehendaki pasti
akan menjadi mudah. (HR. Ibnu Hibban dalam Shahihnya 3: 255)
Do’a Agar Terlepas dari Sulitnya Utang
اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْمَأْثَمِ وَالْمَغْرَمِ
Allahumma inni a’udzu bika minal ma’tsami wal maghrom
Artinya: Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari berbuat dosa dan sulitnya utang. (HR. Bukhari no. 2397 dan Muslim no. 5)
Do’a Agar Lepas dari Utang Sepenuh Gunung
اللَّهُمَّ اكْفِنِى بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَأَغْنِنِى بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ
Allahumak-finii bi halaalika ‘an haroomik, wa agh-niniy bi fadhlika ‘amman siwaak
Artinya: Ya Allah cukupkanlah aku dengan yang halal dan jauhkanlah aku
dari yang haram, dan cukupkanlah aku dengan karunia-Mu dari bergantung
pada selain-Mu. (HR. Tirmidzi no. 3563)
Do’a Dipermudah Urusan Dunia dan Akhirat
اللَّهُمَّ أَصْلِحْ لِى دِينِىَ الَّذِى هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِى وَأَصْلِحْ
لِى دُنْيَاىَ الَّتِى فِيهَا مَعَاشِى وَأَصْلِحْ لِى آخِرَتِى الَّتِى
فِيهَا مَعَادِى وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لِى فِى كُلِّ خَيْرٍ
وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لِى مِنْ كُلِّ شَرٍّ
Alloohumma ashlih lii diiniilladzii huwa ‘ishmatu amrii, wa ashlih lii
dun-yaayallatii fiihaa ma’aasyii, wa ash-lih lii aakhirotiillatii fiihaa
ma’aadii, waj’alil hayaata ziyaadatan lii fii kulli khoirin, waj’alil
mauta roohatan lii min kulli syarrin
Artinya: Ya Allah, perbaikilah bagiku agamaku sebagai benteng urusanku;
perbaikilah bagiku duniaku yang menjadi tempat kehidupanku; perbaikilah
bagiku akhiratku yang menjadi tempat kembaliku! Jadikanlah -ya Allah-
kehidupan ini mempunyai nilai tambah bagiku dalam segala kebaikan dan
jadikanlah kematianku sebagai kebebasanku dari segala kejahatan. (HR.
Muslim no. 2720)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar