Marilah kita selalu meningkatkan iman dan taqwa kepada Allah Subhanahu
wa Ta’ala. Dengan iman dan taqwa itu, manusia akan meraih kesuksesan
yang sebenarnya dalam kehidupan. Baik kehidupan di dunia sekarang ini,
atau di akhirat nanti. Karena seluruh manusia yang hidup di dunia ini
akan menuju kepada akhir yang sama, yaitu menuju kematian.
Sesungguhnya segala yang bermula itu akan berakhir, setiap yang kuat itu
memiliki kelemahan dan setiap yang hidup pasti akan mati.
Alloh Subhanahu Wata'ala Berfirman;
كُلُّ نَفْسٍ ذائِقَةُ الْمَوْتِ وَإِنَّما تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ
الْقِيامَةِ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ
فازَ وَمَا الْحَياةُ الدُّنْيا إِلاَّ مَتاعُ الْغُرُور () لَتُبْلَوُنَّ
فِي أَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِكُمْ وَلَتَسْمَعُنَّ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا
الْكِتابَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَمِنَ الَّذِينَ أَشْرَكُوا أَذىً كَثِيراً
وَإِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا فَإِنَّ ذلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ
Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari
kiamat sajalah disempurnakan pahala kalian. Barang siapa dijauhkan dari
neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung.
Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.
Kalian sungguh-sungguh akan diuji terhadap harta kalian dan diri kalian.
Dan (juga) kalian sungguh-sungguh akan mendengar dari orang-orang yang
diberi kitab sebelum kalian dan dari orang-orang yang mempersekutukan
Allah, gangguan yang banyak yang menyakitkan hati. Jika kalian bersabar
dan bertakwa, maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang
patut diutamakan. (QS Ali Imron Ayat 185-186)
Allah Swt. memberitahukan kepada semua makhluknya secara umum. bahwa
setiap yang berjiwa pasti akan merasakan mati. Perihalnya Sama dengan
firman Allah Swt. yang mengatakan:
كُلُّ مَنْ عَلَيْها فانٍ وَيَبْقى وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلالِ وَالْإِكْرامِ
Semua yang ada di bumi itu akan binasa. Tetap kekal Zat Tuhan-mu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan. (Ar-Rahman: 26-27)
Hanya Dia sendirilah yang Hidup Kekal dan tidak mati, sedangkan jin dan
manusia semuanya mati, begitu pula para malaikat umumnya dan para
malaikat pemangku Arasy. Hanya Allah sematalah Yang Maha Esa lagi
Mahaperkasa Yang Kekal Abadi. Dengan demikian, berarti Allah Yang
Mahaakhir, sebagaimana Dia Maha Pertama (Akhirnya Allah tidak ada
kesudahannya dan Permulaan Allah tidak ada awal-nya).
Ayat ini merupakan belasungkawa kepada semua manusia, karena
sesungguhnya tidak ada seorang pun di muka bumi ini melainkan pasti
mati. Apabila masa telah habis dan nutfah yang telah ditakdirkan oleh
Allah keberadaannya dari sulbi Adam telah habis. serta semua makhluk
habis, maka Allah melakukan hari kiamat dan membalas semua makhluk
sesuai dengan amal perbuatannya masing-masing, yang besar, yang kecil,
yang banyak, yang sedikit.serta yang tua dan yang muda, semuanya
mendapat balasannya. Tiada seorang pun yang jianiaya barang sedikit pun
dalam penerimaan pembalasannya. Karena itulah maka Allah Swt. berfirman:
{وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ}
Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahala kalian. (Ali Imran: 185)
Ibnu Abu Hati mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abdul Aziz
Al-Uwaisi, telah menceritakan kepada kami Ali ibnu Abu Ali Al-Hasyimi,
dari Ja'far ibnu Muhammad Ali ibnul Husain, dari ayah-nya, dari.Ali ibnu
Abu Thalib r.a. yang menceritakan bahwa ketika Nabi Saw. wafat, dan
belasungkawa berdatangan, maka datanglah kepada mereka seseorang yang
mereka rasakan keberadaannya, tetapi mereka tidak dapat melihat ujudnya.
Orang tersebut mengatakan: Semoga keselamatan terlimpah kepada kalian,
hai Ahlul Bait. Begitu pula rahmat Allah dan berkahnya, tiap-tiap yang
berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah
disempurnakan pahala kalian. Sesungguhnya belasungkawa dari setiap
musibah itu hanyalah kepada Allah, dan hanya kepada-Nya memohon ganti
dari setiap yang telah binasa, dan hanya kepada-Nya meminta disusulkan
dari setiap yang terlewatkan. Karena itu, hanya kepada Allah-lah kalian
percaya, dan hanya kepada-Nyalah kalian berharap, karena sesungguhnya
orang yang tertimpa musibah itu ialah orang yang terhalang tidak
mendapat pahala. Dan semoga keselamatan terlimpah kepada kalian. begitu
pula rahmat Allah dan berkah-Nya. Ja'far ibnu Muhammad mengatakan, telah
menceritakan kepadaku ayahku, bahwa Ali Abu Talib berkata.”Tahukah
kalian, siapakah orang ini?" Ali mengatakan pula, "Dia adalah Al-Khidir
a.s."
Firman Allah Swt.:
{فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ}
Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. (Ali Imran)
Artinya, barang siapa yang dijauhkan dari neraka dan selamat darinya
serta dimasukkan ke dalam surga, berarti ia sang at beruntung.
قَالَ ابْنُ أَبِي حَاتِمٍ: حَدَّثَنَا أَبِي، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ
عَبْدِ اللَّهِ الْأَنْصَارِيُّ، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَمْرو بْنِ
عَلْقَمَةَ، عَنْ أَبِي سَلَمَةَ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ [رَضِيَ اللَّهُ
عَنْهُ] قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:
"مَوْضع سَوْطٍ فِي الْجَنَّةِ خيرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فيها، اقرؤوا إن
شئم: {فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ
Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah
menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Abdullah Al-Ansari, telah
menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Amr ibnu Alqamah, dari Abu
Salamah, dari Abu Hurairah yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. pernah
bersabda: Tempat sebuah cemeti di dalam surga lebih baik daripada dunia
dan apa yang ada di dalamnya. Bacalah oleh kalian jika kalian suka,
yaitu firman-Nya, "Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke
dalam surga, maka sungguhlah ia telah beruntung" (Ali Imran: 186).
Hadis ini ditetapkan di dalam kitab Sahihain melalui jalur lain tanpa memakai tambahan ayat.
Telah diriwayatkan pula oleh Ibnu Abu Hatim serta Ibnu Hibban di dalam
kitab Sahih-nya dan Imam Hakim di dalam kitab Mustadrak-nya tanpa
memakai tambahan ini melalui hadis Muhammad ibnu Amr.
Telah diriwayatkan pula dengan memakai tambahan ini oleh Ibnu Murdawaih
melalui jalur yang lain. Untuk itu Ibnu Murdawaih mengatakan:
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ أَحْمَدَ بْنِ إِبْرَاهِيمَ، حَدَّثَنَا
مُحَمَّدُ بْنُ يَحْيَى، أَنْبَأَنَا حُمَيْد بْنُ مَسْعَدَةَ، أَنْبَأَنَا
عَمْرُو بْنُ عَلِيٍّ، عَنْ أَبِي حَازِمٍ، عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ
قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:
"لَمَوْضِعُ سَوط أحَدكم فِي الْجَنَّةِ خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا
فِيهَا". قَالَ: ثُمَّ تَلَا هَذِهِ الْآيَةَ: {فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ
النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ
telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ahmad ibnu Ibrahim, telah
menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Yahya. telah menceritakan kepada
kami Humaid ibnu Mas'adah, telah menceritakan kepada kami Amr ibnu Ali,
dari Abu Hazim, dari Sahl ibnu Sa’d yang menceritakan bahwa Rasulullah
Saw. pernah bersabda: sesungguhnya tempat sebuah cemeti seseorang di
antara kalian di dalam surga lebih baik daripada dunia ini dan semua
yang ada di dalamnya. Sahl ibnu Sa'd melanjutkan kisahnya, bahwa setelah
itu beliau Saw. membacakan firman-Nya: Barang siapa dijauhkan dari
neraka dan dimasukkan ke dalam surga,maka sungguh ia telah beruntung.
(Ali Imran: 185)
Sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Waki' ibnul Jarrah di dalam kitab
tafsimya, dari Al-A'masy ibnu Zaid ibnu Wahb, dari Abdur Rahman ibnu
Abdu Rabbil Ka'bah, dari Abdullah ibnu Amr ibnul As yang menceritakan
bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda:
«مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُزَحْزَحَ عَنِ النَّارِ وَأَنْ يَدْخُلَ الْجَنَّةَ
فَلْتُدْرِكْهُ مَنِيَّتُهُ وَهُوَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ
الْآخِرِ، وَلْيَأْتِ إِلَى النَّاسِ مَا يُحِبُّ أن يؤتى إليه»
Barang siapa yang ingin dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam
surga, maka hendaklah ia mati sedang ia dalam keadaan beriman kepada
Allah dan hari kemudian. Dan hendaklah ia memberikan kepada orang-orang
apa yang ia suka bila diberikan kepada dirinya sendiri.
Imam Ahmad meriwayatkannya di dalam kitab musnadnya dari Waki' dengan lafaz yang sama.
Firman Allah Swt.:
{وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلا مَتَاعُ الْغُرُورِ}
Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan. (Ali Imran: 185)
Makna ayat ini mengecilkan perkara duniawi dan meremehkan urusannya.
Bahwa masalah duniawi itu adalah masalah yang rendah, pasti lenyap,
sedikit, dan pasti rusak. Seperti yang diungkapkan oleh Allah Swt. dalam
ayat yang lain, yaitu firman-Nya:
بَلْ تُؤْثِرُونَ الْحَياةَ الدُّنْيا وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقى
Tetapi kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan duniawi. Sedangkan
kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal. (Al-A'la: 16-17)
وَما أُوتِيتُمْ مِنْ شَيْءٍ فَمَتاعُ الْحَياةِ الدُّنْيا وَزِينَتُها وَما عِنْدَ اللَّهِ خَيْرٌ وَأَبْقى
Dan apa saja yang diberikan kepada kalian, maka itu adalah kenikmatan
hidup duniawi dan perhiasannya, sedangkan apa yang di sisi Allah adalah
lebih baik dan lebih kekal. (Al-Qashash: 60)
Dan dalam sebuah hadis disebutkan:
«وَاللَّهِ مَا الدُّنْيَا فِي الْآخِرَةِ إِلَّا كَمَا يَغْمِسُ
أَحَدُكُمْ إِصْبَعَهُ فِي الْيَمِّ، فَلْيَنْظُرْ بِمَ تَرْجِعُ إِلَيْهِ»
Demi Allah, tiadalah dunia ini dalam kehidupan di akhirat, melainkan
sebagaimana seseorang di antara kalian mencelupkan jari telunjuknya ke
dalam laut, maka hendaklah ia melihat apa yang didapat olehnya dari laut
itu.
Qatadah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: Kehidupan dunia
itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan. (Ali Imran: 185)
Bahwa kehidupan duniawi itu merupakan kesenangan yang akan ditinggalkan;
tidak lama kemudian, demi Allah yang tidak ada Tuhan selain Dia, pasti
menyurut dan hilang dari pemiliknya. Karena itu, ambillah dari kehidupan
ini sebagai sarana untuk taat kepada Allah, jika kalian mampu dan tidak
ada kekuatan (untuk melakukan ketaatan) kecuali berkat pertolongan
Allah Swt.
Firman Allah Swt.:
{لَتُبْلَوُنَّ فِي أَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ}
Kalian sungguh-sungguh akan diuji terhadap harta kalian dan diri kalian. (Ali Imran: 186)
Ayat ini sama maknanya dengan ayat yang lain, yaitu firman-Nya:
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَراتِ
Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepada kalian dengan sedikit
ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan.
(Al-Baqarah: 155), hingga akhir ayat berikutnya.
Dengan kata lain, seorang mukmin itu harus diuji terhadap sesuatu dari
hartanya atau dirinya atau anaknya atau istrinya. Seorang mukmin
mendapat ujian (dari Allah) sesuai dengan tingkatan kadar agamanya;
apabila agamanya kuat, maka ujiannya lebih dari yang lain.
{وَلَتَسْمَعُنَّ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَمِنَ الَّذِينَ أَشْرَكُوا أَذًى كَثِيرًا}
Dan (Juga) kalian sungguh-sungguh akan mendengar dari orang-orang yang
diberi kitab sebelum kalian dan dari orang-orang yang mempersekutukan
Allah, gangguan yang banyak yang menyakitkan hati. (Ali Imran: 186)
Allah Swt. berfirman kepada orang-orang mukmin ketika mereka tiba di
Madinah sebelum Perang Badar untuk meringankan beban mereka dari tekanan
gangguan yang menyakitkan hati yang dilakukan oleh kaum Ahli Kitab dan
kaum musyrik. Sekaligus memerintahkan mereka agar bersikap pemaaf dan
bersabar serta memberikan ampunan hingga Allah memberikan jalan keluar
dari hal tersebut. Untuk itu Allah Swt. berfirman:
{وَإِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا فَإِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ الأمُورِ}
Jika kalian bersabar dan bertakwa, maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang patut diutamakan. (Ali Imran: 186)
Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah
menceritakan kepada kami Abul Yaman, telah menceritakan kepada kami
Syu'aib ibnu Abu Hamzah, dari Az-Zuhri; Urwah ibnuz Zubair menceritakan
kepadanya, Usamah ibnu Zaid pernah bercerita kepadanya bahwa Nabi dan
para sahabatnya di masa lalu selalu bersikap pemaaf terhadap orang-orang
musyrik dan Ahli Kitab, sesuai dengan perintah Allah kepada mereka, dan
mereka bersabar dalam menghadapi gangguan yang menyakitkan. Perintah
Allah Swt. tersebut adalah melalui firman-Nya: Dan (juga) kalian
sungguh-sungguh akan mendengar dari orang-orang yang diberi kitab
sebelum kalian dan dari orang-orang yang mempersekutukan Allah, gangguan
yang banyak yang menyakitkan hati. (Ali Imran: 186) Tersebutlah bahwa
Rasulullah Saw. bersikap pemaaf sesuai dengan pengertiannya dari apa
yang diperintahkan oleh Allah kepadanya, sehingga Allah mengizinkan
kepada beliau terhadap mereka (yakni bertindak terhadap mereka).
Demikianlah menurut apa yang diketengahkannya secara ringkas.
Imam Bukhari mengetengahkannya dalam bentuk yang panjang lebar di saat ia menafsirkan ayat ini. Dia mengatakan:
حَدَّثَنَا أَبُو الْيَمَانِ، أَنْبَأَنَا شُعَيْبٌ، عَنِ الزُّهْرِيِّ
أَخْبَرَنِي عُرْوَةُ بْنُ الزُّبَيْرِ؛ أَنَّ أُسَامَةَ بْنَ زَيْدٍ
أَخْبَرَهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
رَكِبَ عَلَى حمَار، عَلَيْهِ قَطِيفَةٌ فَدكيَّة وَأَرْدَفَ أُسَامَةَ
بْنَ زَيْدٍ وَرَاءَهُ، يَعُودُ سَعْدَ بْنَ عُبَادَةَ فِي بَنِي
الْحَارِثِ بْنِ الْخَزْرَجِ، قَبْل وَقْعَةِ بَدْر، قَالَ: حَتَّى مَرَّ
بِمَجْلِسٍ فِيهِ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أُبَيٍّ بن سَلُول، وَذَلِكَ قَبْلَ
أَنْ يُسْلِمَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أُبَيٍّ، فَإِذَا فِي الْمَجْلِسِ
أَخْلَاطٌ مِنَ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُشْرِكِينَ، عَبَدَة الْأَوْثَانِ
وَالْيَهُودِ وَالْمُسْلِمِينَ، وَفِي الْمَجْلِسِ عبدُ اللَّهِ بْنُ
رَوَاحة، فَلَمَّا غَشَيت المجلسَ عَجَاجةُ الدَّابَّةِ خَمَّر عَبْدُ
اللَّهِ بْنُ أُبَيٍّ أَنْفَهُ بِرِدَائِهِ وَقَالَ: "لَا تُغَبروا
عَلَيْنَا. فَسَلَّمَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
ثُمَّ وَقَفَ، فَنَزَلَ فَدَعَاهُمْ إِلَى اللَّهِ عَزَّ وجل، وَقَرَأَ
عَلَيْهِمُ الْقُرْآنَ، فَقَالَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أبَي: أَيُّهَا
المَرْء، إِنَّهُ لَا أحْسَنَ مِمَّا تَقُولُ، إِنْ كَانَ حَقًّا فَلَا
تؤْذنا بِهِ فِي مَجَالِسِنَا، ارْجِعْ إِلَى رَحْلِكَ، فَمَنْ جَاءَكَ
فَاقْصُصْ عَلَيْهِ. فَقَالَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ رَوَاحَةَ: بَلَى يَا
رَسُولَ اللَّهِ، فَاغْشنَا بِهِ فِي مَجَالِسِنَا فَإِنَّا نُحب ذَلِكَ.
فاستَب الْمُسْلِمُونَ وَالْمُشْرِكُونَ وَالْيَهُودُ حَتَّى كَادُوا
يَتَثَاورون فَلَمْ يَزَلِ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
يُخفضهم حَتَّى سَكَتُوا، ثُمَّ رَكِبَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ دَابته، فَسَارَ حَتَّى دَخَلَ عَلَى سَعْدِ بْنِ عُبَادة،
فَقَالَ لَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "يَا سَعْدُ،
أَلَمْ تَسْمَع إِلَى مَا قَالَ أَبُو حُبَاب -يُرِيدُ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ
أُبَيٍّ-قَالَ كَذَا وَكَذَا". فَقَالَ سَعْدٌ: يَا رَسُولَ اللَّهِ،
اعْفُ عَنْهُ وَاصْفَحْ فوَالله الَّذِي أَنْزَلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ
لَقَدْ جَاءَ اللَّهُ بِالْحَقِّ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَيْكَ، وَلَقَدِ
اصْطَلَحَ أَهْلُ هَذِهِ البُحَيْرَة عَلَى أَنْ يُتَوِّجوه وَيُعَصِّبُوه
بِالْعِصَابَةِ، فَلَمَّا أَبَى اللَّهُ ذَلِكَ بِالْحَقِّ الَّذِي
أَعْطَاكَ اللَّهُ شَرِقَ بِذَلِكَ، فَذَلِكَ الَّذِي فَعَل بِهِ مَا
رأيتَ، فَعَفَا عَنْهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ،
وَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَصْحَابُهُ
يَعْفُونَ عَنِ الْمُشْرِكِينَ وَأَهْلِ الْكِتَابِ، كَمَا أَمَرَهُمُ
اللَّهُ، وَيَصْبِرُونَ عَلَى الْأَذَى، قَالَ اللَّهُ تَعَالَى:
{وَلَتَسْمَعُنَّ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ
وَمِنَ الَّذِينَ أَشْرَكُوا أَذًى كَثِيرًا [وَإِنْ تَصْبِرُوا
وَتَتَّقُوا فَإِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ الأمُورِ] } وَقَالَ تَعَالَى:
{وَدَّ كَثِيرٌ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ لَوْ يَرُدُّونَكُمْ مِنْ بَعْدِ
إِيمَانِكُمْ كُفَّارًا حَسَدًا مِنْ عِنْدِ أَنْفُسِهِمْ مِنْ بَعْدِ مَا
تَبَيَّنَ لَهُمُ الْحَقُّ فَاعْفُوا وَاصْفَحُوا حَتَّى يَأْتِيَ اللَّهُ
بِأَمْرِهِ} الْآيَةَ [الْبَقَرَةِ:109] ، وَكَانَ النَّبِيُّ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتَأوّل فِي الْعَفْوِ مَا أَمَرَهُ اللَّهُ
بِهِ، حَتَّى أذنَ اللَّهُ فِيهِمْ، فَلَمَّا غَزَا رسولُ اللَّهِ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَدْرًا، فَقَتَلَ اللَّهُ بِهِ صَنَادِيدَ
كُفَّارِ قُرَيْشٍ، قَالَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أبَيّ ابْنُ سَلُول وَمَنْ
مَعَهُ مِنَ الْمُشْرِكِينَ وَعَبَدَةِ الْأَوْثَانِ: هَذَا أَمْرٌ قَدْ
تَوَجّه، فبايعُوا الرَّسُولَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى
الْإِسْلَامِ وَأَسْلَمُوا
telah menceritakan kepada kami Abul Yaman, telah menceritakan kepada
kami Syu'aib, dari Az-Zuhri, telah menceritakan kepadaku Urwah ibnuz
Zubair; Usamah ibnu Zaid telah menceritakan kepadanya bahwa Rasulullah
Saw. mengendarai himar (keledai) dengan memakai kain qatifah fadakiyah,
seraya membonceng Usamah ibnu Zaid di belakangnya, dalam rangka hendak
menjenguk Sa'd ibnu Ubadah yang ada di Banil Haris ibnul Khazraj. Hal
ini terjadi sebelum Perang Badar. Ketika beliau melewati suatu majelis
yang di dalamnya terdapat Abdullah ibnu Ubay ibnu Salul sebelum dia
Islam (lahiriahnya), ternyata di dalam majelis terdapat campuran
orang-orang yang terdiri atas kaum muslim, kaum musyrik penyembah
berhala, dan Ahli Kitab Yahudi. Di dalam majelis itu terdapat pula
Abdullah ibnu Rawwahah. Di saat majelis tersebut tertutup oleh debu
kendaraan Nabi Saw., maka Abdullah ibnu Ubay menutupi hidungnya dengan
kain selendangnya, lalu berkata, "Janganlah engkau membuat kami
berdebu." Rasulullah Saw. mengucapkan salam kepada mereka, lalu berhenti
dan turun dari kendaraannya, kemudian menyeru mereka untuk menyembah
Allah Swt. dan membacakan Al-Qur'an kepada mereka. Maka Abdullah ibnu
Ubay berkata, "Hai manusia, sesungguhnya aku tidak pandai mengucapkan
apa yang kamu katakan itu, jika hal itu benar. Maka janganlah kamu
ganggu kami dengannya dalam majelis kami ini. Kembalilah ke kendaraanmu,
dan barang siapa yang datang kepadamu, ceritakanlah (hal itu)
kepadanya!' Abdullah ibnu Rawwahah berkata, "Tidak, wahai Rasulullah,
liputilah kami dengan debumu di majelis kami ini, karena sesungguhnya
kami menyukai apa yang engkau sampaikan itu!" Akhirnya kaum muslim
saling mencaci dengan kaum musyrik dan orang-orang Yahudi, hingga hampir
saja mereka saling baku hantam, tetapi Rasulullah Saw. terus-menerus
melerai mereka hingga mereka tenang kembali. Sesudah itu Rasulullah Saw.
mengendarai kembali keledainya, lalu meneruskan perjalanannya hingga
sampai di rumah Sa'd ibnu Ubadah. Beliau masuk ke dalam rumahnya, lalu
bersabda kepadanya, "Hai Sa'd, tidakkah engkau mendengar apa yang telah
dikatakan oleh Abu Hubab —yang beliau maksud adalah Abdullah ibnu Ubay—?
Dia telah mengatakan anu dan anu." Sa'd ibnu Ubadah menjawab, "Wahai
Rasulullah, maafkanlah dia dan ampunilah dia. Demi Tuhan yang telah
menurunkan Al-Qur'an kepadamu, sesungguhnya Allah telah menurunkan
perkara yang hak kepadamu, dan sesungguhnya semua penduduk kota ini
telah berdamai (setuju) untuk mengangkat dia (Ibnu Ubay) menjadi
pemimpin mereka dan membelanya dengan penuh kefanatikan. Akan tetapi,
setelah Allah menolak hal tersebut dengan perkara hak yang telah Dia
turunkan kepadamu, maka dia merasa tersisihkan, maka apa yang telah
engkau lihat itu merupakan ungkapan rasa tidak puasnya." Maka Rasulullah
Saw. memaafkan tindakan Ibnu Ubay itu. Rasulullah Saw. dan para
sahabatnya bersikap pemaaf terhadap gangguan kaum musyrik dan kaum Ahli
Kitab seperti apa yang diperintahkan oleh Allah kepada mereka, dan tetap
bersabar serta menahan diri. Allah Swt. telah berfirman: Dan (juga)
kalian sungguh-sungguh akan mendengar dari orang-orang yang diberi kitab
sebelum kalian dan dari orang-orang yang mempersekutukan Allah,
gangguan yang banyak yang menyakitkan hati. (Ali Imran: 186), hingga
akhir ayat. Dalam ayat yang lainnya Allah Swt. telah berfirman: Sebagian
besar Ahli Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kalian
kepada kekafiran setelah kalian beriman karena dengki yang (timbul) dari
diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran.Maka
maafkanlah dan biarkanlah mereka, sampai Allah mendatangkan
perintah-Nya. (Al-Baqarah: 109), hingga akhir ayat. Nabi Saw. bersikap
pemaaf menurut pengertian yang beliau pahami dari perintah Allah Swt.
sehingga Allah memberikan izin kepada beliau untuk bertindak terhadap
mereka. Ketika Rasulullah Saw. melakukan Perang Badar, yang di dalam
perang itu Allah mematikan banyak para pemimpin orang-orang kafir
Quraisy, maka Abdullah ibnu Ubay ibnu Salul dan orang-orang musyrik
penyembah berhala yang mengikutinya mengatakan, "Ini merupakan suatu
perkara yang sudah kuat, maka berbaiatlah kalian kepada Rasulullah Saw.
untuk Islam." Akhirnya mereka berbaiat dan masuk Islam.
Setiap orang yang menegakkan kebenaran atau memerintahkan kepada
kebajikan atau melarang terhadap perbuatan mungkar pasti mendapat
ganguan dan rintangan, dan tiada jalan baginya kecuali ber-sabar demi
membela agama Allah dan meminta pertolongan kepada-Nya serta
mengembalikan segala sesuatunya kepada Dia.
Firman Allah Swt.:
وَلا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
dan janganlah sekali-kali kalian mati melainkan dalam keadaan beragama Islam. (Ali Imran: 102)
Artinya, peliharalah Islam dalam diri kalian sewaktu kalian sehat dan
sejahtera agar kalian nanti mati dalam keadaan beragama Islam, karena
sesungguhnya sifat dermawan itu terbina dalam diri seseorang berkat
kebiasaannya dalam berderma. Barang siapa yang hidup menjalani suatu
hal, maka ia pasti mati dalam keadaan berpegang kepada hal itu; dan
barang siapa yang mati dalam keadaan berpegang kepada suatu hal, maka
kelak ia dibangkitkan dalam keadaan tersebut. Kami berlindung kepada
Allah dari kebalikan hal tersebut.
قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا رَوْح، حَدَّثَنَا شُعْبة قَالَ:
سمعتُ سُلَيْمَانَ، عَنْ مُجَاهِدٍ، أَنَّ النَّاسَ كَانُوا يَطُوفُونَ
بِالْبَيْتِ، وابنُ عَبَّاسٍ جَالِسٌ مَعَهُ مِحْجَن، فَقَالَ: قَالَ
رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: " {يَا أَيُّهَا
الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلا
وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ} وَلَوْ أنَّ قَطْرَةً مِنَ الزَّقُّومِ قُطِرَتْ
لأمَرّتْ عَلَى أهْلِ الأرْضِ عِيشَتَهُمْ فَكَيْفَ بِمَنْ لَيْسَ لَهُ
طَعَامٌ إِلَّا الزَّقُّومُ".
Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Rauh, telah
menceritakan kepada kami Syu'bah, bahwa Sulaiman pernah mengatakan dari
Mujahid, "Sesungguhnya ketika orang-orang sedang melakukan tawaf di
Baitullah dan Ibnu Abbas sedang duduk berpegang kepada tongkatnya, lalu
ia mengatakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda seraya membacakan
firman-Nya: 'Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah
sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kalian mati
melainkan dalam keadaan beragama Islam' (Ali Imran: 102).
Seandainya setetes dari zaqqum (makanan ahli neraka) dijatuhkan ke dunia
ini, niscaya tetesan zaqqum itu akan merusak semua makanan penduduk
dunia. Maka bagaimana dengan orang yang tidak mempunyai makanan lain
kecuali hanya zaqqum (yakni ahli neraka) ."
Hal yang sama diriwayatkan oleh Imam Turmuzi, Imam Nasai, Imam Ibnu
Majah, dan Imam Ibnu Hibban di dalam kitab sahihnya; serta Imam Hakim di
dalam kitab Mustadrak-nya melalui jalur Syu'bah dengan lafaz yang sama.
Imam Turmuzi mengatakan hadis ini hasan sahih. Imam Hakim mengatakan
sahih dengan syarat Syaikhain, tetapi keduanya tidak mengetengahkan
hadis ini.
قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا وَكِيع، حَدَّثَنَا الْأَعْمَشُ،
عَنْ زَيْدِ بْنِ وَهْب، عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَبْدِ رَبِّ
الْكَعْبَةِ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرو قَالَ: قَالَ رَسُولُ
اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "مَنْ أَحَبَّ أنْ يُزَحْزَحَ
عَنِ النَّار وَيَدْخُلَ الْجَنَّةَ، فَلْتُدْرِكْهُ مَنِيَّتُهُ، وَهُوَ
يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ، ويَأْتِي إلَى النَّاسِ مَا يُحِبُّ
أنْ يُؤتَى إلَيْهِ "
Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Waki', telah
menceritakan kepada kami Al-A'masy, dari Zaid ibnu Wahb, dari Abdur
Rahman ibnu Abdu Rabbil Ka'bah, dari Abdullah ibnu Amr yang menceritakan
bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda: Barang siapa yang suka bila
dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka hendaklah di
saat kematian menyusulnya ia dalam keadaan beriman kepada Allah dan hari
kemudian, dan hendaklah ia memberikan kepada orang lain apa yang ia
sukai bila diberikan kepada dirinya sendiri.
قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ أَيْضًا: حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ،
حَدَّثَنَا الْأَعْمَشُ، عَنْ أَبِي سُفْيَانَ، عَنْ جَابِرٍ قَالَ:
سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وسلم يَقُولُ قَبْلَ
مَوْتِهِ بِثَلَاثٍ: "لَا يَمُوتَنَّ أحَدُكُمْ إِلَّا وَهُوَ يُحْسِنُ
الظَّنَّ بِاللهِ عَزَّ وَجَلَّ".
Imam Ahmad mengatakan pula bahwa telah menceritakan kepada kami Abu
Mu'awiyah, telah menceritakan kepada kami Al-A'masy, dari Abu Sufyan,
dari Jabir yang menceritakan bahwa ia mendengar Rasulullah Saw. bersabda
tiga hari sebelum wafat, yaitu: Jangan sekali-kali seseorang di antara
kalian meninggal dunia melainkan ia dalam keadaan berbaik prasangka
kepada Allah Swt.
Imam Muslim meriwayatkannya melalui jalur Al-A'masy dengan lafaz yang sama.
قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا حَسَنُ بْنُ مُوسَى، حَدَّثَنَا
ابْنُ لَهِيعة، حَدَّثَنَا [أَبُو] يُونُسَ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنْ
رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ: "إنَّ
اللهَ قَالَ: أنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي، فإنْ ظَنَّ بِي خَيْرًا
فَلَهُ، وَإنْ ظَنَّ شَرا فَلَهُ "
Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Hasan ibnu Musa,
telah menceritakan kepada kami Ibnu Luhai'ah, telah menceritakan kepada
kami Yunus, dari Abu Hurairah, dari Rasulullah Saw., bahwa beliau Saw.
pernah bersabda: Sesungguhnya Allah telah berfirman, "Aku mengikuti
prasangka hamba-Ku terhadap diri-Ku. Maka jika dia menyangka balk
kepada-Ku, itulah yang didapatinya. Dan jika dia berprasangka buruk
terhadap-Ku, maka itulah yang didapatinya."
Asal hadis ini ditetapkan di dalam kitab Sahihain melalui jalur lain dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda:
"يَقُولُ اللهُ [عَزَّ وَجَلَّ] أنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي"
Allah berfirman, "Aku menuruti prasangka hamba-Ku terhadap diri-Ku."
قَالَ الْحَافِظُ أَبُو بَكْرٍ الْبَزَّارُ: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ
عَبْدِ الْمَلِكِ القُرَشي، حَدَّثَنَا جَعْفَرُ بْنُ سُلَيْمَانَ، عَنْ
ثَابِتٍ -وَأَحْسَبُهُ-عَنْ أَنَسٍ قَالَ: كَانَ رَجُلٌ مِنَ الْأَنْصَارِ
مَرِيضًا، فَجَاءَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
يَعودُه، فَوَافَقَهُ فِي السُّوقِ فسلَّم عَلَيْهِ، فَقَالَ لَهُ: "كَيْفَ
أنْتَ يَا فُلانُ؟ " قَالَ بِخَيْرٍ يَا رَسُولَ اللَّهِ، أرجو الله أخاف
ذُنُوبِي. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:
"لَا يَجْتَمِعَانِ فِي قَلْبِ عَبْدٍ فِي هَذَا الْمَوْطِنِ إِلَّا
أعْطَاهُ اللهُ مَا يَرْجُو وآمَنَهُ ممَّا يَخَافُ".
Al-Hafiz Abu Bakar Al-Bazzar mengatakan, telah menceritakan kepada kami
Muhammad ibnu Abdul Malik Al-Qurasyi, telah menceritakan kepada kami
Ja'far ibnu Sulaiman, dari Sabit menurut dugaanku dari Anas yang
menceritakan bahwa ada seorang lelaki dari kalangan Ansar mengalami
sakit, maka Nabi Saw. datang menjenguknya. Dan di lain waktu Nabi Saw.
bersua dengannya di pasar, lalu beliau mengucapkan salam kepadanya dan
bertanya kepadanya, "Bagaimanakah keadaanmu, hai Fulan?" Lelaki itu
menjawab, "Dalam keadaan baik, wahai Rasulullah. Aku berharap kepada
Allah, tetapi aku takut akan dosa-dosaku." Maka Rasulullah Saw.
bersabda: Tidak sekali-kali berkumpul di dalam kalbu seorang hamba yang
dalam keadaan seperti ini (yakni sakit), melainkan Allah memberinya apa
yang diharapkannya, dan mengamankannya dari apa yang dikhawatirkannya.
Kemudian Al-Bazzar mengatakan bahwa kami tidak mengetahui perawi yang
meriwayatkannya dari Sabit selain Ja'far ibnu Sulaiman. Demikian pula
Imam Turmuzi, Imam Nasai, dan Imam Ibnu Majah meriwayatkannya dari
hadisnya. Kemudian Imam Turmuzi mengatakan bahwa hadis ini garib. Hal
yang sama diriwayatkan oleh sebagian mereka (para perawi) dari Sabit
secara mursal.
Adapun hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad seperti berikut: Telah
menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ja'far, telah menceritakan kepada
kami Syu'bah, dari Abu Bisyr, dari Yusuf ibnu Mahik, dari Hakim ibnu
Hizam yang menceritakan: Aku telah berbaiat (berjanji setia) kepada
Rasulullah Saw. bahwa aku tidak akan mundur kecuali dalam keadaan
berdiri.
Imam Nasai meriwayatkannya di dalam kitab sunannya dari Ismail ibnu
Mas'ud, dari Khalid ibnul Haris, dari Syu'bah dengan lafaz yang sama;
dan ia mengategorikannya ke dalam Bab "Cara Menyungkur untuk Bersujud",
lalu ia mengetengahkannya dengan lafaz yang semisal.
Menurut suatu pendapat, makna hadis di atas ialah bahwa aku tidak akan mati kecuali dalam keadaan sebagai orang muslim.
Menurut pendapat yang lain lagi, makna yang dimaksud ialah bahwa aku
tidak sekali-kali berperang (berjihad) melainkan dalam keadaan menghadap
(maju), bukan membelakangi (mundur/lari). Pengertian ini merujuk kepada
makna yang pertama.
Firman Allah Swt.:
وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعاً وَلا تَفَرَّقُوا
Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kalian bercerai-berai.(Ali Imran: 103)
Menurut suatu pendapat, yang dimaksud dengan hablillah ialah janji
Allah. Seperti yang disebutkan di dalam ayat selanjutnya, yaitu
firman-Nya:
ضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الذِّلَّةُ أَيْنَ مَا ثُقِفُوا إِلَّا بِحَبْلٍ مِنَ اللَّهِ وَحَبْلٍ مِنَ النَّاسِ
Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka
berpegang kepada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan
manusia. (ali Imran: 112)
Yakni janji dan jaminan.
Menurut pendapat yang lain, yang dimaksud ialah Al-Qur'an. Sebagaimana
yang disebutkan di dalam hadis Al-Haris Al-A'war, dari sahabat Ali
secara marfu' mengenai sifat Al-Qur'an, yaitu:
"هُوَ حَبْلُ اللهِ الْمتِينُ، وَصِرَاطُهُ الْمُسْتَقِيمُ".
Al-Qur'an adalah tali Allah yang kuat dan jalan-Nya yang lurus.
Sehubungan dengan hal ini terdapat hadis yang khusus membahas mengenai
makna ini. Untuk itu Imam Al-Hafiz Abu Ja'far At-Tabari mengatakan:
حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ يَحْيَى الْأُمَوِيُّ، حَدَّثَنَا أَسْبَاطُ بْنُ
مُحَمَّدٍ، عَنْ عَبْدِ الْمَلِكِ بْنِ أَبِي سُلَيْمَانَ العَرْزَمي، عَنْ
عَطِيَّةَ عَنْ [أَبِي] سَعِيدٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "كِتَابُ اللهِ، هُوَ حَبْلُ اللهِ
الْمَمْدُودُ مِنَ السَّمَاءِ إلَى الأرْضِ"
telah menceritakan kepada kami Sa'id ibnu Yahya Al-Umawi, telah
menceritakan kepada kami Asbat ibnu Muhammad, dari Abdul Malik ibnu
Sulaiman Al-Azrami, dari Atiyyah, dari Abu Sa'id yang menceritakan bahwa
Rasulullah Saw. pernah bersabda: Kittabullah (Al-Qur'an) adalah tali
Allah yang menjulur dari langit ke bumi.
وَرَوَى ابْنُ مَرْدُويَه مِنْ طَرِيقِ إِبْرَاهِيمَ بْنِ مُسْلِمٍ
الهَجَريّ، عَنْ أَبِي الأحْوَص، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ
عَنْهُ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:
"إنَّ هَذَا الْقُرْآنَ هُوَ حَبْلُ اللهِ الْمتِينُ، وَهُوَ النُّورُ
الْمُبِينُ وهُوَ الشِّفَاءُ النَّافِعُ، عِصْمةٌ لِمَنْ تَمَسَّكَ بِهِ،
ونَجَاةٌ لِمَنِ اتَّبَعَهُ"
Ibnu Murdawaih meriwayatkan dari jalur Ibrahim ibnu Muslim Al-Hijri,
dari Abu Ahwas, dari Abdullah r.a. yang menceritakan bahwa Rasulullah
Saw. pernah bersabda: Sesungguhnya Al-Qur'an ini adalah tali Allah yang
kuat. Dia adalah cahaya yang jelas, dia adalah penawar yang bermanfaat,
perlindungan bagi orang yang berpegang kepadanya, dan keselamatan bagi
orang yang mengikuti (petunjuk)Nya.
Telah diriwayatkan dari hadis Huzaifah dan Zaid ibnu Arqam hal yang semisal.
وَقَالَ وَكِيع: حَدَّثَنَا الْأَعْمَشُ عَنْ أَبِي وَائِلٍ قَالَ: قَالَ
عَبْدُ اللَّهِ: إِنَّ هَذَا الصِّرَاطَ مُحْتَضَرٌ تَحْضُرُهُ
الشَّيَاطِينُ، يَا عَبْدَ اللَّهِ، بِهَذَا الطَّرِيقِ هَلُمَّ إِلَى
الطَّرِيقِ، فَاعْتَصَمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ فَإِنَّ حَبْلَ اللَّهِ
الْقُرْآنُ
Waki' mengatakan, telah menceritakan kepada kami Al-A'masy, dari Abu
Wail yang menceritakan bahwa Abdullah pernah mengatakan (bahwa
Rasulullah Saw. pernah bersabda kepadanya):Sesungguhnya jalan itu adalah
tempat lalu lalang, setan-setan selalu datang kepadanya. Hai Abdullah,
ambillah jalan ini, kemarilah, tempuhlah jalan ini. Maka mereka
berpegang kepada tali Allah karena sesungguhnya tali Allah itu adalah
Al-Qur'an.
Firman Allah Swt.:
وَلا تَفَرَّقُوا
Dan jangan kalian bercerai-berai. (Ali Imran: 103)
Allah memenntahkan kepada mereka untuk menetapi jamaah (kesatuan) dan
melarang mereka bercerai-berai. Banyak hadis yang isinya melarang
bercerai-berai dan memerintahkan untuk bersatu dan rukun. Seperti yang
dinyatakan di dalam kitab Sahih Muslim melalui hadis Suhail ibnu Abu
Saleh, dari ayahnya, dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah Saw. pernah
bersabda:
«إِنَّ اللَّهَ يَرْضَى لَكُمْ ثَلَاثًا، وَيَسْخَطُ لَكُمْ ثَلَاثًا،
يَرْضَى لَكُمْ أَنْ تَعْبُدُوهُ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا، وَأَنْ
تَعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا، وَأَنْ
تُنَاصِحُوا مَنْ وَلَّاهُ اللَّهُ أَمْرَكُمْ، وَيَسْخَطُ لَكُمْ
ثَلَاثًا: قِيلَ وَقَالَ، وَكَثْرَةَ السُّؤَالِ، وَإِضَاعَةَ الْمَالِ»
Sesungguhnya Allah rida kepada kalian dalam tiga perkara dan murka
kepada kalian dalam tiga perkara. Allah rida kepada kalian bila kalian
menyembah-Nya dan kalian tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun,
bila kamu sekalian berpegang teguh kepada tali Allah dan tidak
bercerai-berai, dan bila kalian saling menasihati dengan orang yang
dikuasakan oleh Allah untuk mengurus perkara kalian. Dan Allah murka
kepada kalian dalam tiga perkara, yaitu qil dan qal (banyak bicara atau
berdebat), banyak bertanya dan menyia-nyiakan (menghambur-hamburkan)
harta.
Bilamana mereka hidup dalam persatuan dan kesatuan, niscaya terjaminlah
mereka dari kekeliruan, seperti yang disebutkan oleh banyak hadis
mengenai hal tersebut. Sangat dikhawatirkan bila mereka bercerai-berai
dan bertentangan. Hal ini ternyata menimpa umat ini, hingga
bercerai-berailah mereka menjadi tujuh puluh tiga golongan. Di antaranya
terdapat suatu golongan yang selamat masuk surga dan diselamatkan dari
siksa neraka. Mereka adalah orang-orang yang mengikuti jejak yang telah
dilakukan oleh Nabi Saw. dan para sahabatnya.
Firman Allah Swt.:
وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْداءً فَأَلَّفَ
بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْواناً
dan ingatlah akan nikmat Allah kepada kalian ketika kalian dahulu (masa
Jahiliah) bermusuh-musuhan, maka Allah menjinakkan antara hati kalian,
lalu menjadilah kalian karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara.
(Ali Imran: 103), hingga akhir ayat.
Konteks ayat ini berkaitan dengan keadaan kabilah Aus dan kabilah
Khazraj, karena sesungguhnya dahulu di antara mereka sering terjadi
peperangan, yaitu di masa Jahiliah. Kedengkian dan permusuhan,
pertentangan yang keras di antara mereka menyebabkan meletusnya perang
yang berkepanjangan di antara sesama mereka. Ketika Islam datang dan
masuk Islamlah sebagian orang di antara mereka, maka jadilah mereka
sebagai saudara yang saling mengasihi berkat keagungan Allah. Mereka
dipersatukan oleh agama Allah dan saling membantu dalam kebajikan dan
ketakwaan.
Allah Swt. berfirman:
هُوَ الَّذِي أَيَّدَكَ بِنَصْرِهِ وَبِالْمُؤْمِنِينَ وَأَلَّفَ بَيْنَ
قُلُوبِهِمْ لَوْ أَنْفَقْتَ مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعاً مَا أَلَّفْتَ
بَيْنَ قُلُوبِهِمْ، وَلكِنَّ اللَّهَ أَلَّفَ بَيْنَهُمْ
Dialah yang memperkuatmu dengan pertolongan-Nya dan dengan para mukmin,
dan yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun
kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu
tidak dapat mempersatukan hati mereka, tetapi Allah telah mempersatukan
hati mereka. (Al-Anfal: 62-63)
sebelum itu mereka berada di tepi jurang neraka karena kekafiran mereka,
lalu Allah menyelamatkan mereka darinya dengan memberi mereka petunjuk
kepada iman.
Sesungguhnya hal tersebut disebut-sebut oleh Rasulullah Saw. pada hari
beliau membagi-bagikan ganimah Hunain, lalu ada sebagian orang yang
merasa kurang puas karena ada sebagian yang lain mendapat bagian yang
lebih banyak daripada mereka. Nabi Saw. Sengaja melakukan demikian
karena berdasarkah apa yang dianjurkan oleh Allah Swt. kepadanya. Lalu
Nabi Saw. bersabda kepada mereka:
«يَا مَعْشَرَ الْأَنْصَارِ أَلَمْ أَجِدْكُمْ ضُلَّالًا فَهَدَاكُمُ
اللَّهُ بِي، وَكُنْتُمْ مُتَفَرِّقِينَ فَأَلَّفَكُمُ اللَّهُ بِي،
وَعَالَةً فَأَغْنَاكُمُ الله بي؟»
Hai orang-orang Ansar, bukankah aku menjumpai kalian dalam keadaan
sesat, lalu Allah memberi petunjuk kepada kalian melalui diriku; dan
kalian dalam keadaan bercerai-berai, lalu Allah mempersatukan kalian
melalui diriku; dan kalian dalam keadaan miskin, lalu Allah memberi
kecukupan kepada kalian melalui aku?
Setiap kalimat yang diucapkan Nabi Saw. hanya bisa mereka katakan dengan
kalimat berikut sebagai pengakuan mereka, "Hanya kepada Allah dan
Rasul-Nya kami percaya."
Muhammad ibnu Ishaq ibnu Yasar dan lain-lainnya menceritakan bahwa ayat
ini diturunkan berkenaan dengan peristiwa yang dialami oleh kabilah Aus
dan kabilah Khazraj. Demikian itu terjadi ketika ada seorang lelaki
Yahudi lewat di hadapan sejumlah orang penting dari kalangan kabilah Aus
dan kabilah Khazraj, maka si Yahudi itu merasa tidak senang dengan
kesatuan dan kerukunan yang ada di antara mereka.
Lalu ia mengirimkan seorang lelaki kepercayaannya dan memerintahkan
kepadanya duduk bersama mereka dan mengingatkan mereka kepada
peristiwa-peristiwa masa lalu yang pernah terjadi di antara mereka,
yaitu peperangan Bi'as dan peperangan-peperangan lainnya yang terjadi di
antara sesama mereka. Kemudian lelaki utusan si Yahudi itu melakukan
apa yang diperintahkan kepadanya; dengan tekunnya ia melakukan tugas
tersebut secara rutin, hingga suasana kaum menjadi panas kembali dan
bangkitlah amarah sebagian mereka terhadap sebagian yang lain. Lalu
timbullah fanatisme mereka, dan masing-masing pihak menyerukan
semboyan-semboyannya, lalu mempersiapkan senjatanya masing-masing dan
mengadakan tantangan kepada lawannya di tempat yang terbuka pada hari
tertentu.
Ketika berita tersebut sampai kepada Nabi Saw., maka beliau mendatangi
mereka, lalu beliau meredakan dan melerai mereka serta bersabda:
«أَبِدَعْوَى الْجَاهِلِيَّةِ وَأَنَا بَيْنَ أَظْهُرِكُمْ؟»
Apakah kalian menyerukan seruan Jahiliah, sedangkan aku ada di antara kalian?
Kemudian Rasulullah Saw. membacakan ayat ini kepada mereka. Akhirnya
mereka menyesali perbuatannya, lalu mereka berdamai, saling berpelukan,
dan semua senjata mereka lemparkan. Semoga Allah melimpahkan rida-Nya
kepada mereka.
Ikrimah menyebutkan bahwa peristiwa tersebut menimpa mereka ketika
mereka dalam keadaan emosi karena peristiwa berita bohong (hadis’ul
ifki).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar