Sudah rahasia umum, bahwa munculnya Islam dimuka bumi yang dibawa oleh
Rasulullah saw, tidak pernah sepi dari tuduhan-tudahan miring yang
sengaja dilakukan oleh orang-orang kafir ataupun munafiq yang ditujukan
pada Islam.
Nah, kita tentunya ingat dengan peristiwa berita bohong atau yang
masyhur dikenal dalam sejarah dengan sebutan “hadits ifky”. Yaitu, kisah
tentang tuduhan selingkuh yang ditujukan kepada sayyidatuna Aisyah r.a.
penyebar berita bohong ini adalah diplopori oleh seorang pemimpin
munafiq yang bernama Abdullah bin Ubay bin salul.
Peristiwa ini bermula ketika Rasulullah saw hendak pergi ke medan
pertempuran(perang bani musytoliq). Rasulullah saw mengundi semua
istrinya. Jika salah satu diantara mereka namanya keluar, maka berhak
pergi bersama Rasulullah. Begitulah kebiasaan rasulullah setiap kali
hendak bepergian. Kebetulan pada undian kali ini, Aisyahlah yang namanya
keluar. Sehingga ia berhak pergi bersama rasulullah saw. Alhasil,
setelah perang selesai. Kalung aisyah hilang. Maka Iapun mencari
kesana-kemari. Sehingga Ia tertinggal jauh dari kelompok para prajurit.
Kebetulan, Sofwan bin Dikwan selaku ketua rombongan memeriksa rombongan
kesana-kemari, untuk mengecek kelengkapan anggota. Sampai akhirnya
Sofwan bertemu Aisyah yang sedang mencari kalungnya yang hilang.
Berduaannya Sofwan dan Aisyah ini diketahui oleh seseorang. Sehingga
pada akhirnya berita tersebut terdengar oleh pemimpin munafiq yang
terkenal ulung dalam membuat-buat berita bohong. Sehingga Ia pun
memanfaatkan berita tersebut, untuk disebarluaskan dengan bumbu-bumbu
menarik yang Ia buat-buat.
Perang Bani Mushtaliq juga dikenali dengan nama Perang Muraisi'. Perang
ini terjadi dalam bulan syaban, tahun kelima Hijrah. Rasulullah SAW
telah membina kubu peperangan di sekeliling sebuah telaga yang disebut
telaga Murasi' berhampiran Nejed. Buqat pertama kalinya, kaum Munafiq
menyertai jentera tentera ISLAM untun pergi berperang. Sesungguhnya,
orang Munafiq adalah orang ISLAM yang khianat. Mereka menyertai
peperangan kali ini kerana mereka berpendapat orang ISLAM akan menang
mudah.
Seperti kebiasaan, Nabi Muhammad SAW akan mengundi para isteri yang akan
menemani baginda berangkat ke medan peperangan. Maka, Aisyah Humaira
telah terpilih untuk menemani Rasulullah SAW. Dalam perjalanan itu, sang
bidadari Aisyah Humaira memakai seutas rantai yang dipinjam daripada
saudaranya, Asma.
MasyaALLAH, ujian dan ketentuan ALLAH buat hamba hambaNYA yang redha.
Rantai milik sang bidadari telah terputus di tengah jalan. Hal ini
menyebabkan Aisyah Humaira berasa cemas. Ketika itu beliau baru berusia
14 tahun, maka tanpa berfikir panjang beliau telah meninggalkan pasukan
ISLAM untuk mencari rantai tersebut.
Alloh Subhanahu Wata'ala Berfirman;
إِنَّ الَّذِينَ جَاءُوا بِالإفْكِ عُصْبَةٌ مِنْكُمْ لَا تَحْسَبُوهُ
شَرًّا لَكُمْ بَلْ هُوَ خَيْرٌ لَكُمْ لِكُلِّ امْرِئٍ مِنْهُمْ مَا
اكْتَسَبَ مِنَ الإثْمِ وَالَّذِي تَوَلَّى كِبْرَهُ مِنْهُمْ لَهُ عَذَابٌ
عَظِيمٌ (11)
Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari
golongan kalian juga. Janganlah kira bahwa berita bohong itu buruk bagi
kahan, bahkan ia baik bagi kalian. Tiap-tiap orang dari mereka mendapat
balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa di antara mereka yang
mengambil bagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu,
baginya azab yang besar.(QS An-Nur: 11)
Ayat ini hingga sembilan ayat berikutnya yang jumlah seluruhnya adalah
sepuluh ayat diturunkan berkenaan dengan Siti Aisyah Ummul Mukminin r.a.
ketika ia dituduh berbuat serong oleh sejumlah orang yang menyiarkan
berita bohong dari kalangan orang-orang munafik, padahal berita yang
mereka siarkan itu bohong dan dusta belaka serta buat-buatan mereka
sendiri. Peristiwa tersebut membuat Allah cemburu (murka) demi Siti
Aisyah dan Nabi-Nya. Maka Allah Swt. menurunkan wahyu yang membersihkan
kehormatan Siti Aisyah demi memelihara kehormatan Rasulullah Saw. Untuk
itu Allah Swt. berfirman:
{إِنَّ الَّذِينَ جَاءُوا بِالإفْكِ عُصْبَةٌ}
Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari segolongan kalian juga,(An-Nur: 11)
Yakni sejumlah orang dari kalangan kalian sendiri; bukan satu atau dua
orang, melainkan segolongan orang. Orang yang pertama menyebar isu keji
ini adalah Abdullah ibnu Ubay ibnu Salul, pemimpin kaum munafik. Dialah
orang yang mempunyai prakarsa menyebarkan isu dusta itu sehingga ada
sebagian dari kalangan kaum muslim yang termakan dan terhasut oleh isu
yang disebarkannya, yang akhirnya menjadi bahan pergunjingan mereka.
Sedangkan sebagian kaum muslim lainnya tidak mempunyai tanggapan apa pun
terhadap peristiwa itu. Keadaan ini berlanjut sampai hampir satu bulan
lamanya. Akhirnya turunlah ayat-ayat Al-Qur'an yang menjelaskan duduk
perkara yang sebenarnya. Keterangan mengenai kisah ini secara rinci
didapat di dalam hadis-hadis sahih.
Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abdur Razzaq,
telah menceritakan kepada kami Ma'mar, dari Az-Zuhri, telah menceritakan
kepadaku Sa'id ibnul Musayyab dan Urwah ibnuzZubair, Alqamah ibnu
Waqqas, serta Ubaidillah ibnu Abdullah ibnu Atabah ibnu Mas'ud tentang
kisah Aisyah istri Nabi Saw. saat para penyiar berita bohong melemparkan
tuduhan mereka terhadapnya, lalu Allah membersihkan nama Siti Aisyah
r.a. melalui wahyu-Nya. Perawi mengatakan bahwa semua sumber
menceritakan kepadaku sejumlah hadis mengenai kisah Siti Aisyah ini.
Tetapi sebagian dari mereka ada yang lebih rinci dalam mengemukakan
kisahnya dan lebih kuat daripada lainnya. Aku telah menghafal semua
hadis yang diriwayatkan masing-masing dari mereka yang bersumber dari
Siti Aisyah. Pada garis besarnya sebagian dari kisah mereka membenarkan
sebagian lainnya.
Mereka mengisahkan bahwa Siti Aisyah r.a. istri Nabi Saw. pernah
mengatakan bahwa Rasulullah Saw. apabila hendak bepergian terlebih
dahulu melakukan undian di antara para istrinya. Maka siapa pun di
antara mereka yang keluar namanya dalam undian itu, Rasulullah Saw.
membawanya pergi.
Aisyah r.a. menceritakan bahwa lalu Rasul Saw. melakukan undian di
antara kami untuk menentukan siapa yang akan menemaninya di antara kami
dalam peperangan yang akan dilakukannya. Maka keluarlah bagianku, lalu
aku berangkat bersama Rasulullah Saw. Demikian itu terjadi sesudah
diturunkan ayat hijab; dan aku dibawa di atas sekedupku dan beristirahat
di dalamnya.
Maka kami berangkat, dan manakala Rasulullah Saw. telah menyelesaikan
tugasnya dalam perang itu, dan kamipun kembali serta berada di dekat
Madinah, maka di suatu malam beliau menyerukan kepada rombongan untuk
berangkat. Ketika seruan berangkat telah dikumandangkan aku bangkit dan
berjalan sampai melewati barisan pasukan, setelah kupenuhi hajatku,
maka aku kembali ke sekedupku dan aku memegang dadaku, ternyata kalung
manik-manikku telah terputus dan terjatuh, maka aku kembali ke tempat
aku buang hajat dalam rangka mencari kalung itu, sehingga aku terlambat
karena mencarinya.
Lalu datanglah rombongan yang membawaku dan mereka langsung mengangkat
sekedupku lalu menaikkannya ke punggung unta yang menjadi kendaraanku,
sedang mereka mengira bahwa aku berada di dalamnya.
Aisyah mengatakan, bahwa kaum wanita pada saat itu bertubuh kurus-kurus,
tidak berat dan tidak gemuk karena daging, mereka hanya makan sedikit.
Maka kaum yang mengangkat sekedupku tidak merasa aneh dengan keringanan
sekedupku ketika mereka mengangkatnya dan menaikkannya ke punggung unta.
Sedang aku adalah seorang wanita yang berusia sangat muda. Mereka
langsung memberangkatkan untaku dan melanjutkan perjalanannya.
Aku baru menemukan kalungku setelah pasukan melanjutkan perjalanannya,
dan aku mendatangi tempat mereka, yang ternyata sudah kosong tiada
seorangpun yang tertinggal. Maka aku menuju ke tempat aku beristirahat
dengan harapan bahwa kaum akan merasa kehilanganku lalu akan kembali
menjemputku.
Ketika aku sedang duduk di tempat peristirahatanku itu tiba-tiba mataku
mengantuk akhirnya aku tertidur. Dan tersebutlah bahwa Safwan ibnul
Mu'attal Az-Zakwani beristirahat di belakang pasukan, dan dia
melanjutkan perjalanannya di malam hari, lalu ia sampai ke tempat aku
berada, dan dia melihat sosok manusia yang sedang tidur dalam kegelapan
malam.
Ia mendatangiku dan mengenalku ketika dia melihatku, karena dia pernah
melihatku sebelum diturunkan ayat yang memerintahkan berhijab, dan aku
terbangun ketika mendengar ucapan istirja'-nya (kalimat Inna Lillahi
wainna ilaihi raji'un) begitu ia mengenalku.
Maka dengan segera aku tutupi wajahku dengan kain jilbabku; demi Allah
dia tidak berkata kepadaku barang sepatah katapun dan aku tidak pernah
mendengar ucapan yang keluar darinya selain dari bacaan istirja'-nya
tadi saat dia merundukkan unta kendaraannya, dan unta kendaraannya
merundukkan kaki depannya lalu aku menaikinya.
Safwan berangkat seraya menuntun unta kendaraannya hingga kami sampai ke
tempat pasukan berada sesudah mereka turun untuk istirahat di waktu
tengah hari, maka binasalah orang yang binasa berkenaan dengan peristiwa
yang kualami itu. Dan orang yang menjadi sumber berita bohong itu
adalah Abdullah ibnu Ubay ibnu Salul, dialah yang berperan bagi
tersiarnya berita tersebut.
Kami tiba di Madinah dan saya sakit selama kurang lebih satu bulan sejak
kedatangan saya itu, sedangkan orang-orang ramai membicarakan tentang
isu yang disebarkan oleh para penyiar berita bohong, dan saya sendiri
tidak merasakan adanya berita bohong itu.
Dalam sakit itu saya merasakan bahwa Rasulullah Saw. berbeda dengan
kebiasaannya. Saya tidak melihat lagi kasih sayang beliau saat saya
sedang sakit. Melainkan beliau hanya masuk dan bersalam serta
mengucapkan, 'Bagaimanakah keadaanmu sekarang?'
Sikap tersebut membuat saya curiga dan saya tidak merasakan adanya
berita buruk yang ditujukan terhadap diri saya. Dan ketika saya telah
sembuh dari sakit, saya keluar bersama Ummu Mistah menuju ke arah Manasi
tempat kami biasa membuang hajat. Kami tidak keluar ke tempat itu
melainkan hanya malam hari. Demikian itu terjadi sebelum kami membuat
kakus di dekat rumah-rumah kami. Saat itu keadaan kami sama dengan
keadaan orang-orang Arab dahulu dalam hal membuang hajat, yaitu di
tempat yang jauh dari keramaian manusia, karena kami merasa terganggu
dengan adanya kakus di dekat rumah kami.
Saya berangkat bersama Ummu Mistah. Dia adalah binti Abu Rahm ibnul
Muttalib ibnu Abdu Manaf, sedangkan ibunya adalah anak perempuan Sakhr
ibnu Amir, bibi Abu Bakar As-Siddiq. Ia mempunyai seorang anak laki-laki
yang bernama Mistah ibnu Asasah ibnu Abbad ibnu Abdul Muttalib.
Ketika aku bersama dengan anak perempuan Abu Rahm alias Ummu Mistah
kembali menuju ke rumahku setelah kami selesai dari urusan kami,
tiba-tiba dalam perjalanan kembali itu Ummu Mistah kain kerudungnya
tersangkut. Maka ia berkata, 'Celakalah Mistah.' Saya berkata kepadanya,
'Alangkah buruknya ucapanmu itu, kamu berani mencaci seorang lelaki
yang ikut dalam Perang Badar.'
Ummu Mistah menjawab, 'Wahai saudariku, tidakkah engkau mendengar apa
yang telah dikatakannya?' Aku bertanya, 'Apakah yang telah dikatakan
oleh Mistah?' Maka Ummu Mistah menceritakan kepada saya isu yang
disebarkan oleh para penyiar berita bohong itu, sehingga sakit saya
kambuh lagi dan bertambah parah.
Ketika saya sampai di rumah, Rasulullah Saw. masuk menemui saya dan
mengucapkan salam serta bersabda, 'Bagaimanakah keadaanmu?' Maka saya
berkata kepadanya, 'Izinkanlah saya menemui kedua orang tua saya.' Saya
bermaksud mengecek berita tersebut dari kedua orang tua saya, dan
Rasulullah Saw. mengizinkan saya menemui mereka.
Ketika sampai di rumah kedua orang tua saya, saya bertanya kepada ibu
saya, "Wahai ibuku, mengapa orang-orang ramai membicarakan perihal
berita bohong itu?' Ibu saya berkata, 'Wahai anakku, tenangkanlah
dirimu. Demi Allah, tidak sekali-kali ada seorang wanita yang cantik
menjadi istri seorang lelaki yang sangat mencintainya, sedangkan lelaki
itu mempunyai istri-istri yang lainnya, melainkan istri-istrinya yang
lain pasti banyak mempergunjingkan tentangnya.'
Lalu saya berkata, 'Subhanallah, orang-orang ternyata ramai
membicarakannya.' Maka malam itu saya menangis terus hingga pagi
harinya tanpa tidur, dan pada pagi harinya saya menangis lagi.
Rasulullah Saw. memanggil Ali ibnu Abu Talib dan Usamah ibnu Zaid saat
wahyu datang terlambat dengan maksud meminta pendapat dan saran keduanya
tentang menceraikan istrinya.
Usamah ibnu Zaid hanya mengisyaratkan kepada Rasulullah Saw. menurut apa
yang diketahuinya, bahwa istri beliau adalah wanita yang bersih dari
apa yang dituduhkan oleh mereka. Dia adalah orang yang menyukai keluarga
Rasulullah Saw. Usamah mengatakan, 'Wahai Rasulullah, mengenai istrimu,
sepanjang pengetahuanku baik-baik saja' Sedangkan Ali mengatakan 'Wahai
Rasulullah, Allah tidak mempersempit dirimu, wanita selain dia banyak.
Dan jika engkau tanyakan kepada si pelayan wanita itu, tentulah dia akan
membenarkan berita itu.'
Maka Rasulullah Saw. memanggil Barirah dan bersabda kepadanya, 'Hai
Barirah, apakah kamu melihat sesuatu yang mencurigakan pada diri
Aisyah?'
Barirah menjawab, 'Demi Tuhan yang mengutusmu dengan hak, saya tidak
mempunyai pendapat lain tentangnya yang saya sembunyi-sembunyikan,
melainkan dia adalah seorang wanita muda yang masih berusia remaja, dia
tertidur lelap melupakan adonan roti suaminya, lalu datanglah seseorang
yang lapar dan langsung memakannya.'
Maka hari itu Rasulullah Saw. bangkit untuk menyangkal berita dari
Abdullah ibnu Ubay ibnu Salul. Beliau bersabda di atas mimbarnya:
"يَا مَعْشَرَ الْمُسْلِمِينَ مَنْ يَعْذِرُنِي مِنْ رَجُلٍ قَدْ بَلَغَنِي
أَذَاهُ فِي أَهْلِ بَيْتِي، فَوَاللَّهِ مَا عَلِمْتُ عَلَى أَهْلِي
إِلَّا خَيْرًا، وَلَقَدْ ذَكَرُوا رَجُلًا مَا عَلِمْتُ عَلَيْهِ إِلَّا
خَيْرًا، وَمَا كَانَ يَدْخُلُ عَلَى أَهْلِي إِلَّا مَعِي"
Hai kaum muslim, siapakah yang mau membelaku dari sikap seorang lelaki
yang telah menyakiti diriku melalui istriku. Demi Allah, aku tidak
mengetahui perihal istriku melainkan hanya baik-baik saja. Dan
sesungguhnya mereka menyebutkan perihal seorang lelaki yang sepanjang
pengetahuanku tiada lain dia adalah orang yang baik-baik saja; dia tidak
pernah masuk menemui istriku, melainkan selalu bersamaku.
Maka Sa'd ibnu Mu'az Al-Ansari r.a. berdiri dan berkata, 'Wahai
Rasulullah, akulah yang membelamu terhadap dia. Jika dia dari kalangan
kabilah Aus, kami akan penggal kepalanya. Dan jika dia dari kalangan
saudara-saudara kami kabilah Khazraj, engkau perintahkan saja kepada
kami, kami pasti melakukan apa yang engkau perintahkan.'
Siti Aisyah r.a. melanjutkan kisahnya, bahwa maka berdirilah Sa'd ibnu
Ubadah, pemimpin orang-orang Khazraj. Dia adalah seorang yang saleh,
tetapi karena terdorong oleh rasa hamiyyah(fanatik)nya, maka ia berkata
kepada Sa'd ibnu Mu'az, "Kamu dusta. Demi Allah kamu tidak akan dapat
membunuhnya, dan kamu tidak akan mampu membunuhnya. Seandainya dia
berasal dari golonganmu, saya tidak suka ia dibunuh."
Usaid ibnu Hudair (anak paman Sa'd ibnu Mu'az) berdiri, lalu berkata
kepada Sa'd ibnu Ubadah, "Kamu dusta. Demi Allah, kami benar-benar akan
membunuhnya, sesungguhnya kamu orang munafik yang medebat orang
munafik."
Kedua golongan besar Madinah itu —yakni kabilah Aus dan kabilah Khazraj—
perang mulut, sehingga hampir saja mereka perang fisik, sedangkan
Rasulullah Saw. berdiri di atas mimbarnya seraya terus-menerus melerai
kedua golongan itu, hingga akhirnya mereka diam dan Rasulullah Saw. diam
pula.
Siti Aisyah r.a. melanjutkan kisahnya, "Pada hari itu sepenuhnya aku
menangis terus tanpa berhenti dan tanpa tidur, sehingga kedua orang
tuaku menduga bahwa tangisanku akan menyebabkan hatiku pecah.
Ketika kedua orang tuaku sedang duduk di dekatku, sedangkan aku masih
tetap menangis, tiba-tiba masuklah Rasulullah Saw. menemui kami, lalu
bersalam dan duduk. Sejak tersiarnya berita bohong itu Rasulullah Saw.
tidak pernah duduk, dan sudah selama sebulan wahyu tidak datang
kepadanya mengenai perihal diriku."
Siti Aisyah r.a. melanjutkan kisahnya, bahwa setelah duduk Rasulullah
Saw. membaca syahadat dan bersabda, "Amma ba'du. Hai Aisyah,
sesungguhnya telah sampai kepadaku berita tentang dirimu yang
menyatakan anu dan anu. Maka jika engkau bersih, tentulah Allah akan
membersihkanmu. Dan jika engkau merasa berbuat dosa, maka mohonlah ampun
kepada Allah dan bertobatlah kepada-Nya. Karena sesungguhnya seorang
hamba itu apabila mengakui dosanya dan bertobat, niscaya Allah akan
menerima tobatnya."
Siti Aisyah melanjutkan kisahnya, "Setelah Rasulullah Saw. menyelesaikan
sabdanya, barulah air mataku mengering sehingga aku tidak merasakan
setetes air mata pun yang keluar. Lalu aku berkata kepada ayahku,
'Jawablah Rasulullah sebagai ganti dariku.' Ayahku berkata, 'Demi Allah,
aku tidak mengetahui apa yang harus kukatakan kepada Rasulullah.' Aku
berkata kepada ibuku, 'Jawablah Rasulullah sabagai ganti dariku.' Ibuku
menjawab, 'Demi Allah, saya tidak mengetahui apa yang harus saya katakan
kepada Rasulullah."
Siti Aisyah melanjutkan kisahnya, bahwa ia mengatakan, "Aku adalah
seorang wanita yang berusia masih terlalu muda, dan masih banyak bagian
Al-Qur'an yang belum kuhafal. Demi Allah, aku merasa yakin bahwa kalian
telah mendengar berita tersebut, sehingga sempat mempengaruhi diri
kalian dan kalian mempercayainya. Jika aku katakan kepada kalian bahwa
sesungguhnya diriku bersih dari berita bohong itu, dan Allah mengetahui
bahwa diriku bersih, tentulah kalian tidak mempercayaiku. Dan seandainya
aku mengakui sesuatu hal yang Allah mengetahui bahwa diriku bersih dari
perbuatan tersebut, tentulah kalian akan mempercayainya. Demi Allah,
aku tidak menemukan perumpamaan bagi diriku dan kalian kecuali seperti
apa yang dikatakan oleh ayah Nabi Yusuf, yang disitir oleh firman-Nya:
{فَصَبْرٌ جَمِيلٌ وَاللَّهُ الْمُسْتَعَانُ عَلَى مَا تَصِفُونَ}
maka kesabaran yang baik itulah (kesabaranku).Dan Allah sajalah yang
dimohon pertolongan-Nya terhadap apa yang kalian ceritakan' (Yusuf: 18)
Kemudian aku berbaring di atas peraduanku seraya memalingkan tubuhku.
Sedangkan aku saat itu, demi Allah, merasa yakin bahwa diriku bersih
dari tuduhan tersebut, dan bahwa Allah pasti akan membersihkan diriku
dari berita bohong itu. Akan tetapi, demi Allah, aku tidak berharap
bahwa akan ada wahyu yang diturunkan mengenai diriku, karena menurut
anggapanku diriku ini terlalu rendah untuk disebutkan oleh Allah Swt.
dalam wahyu yang dibaca. Tetapi saya berharap semoga diperlihatkan oleh
Allah kepada Rasul-Nya dalam mimpi, hal yang dapat membersihkan diriku
dari berita bohong tersebut.
Demi Allah, saat itu Rasulullah Saw. masih belum meninggalkan tempat
duduknya dan tiada seorang pun dari keluarganya yang keluar dari
rumahnya, hingga turunlah wahyu kepadanya. Maka sebagaimana biasanya
bila sedang menerima wahyu, beliau kelihatan payah, hingga tubuhnya
mengucurkan keringat seperti mutiara yang berjatuhan, padahal saat itu
sedang musim dingin. Hal itu terjadi karena beratnya wahyu yang sedang
diturunkan kepadanya.
Siti Aisyah melanjutkan kisahnya, bahwa setelah wahyu selesai diturunkan
kepada Rasulullah Saw., beliau tersenyum. Kalimat yang mula-mula
diucapkannya ialah:
"أَبْشِرِي يَا عَائِشَةُ، أَمَّا اللَّهُ فَقَدْ بَرّأك
Bergembiralah, hai Aisyah, sesungguhnya Allah telah membersihkan dirimu.
Siti Aisyah melanjutkan kisahnya, bahwa lalu ibunya berkata kepada-nya,
"Mendekatlah kamu kepadanya." Aku menjawab, "Demi Allah, aku tidak mau
mendekat kepadanya dan aku tidak mau memuji kecuali hanya kepada Allah
Swt. yang telah menurunkan pembersihan diriku." Allah menurunkan
firman-Nya yang berbunyi:
{إِنَّ الَّذِينَ جَاءُوا بِالإفْكِ عُصْبَةٌ مِنْكُمْ}
Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kalian juga. (An-Nur: 11), hingga akhir ayat 21.
Setelah Allah Swt. menurunkan ayat yang membersihkan namaku ini, maka
Abu Bakar r.a. yang tadinya biasa memberikan nafkah kepada Mistah ibnu
Asasah karena masih kerabatnya dan termasuk orang miskin mengatakan,
"Demi Allah, aku tidak akan memberinya lagi nafkah barang sedikit pun
selama-lamanya sesudah apa yang ia katakan terhadap Aisyah." Maka Allah
Swt. menurunkan firman-Nya:
{وَلا يَأْتَلِ أُولُو الْفَضْلِ مِنْكُمْ وَالسَّعَةِ}
Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di
antara kalian bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi(bantuan)
kepada kaum kerabat(nya). (An-Nur: 22)
sampai dengan firman Allah Swt.:
{أَلا تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ}
Apakah kalian tidak ingin bahwa Allah mengampuni kalian? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (An-Nur: 22)
Maka Abu Bakar berkata, "Tidak, demi Allah, sesungguhnya kini aku suka
bila diampuni oleh Allah." Maka ia kembali memberikan nafkahnya kepada
Mistah sebagaimana biasanya. Dan Abu Bakar berkata, "Demi Allah, aku
tidak akan mencabut nafkahku (kepadanya) untuk selama-lamanya."
Siti Aisyah melanjutkan kisahnya, "Sebelum itu Rasulullah Saw. pernah
bertanya kepada Zainab binti Jahsy yang juga istri beliau tentang
perihal diriku. Rasulullah Saw. bersabda, 'Hai Zainab, apakah yang kamu
ketahui dan yang kamu lihat (dari Aisyah)?' Zainab menjawab, 'Wahai
Rasulullah, aku memelihara pendengaran dan penglihatanku. Demi Allah,
aku tidak mengetahui kecuali hanya kebaikan saja'."
Siti Aisyah r.a. melanjutkan kisahnya, "Zainablah di antara istri Nabi
Saw. yang setara denganku, maka Allah memeliharanya dengan sifat wara'."
Akan tetapi, saudara perempuannya yang bernama Hamnah binti Jahsy
bersikap oposisi terhadap Siti Aisyah, maka ia binasa bersama
orang-orang yang binasa.
Ibnu Syihab mengatakan, "Demikianlah kisah yang sampai kepada kami tentang mereka."
Imam Bukhari dan Imam Muslim mengetengahkannya di dalam kitab sahih
masing-masing melalui hadis Az-Zuhri. Hal yang sama telah diriwayatkan
oleh Ibnu Ishaq dari Az-Zuhri. Ibnu Ishaq mengatakan pula, telah
menceritakan pula kepadaku Yahya ibnu Abbad ibnu Abdullah ibnuz Zubair,
dari ayahnya, dari Aisyah r.a. Dan telah menceritakan kepadaku Abdullah
ibnu Abu Bakar ibnu Muhammad ibnu Amr ibnu Hazm Al-Ansari, dari Amrah,
bahwa ayahnya telah menceritakan kepadanya dari Siti Aisyah hadis yang
semisal dengan hadis di atas.
Kemudian Imam Bukhari mengatakan bahwa Abu Usamah telah meriwayatkan
dari Hisyam ibnu Urwah, dari ayahnya, dari Siti Aisyah r.a. yang
mengatakan, "Setelah perihal diriku menjadi buah bibir, sedangkan aku
sendiri masih belum mengetahuinya, Rasulullah Saw. berdiri di kalangan
para sahabatnya seraya berkhotbah. Mula-mula beliau membaca syahadat,
lalu diiringi dengan puji dan sanjungan kepada Allah, setelah itu baru
bersabda:
"أَمَّا بَعْدُ، أَشِيرُوا عَلَيّ فِي أُنَاسٍ أبَنُوا أَهْلِي، وَايمُ
اللَّهِ مَا عَلِمْتُ عَلَى أَهْلِي مِنْ سُوءٍ، وأبَنُوهم بمَن وَاللَّهِ
مَا علمتُ عَلَيْهِ مِنْ سُوءٍ قَطُّ، وَلَا يَدْخُلُ بَيْتِي قَطُّ إِلَّا
وَأَنَا حَاضِرٌ، وَلَا غِبْتُ فِي سَفَرٍ إِلَّا غَابَ مَعِي".
'Amma ba'du. Hai kalian semua, berilah saya saran tentang orang-orang
yang telah menuduh tidak baik terhadap keluarga (istri)ku. Demi Allah,
tiada yang kuketahui tentang keluargaku melainkan yang baik-baik saja,
dan tiada suatu keburukan pun yang kuketahui ada pada keluargaku, lalu
dengan siapakah mereka menuduhnya berbuat tidak baik? Demi Allah, tiada
suatu keburukan pun yang kuketahui darinya, dia tidak pernah masuk ke
dalam rumahku melainkan aku selalu ada. Dan tidak pernah ia pergi dalam
suatu perjalanan melainkan selalu bersamaku.'
Maka berdirilah Sa'd ibnu Mu'az Al-Ansari, lalu berkata, "Wahai
Rasulullah, berilah kami izin untuk memenggal kepala mereka.' Kemudian
berdiri pulalah seorang lelaki dari kabilah Khazraj, suatu kabilah yang
berasal darinya ibu sahabat Hassan ibnu Sabit, lalu lelaki itu berkata,
'Kamu dusta. Demi Allah, seandainya mereka dari kalangan kabilah Aus,
aku tidak suka bila kamu memenggal kepala mereka'."
Siti Aisyah mengatakan, "Situasi menghangat sehingga hampir saja terjadi
keributan di antara kabilah Aus dan kabilah Khazraj di dalam masjid,
sedangkan aku tidak merasakan adanya peristiwa tersebut.
Pada petang harinya aku keluar untuk menunaikan hajatku bersama Ummu
Mistah yang menemaniku. Di tengah jalan Ummu Mistah tersandung, lalu
berkata, 'Celakalah Mistah!'
Maka aku bertanya kepadanya, 'Hai Ummu Mistah, mengapa engkau mencaci
anakmu sendiri?' Ummu Mistah diam, dan tersandung lagi, maka ia
mengatakan, 'Celakalah Mistah!* Aku beranya, 'Hai Ummu Mistah, mengapa
engkau mencaci maki anakmu sendiri?' Kemudian tersandung lagi untuk yang
ketiga kalinya dan mengatakan, 'Celakalah, si Mistah!'
Maka aku menghardiknya supaya jangan mencaci lagi, tetapi Ummu Mistah
menjawab, 'Demi Allah, aku tidak memakinya melainkan demi membela kamu.'
Aku bertanya, 'Mengapa engkau membelaku, apakah yang telah kulakukan?'
Ummu Mistah menceritakan kisah tersebut dengan panjang lebar kepadaku,
dan aku bertanya menegaskan, 'Apakah memang betul?' Ummu Mistah
menjawab, 'Ya, demi Allah'
Maka aku pulang ke rumah dengan perasaan yang tidak menentu, lalu aku
jatuh sakit, dan aku berkata kepada Rasulullah, 'Pulangkanlah aku ke
rumah ayahku.' Maka Nabi Saw. mengirimkan aku bersama seorang budak
sebagai temanku. Ketika aku masuk, kujumpai Ummu Ruman (ibuku) berada di
lantai bawah, sedangkan Abu Bakar berada di lantai atas sedang membaca
Al-Qur'an.
Ummu Ruman bertanya, 'Ada keperluan apakah, hai anak perempuanku hingga
kamu datang ke sini?' Maka kuceritakan kepadanya kisah tersebut.
Ternyata kisah tersebut belum sampai kepadanya seperti yang telah sampai
kepadaku. Maka Ummu Ruman berkata, 'Tenangkanlah dirimu, hai anakku.
Demi Allah, jarang sekali ada seorang wanita cantik istri seorang lelaki
yang mencintainya, sedangkan lelaki itu mempunyai istri-istri yang
lain, melainkan mereka iri terhadapnya dan selalu mempergunjingkannya.'
Maka aku bertanya, 'Apakah ayahku telah mengetahui kisah ini?' Ummu
Ruman menjawab, 'Ya.' Aku bertanya, 'Begitu pula Rasulullah?' Ummu Ruman
menjawab, 'Ya, Rasulullah pun telah mengetahuinya.'
Maka air mataku berkaca-kaca, lalu aku menangis, dan Abu Bakar mendengar
suara tangisanku, sedangkan ia berada di lantai atas sedang membaca
Al-Qur'an, lalu ia turun. Abu Bakar bertanya kepada ibuku (Ummu Ruman),
'Mengapa dia menangis?' Ummu Ruman menjawab, 'Dia telah mendengar kisah
dirinya yang menjadi buah bibir orang-orang banyak.' Maka Abu Bakar
menangis dan berkata, 'Saya mohon kepadamu, hai anak perempuanku, agar
kembali ke rumahmu' Maka aku pulang ke rumahku, sedangkan Rasulullah
Saw. telah berada di rumah, lalu beliau bertanya kepada pelayan
perempuanku tentang diriku, maka pelayan perempuanku menjawab, 'Wahai
Rasulullah, tidak. Demi Allah, saya tidak mengetahui adanya suatu aib
pun pada dirinya. Hanya, ketika ia sedang tertidur, datanglah kambing,
lalu kambing itu memakan adonan rotinya.' Salah seorang sahabat Nabi
Saw. menghardiknya seraya berkata, 'Berkatajujurlah kamu kepada
Rasulullah!', hingga pelayan perempuanku itu takut karenanya. Maka
berkatalah ia sekali lagi, 'Mahasuci Allah, demi Allah tiadalah yang
kuketahui tentangnya melainkan seperti apa yang diketahui oleh seorang
tukang kemasan tentang emas batangan merah (yang ada di hadapannya).'
Kemudian kisah tersebut sampai kepada lelaki yang dituduh terlibat dalam
kejadian itu. Ia berkata, 'Mahasuci Allah. Demi Allah, aku tidak pernah
membuka kemaluan seorang wanita pun.'
Siti Aisyah mengatakan bahwa lelaki itu gugur mati syahid dalam medan perang sebagai syuhada.
"Sejak itu kedua orang tuaku tetap berada denganku menemaniku, hingga
datanglah Rasulullah Saw. dan masuk menemuiku. Seusai salat Asar beliau
masuk menemuiku, sedangkan kedua orang tuaku mengapit diriku dari sisi
kanan dan sisi kiriku.
Nabi Saw. mengucapkan puja dan puji kepada Allah Swt., lalu bersabda:
'Amma ba'du. Hai Aisyah, jika engkau melakukan suatu keburukan atau
berbuat aniaya, maka bertobatlah kepada Allah, karena sesungguhnya Allah
menerima tobat hamba-hamba-Nya'.”
Siti Aisyah melanjutkan kisahnya, "Datanglah seorang wanita dari
kalangan Ansar, lalu ia duduk di dekat pintu. Maka aku berkata, Tidakkah
engkau malu terhadap wanita ini bila engkau menyebutkan sesuatu (yang
terdengar olehnya)?' Maka Rasulullah Saw. mengalihkan pembicaraannya
kepada nasihat-nasihat.
Aku menoleh kepada ayahku dan kukatakan kepadanya, 'Jawablah Rasulullah
Saw. sebagai ganti dariku' Ayahku menjawab, 'Apakah yang harus kukatakan
kepadanya?'
Aku menoleh kepada ibuku dan berkata kepadanya, 'Jawablah Rasulullah
sebagai ganti dariku.' Ibuku menjawab, 'Apakah yang harus kukatakan
kepadanya?' Keduanya tidak mau menjawab.
Maka aku membaca syahadat dan memuji kepada Allah serta menyanjung-Nya
dengan puja dan puji yang layak bagi-Nya, kemudian kukatakan, 'Amma
ba'du. Demi Allah, jika kukatakan kepada kalian bahwa diriku tidak
melakukannya, dan Allah menyaksikan bahwa sesungguhnya aku adalah orang
benar, tentulah hal tersebut tidak berguna bagiku dalam tanggapan
kalian, karena kalian telah membicarakannya dan isu tersebut telah
meresap ke dalam hati kalian. Dan j ika aku katakan kepada kalian bahwa
sesungguhnya aku melakukannya, sedangkan Allah mengetahui bahwa aku
tidak melakukannya, tentulah kalian mengatakan bahwa itu memang salah
dan dosaku. Sesungguhnya, demi Allah, aku tidak menemukan suatu
perumpamaan pun bagi diriku dan kalian selain dari apa yang telah
dialami oleh Nabi Ya'qub ayah Yusuf.' Ketika ia mengatakan seperti yang
disitir oleh firman-Nya: 'maka kesabaran yang baik itulah (kesabaranku).
Dan Allah sajalah yang dimohon pertolongan-Nya terhadap apa yang kalian
ceritakan' (Yusuf: 18)
Pada saat itu Allah menurunkan wahyu-Nya kepada Rasulullah Saw., maka
kami diam. Setelah wahyu selesai darinya, tampak jelas tanda kegembiraan
mewarnai wajah Rasulullah Saw. Lalu beliau bersabda seraya mengusap
keringat dari dahinya: 'Bergembiralah engkau, hai Aisyah, sesungguhnya
Allah telah menurunkan wahyu yang membersihkan namamu'.”
Siti Aisyah mengatakan bahwa saat itu ia dalam keadaan sangat marah,
maka ayah dan ibunya berkata kepadanya, "Mendekatlah kamu kepadanya!"
Maka aku menjawab, "Tidak, demi Allah, aku tidak mau mendekat kepadanya,
dan aku tidak mau memujinya, serta aku tidak mau memuji kamu berdua,
melainkan hanya memuji kepada Allah yang telah menurunkan wahyu tentang
pembersihan namaku. Sesungguhnya kalian telah mendengar berita bohong
itu, tetapi kalian tidak mengingkarinya dan tidak pula berupaya untuk
mengubahnya."
Siti Aisyah mengatakan, "Adapun Zainab binti Jahsy, ia adalah seorang
yang dipelihara oleh Allah berkat agamanya, karena itu ia tidak
mengatakan kecuali kebaikan. Sedangkan saudara perempuannya (yaitu
Hamnah binti Jahsy), ia binasa bersama orang-orang yang binasa. Dan
orang yang gencar membicarakan berita bohong itu adalah Mistah, Hassan
ibnu Sabit, dan seorang munafik (yaitu Abdullah ibnu Ubay ibnu Salul).
Dialah yang membubuhi asam dan garam berita bohong ini dan yang
mempunyai peran penting dalam menyiarkan berita bohong ini. Yang lainnya
adalah Hamnah."
Siti Aisyah r.a. melanjutkan kisahnya, bahwa Abu Bakar bersumpah tidak
akan memberikan nafkahnya lagi kepada Mistah selama-lamanya. Maka Allah
menurunkan firman-Nya: Dan janganlah orang-orang yang mempunyai
kelebihan dan kelapangan di antara kalian bersumpah bahwa mereka (tidak)
akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabatnya), orang-orang miskin.
(An-Nur: 22)
Yang dimaksud dengan seseorang di antara kalian adalah sahabat Abu
Bakar, sedangkan yang dimaksud dengan kerabat dan orang miskin adalah
Mistah. Sampai dengan firman-Nya: Apakah kalian tidak ingin bahwa Allah
mengampuni kalian? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
(An-Nur: 22)
Maka Abu Bakar berkata, "Tidak, demi Allah, wahai Tuhan kami,
sesungguhnya kami benar-benar menginginkan agar Engkau memberikan
ampunan bagi kami," lalu ia kembali memberikan nafkahnya kepada Mistah
seperti semula.
Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Imam Bukhari melalui jalur ini
secara ta'liq, tetapi dengan teks yang jazm (pasti) dari Abu Usamah,
yaitu Hammad ibnu Usamah, salah seorang Imam yang siqah.
Ibnu Jarir meriwayatkannya di dalam kitab tafsir, dari Sufyan ibnu Waki'
secara panjang lebar dengan sanad yang sama dan lafaz yang semisal atau
mendekatinya.
Ibnu Abu Hatim meriwayatkannya melalui Abu Sa'id Al-Asyaj, dari Abu Usamah sebagiannya.
Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Hasyim, telah
menceritakan kepada kami Umar ibnu Abu Salamah, dari ayahnya, dari Siti
Aisyah r.a. yang berkata, "Ketika diturunkan ayat yang membebaskan
diriku dari langit, Nabi Saw. datang kepadaku dan menyampaikannya
kepadaku. Maka aku berkata, 'Saya memuji kepada Allah dan tidak memuji
kepadamu'."
Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu Adi, dari
Muhammad ibnu Ishaq, dari Abdullah ibnu Abu Bakar, dari Amrah, dari
Siti Aisyah yang mengatakan, "Setelah diturunkan wahyu yang membersihkan
diriku, Rasulullah Saw. berdiri, lalu menceritakan hal tersebut dan
beliau membacakannya. Setelah turun (dari mimbarnya) beliau
memerintahkan agar menangkap dua orang laki-laki dan seorang wanita,
kemudian mereka dijatuhi hukuman dera sebagai had mereka."
Para pemilik kitab sunan yang empat orang telah meriwayatkan hadis ini,
selanjutnya Imam Turmuzi (salah seorang dari mereka) menilai bahwa hadis
ini hasan. Dalam teks hadis yang diriwayatkan oleh Imam Abu Daud
disebutkan nama mereka yang dihukum dera itu, yaitu Hassan ibnu Sabit,
Mistah ibnu Asasah, dan Hamnah binti Jahsy.
Demikianlah jalur-jalur yang meriwayatkan hadis ini melalui berbagai
sumber dari Siti Aisyah Ummul Mu’minin r.a. yang terdapat di dalam
kitab-kitab musnad, kitab-kitab sahih, kitab-kitab sunan, dan
kitab-kitab hadis lainnya.
Telah diriwayatkan pula melalui hadis ibunya, yaitu Ummu Ruman r.a.
Untuk itu Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami, Ali
ibnu Asim, telah menceritakan kepada kami Husain, dari Abu Wa-il, dari
Masruq, dari Ummu Ruman yang mengatakan bahwa ketika kami berada di
dalam rumah Aisyah, tiba-tiba masuklah kepada Aisyah seorang wanita dari
kalangan Ansar, lalu wanita itu berkata, "Semoga Allah membalas
putranya (keponakannya) dengan pembalasan yang setimpal."
Maka Aisyah bertanya, "Mengapa?" Wanita itu berkata, "Sesungguhnya dia
termasuk orang yang mempergunjingkan berita dusta tersebut." Siti Aisyah
bertanya, "Cerita tentang apa?" Wanita itu menerangkan segala
sesuatunya kepada Aisyah. Lalu Aisyah bertanya, "Apakah berita itu telah
sampai juga kepada Rasulullah?" Wanita Ansar itu menjawab, "Ya." Aisyah
bertanya lagi, "Dan sampai pula kepada Abu Bakar?" Wanita itu menjawab,
"Ya." Maka Aisyah jatuh terjungkal dalam keadaan pingsan, dan tidaklah
ia sadar dari pingsannya kecuali badannya dalam keadaan demam dan
menggigil.
Ummu Ruman melanjutkan kisahnya, bahwa lalu ia bangkit dan menyelimuti
tubuh putrinya itu. Kemudian datanglah Nabi Saw., dan Nabi Saw.
bertanya, "Ada apa dengan dia?" Ummu Ruman menjawab, "Wahai Rasulullah,
dia terkena demam dan badannya menggigil." Nabi Saw. bersabda,
"Barangkali setelah dia mendengar berita yang dipergunjingkan mengenai
dirinya."
Ummu Ruman melanjutkan kisahnya, bahwa Siti Aisyah bangkit duduk, lalu
berkata "Demi Allah, seandainya aku bersumpah kepada kalian (untuk
membela diriku), kalian tidak akan percaya kepadaku. Dan seandainya aku
meminta maaf kepada kalian, maka kalian tidak akan memaafkanku. Maka
perumpamaanku dan perumpamaan kalian adalah sama dengan Ya'qub dan
anak-anaknya saat dia mengatakan kepada mereka seperti yang disitir oleh
firman-Nya: 'maka kesabaran yang baik itulah (kesabaranku). Dan Allah
sajalah yang dimohon pertolongan-Nya terhadap apa yang kalian ceritakan'
(Yusuf: 18)."
Ummu Ruman kembali melanjutkan kisahnya, bahwa lalu Rasulullah Saw.
keluar dan Allah menurunkan wahyu yang membersihkan kehormatan Aisyah.
Kemudian Rasulullah Saw. kembali dengan ditemani oleh Abu Bakar, maka
Rasulullah Saw. masuk (menemui Aisyah) dan bersabda, "Sesungguhnya Allah
telah menurunkan wahyu yang membersihkan kehormatanmu, hai Aisyah."
Aisyah berkata, "Saya akan memuji kepada Allah dan tidak akan memujimu."
Maka Abu Bakar berkata, "Beraninya kamu katakan demikian kepada
Rasulullah Saw.?" Siti Aisyah menjawab, "Ya."
Tersebutlah bahwa di antara mereka yang membicarakan berita bohong itu
adalah seorang lelaki yang penghidupannya dijamin oleh Abu Bakar, maka
Abu Bakar bersumpah tidak akan bersilaturahmi lagi kepadanya. Maka Allah
menurunkan firman-Nya: Dan janganlah orang-orang yang mempunyai
kelebihan dan kelapangan di antara kalian bersumpah. (An-Nur: 22),
hingga akhir ayat.
Lalu Abu Bakar berkata, "Benar." Maka Abu Bakar kembali bersilaturahmi kepada lelaki itu.
Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari secara tunggal tanpa Imam Muslim melalui jalur Husain.
Imam Bukhari telah meriwayatkannya pula melalui Musa ibnu Isma'il, dari
Abu Uwanah dan dari Muhammad ibnu Salam, dari Muhammad ibnu Fudail;
keduanya dari Husain dengan sanad yang sama. Di dalam teks hadis yang
diriwayatkan oleh Abu Uwanah disebutkan bahwa Ummu Ruman telah
menceritakan kepadaku. Hal ini secara jelas menunjukkan bahwa Masruq
mendengar hadis ini langsung darinya. Akan tetapi, hal ini disangkal
oleh sejumlah huffaz (ahli hadis yang hafal) yang antara lain ialah
Al-Khatib Al-Bagdadi. Demikian itu karena pernyataan yang dikatakan oleh
ahli tarikh (sejarah) bahwa Ummu Ruman meninggal dunia di masa Nabi
Saw. (sedangkan Masruq adalah seorang tabi'in yang ada sesudah Nabi Saw.
wafat).
Al-Khatib mengatakan bahwa Masruq adalah orang yang me-mursal-kan hadis
ini; dia mengatakan bahwa Ummu Ruman pernah ditanya, lalu ia menyebutkan
hadis ini hingga selesai. Barangkali seseorang dari mereka menulis
suilat(ditanya) dengan memakai alif sehingga menjadisa-altu (aku
bertanya). Lalu orang yang menerima hadis ini menduga bahwa lafaz
tersebut adalah sa-altu (aku bertanya) sehingga ia menduganya
berpredikat muttasil.
Al-Khatib mengatakan juga bahwa Imam Bukhari telah meriwayatkannya pula
seperti itu dan dia tidak menyadari kealpaannya. Demikianlah apa yang
dikutip dari perkataan Al-Khatib, hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui.
Sebagian dari mereka meriwayatkan hadis ini melalui Masruq, dari
Abdullah ibnu Mas'ud, dari Ummu Ruman. Hanya Allah-lah Yang Maha
Mengetahui.
Firman Allah Swt.:
{إِنَّ الَّذِينَ جَاءُوا بِالإفْكِ}
Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu. (An-Nur: 11)
Yakni kedustaan, kebohongan, dan berita buat-buatan itu.
{عُصْبَةٌ}
segolongan orang. (An-Nur: 11)
Maksudnya sejumlah orang dari kalian.
{لَا تَحْسَبُوهُ شَرًّا لَكُمْ}
Janganlah kalian kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kalian. (An-Nur: 11)
Hai keluarga Abu Bakar.
{بَلْ هُوَ خَيْرٌ لَكُمْ}
Bahkan ia adalah baik bagi kalian. (An-Nur: 11)
Yaitu mengandung kebaikan bagi kalian di dunia dan akhirat; di dunia
membuktikan kejujuran lisan kalian, dan di akhirat kalian akan
memperoleh kedudukan yang tinggi. Sekaligus menonjolkan kehormatan
mereka karena Aisyah memperoleh perhatian dari Allah Swt. saat Allah
menurunkan wahyu yang membersihkan dirinya di dalam Al-Qur'an yang
mulia.
{لَا يَأْتِيهِ الْبَاطِلُ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَلا مِنْ خَلْفِهِ}
Yang tidak datang kepadanya (Al-Qur'an) kebatilan, baik dari depan
maupun dari belakangnya. (Fushshilat: 42), hingga akhir ayat.
Karena itulah ketika Siti Aisyah sedang menjelang ajalnya, kemudian Ibnu
Abbas masuk menjenguknya, maka Ibnu Abbas berkata menghibur hatinya,
"Bergembiralah kamu, sesungguhnya kamu adalah istri Rasulullah Saw. dan
beliau sangat mencintaimu. Beliau belum pernah kawin dengan seorang
perawan selain engkau, dan pembersihan namamu diturunkan dari langit."
Ibnu Jarir mengatakan di dalam kitab tafsirnya, telah menceritakan
kepadaku Muhammad ibnu Usman Al-Wasiti, telah menceritakan kepada kami
Ja'far ibnu Aun, dari Al-Ma'la ibnu Irfan, dari Muhammad ibnu Abdullah
ibnu Jahsy yang mengatakan bahwa Aisyah dan Zainab saling membanggakan
diri. Zainab berkata, "Aku adalah wanita yang perintah perkawinanku
diturunkan dari langit." Aisyah berkata, "Aku adalah wanita yang
pembersihan namaku termaktub di dalam Kitabullah saat Safwan ibnul
Mu'attal membawaku di atas kendaraannya." Zainab berkata, "Hai Aisyah,
apakah yang kamu katakan ketika kamu menaiki unta kendaraannya?" Siti
Aisyah menjawab, "Aku ucapkan, 'Cukuplah Allah bagiku, Dia adalah
sebaik-baik Pelindung'." Zainab berkata, "Engkau telah mengucapkan
kalimat orang-orang mukmin"
Firman Allah Swt:
{لِكُلِّ امْرِئٍ مِنْهُمْ مَا اكْتَسَبَ مِنَ الإثْمِ}
Tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. (An-Nur: 11), hingga akhir ayat.
Yakni bagi tiap-tiap orang di antara mereka yang membicarakan peristiwa
itu dan menuduh Ummul Mu’minin Siti Aisyah r.a. berbuat keji (zina) akan
mendapat bagian dari azabnya yang besar.
{وَالَّذِي تَوَلَّى كِبْرَهُ}
Dan siapa di antara mereka yang mengambil bagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu. (An-Nur: 11)
Menurut suatu pendapat, makna ayat ialah orang yang mulai mencetuskan
berita bohong. Menurut pendapat yang lainnya lagi ialah orang yang
menghimpunnya, membubuhi asam garamnya, dan menyiarkan serta
menenarkannya.
{لَهُ عَذَابٌ عَظِيمٌ}
baginya azab yang besar. (An-Nur: 11)
sebagai pembalasan dari perbuatannya itu.
Menurut kebanyakan ulama, yang dimaksud oleh ayat ini tiada lain adalah
Abdullah ibnu Ubay ibnu Salul; semoga Allah menghukum dan melaknatnya.
Dialah orang yang disebutkan di dalam teks hadis yang telah disebutkan
di atas. Pendapat ini dikatakan oleh Mujahid dan lain-lainnya yang bukan
hanya seorang.
Menurut pendapat lainnya, yang dimaksud adalah Hassan ibnu Sabit, tetapi pendapat ini garib (menyendiri).
Seandainya tidak disebutkan di dalam kitab Sahih Bukhari sesuatu yang
menunjukkan ke arah itu, tentulah penyebutannya di antara orang-orang
yang terlibat dalam peristiwa ini tidak mengandung faedah yang besar.
Karena sesungguhnya dia adalah seorang sahabat yang memiliki banyak
keutamaan di antara sahabat-sahabat lainnya yang mempunyai keutamaan,
sepak terjang yang terpuji, dan jejak-jejak peninggalan yang baik. Dia
adalah seorang yang membela Rasulullah Saw. melalui syairnya, dan dialah
orang yang Rasulullah Saw. bersabda kepadanya:
"هَاجِهِمْ وَجِبْرِيلُ مَعَكَ"
Balaslah cacian mereka, dan Jibril mendukungmu.
Al-A'masy telah meriwayatkan dari Abud Duha, dari Masruq yang mengatakan
bahwa ketika ia sedang berada di rumah Siti Aisyah r.a., tiba-tiba
masuklah Hassan ibnu Sabit. Lalu Siti Aisyah memerintahkan agar
disediakan bantal duduk untuknya. Setelah Hassan keluar, aku berkata
kepada Aisyah, "Mengapa engkau bersikap demikian?" Yakni membiarkan dia
masuk menemuimu. Menurut riwayat lain dikatakan kepada Aisyah, "Apakah
engkau mengizinkan orang ini (Hassan) masuk menemuimu? Padahal Allah
Swt. telah berfirman: 'Dan siapa di antara mereka yang mengambil bagian
yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu, baginya azab yang
besar.' (An-Nur: 11)
Siti Aisyah menjawab, "Azab apa lagi yang lebih berat daripada
kebutaan?" Sedangkan saat itu kedua mata Hassan ibnu Sabit telah buta,
barangkali hal itulah yang dijadikan azab yang hebat baginya oleh Allah
Swt. Kemudian Siti Aisyah berkata," Sesungguhnya dia pernah membela
Rasulullah Saw. melalui syairnya."
Menurut riwayat yang lain, ketika Hassan hendak masuk menemuinya, ia
mendendangkan sebuah bait syair yang memuji Siti Aisyah, yaitu:
حَصَان رَزَانٌ مَا تُزَنّ بِرِيبَةٍ ... وتُصْبح غَرْثَى مِنْ لُحوم الغَوَافل ...
Wanita yang anggun yang tidak patut dicurigai, tetapi pada pagi harinya
haus dengan mempergunjingkan wanita-wanita yang terhormat lagi dalam
keadaan lalai.
Selanjutnya Hassan mengatakan, "Adapun engkau tidak demikian." Menurut
riwayat lain Hassan berkata, "Tetapi engkau tidaklah demikian."
Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Al-Hasan ibnu
Quza'ah, telah menceritakan kepada kami Salamah ibnu Alqamah, telah
menceritakan kepada kami Daud, dari Amir, dari Aisyah, bahwa ia pernah
berkata, "Aku belum pernah mendengar suatu syair pun yang lebih baik
daripada syair Hassan, dan tidak sekali-kali saya mendendangkannya
melainkan saya berdoa semoga dia memperoleh surga, yaitu ucapannya
kepada Abu Sufyan ibnul Haris ibnu Abdul Muttalib:
هَجَوتَ مُحَمَّدا فَأجبتُ عَنْهُ ... وَعندَ اللَّهِ فِي ذَاكَ الجزاءُ ...
فَإنَ أَبِي وَوَالده وعِرْضي ... لعرْضِ مُحَمَّد مِنْكُمْ وقاءُ ...
أَتَشْتُمُه، ولستَ لَه بكُفءٍ? ...فَشَرُّكُمَا لخَيْركُمَا الفدَاءُ ...
لِسَانِي صَارمٌ لَا عَيْبَ فِيه ...وَبَحْرِي لَا تُكَدِّرُه الدِّلاءُ ...
Engkau telah mengejek Muhammad, maka aku menjawabmu sebagai ganti
darinya, dan hanya berharap pahala dari sisi Allah sajalah aku lakukan
ini. Dan sesungguhnya ayahku dan anaknya serta kehormatanku kukorbankan
demi membela kehormatan Muhammad dari ejekanmu. Apakah engkau
mencacinya, sedangkan engkau tidak sepadan dengannya? Sebenarnya orang
yang terburuk di antara kamu berdua menjadi tebusan bagi orang yang
terbaik di antara kamu. Lisanku cukup tajam, tidak pernah tercela, dan
lautku tidak akan kering oleh banyaknya timba (yang mengambili airnya).
Ketika dikatakan kepada Siti Aisyah, "Hai Ummul Mu’minin, bukankah ini
namanya perkataan yang tidak berguna?" Siti Aisyah menjawab, "Tidak,
sesungguhnya yang dikatakan perkataan yang tidak berguna ialah
syair-syair yang membicarakan tentang wanita."
Ketika dikatakan kepadanya bahwa bukankah Allah Swt. telah berfirman:
Dan siapa di antara mereka yang mengambil bagian yang terbesar dalam
penyiaran berita bohong itu, baginya azab yang besar. (An-Nur: 11)
Siti Aisyah menjawab, "Bukankah kedua matanya telah buta dan dilukai
oleh pukulan pedang?" Ia bermaksud pukulan pedang yang dilakukan oleh
Safwan ibnul Mu'attal As-Sulami terhadapnya saat Safwan mendengar berita
bahwa Hassan ibnu Sabit membicarakan tentang berita bohong mengenai
dirinya itu. Lalu Safwan memukulnya dengan pedang dan hampir
membunuhnya.
Firman Alloh SWT ;
لَوْلا إِذْ سَمِعْتُمُوهُ ظَنَّ الْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ
بِأَنْفُسِهِمْ خَيْرًا وَقَالُوا هَذَا إِفْكٌ مُبِينٌ (12) لَوْلا
جَاءُوا عَلَيْهِ بِأَرْبَعَةِ شُهَدَاءَ فَإِذْ لَمْ يَأْتُوا
بِالشُّهَدَاءِ فَأُولَئِكَ عِنْدَ اللَّهِ هُمُ الْكَاذِبُونَ (13)
Mengapa di waktu kalian mendengar berita bohong itu orang-orang mukmin
dan mu’minat tidak berprasangka baik terhadap diri mereka sendiri, dan
(mengapa tidak) berkata, "Ini adalah suatu berita bohong yang nyata.”
Mengapa mereka(yang menuduh itu) tidak mendatangkan empat orang saksi
atas berita bohong itu? Oleh karena mereka tidak mendatangkan
saksi-saksi, maka mereka itulah pada sisi Allah orang-orang yang dusta.
(QS An-Nur Ayat 12-13)
Hal ini merupakan pelajaran dari Allah kepada orang-orang mukmin dalam
kisah Aisyah r.a. saat sebagian dari mereka memperbincangkan hal yang
buruk dan pergunjingan mereka tentang berita bohong tersebut. Allah Swt.
berfirman:
{لَوْلا إِذْ سَمِعْتُمُوهُ ظَنَّ الْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بِأَنْفُسِهِمْ خَيْرًا}
Mengapa di waktu kalian mendengar berita bohong itu (yakni tuduhan yang
dilontarkan terhadap diri Siti Aisyah r.a.) orang-orang mukmin dan
mu’minat tidak berprasangka baik terhadap diri mereka sendiri. (An-Nur:
12)
Yaitu mengapa pada diri mereka sendiri seandainya tuduhan seperti itu
dilontarkan terhadap diri mereka. Jika tuduhan tersebut tidak layak
dilontarkan terhadap diri mereka, maka terlebih lagi tidak layaknya jika
dilontarkan kepada Ummul Mu’minin; ia lebih bersih dari pada diri
mereka.
Menurut pendapat lain, ayat ini diturunkan berkenaan dengan Abu Ayub Khalid ibnu Zaid Al-Ansari dan istrinya.
Seperti yang disebutkan di dalam riwayat Imam Muhammad ibnu Ishaq ibnu
Yasar, dari ayahnya, dari sebagian orang yang terkemuka dari kalangan
Bani Najjar, bahwa Abu Ayub Khalid ibnu Zaid Al-Ansari ditanya oleh
istrinya (yaitu Ummu Ayub), "Hai Abu Ayub, tidakkah engkau mendengar apa
yang dikatakan oleh orang-orang tentang Aisyah r.a." Abu Ayub menjawab,
"Ya, berita tersebut adalah dusta. Apakah engkau berani melakukan hal
tersebut (seperti yang dituduhkan oleh mereka), hai Ummu Ayub?" Ummu
Ayub menjawab, "Tidak, demi Allah, aku benar-benar tidak akan melakukan
hal tersebut." Maka Abu Ayub menjawab, "Aisyah, demi Allah, lebih baik
daripada kamu."
Perawi melanjutkan kisahnya, bahwa setelah diturunkan ayat Al-Qur'an
yang menyebutkan tentang apa yang telah dituduhkan oleh para penyiar
berita bohong terhadap diri Aisyah, yaitu firman-Nya: Sesungguhnya
orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kalian
juga. (An-Nur: 11) Maksudnya, Hassan dan teman-temannya yang mengatakan
berita bohong itu. Kemudian Allah Swt. berfirman: Mengapa di waktu
kalian mendengar berita bohong itu orang-orang mukmin dan mu’minat tidak
berprasangka baik. (An-Nur: 12), hingga akhir ayat. Yakni seperti apa
yang dikatakan oleh Abu Ayub dan istrinya.
Muhammad ibnu Umar Al-Waqidi mengatakan telah menceritakan kepadaku Ibnu
Abu Habib, dari Daud ibnul Husain, dari Abu Sufyan, dari Aflah maula
Abu Ayyub, bahwa Ummu Ayyub berkata kepada Abu Ayyub, "Tidakkah engkau
mendengar apa yang dikatakan oleh orang-orang tentang Aisyah?" Abu Ayyub
menjawab, "Ya, benar, dan itu adalah berita bohong. Apakah kamu berani
melakukan hal itu, hai Ummu Ayyub?" Ummu Ayyub menjawab, "Tidak, demi
Allah." Abu Ayyub berkata, "Aisyah, demi Allah, lebih baik daripada
kamu." Setelah diturunkan wahyu yang menceritakan tentang para penyiar
berita bohong itu, Allah Swt. berfirman: Mengapa di waktu kalian
mendengar berita bohong itu orang-orang mukmin dan mukminat tidak
berprasangka baik terhadap diri mereka sendiri, dan (mengapa tidak)
berkata, "Ini adalah suatu berita bohong yang nyata.” (An-Nur: 12) Yaitu
seperti yang dikatakan oleh Abu Ayyub saat berkata kepada istrinya,
Ummu Ayyub.
Menurut pendapat yang lain, sesungguhnya orang yang berprasangka baik itu hanyalah, Ubay ibnu Ka'b.
Firman Allah Swt.:
{ظَنَّ الْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ}
orang-orang mukmin (tiada) berprasangka. (An-Nur: 12), hingga akhir ayat.
Artinya, mengapa mereka tidak berprasangka baik, karena sesungguhnya
Ummul Mu’minin adalah orang yang ahli kebaikan dan lebih utama sebagai
ahli kebaikan. Hal ini berkaitan dengan hati, yakni batin orang yang
bersangkutan.
Firman Allah Swt.:
{وَقَالُوا هَذَا إِفْكٌ مُبِينٌ}
Dan (mengapa tidak) berkata, "Ini adalah suatu berita bohong yang nyata.” (An-Nur: 12)
Kemudian lisan mereka mengatakan bahwa berita tersebut adalah dusta dan
bohong belaka yang mereka lontarkan terhadap pribadi Siti Aisyah Ummul
Mu’minin. Karena sesungguhnya kejadian yang sebenarnya sama sekali tidak
mengandung hal yang mencurigakan, sebab Siti Aisyah Ummul Mu’minin
datang dengan mengendarai unta Safwan ibnul Mu'attal di waktu tengah
hari, sedangkan semua pasukan menyaksikan kedatangan tersebut dan
Rasulullah Saw. ada di antara mereka. Seandainya hal tersebut mengandung
kecurigaan, tentulah kedatangan tersebut tidak dilakukan secara
terang-terangan, tentu pula kedatangan keduanya tidak mau disaksikan
oleh semua orang yang ada dalam pasukan itu. Bahkan dengan segala upaya
seandainya mengandung hal yang mencurigakan, tentu kedatangan mereka
dilakukan dengan sembunyi-sembunyi agar tidak diketahui oleh orang lain.
Berdasarkan kenyataan ini dapat disimpulkan bahwa apa yang mereka
lontarkan terhadap diri Siti Aisyah berupa tuduhan tidak baik hanyalah
bohong belaka dan buat-buatan, serta tuduhan keji dan merupakan
transaksi yang merugikan pelakunya.
Allah Swt. berfirman:
{لَوْلا جَاءُوا عَلَيْهِ}
Mengapa mereka (yang menuduh itu) tidak mendatangkan. (An-Nur:. 13)
Yakni untuk membuktikan apa yang mereka katakan dalam tuduhannya itu.
{بِأَرْبَعَةِ شُهَدَاءَ}
empat orang saksi. (An-Nur: 13)
untuk mempersaksikan kebenaran dari apa yang mereka tuduhkan.
{فَإِذْ لَمْ يَأْتُوا بِالشُّهَدَاءِ فَأُولَئِكَ عِنْدَ اللَّهِ هُمُ الْكَاذِبُونَ}
Oleh karena mereka tidak mendatangkan saksi-saksi, maka mereka itulah pada sisi Allah orang-orang yang dusta. (An-Nur: 13)
Menurut hukum Allah, mereka adalah orang-orang yang dusta lagi durhaka.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar