Allah itu begitu Maha Besar dan Maha Agung. Makhluk begitu kerdil
dibandingkan dengan kebesaran Allah. Hadits yang kita kaji kali ini
menerangkan pula bahwa orang yang menyekutukan Allah dengan sesembahan
yang lain tidak mengagungkan Allah dengan sebenar-benarnya.
جَـاءَ حَبْـرٌ مِنَ الْأَحْـبَارِ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ ، فَقَالَ: يَا مُـحَمَّد ، أَوْ يَا أَبَا الْقَاسِم ، إِنَّ
الله تَعَالَى يُمْسِكُ السَّمَوَاتِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَى إِصْبَعٍ ،
وَالأَرَضِيْنَ عَلَى إِصْبَعٍ ، وَالْـجِبَالَ وَالشَّجَرَ عَلَى إِصْبَع
، وَالْـمَاءَ وَالثَّرَى عَلَى إِصْبَع ، وَسَائِرَ الْـخَلْقِ عَلَى
إِصْبَعٍ ، ثُمَّ يَهُزُّهُنَّ فَيَقُوْلُ : أَنَا الْـمَلِكُ ، أَنَا
الْـمَلِكُ. فَضَحِكَ رَسُوْلُ الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
(حَتَّى يَدَتْ نَوَاجِذُهُ) تَعَجُّبًا مِمَّـا قَالَ الْـحَبْرُ ،
تَصْدِيْقًا لَهُ. ثُمَّ قَرَأَ : وَمَا قَدَرُوا اللَّهَ حَقَّ قَدْرِهِ
وَالْأَرْضُ جَمِيعًا قَبْضَتُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَالسَّمَاوَاتُ
مَطْوِيَّاتٌ بِيَمِينِهِ ۚ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَىٰ عَمَّا يُشْرِكُونَ
Seorang ulama Yahudi datang kepada Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa
sallam, dia berkata, ‘Wahai Muhammad atau wahai Abul Qâsim, kami
mendapati (dalam Taurat) bahwa Allâh meletakkan langit-langit di atas
satu jari, bumi-bumi di atas satu jari, pohon-pohon di atas satu jari,
air di atas satu jari, tanah di atas satu jari, dan seluruh makhluk di
atas satu jari, kemudian Dia berfirman, ‘Aku-lah Raja. Aku-lah Raja.’
Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tertawa (sehingga gigi
gerahamnya terlihat) karena senang mengakui kebenaran ucapan ulama
Yahudi tersebut. Kemudian beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca
firman Allâh Azza wa Jalla , “Dan mereka tidak mengagungkan Allâh dengan
pengagungan yang semestinya, padahal bumi seluruhnya dalam
genggaman-Nya pada hari Kiamat dan langit digulung dengan tangan
kanan-Nya. Maha Suci Dia dan Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka
persekutukan.” [az-Zumar/39:67]
TAKHRIJ HADITS
Hadits ini shahih. Diriwayatkan oleh:
1. Al-Bukhari dalam Shahîh-nya (no. 4811, 7414, 7415, 7451, 7513),
2. Muslim dalam Shahîh-nya (no. 2786),
3. Ahmad (1/429, 457),
4. An-Nasâ-i dalam Kitab at-Tafsîr (no. 470, 471, 472) dan as-Sunan al-Kubra (no. 11386-11388),
5. At-Tirmidzi dalam Sunannya (no. 3238, 3239),
6. Ibnu Khuzaimah dalam at-Tauhîd (1/180-181 no. 123, 124, 128),
7. Ibnu Abi ‘Ashim dalam Kitab as-Sunnah (no. 541-544),
8. Al-Âjurri dalam asy-Syari’ah (no. 736, 737, 738),
9. Al-Lâlikâ-i dalam Syarh Ushûl I’tiqâd Ahlis Sunnah wal Jamâ’ah (no. 706),
10. Abdullah bin Imam Ahmad dalam Kitâbus Sunnah (no. 490),
11. Al-Baihaqi dalam al-Asmâ’ was Shifât (II/68-69),
12. Ibnu Mandah dalam ar-Radddu ‘alal Jahmiyyah (no. 64).
13. At-Thabari dalam tafsirnya (no. 30217-30219).
Hadits ini diriwayatkan juga dari Shahabat Ibnu ‘Umar Radhiyallahu
anhuma, Abu Hurairah Radhiyallahu anhu , dan Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu
anhu .
Seorang ‘alim dari ulama Yahudi menyebutkan kepada Nabi Shallallahu
‘alaihi wa sallam apa yang mereka dapatkan dalam kitab mereka, Taurat,
yaitu penjelasan tentang keagungan Allâh, kecilnya semua makhluk di
hadapan-Nya Azza wa Jalla, dan bahwa Allâh meletakkannya di atas jari
jemari-Nya. Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam membenarkannya,
senang dengannya, dan membacakan ayat al-Qur’ân yang membenarkannya.
Hadits-hadits di atas dan yang semakna dengannya menunjukkan keagungan
Allâh Azza wa Jalla , keagungan kekuasaan-Nya. Allâh Azza wa Jalla telah
memperkenalkan diri-Nya kepada para hamba-Nya dengan sifat-sifat-Nya
dan keajaiban makhluk-makhluk-Nya. Semuanya menunjukkan dan mengenalkan
kesempurnaan-Nya, bahwa Dia satu-satunya yang berhak diibadahi, tidak
ada sekutu bagi-Nya dalam rububiyyah dan uluhiyyah-Nya. Firman Allâh
Azza wa Jalla :
ذَٰلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْحَقُّ وَأَنَّ مَا يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ الْبَاطِلُ وَأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيرُ
Demikianlah, karena sesungguhnya Allâh, Dia-lah yang hak dan
sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain dari Allâh itulah yang
batil; dan sesungguhnya Allâh Dialah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar.
[Luqmân/31:30]
سَنُرِيهِمْ آيَاتِنَا فِي الْآفَاقِ وَفِي أَنْفُسِهِمْ حَتَّىٰ
يَتَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُ الْحَقُّ ۗ أَوَلَمْ يَكْفِ بِرَبِّكَ أَنَّهُ
عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ
Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di
segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka
bahwa al-Qur’ân itu benar. Dan apakah Rabbmu tidak cukup (bagi kamu)
bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu.” [Fush-shilat/41:53]
Hadits-hadits di atas menetapkan sifat-sifat bagi Allâh sesuai dengan
kebesaran dan kemuliaan-Nya dengan tanpa tamtsîl dan juga menetapkan
kesucian Allâh Azza wa Jalla dari sifat-sifat yang tidak layak tanpa
ta’thîl. Inilah yang ditunjukkan oleh nash-nash al-Qur’ân dan as-Sunnah,
yang diyakini oleh salaful ummah dan para Imam mereka, dan orang-orang
yang mengikuti mereka dengan baik, serta meneladani jejak mereka di atas
Islam dan iman.
Perhatikanlah apa yang terkandung dalam hadits-hadits shahih ini, Nabi
Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengagungkan Rabb-nya dengan menyebutkan
sifat-sifat kesempurnaan-Nya sesuai dengan keagungan dan kemuliaan-Nya.
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam membenarkan berita orang-orang Yahudi
tentang sifat-sifat Allâh yang menunjukkan kebesaran-Nya.
Perhatikanlah hadits-hadits ini, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam
menetapkan sifat ‘uluww (sifat ketinggian) bagi Allâh Azza wa Jalla di
atas ‘Arsy-Nya. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang
sifat-sifat Allâh dengan jelas dan tegas.
Menetapkan sifat tangan bagi Allâh Azza wa Jalla , menetapkan sifat
jari-jemari Allâh Azza wa Jalla . Sesungguhnya Allâh Mahabesar, semua
makhluk-Nya berada di jari-jemari Allâh Azza wa Jalla , langit dan bumi
digenggam di tangan kanan Allâh Yang Maha Mulia dan Maha Besar. Langit
digulung oleh Allâh Azza wa Jalla seperti menggulung lembaran kertas.
Allâh Azza wa Jalla berfirman :
يَوْمَ نَطْوِي السَّمَاءَ كَطَيِّ السِّجِلِّ لِلْكُتُبِ ۚ كَمَا
بَدَأْنَا أَوَّلَ خَلْقٍ نُعِيدُهُ ۚ وَعْدًا عَلَيْنَا ۚ إِنَّا كُنَّا
فَاعِلِينَ
(Yaitu) pada hari Kami menggulung langit sebagai menggulung
lembaran-lembaran kertas. Sebagaimana Kami telah memulai penciptaan
pertama begitulah Kami akan mengulanginya. Itulah janji yang pasti Kami
tepati;sesungguhnya Kamilah yang akan melaksanakannya.”
[al-Anbiyâ’/21:104]
Kita wajib menetapkan semua sifat-sifat Allâh sebagaimana yang Allâh
Azza wa Jalla tetapkan dalam al-Qur’ân dan ditetapkan oleh Rasûlullâh
Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Tidak boleh seorang pun mengingkarinya,
mentakwil atau mentahrif (memalingkan dari makna yang sebenarnya kepada
makna yang lain) dan tidak boleh tamtsil atau tasybih (menyamakan Allâh
dengan makhluk-Nya).
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
… Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia dan Dia-lah Yang Mahamendengar dan Mahamelihat.” [asy-Syûrâ/42:11]
Para Shahabat Radhiyallahu anhum menerima sifat-sifat Rabb yang
dijelaskan dan ditetapkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berupa
sifat-sifat kesempurnaan dan sifat-sifat keagungan; Mereka
mengimaninya; Mereka beriman kepada kitab Allâh dan sifat-sifat Allâh
yang Maha Mulia lagi Maha tinggi yang terkandung di dalamnya,
sebagaimana Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman :
وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ يَقُولُونَ آمَنَّا بِهِ كُلٌّ مِنْ عِنْدِ رَبِّنَا
… Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata, ‘Kami beriman kepada
ayat-ayat yang mutasyâbihât, semuanya itu dari sisi Rabb kami …. ” [Ali
‘Imrân/3:7]
Demikian pula para tabi’in dan tabi’ut tabi’in, para Imam, baik dari
kalangan ahli hadits maupun ahli fiqih, seluruhnya menyifati Allâh Azza
wa Jalla dengan sifat-sifat yang Allâh sematkan dan tetapkan untuk
diri-Nya serta sifat-sifat yang dipergunakan oleh Rasul-Nya untuk Allâh
Azza wa Jalla . Mereka tidak memungkiri sifat-sifat Allâh Azza wa Jalla
sedikitpun.
Tidak ada seorang pun dari mereka yang berkata, “Maksud dari ayat-ayat
tentang sifat ini bukanlah zhahirnya atau bukan yang tersurat.”
Tidak ada juga yang mengatakan bahwa menetapkan ataupun mengakui
sifat-sifat itu sebagai sifat bagi Allâh Azza wa Jalla berarti
menyamakan Allâh dengan makhluk. Bahkan sebaliknya, mereka sangat
mengingkari siapa saja yang mengatakan demikian dengan pengingkaran yang
keras. Demi membantah syubhat-syubhat ini mereka menulis kitab-kitab
besar yang terkenal yang ada di tangan Ahlus Sunnah wal Jama’ah.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata, “Ini adalah kitab
Allâh Azza wa Jalla , dari awal hingga akhir, Sunnah Rasûlullâh
Shallallahu ‘alaihi wa sallam , perkataan para Shahabat Radhiyallahu
anhum dan tabi’in, perkataan Ulama-ulama lainnya menetapkan, baik dalam
bentuk nash maupun dalam bentuk zhahir bahwa Allâh di atas segala
sesuatu, di atas langit-Nya, Allâh di atas ‘Arsy-Nya, bersemayam di
atasnya, sebagaimana firman Allâh Azza wa Jalla :
إِلَيْهِ يَصْعَدُ الْكَلِمُ الطَّيِّبُ وَالْعَمَلُ الصَّالِحُ يَرْفَعُهُ
…KepadaNya-lah naik perkataan-perkataan yang baik dan amal yang shalih dinaikkan-Nya… [Fâthir/35:10]
Firman Allâh Subhanahu wa Ta’ala :
أَأَمِنْتُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ أَنْ يَخْسِفَ بِكُمُ الْأَرْضَ فَإِذَا
هِيَ تَمُورُ﴿١٦﴾أَمْ أَمِنْتُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ أَنْ يُرْسِلَ
عَلَيْكُمْ حَاصِبًا ۖ فَسَتَعْلَمُونَ كَيْفَ نَذِيرِ
Apakah kamu merasa aman dari Allâh yang (berkuasa) di langit bahwa Dia
akan menjungkirbalikkan bumi bersama kamu sehingga dengan tiba-tiba bumi
itu bergoncang? Atau apakah kamu merasa aman dari Allâh yang (berkuasa)
di langit bahwa Dia akan mengirimkan badai yang berbatu. Maka kelak
kamu akan mengetahui bagaimana (akibat mendustakan) peringatan-Ku.”
[al-Mulk/67:16-17]
Firman Allâh Azza wa Jalla :
يُدَبِّرُ الْأَمْرَ مِنَ السَّمَاءِ إِلَى الْأَرْضِ ثُمَّ يَعْرُجُ
إِلَيْهِ فِي يَوْمٍ كَانَ مِقْدَارُهُ أَلْفَ سَنَةٍ مِمَّا تَعُدُّونَ
Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik
kepadanya dalam satu hari yang kadarnya adalah seribu tahun menurut
perhitunganmu [as-Sajdah/32:5]
يَخَافُونَ رَبَّهُمْ مِنْ فَوْقِهِمْ
Mereka takut kepada Rabb mereka yang di atas mereka…” [an-Nahl/16:50]
تَنْزِيلًا مِمَّنْ خَلَقَ الْأَرْضَ وَالسَّمَاوَاتِ الْعُلَى﴿٤﴾الرَّحْمَٰنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَىٰ
Yaitu diturunkan dari Allâh yang menciptakan bumi dan langit yang
tinggi. (Yaitu) Rabb yang Maha Pemurah yang bersemayam di atas ‘Arsy.”
[Thâhâ/20:4-5]
Imam asy-Syâfi’i rahimahullah berkata, “Allâh Azza wa Jalla mempunyai
nama-nama dan sifat-sifat. Tidak patut bagi seseorang pun untuk
menolaknya. Barangsiapa menyelisihinya setelah hujjah tegak atasnya,
maka dia kafir. Adapun sebelum tegaknya hujjah, maka dia masih bisa
dimaklumi karena kejahilan. Kami menetapkan sifat-sifat ini dan
menafikan tasybîh dari-Nya sebagaimana Allâh menafikan tasybîh dari
Diri-Nya. Allâh Azza wa Jalla berfirman :
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
“…Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia dan Dia-lah Yang Mahamendengar dan Mahamelihat.” [asy-Syûrâ/42:11][7]
وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَىٰ فَادْعُوهُ بِهَا ۖ وَذَرُوا الَّذِينَ
يُلْحِدُونَ فِي أَسْمَائِهِ ۚ سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
Dan Allâh memiliki Asma-ul Husna (nama-nama terbaik), maka bermohonlah
kepada-Nya dengan menyebut Asma-ul Husna itu dan tinggalkanah
orang-orang yang menyalahartikan nama-nama-Nya. Mereka kelak akan
mendapat balasan terhadap apa yang mereka kerjakan.” [al-A’râf/7:180]
Allâh Azza wa Jalla menetapkan nama-nama dan sifat. Allâh Azza wa Jalla
menetapkan bagi diri-Nya sifat mendengar, melihat, hidup, berkuasa,
memiliki dua tangan, wajah, ilmu, dan sifat-sifat lainnya. Allâh
menetapkan bagi diri-Nya semua sifat-sifat yang sempurna. Maka
barangsiapa mengingkari atau menakwilkan berarti dia telah berbuat ilhâd
(mengingkari nama-nama dan sifat-sifat-Nya).
Firman Allâh Azza wa Jalla yang artinya, “Mereka kelak akan mendapat
balasan terhadap apa yang mereka kerjakan.” merupakan ancaman keras dari
Allâh Azza wa Jalla terhadap orang-orang yang menyalahi nama-nama Allâh
dan sifat-Nya.
Dalam hadits di awal pembahasan ini, Nabi n membacakan ayat :
وَمَا قَدَرُوا اللَّهَ حَقَّ قَدْرِهِ
“Dan mereka tidak mengagungkan Allâh dengan pengagungan yang semestinya…” [az-Zumar/39:67]
Ayat ini mencakup :
1. Orang-orang yang mengingkari adanya Allâh Azza wa Jalla , yaitu kaum Dahriyyun.
وَقَالُوا مَا هِيَ إِلَّا حَيَاتُنَا الدُّنْيَا نَمُوتُ وَنَحْيَا وَمَا
يُهْلِكُنَا إِلَّا الدَّهْرُ ۚ وَمَا لَهُمْ بِذَٰلِكَ مِنْ عِلْمٍ ۖ إِنْ
هُمْ إِلَّا يَظُنُّونَ
Dan mereka berkata, ‘Kehidupan ini tidak lain hanyalah keidupan di dunia
saja, kita mati dan kita hidup, dan tidak ada yang membinasakan kita
selain masa.’ Tetapi mereka tidak mempunyai ilmu tentang itu, mereka
hanyalah menduga-duga saja.” [al-Jâtsiyah/45:24]
أَمْ خُلِقُوا مِنْ غَيْرِ شَيْءٍ أَمْ هُمُ الْخَالِقُون﴿٣٥﴾ أَمْ خَلَقُوا السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ ۚ بَلْ لَا يُوقِنُونَ
Atau apakah mereka tercipta tanpa asal-usul ataukah mereka yang
menciptakan (diri mereka sendiri)? Ataukah mereka telah menciptakan
langit dan bumi itu; sebenarnya mereka tidak meyakini (apa yang mereka
katakan).” [at-Thûr/52:35-36]
Mereka pada hakikatnya tidak mengagungkan Allâh dengan sebenar-benar pengagungan.
2. Orang-Orang Musyrikin yang mengakui adanya Khaliq (Pencipta),
Mudabbir (Pengatur alam semesta), muhyi (Yang Menghidupkan), Mumît (Yang
Mematikan), yaitu Allâh Azza wa Jalla . Tapi mereka menyembah selain
Allâh atau mereka beribadah kepada Allâh tapi juga bersamaan dengan itu
ia menyembah tuhan yang lain, seperti menyembah berhala, batu, pohon,
kubur, benda-benda mati dan lainnya. Mereka pada hakikatnya tidak
menghargai Allâh Azza wa Jalla dengan sebenarnya. Padahal yang mereka
sembah tidak bisa menciptakan, tidak bisa memberi rizki, tidak bisa
memberikan manfaat, tidak bisa menolak bahaya bahkan tidak bisa
menghidupkan dan mematikan. Seperti orang-orang yang datang ke kubur
untuk meminta sesuatu kepada mereka, meminta hajat kepada mereka bahkan
ada yang thawaf di kuburan. Mereka pada hakikatnya tidak mengagungkan
Allâh Azza wa Jalla dan tidak memuliakannya. Mereka telah berbuat syirik
yang besar.
3. Demikian juga orang-orang yang mengingkari nama-nama dan sifat Allâh,
yang Allâh dan Rasul-Nya telah tetapkan. Begitu juga orang yang
mentakwil sifat-sifat Allâh Azza wa Jalla atau memaknainya dengan makna
yang lain atau dengan makna zhahir dan batin atau orang yang menyamakan
Allâh Azza wa Jalla dengan makhluk-Nya pada hakikatnya. Mereka ini tidak
mengagungkan Allâh Azza wa Jalla , seperti orang-orang yang mengingkari
tentang keberadaan Allâh Azza wa Jalla di atas ‘Arsy-Nya. Mereka
mentakwilkannya dengan arti kekuasaan atau lainnya. Pada hakikatnya
mereka ini tidak mengagungkan Allâh Azza wa Jalla. Begitu juga
orang-orang yang mengartikan ‘Tangan’ Allâh dengan kekuasaan atau
nikmat; Begitu juga orang yang mengatakan bahwa ayat atau hadits ini
tidak jelas tentang sifat Allâh; Atau mengatakan bahwa itu adalah kiasan
atau mengatakan bahwa itu bukan hakikatnya. Mereka ini pada hakikatnya
tidak menghargai dan tidak mengagungkan Allâh Azza wa Jalla . Mereka
tidak beradab kepada Allâh Azza wa Jalla .
4. Orang yang tidak beriman kepada qadha’ dan qadar yang baik dan buruk
dan tidak beriman dengan kekuasaan Allâh, bahwa Allâh Mahaberkuasa atas
segala sesuatu. Orang yang tidak mengimani ini, maka ia tidak
mengagungkan Allâh Azza wa Jalla dengan sebesar-besar pengagungan. Dan
masih banyak contoh yang lainnya.
FAWA-ID HADITS
1. Penjelasan tentang keagungan Allâh Azza wa Jalla dan ke-Mahabesaran
Allâh Azza wa Jalla. Allâh Mahabesar, Allâh Mahaberkuasa, Allâh
Mahaagung. Semua nama-nama Allâh adalah nama-nama yang paling indah dan
semua sifat-sifatnya adalah sifat yang tinggi dan sempurna.
2. Seluruh makhluk, langit, bumi, dan seluruh isinya adalah sangat kecil dibandingkan Allâh Yang Mahatinggi dan Mahabesar.
3. Menetapkan kedua tangan, jari-jari yang hakiki bagi Allâh Azza wa Jalla yang sesuai dengan keagungan dann kemuliaan-Nya
4. Ilmu yang mulia ini terdapat dalam Taurat dan mereka tidak mengingkarinya dan tidak mentahrifnya
5. Menerima kebenaran yang datang sesuai dengan al-Qur’ân dan as-Sunnah meski disampaikan oleh orang Yahudi
6. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bergembira dan tertawa karena
membenarkan apa yang terdapat dalam Taurat itu sesuai dengan yang ada
dalam al-Qur’ânul Karîm.
7. Pada hari Kiamat langit dan bumi akan dilipat dengan tangan kanan Allâh Yang Mahamulia.
8. Orang-orang Yahudi, Nasrani, kaum Musyrikin mereka tidak mengagungkan Allâh Azza wa Jalla dengan pengagungan yang benar.
9. Orang-orang yang mengingkari nama-nama dan sifat-sifat Allâh Azza wa
Jalla , orang-orang yang mentakwil/mentahrif sifat-sifat Allâh, pada
hakikatnya mereka tidak mengagungkan Allâh Azza wa Jalla dengan
pengagungan yang benar.
10. Allâh Azza wa Jalla pencipta seluruh makhluk dan hanya Allâh Azza wa
Jalla yang berkuasa sementara seluruh kekuasaan makhluk itu akan
binasa.
11. Wajib menetapkan Allâh Azza wa Jalla itu Maha Tinggi dan Allâh
bersemayam di atas ‘Arsy sebagai bantahan kepada Jahmiyyah, Mu’tazilah.
12. Menetapkan ilmu-Nya Allâh Azza wa Jalla yang meliputi segala sesuatu
bahwa tidak ada satu pun yang terluput bagi Allâh Azza wa Jalla di
langit dan di bumi.
13. Wajib mengesakan Allâh Azza wa Jalla dalam rububiyyah, uluhiyyah, dan juga dalam nama dan sifat-sifat-Nya.
14. Allâh yang Mahabesar yang menciptakan seluruh makhluk maka Allâh
Azza wa Jalla satu-satunya yang wajib diibadahi. Hanya Allâh Azza wa
Jalla saja yang dapat menghidupkan, mematikan, memberikan manfaat,
menolak bahaya, memberikan rrizki, dan mengumpulkan seluruh makhluk di
hadapan-Nya pada hari Kiamat.
15. Keagungan Allâh Azza wa Jalla dan kebesaran-Nya semestinya
menimbulkan kecintaan, ketundukan, rasa hina, rasa takut, dan berharap
hanya kepada Allâh Azza wa Jalla . Allâh Subhanahu wa Ta’ala
satu-satunya Dzat yang wajib diibadahi dengan ikhlas dan benar.
Tanda-tanda kekuasaan Allah Azza wa Jalla , yang Ia ciptakan di langit
dan di bumi dan di antara keduanya, semua itu tidak diciptakan dengan
sia-sia, tetapi mengandung tujuan. Yaitu untuk kemashlahatan
makhluk-makhluk-Nya, sebagai sarana beribadah kepada Allah Subhanahu wa
Ta’ala , sekaligus membuktikan tentang keesaan-Nya. Allah Subhanahu wa
Ta’ala berfirman, yang artinya:
إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ
وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ الَّذِينَ يَذْكُرُونَ
اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي
خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَاطِلًا
سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya
malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal,
(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau
dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit
dan bumi (seraya berkata): “Ya Rabb kami, tiadalah Engkau menciptakan
ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa
neraka”. [Ali ‘Imran/3:190-191].
Yang dimaksud dengan merenungi ayat-ayat Allah, ialah melihatnya,
merenungi manfaat-manfaatnya, sehingga menghasilkan sebuah keyakinan
yang mendalam bahwa hanya Allah Azza wa Jalla saja dzat satu-satunya
yang menciptakan semua itu. Dia-lah satu-satunya ilah yang berhak untuk
disembah. Dia-lah satu-satunya ilah yang berhak ditakuti, ditaati, dan
hanya Dia yang kita jadikan sebagai petunjuk, sebagai bukti keagungan
dan kekuasaan-Nya. Dia tidak menciptakan semua itu dengan sia-sia.
وَمَا خَلَقْنَا السَّمَاءَ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا بَاطِلًا ۚ
ذَٰلِكَ ظَنُّ الَّذِينَ كَفَرُوا ۚ فَوَيْلٌ لِلَّذِينَ كَفَرُوا مِنَ
النَّارِ
Dan kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara
keduanya tanpa hikmah. Yang demikian itu adalah anggapan orang-orang
kafir; maka celakalah orang-orang kafir itu, karena mereka akan masuk
neraka. [Shâd/38:27].
Ayat-ayat Allah Azza wa Jalla itu ada dua macam:
Pertama : Yaitu ayat-ayat Allah Azza wa Jalla yang bisa kita lihat.
Yaitu ayat-ayat Allah Azza wa Jalla yang berupa semua ciptaan-Nya, baik
di langit maupun yang di bumi, dengan segala makhluk yang ada di antara
keduanya. Jumlahnya sangat banyak, dan kita tidak mengetahui jumlahnya.
Semua itu menjadi bukti yang menunjukkan bahwa hanya Dia-lah
satu-satunya Rabb. Semua itu menunjukkan kekuasaan dan keagungan-Nya.
Suatu ketika ada seorang Arab badui ditanya: “Bagaimana engkau bisa mengenal Tuhanmu?”
Dia pun menjawab: “Telapak kaki, menujukkan adanya orang yang berjalan.
Kotoran, menunjukkan adanya unta. Bukankah alam raya ini menunjukkan ada
penciptanya yang Maha Perkasa lagi Maha Agung?”
إِنَّ رَبَّكُمُ اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي
سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَىٰ عَلَى الْعَرْشِ يُغْشِي اللَّيْلَ
النَّهَارَ يَطْلُبُهُ حَثِيثًا وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ وَالنُّجُومَ
مُسَخَّرَاتٍ بِأَمْرِهِ ۗ أَلَا لَهُ الْخَلْقُ وَالْأَمْرُ ۗ تَبَارَكَ
اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ
Sesungguhnya Rabb kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan
bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas ‘Arsy; Dia menutupkan
malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya
pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada
perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah.
Maha Suci Allah, Rabb semesta alam. [al-A’râf/7:54].
Kedua : Ayat-ayat Allah Azza wa Jalla yang berupa tulisan. Yaitu kalam
dan wahyu Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah diturunkan kepada Nabi
Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam ; yakni Al-Qur`aan yang ada di
hadapan kita. Yang kita diperintahkan untuk mentadaburi dan merenungkan
kandungan maknanya, menjalankan semua perintah yang ada di dalamnya,
serta menjahui semua larangannya. Kelak, ia akan menjadi alasan Allah
untuk mengadzab manusia, bila manusia menyia-nyiakannya. Atau
sebaliknya, ia akan menjadi alasan manusia untuk mendapatkan balasan
kenikmatan, bila manusia mau berpegang teguh dan mengamalkan dalam
kehidupannya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
الْقُرْآنُ حُجَّةٌ لَكَ أَوْ عَلَيْكَ
Dan Al-Qur`an itu bisa menjadi hujjah (kenikmatan bagimu) atau bisa menjadi malapetaka bagimu
إِنَّ هَٰذَا الْقُرْآنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ وَيُبَشِّرُ
الْمُؤْمِنِينَ الَّذِينَ يَعْمَلُونَ الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ أَجْرًا
وَأَنَّ الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِالْآخِرَةِ أَعْتَدْنَا لَهُمْ
عَذَابًا أَلِيمًا
Sesungguhnya Al-Qur`an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih
lurus dan memberi khabar gembira kepada orang-orang mukmin yang
mengerjakan amal shalih bahwa bagi mereka ada pahala yang besar. Dan
sesungguhnya orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat,
Kami sediakan bagi mereka adzab yang pedih. [al-Isrâ`/17:9-10].
Allah meminta kita untuk merenungi, memikirkan dan mencermati ayat-ayat
Allah Azza wa Jalla. Dengan merenungi ayat Allah Subhanahu wa Ta’ala ,
maka akan menumbuhkan rasa keagungan terhadap Allah Azza wa Jalla dalam
hati kita, kecintaan yang mendalam kepada-Nya, mengokohkan keimanan
kepada-Nya, memantapkan keyakinan tentang keesaan-Nya. Sebaliknya, jika
kita meninggalkan ayat-ayat Allah Subhanahu wa Ta’ala , maka hati akan
menjadi keras, mata menjadi buta, sehingga seakan tidak ada bedanya
dengan binatang ternak yang hidup di muka bumi lalu mati menjadi tanah.
Pernahkan kita melihat alat yang kecil lagi rumit yang dibuat oleh
manusia pada zaman sekarang, seperti hp, laptop, dan lainnya? Seberapa
besar kekaguman manusia terhadap alat-alat tersebut? Seberapa besar
penghargaan manusia dengan penemuan itu? Padahal, itu hanya sebagian
kecil dari ciptaan-ciptaan Allah Subhanahu wa Ta’ala , karena penemuan
itu bukan murni hasil karya manusia, tetapi masih termasuk ciptaan Allah
Azza wa Jalla . Yakni Allah Subhanahu wa Ta’ala mengilhamkan dan
memberi ilmu kepada manusia, sehingga ia mampu menciptakan alat-alat
itu.
Jika demikian, bagaimana mungkin manusia bisa terkagum-kagum dengan
hasil karyanya, kemudian ia lupa dengan tanda-tanda kekusaan Allah Azza
wa Jalla yang digelar di alam raya ini, bahkan tanda-tanda kebesaran-Nya
di dalam diri manusia itu sendiri?
وَفِي الْأَرْضِ آيَاتٌ لِلْمُوقِنِينَ وَفِي أَنْفُسِكُمْ ۚ أَفَلَا تُبْصِرُونَ
Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang
yang yakin, dan (juga) pada dirimu sendiri; maka apakah kamu tidak
memperhatikan? [adz-Dzâriyât/51:20-21].
أَفَلَا يَنْظُرُونَ إِلَى الْإِبِلِ كَيْفَ خُلِقَتْ وَإِلَى السَّمَاءِ
كَيْفَ رُفِعَتْ وَإِلَى الْجِبَالِ كَيْفَ نُصِبَتْ وَإِلَى الْأَرْضِ
كَيْفَ سُطِحَتْ
Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana dia diciptakan;
dan langit, bagaimana ia ditinggikan? Dan gunung-gunung, bagaimana ia
ditegakkan? Dan bumi, bagaimana ia dihamparkan? [al-Ghasyiyah/88:17-20].
Bumi, tempat tinggal kita ini, kita berjalan di atasnya, yang membawa
dan mengangkat kita; langit yang menaungi kita, binatang ternak yang
kita naiki, kita minum susunya, kita makan dagingnya, dan
manfaat-manfaat lainnya, mengapa kita tidak mau mencermati dan
merenunginya? Mengapa kita tidak mau menggunakan akal kita untuk
memahami bahwa semua makhluk itu tidak diciptakan dengan sia-sia, tidak
diciptakan begitu saja lalu di biarkan? Semua itu diciptakan untuk
maksud yang sangat mulia.
Kewajiban kita ialah untuk mencermati dan merenungi makhluk-makhluk
Allah, memperhatikan tanda-tanda kekuasaan-Nya. Kewajiban setiap muslim
ialah menjadikan apa yang dilihat di sekitarnya, bahkan apa yang ada di
dalam dirinya itu memiliki nilai di depan matanya, yaitu untuk
menunjukkan betapa besar keagungan dan kekuasaan penciptannya,
menunjukkan betapa indah ciptaan-Nya, betapa banyak hikmah dari
ciptaan-Nya. Allah Azza wa Jalla mengatur semua itu. Allahu Akbar!
Allahu Akbar.
Marilah kita tetap dalam keadaan bertakwa kepada Allah Azza wa Jalla .
Karena sesungguhnya, Allah Subhanahu wa Ta’ala mencela orang-orang yang
berpaling dari ayat-ayat-Nya, tidak mau merenungi dan mentadaburinya.
Allah berfirman :
وَكَأَيِّنْ مِنْ آيَةٍ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ يَمُرُّونَ
عَلَيْهَا وَهُمْ عَنْهَا مُعْرِضُونَ وَمَا يُؤْمِنُ أَكْثَرُهُمْ
بِاللَّهِ إِلَّا وَهُمْ مُشْرِكُونَ أَفَأَمِنُوا أَنْ تَأْتِيَهُمْ
غَاشِيَةٌ مِنْ عَذَابِ اللَّهِ أَوْ تَأْتِيَهُمُ السَّاعَةُ بَغْتَةً
وَهُمْ لَا يَشْعُرُونَ
Dan banyak sekali tanda-tanda (kekuasaan Allah) di langit dan di bumi
yang mereka melaluinya, sedang mereka berpaling dari padanya. Dan
sebahagian besar dari mereka tidak beriman kepada Allah, melainkan dalam
keadaan mempersekutukan Allah (dengan sembahan-sembahan lain). Apakah
mereka merasa aman dari kedatangan siksa Allah yang meliputi mereka,
atau kedatangan kiamat kepada mereka secara mendadak, sedang mereka
tidak menyadarinya?[Yûsuf/12 : 105-107]
Mereka tak ubahnya seperti binatang ternak. Disebutkan dalam firman Allah
أَمْ تَحْسَبُ أَنَّ أَكْثَرَهُمْ يَسْمَعُونَ أَوْ يَعْقِلُونَ ۚ إِنْ هُمْ إِلَّا كَالْأَنْعَامِ ۖ بَلْ هُمْ أَضَلُّ سَبِيلًا
Atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau
memahami? Mereka itu tidak lain, hanyalah seperti binatang ternak,
bahkan mereka lebih sesat jalannya (dari binatang ternak
itu).[al-Furqân/25 : 44]
Di antara tanda kebesaran Allah yang lainnya, yang ada di bumi adalah
Anda melihat ada bagian bumi yang kering yang tidak tumbuh di sana
tumbuh-tumbuhan, kemudian Allah ﷻ turunkan air lalu tumbuhlah
tumbuh-tumbuhan yang hijau menyejukkan pandangan. Dan ini adalah
ayat-ayat Allah ﷻ yang menunjukkan kebesaran-Nya. Menunjukkan Dialah
Tuhan yang sebenarnya. Dan Dialah yang berkuasa atas segala sesuatu.
Allah ﷻ berfirman,
وَتَرَى الْأَرْضَ هَامِدَةً فَإِذَا أَنْزَلْنَا عَلَيْهَا الْمَاءَ
اهْتَزَّتْ وَرَبَتْ وَأَنْبَتَتْ مِنْ كُلِّ زَوْجٍ بَهِيجٍ (5) ذَلِكَ
بِأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْحَقُّ وَأَنَّهُ يُحْيِ الْمَوْتَى وَأَنَّهُ
عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ (6) وَأَنَّ السَّاعَةَ آتِيَةٌ لَا رَيْبَ
فِيهَا وَأَنَّ اللَّهَ يَبْعَثُ مَنْ فِي الْقُبُورِ
“Dan kamu lihat bumi ini kering, kemudian apabila telah Kami turunkan
air di atasnya, hiduplah bumi itu dan suburlah dan menumbuhkan berbagai
macam tumbuh-tumbuhan yang indah. Yang demikian itu, karena sesungguhnya
Allah, Dialah yang haq dan sesungguhnya Dialah yang menghidupkan segala
yang mati dan sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan
sesungguhnya hari kiamat itu pastilah datang, tak ada keraguan padanya;
dan bahwasanya Allah membangkitkan semua orang di dalam kubur.”
(QS:Al-Hajj | Ayat: 5-7).
Tanda-tanda kebesaran dan keagungan-Nya yang lain, yang ada di muka bumi
adalah variasinya jenis-jenis tumbuhan. Beda bentuknya, warnanya,
buahnya, rasanya, dll. padahal tumbuh-tumbuhan itu disirami dengan air
yang sama. Yaitu air yang berasal dari langit yang sama. Alangkah
agungnya tanda-tanda kebesaran-Nya. Allah ﷻ berfirman,
وَفِي الْأَرْضِ قِطَعٌ مُتَجَاوِرَاتٌ وَجَنَّاتٌ مِنْ أَعْنَابٍ وَزَرْعٌ
وَنَخِيلٌ صِنْوَانٌ وَغَيْرُ صِنْوَانٍ يُسْقَى بِمَاءٍ وَاحِدٍ
وَنُفَضِّلُ بَعْضَهَا عَلَى بَعْضٍ فِي الْأُكُلِ إِنَّ فِي ذَلِكَ
لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَعْقِلُونَ
“Dan di bumi ini terdapat bagian-bagian yang berdampingan, dan
kebun-kebun anggur, tanaman-tanaman dan pohon korma yang bercabang dan
yang tidak bercabang, disirami dengan air yang sama. Kami melebihkan
sebahagian tanam-tanaman itu atas sebahagian yang lain tentang rasanya.
Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran
Allah) bagi kaum yang berfikir.” (QS:Ar-Ra’d | Ayat: 4).
Allah jadikan bumi ini kokoh bagi para hamba-Nya. Bumi itu tenang tidak
membuat orang yang tinggal di atasnya berdesak-desakan. Allah ﷻ
berfirman,
اللَّهُ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ قَرَارًا
“Allah-lah yang menjadikan bumi bagi kamu tempat menetap…” (QS:Al-Mu’min | Ayat: 64).
Bumi itu kokoh, orang yang berjalan di atasnya tenang tidak terombang-ambing. Alangkah besar tanda kekuasaan Allah ﷻ di bumi.
Perhatikan dan renungkanlah, ketika bumi ini bergoncang, goncangan gempa
yang hanya terjadi pada suatu waktu dan pada bagian tertentu saja.
Lihatlah manusia kehilangan ketenangan mereka. Itu hanya terjadi di
sebagian tempat dan dalam waktu yang singkat. Apabila gempa itu sangat
kuat, maka ia bisa membinasakan manusia.
Kita mendengar baru-baru ini terjadi gempa di sebagian wilayah dunia.
Terjadi dalam suatu malam, namun mengakibatkan ribuan nyawa melayang.
Ribuan manusia binasa dalam satu waktu saja. Rumah-rumah mereka hancur.
Kebun dan ladang mereka rusak. Ini adalah tanda kebesaran Allah. Allah ﷻ
mampu mematikan ribuan manusia dalam satu waktu. Dialah yang kuasa atas
segala sesuatu. Allah ﷻ berfirman,
وَمَا نُرْسِلُ بِالْآيَاتِ إِلَّا تَخْوِيفًا
“Dan Kami tidak memberi tanda-tanda itu melainkan untuk menakuti.” (QS:Al-Israa’ | Ayat: 59).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar