Kita semua tentunya pernah mendengar istilah riya. Riya artinya secara
bebas adalah melakukan suatu ibadah yang syar’i dengan niat untuk
mencari penilaian baik dari selain Allah ta’ala. Bahaya riya’ selalu
menyerang kepada seseorang yang melakukan ibadah atau aktifitas
tertentu.
Penyakit ini termasuk jenis penyakit yang sangat berbahaya karena
bersifat lembut (samar-samar) tapi berdampak luar biasa. Bersifat lembut
karena masuk dalam hati secara halus sehingga kebanyakan orang tak
merasa kalau telah terserang penyakit ini. Dan berdampak luar biasa,
karena bila suatu amalan dijangkiti penyakit riya’ maka amalan itu tidak
akan diterima oleh Allah subhanahu wata’ala dan pelakunya mendapat
ancaman keras dari Allah subhanahu wata’ala. Oleh karena itu Nabi
shalallahu ‘alaihi wasallam sangat khawatir bila penyakit ini menimpa
umatnya. Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمْ الشِّرْكُ الأَصْغَرُ قَالُوا يَا
رَسُولَ اللَّهِ وَمَا الشِّرْكُ الأَصْغَرُ قَالَ الرِّيَاءُ
“Sesungguhnya yang paling ditakutkan dari apa yang saya takutkan menimpa
kalian adalah asy syirkul ashghar (syirik kecil), maka para shahabat
bertanya, apa yang dimaksud dengan asy syirkul ashghar? Beliau
shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab: “Ar Riya’.” (HR. Ahmad dari
shahabat Mahmud bin Labid no. 27742)
Dalam kesempatan ini, kita tidak membahas dalil-dalil tentang
pengharaman riya secara khusus, namun kita akan membahas riya dari sisi
yang lain.
قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ يَقُوْلُ : إِنَّ اَوَّلَ النَّاسِ يُقْضَى
يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَيْهِ رَجُلٌ اسْتُشْهِدَ فَأُتِيَ بِهِ
فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَعَهَا, قَالَ: فَمَا عَمِلْتَ فِيْهَا؟
قَالَ: قَاتَلْتُ فِيْكَ حَتَّى اسْتُشْهِدْتُ قَالَ: كَذَبْتَ وَلَكِنَّكَ
قَاتَلْتَ ِلأَنْ يُقَالَ جَرِيْءٌ, فَقَدْ قِيْلَ ، ثُمَّ أُمِرَ بِهِ
فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى اُلْقِيَ فيِ النَّارِ, وَرَجُلٌ تَعَلَّمَ
الْعِلْمَ وَعَلَّمَهُ وَقَرَأََ اْلقُرْآنَ فَأُُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ
نِعَمَهُ فَعَرَفَعَهَا, قَالَ: فَمَا عَمِلْتَ فِيْهَا؟ قَالَ:
تَعَلَّمْتُ الْعِلْمَ وَعَلَّمْتُهُ وَقَرَأْتُ فِيْكَ اْلقُرْآنَ,
قَالَ:كَذَبْتَ, وَلَكِنَّكَ تَعَلَّمْتَ الْعِلْمَ لِيُقَالَ: عَالِمٌ
وَقَرَأْتَ اْلقُرْآنَ لِيُقَالَ هُوَ قَارِىءٌٌ ، فَقَدْ قِيْلَ ، ثُمَّ
أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى اُلْقِيَ فيِ النَّارِ,
وَرَجُلٌ وَسَّعَ اللهُ عَلَيْهِ وَاَعْطَاهُ مِنْ اَصْْنَافِ الْمَالِ
كُلِّهِ فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا, قَالَ: فَمَا
عَمِلْتَ فِيْهَا؟ قَالَ: مَاتَرَكْتُ مِنْ سَبِيْلٍ تُحِبُّ أَنْ يُنْفَقَ
فِيْهَا إِلاَّ أَنْفَقْتُ فِيْهَا لَكَ, قَالَ: كَذَبْتَ ، وَلَكِنَّكَ
فَعَلْتَ لِيُقَالَ هُوَ جَوَادٌ فَقَدْ قِيْلَ, ثُمَّ أُمِرَ بِهِ
فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ ثُمَّ أُلْقِيَ فِي النَّارِ. رواه مسلم (1905)
وغيره
Dari Abi Hurairah Radhiyallahu 'anhu, ia berkata, aku mendengar
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda : “Sesungguhnya
manusia pertama yang diadili pada hari kiamat adalah orang yang mati
syahid di jalan Allah. Dia didatangkan dan diperlihatkan kepadanya
kenikmatan-kenikmatan (yang diberikan di dunia), lalu ia pun
mengenalinya. Allah bertanya kepadanya : 'Amal apakah yang engkau
lakukan dengan nikmat-nikmat itu?' Ia menjawab : 'Aku berperang
semata-mata karena Engkau sehingga aku mati syahid.' Allah berfirman :
'Engkau dusta! Engkau berperang supaya dikatakan seorang yang gagah
berani. Memang demikianlah yang telah dikatakan (tentang dirimu).'
Kemudian diperintahkan (malaikat) agar menyeret orang itu atas mukanya
(tertelungkup), lalu dilemparkan ke dalam neraka. Berikutnya orang (yang
diadili) adalah seorang yang menuntut ilmu dan mengajarkannya serta
membaca al Qur`an. Ia didatangkan dan diperlihatkan kepadanya
kenikmatan-kenikmatannya, maka ia pun mengakuinya. Kemudian Allah
menanyakannya: 'Amal apakah yang telah engkau lakukan dengan
kenikmatan-kenikmatan itu?' Ia menjawab: 'Aku menuntut ilmu dan
mengajarkannya, serta aku membaca al Qur`an hanyalah karena engkau.'
Allah berkata : 'Engkau dusta! Engkau menuntut ilmu agar dikatakan
seorang ‘alim (yang berilmu) dan engkau membaca al Qur`an supaya
dikatakan (sebagai) seorang qari' (pembaca al Qur`an yang baik). Memang
begitulah yang dikatakan (tentang dirimu).' Kemudian diperintahkan
(malaikat) agar menyeret atas mukanya dan melemparkannya ke dalam
neraka. Berikutnya (yang diadili) adalah orang yang diberikan kelapangan
rezeki dan berbagai macam harta benda. Ia didatangkan dan diperlihatkan
kepadanya kenikmatan-kenikmatannya, maka ia pun mengenalinya
(mengakuinya). Allah bertanya : 'Apa yang engkau telah lakukan dengan
nikmat-nikmat itu?' Dia menjawab : 'Aku tidak pernah meninggalkan
shadaqah dan infaq pada jalan yang Engkau cintai, melainkan pasti aku
melakukannya semata-mata karena Engkau.' Allah berfirman : 'Engkau
dusta! Engkau berbuat yang demikian itu supaya dikatakan seorang
dermawan (murah hati) dan memang begitulah yang dikatakan (tentang
dirimu).' Kemudian diperintahkan (malaikat) agar menyeretnya atas
mukanya dan melemparkannya ke dalam neraka.’”
Hadits ini diriwayatkan oleh :
1. Muslim, Kitabul Imarah, bab Man Qaatala lir Riya' was Sum'ah Istahaqqannar (VI/47) atau (III/1513-1514 no. 1905).
2. An Nasa-i, Kitabul Jihad bab Man Qaatala liyuqala : Fulan Jari',
Sunan Nasa-i (VI/23-24), Ahmad dalam Musnad-nya (II/322) dan Baihaqi
(IX/168).
Hadits di atas menjelaskan tentang tiga golongan manusia yang dimasukkan
ke dalam neraka dan tidak mendapat penolong selain Allah. Mereka
membawa amal yang besar, tetapi mereka melakukannya karena riya', ingin
mendapatkan pujian dan sanjungan. Pelaku riya' , pada hari yang dibuka
dan disibak semua hati, wajahnya diseret secara tertelungkup sampai
masuk ke dalam neraka. Nas-alullaha as-Salaamah wal ‘Afiyah. Tiga
golongan tersebut ialah:
Golongan Pertama : Yaitu kaum yang dianugerahi Allah kesehatan dan
kekuatan. Kewajiban mereka seharusnya adalah mencurahkan semuanya untuk
Allah dan di jalan Allah dalam rangka mensyukuri nikmat-nikmatNya.
Tetapi sayang, setan telah menjadikan mereka mencurahkannya di luar
jalan ini. Mereka memang pergi ke medan jihad dan berperang, tetapi
tujuan mereka supaya disebut pemberani. Kepada merekalah Allah mengawali
pengadilanNya pada hari Kiamat. Lalu Allah memperlihatkan
nikmat-nikmatNya yang telah dianugerahkan kepada mereka, seraya bertanya
: “Apa yang kamu kerjakan dengan nikat-nikmat itu?” Pada saat itulah
Allah membuka rahasia hati mereka seraya berfirman : “Kamu pendusta!
Sesungguhnya kamu berperang (berjihad) hanya supaya dikatakan pemberani
(pahlawan).” Mereka tidak mampu membantah, karena memang demikianlah
kenyataannya. Malaikat pun diperintahkan menarik wajahnya dan
melemparkan ke dalam api neraka.
Golongan Kedua : Yaitu kaum yang dimuliakan Allah dengan diberi
kesempatan untuk menuntut ilmu dan mengajarkannya kepada manusia. Mereka
mampu membaca al Qur`an dan mempelajarinya. Seharusnya, dengan ilmu
tersebut mereka berniat karena Allah semata sebagai manifestasi rasa
syukur kepadaNya atas limpahan rahmatNya. Tetapi sayang, tujuan yang
semestinya karena Allah, telah dipalingkan dan dihiasi oleh setan,
sehingga mereka berbuat riya' (pamer) dengan ilmu itu di hadapan
manusia, agar mendapat pujian, kedudukan, harta dan jabatan. Mereka
tidak menyadari, bahwa Allah selalu melihat dan mengetahui apa yang
mereka lakukan. Allah mengetahui rahasia yang tersembunyi di hati
mereka. Ternyata, mereka belajar, mengajar dan membaca al Qur`an supaya
dikatakan sebagai seorang alim, pintar atau yang semisal itu. Sedangkan
yang membaca al Qur`an supaya dikatakan qari' atau qari’ah, orang yang
bagus dan indah bacaannya. Maka pada hari Kiamat nanti, tidak ada yang
mereka peroleh kecuali dikatakan “pendusta”. Mereka hanya terdiam
disertai kehinaan, kerugian dan penuh penyesalan. Kemudian Allah
menyuruh malaikat agar menyeret dan mencampakkan mereka ke dalam neraka.
Wal 'iyadzu billah.
Golongan Ketiga : Yaitu kaum yang diberi kelapangan rezeki dan berbagai
macam harta benda. Mereka adalah golongan yang mampu, kaya dan berduit.
Kewajiban mereka semestinya bersyukur kepada Allah dengan ikhlas karena
Allah semata. Tetapi sayang, mereka shadaqah, infaq, memberikan uang dan
mendermakan harta supaya menjadi terkenal dan dikatakan dermawan, karim
(yang mulia hatinya), supaya dikatakan orang yang khair (baik). Padahal
apa yang mereka katakan di hadapan Allah, bahwa mereka berinfaq,
bershadaqah karena Allah adalah dusta belaka. Sungguh telah dikatakan
yang demikian itu, dan mereka tidak bisa membantah. Allah mengetahui
hati dan tujuan mereka. Kemudian mereka diperintahkan untuk diseret atas
mukanya dan dicampakkan ke dalam neraka, dan mereka tidak mendapatkan
seorang penolong pun selain Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Imam Nawawi rahimahullah mengatakan, sabda Rasulullah Shallallahu
'alaihi wa sallam tentang orang yang berperang, orang alim dan dermawan
serta siksa Allah atas mereka, ialah karena mereka mengerjakan demikian
untuk selain Allah. Dan dimasukkan mereka ke dalam neraka menunjukkan
betapa haramnya riya' dan keras siksaannya, serta diwajibkannya ikhlas
dalam seluruh amal.
Tahukah anda bahwasanya riya merupakan bentuk penyerupaan (tasyabbuh)
terhadap orang-orang kafir dan munafik? Bila belum tahu, inilah
dalil-dalilnya:
Riya merupakan tasyabbuh terhadap sifat orang kafir. Dalilnya adalah firman Allah ta’ala:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُبْطِلُوا صَدَقَاتِكُمْ بِالْمَنِّ
وَالْأَذَى كَالَّذِي يُنْفِقُ مَالَهُ رِئَاءَ النَّاسِ وَلَا يُؤْمِنُ
بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ صَفْوَانٍ عَلَيْهِ
تُرَابٌ فَأَصَابَهُ وَابِلٌ فَتَرَكَهُ صَلْدًا لَا يَقْدِرُونَ عَلَى
شَيْءٍ مِمَّا كَسَبُوا وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian menghilangkan (pahala)
sedekah kalian dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si
penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada
manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka
perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah,
kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu ia menjadi bersih (tidak
bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka
usahakan dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang
kafir.” [QS Al Baqarah: 264]
Riya merupakan tasyabbuh terhadap sifat orang munafik. Dalilnya adalah firman Allah ta’ala:
إِنَّ الْمُنَافِقِينَ يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْ وَإِذَا
قَامُوا إِلَى الصَّلَاةِ قَامُوا كُسَالَى يُرَاءُونَ النَّاسَ وَلَا
يَذْكُرُونَ اللَّهَ إِلَّا قَلِيلًا
“Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan
membalas tipuan mereka. Apabila mereka berdiri untuk shalat mereka
berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan
manusia, dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali.” [QS
An Nisa: 142]
Beberapa ayat menerangkan agar kita dapat menjadi orang yang ikhlas dalam ibadah. Di antaranya adalah firman Allah Ta’ala,
وَمَا أُمِرُوا إِلا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ
حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ
الْقَيِّمَةِ
“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan
memurnikan ketaatan kepada-Nya (artinya: ikhlas) dalam (menjalankan)
agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan salat dan menunaikan
zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus” (QS. Al Bayyinah: 5).
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang bahaya riya’ (gila
pujian) bahwasanya amalan pelaku riya’ tidaklah dipedulikan oleh Allah.
Dalam hadits qudsi disebutkan,
قَالَ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنِ
الشِّرْكِ مَنْ عَمِلَ عَمَلاً أَشْرَكَ فِيهِ مَعِى غَيْرِى تَرَكْتُهُ
وَشِرْكَهُ
“Allah Tabaroka wa Ta’ala berfirman: Aku sama sekali tidak butuh pada
sekutu dalam perbuatan syirik. Barangsiapa yang menyekutukan-Ku dengan
selain-Ku, maka Aku akan meninggalkannya (artinya: tidak menerima
amalannya, pen) dan perbuatan syiriknya” (HR. Muslim no. 2985).
Imam Nawawi rahimahullah menuturkan, “Amalan seseorang yang berbuat
riya’ (tidak ikhlas), itu adalah amalan batil yang tidak berpahala
apa-apa, bahkan ia akan mendapatkan dosa” (Syarh Shahih Muslim, 18:
115).
Begitu pula peringatan keras bagi orang yang cuma mengharap dunia dalam
amalannya, di antaranya adalah mengharap pujian manusia disebutkan dalam
hadits berikut ini,
مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا مِمَّا يُبْتَغَى بِهِ وَجْهُ اللَّهِ عَزَّ
وَجَلَّ لاَ يَتَعَلَّمُهُ إِلاَّ لِيُصِيبَ بِهِ عَرَضًا مِنَ الدُّنْيَا
لَمْ يَجِدْ عَرْفَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Barangsiapa yang menutut ilmu yang sebenarnya harus ditujukan hanya
untuk mengharap wajah Allah, namun ia mempelajarinya hanya untuk meraih
tujuan duniawi, maka ia tidak akan pernah mencium bau surga pada hari
kiamat nanti” (HR. Abu Daud no. 3664, Ibnu Majah no. 252 dan Ahmad 2:
338.)
Dari Abu Sa’ad bin Abu Fudhalah Al-Anshari salah seorang sahabat Nabi
-alaihishshalatu wassalam-, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wasallam bersabda:
إِذَا جَمَعَ اللَّهُ الْأَوَّلِينَ وَالْآخِرِينَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
لِيَوْمٍ لَا رَيْبَ فِيهِ, نَادَى مُنَادٍ: مَنْ كَانَ أَشْرَكَ فِي
عَمَلٍ عَمِلَهُ لِلَّهِ فَلْيَطْلُبْ ثَوَابَهُ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ
اللَّهِ فَإِنَّ اللَّهَ أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنْ الشِّرْكِ
“Apabila Allah mengumpulkan orang-orang yang terdahulu dan orang-orang
yang terakhir pada hari kiamat – yang tidak ada keraguan dalamnya-, maka
akan ada seorang penyeru yang menyeru, “Barangsiapa berbuat syirik
dalam suatu amalan yang dia kerjakan untuk Allah, hendaknya dia meminta
balasan pahalanya kepada selain Allah tersebut. Karena sesungguhnya
Allah Maha tidak membutuhkan sekutu.” (HR. At-Tirmizi no. 3079, Ibnu
Majah no. 4193, dan Ahmad no. 17215)
Dari Abu Said Al-Khudri -radhiallahu anhu- dia berkata:
خَرَجَ عَلَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
وَنَحْنُ نَتَذَاكَرُ الْمَسِيحَ الدَّجَّالَ, فَقَالَ: أَلَا أُخْبِرُكُمْ
بِمَا هُوَ أَخْوَفُ عَلَيْكُمْ عِنْدِي مِنْ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ؟
قُلْنَا: بَلَى. فَقَالَ: الشِّرْكُ الْخَفِيُّ أَنْ يَقُومَ الرَّجُلُ
يُصَلِّي فَيُزَيِّنُ صَلَاتَهُ لِمَا يَرَى مِنْ نَظَرِ رَجُلٍ
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah keluar bersama kami,
sementara kami sedang berbincang-bincang tentang dahsyatnya fitnah
Al-Masih Ad-Dajjal. Maka beliau bersabda, “Maukah aku beritahukan kepada
kalian tentang sesuatu yang lebih aku khawatirkan menimpa diri kalian
daripada Al-Masih Ad-Dajjal?” Kami menjawab, “Tentu.” Beliau bersabda,
“Syirik yang tersembunyi, yaitu seseorang mengerjakan shalat lalu dia
membaguskan shalatnya karena ada seseorang yang memperhatikannya.” (HR.
Ibnu Majah no. 4194)
حَدَّثَنَا سُوَيْدُ بْنُ نَصْرٍ أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ
الْمُبَارَكِ أَخْبَرَنَا حَيْوَةُ بْنُ شُرَيْحٍ أَخْبَرَنِي الْوَلِيدُ
بْنُ أَبِي الْوَلِيدِ أَبُو عُثْمَانَ الْمَدَائِنِيُّ أَنَّ عُقْبَةَ
بْنَ مُسْلِمٍ حَدَّثَهُ أَنَّ شُفَيًّا الْأَصْبَحِيَّ حَدَّثَهُ أَنَّهُ
دَخَلَ الْمَدِينَةَ فَإِذَا هُوَ بِرَجُلٍ قَدْ اجْتَمَعَ عَلَيْهِ
النَّاسُ فَقَالَ مَنْ هَذَا فَقَالُوا أَبُو هُرَيْرَةَ فَدَنَوْتُ مِنْهُ
حَتَّى قَعَدْتُ بَيْنَ يَدَيْهِ وَهُوَ يُحَدِّثُ النَّاسَ فَلَمَّا
سَكَتَ وَخَلَا قُلْتُ لَهُ أَنْشُدُكَ بِحَقٍّ وَبِحَقٍّ لَمَا
حَدَّثْتَنِي حَدِيثًا سَمِعْتَهُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَقَلْتَهُ وَعَلِمْتَهُ فَقَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ
أَفْعَلُ لَأُحَدِّثَنَّكَ حَدِيثًا حَدَّثَنِيهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَقَلْتُهُ وَعَلِمْتُهُ ثُمَّ نَشَغَ أَبُو
هُرَيْرَةَ نَشْغَةً فَمَكَثَ قَلِيلًا ثُمَّ أَفَاقَ فَقَالَ
لَأُحَدِّثَنَّكَ حَدِيثًا حَدَّثَنِيهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي هَذَا الْبَيْتِ مَا مَعَنَا أَحَدٌ غَيْرِي
وَغَيْرُهُ ثُمَّ نَشَغَ أَبُو هُرَيْرَةَ نَشْغَةً أُخْرَى ثُمَّ أَفَاقَ
فَمَسَحَ وَجْهَهُ فَقَالَ لَأُحَدِّثَنَّكَ حَدِيثًا حَدَّثَنِيهِ رَسُولُ
اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَنَا وَهُوَ فِي هَذَا
الْبَيْتِ مَا مَعَنَا أَحَدٌ غَيْرِي وَغَيْرُهُ ثُمَّ نَشَغَ أَبُو
هُرَيْرَةَ نَشْغَةً أُخْرَى ثُمَّ أَفَاقَ وَمَسَحَ وَجْهَهُ فَقَالَ
أَفْعَلُ لَأُحَدِّثَنَّكَ حَدِيثًا حَدَّثَنِيهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَنَا مَعَهُ فِي هَذَا الْبَيْتِ مَا مَعَهُ
أَحَدٌ غَيْرِي وَغَيْرُهُ ثُمَّ نَشَغَ أَبُو هُرَيْرَةَ نَشْغَةً
شَدِيدَةً ثُمَّ مَالَ خَارًّا عَلَى وَجْهِهِ فَأَسْنَدْتُهُ عَلَيَّ
طَوِيلًا ثُمَّ أَفَاقَ فَقَالَ حَدَّثَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ اللَّهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى إِذَا كَانَ
يَوْمُ الْقِيَامَةِ يَنْزِلُ إِلَى الْعِبَادِ لِيَقْضِيَ بَيْنَهُمْ
وَكُلُّ أُمَّةٍ جَاثِيَةٌ فَأَوَّلُ مَنْ يَدْعُو بِهِ رَجُلٌ جَمَعَ
الْقُرْآنَ وَرَجُلٌ يَقْتَتِلُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَرَجُلٌ كَثِيرُ
الْمَالِ فَيَقُولُ اللَّهُ لِلْقَارِئِ أَلَمْ أُعَلِّمْكَ مَا أَنْزَلْتُ
عَلَى رَسُولِي قَالَ بَلَى يَا رَبِّ قَالَ فَمَاذَا عَمِلْتَ فِيمَا
عُلِّمْتَ قَالَ كُنْتُ أَقُومُ بِهِ آنَاءَ اللَّيْلِ وَآنَاءَ النَّهَارِ
فَيَقُولُ اللَّهُ لَهُ كَذَبْتَ وَتَقُولُ لَهُ الْمَلَائِكَةُ كَذَبْتَ
وَيَقُولُ اللَّهُ بَلْ أَرَدْتَ أَنْ يُقَالَ إِنَّ فُلَانًا قَارِئٌ
فَقَدْ قِيلَ ذَاكَ وَيُؤْتَى بِصَاحِبِ الْمَالِ فَيَقُولُ اللَّهُ لَهُ
أَلَمْ أُوَسِّعْ عَلَيْكَ حَتَّى لَمْ أَدَعْكَ تَحْتَاجُ إِلَى أَحَدٍ
قَالَ بَلَى يَا رَبِّ قَالَ فَمَاذَا عَمِلْتَ فِيمَا آتَيْتُكَ قَالَ
كُنْتُ أَصِلُ الرَّحِمَ وَأَتَصَدَّقُ فَيَقُولُ اللَّهُ لَهُ كَذَبْتَ
وَتَقُولُ لَهُ الْمَلَائِكَةُ كَذَبْتَ وَيَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى بَلْ
أَرَدْتَ أَنْ يُقَالَ فُلَانٌ جَوَادٌ فَقَدْ قِيلَ ذَاكَ وَيُؤْتَى
بِالَّذِي قُتِلَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَيَقُولُ اللَّهُ لَهُ فِي مَاذَا
قُتِلْتَ فَيَقُولُ أُمِرْتُ بِالْجِهَادِ فِي سَبِيلِكَ فَقَاتَلْتُ
حَتَّى قُتِلْتُ فَيَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى لَهُ كَذَبْتَ وَتَقُولُ لَهُ
الْمَلَائِكَةُ كَذَبْتَ وَيَقُولُ اللَّهُ بَلْ أَرَدْتَ أَنْ يُقَالَ
فُلَانٌ جَرِيءٌ فَقَدْ قِيلَ ذَاكَ ثُمَّ ضَرَبَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى رُكْبَتِي فَقَالَ يَا أَبَا هُرَيْرَةَ
أُولَئِكَ الثَّلَاثَةُ أَوَّلُ خَلْقِ اللَّهِ تُسَعَّرُ بِهِمْ النَّارُ
يَوْمَ الْقِيَامَةِ و قَالَ الْوَلِيدُ أَبُو عُثْمَانَ فَأَخْبَرَنِي
عُقْبَةُ بْنُ مُسْلِمٍ أَنَّ شُفَيًّا هُوَ الَّذِي دَخَلَ عَلَى
مُعَاوِيَةَ فَأَخْبَرَهُ بِهَذَا قَالَ أَبُو عُثْمَانَ وَحَدَّثَنِي
الْعَلَاءُ بْنُ أَبِي حَكِيمٍ أَنَّهُ كَانَ سَيَّافًا لِمُعَاوِيَةَ
فَدَخَلَ عَلَيْهِ رَجُلٌ فَأَخْبَرَهُ بِهَذَا عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ
فَقَالَ مُعَاوِيَةُ قَدْ فُعِلَ بِهَؤُلَاءِ هَذَا فَكَيْفَ بِمَنْ بَقِيَ
مِنْ النَّاسِ ثُمَّ بَكَى مُعَاوِيَةُ بُكَاءً شَدِيدًا حَتَّى ظَنَنَّا
أَنَّهُ هَالِكٌ وَقُلْنَا قَدْ جَاءَنَا هَذَا الرَّجُلُ بِشَرٍّ ثُمَّ
أَفَاقَ مُعَاوِيَةُ وَمَسَحَ عَنْ وَجْهِهِ وَقَالَ صَدَقَ اللَّهُ
وَرَسُولُهُ { مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا
نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لَا يُبْخَسُونَ
أُولَئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي الْآخِرَةِ إِلَّا النَّارُ
وَحَبِطَ مَا صَنَعُوا فِيهَا وَبَاطِلٌ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ } قَالَ
أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ
Telah menceritakan kepada kami [Suwaid bin Nashr] telah mengkhabarkan
kepada kami [Abdullah bin Al Mubarak] telah mengkhabarkan kepada kami
[Haiwah bin Syuraih] telah mengkhabarkan kepadaku [Al Walid bin Abu Al
Walid Abu 'Utsman Al Mada`ini] bahwa ['Uqbah bin Muslim] telah
menceritakan padanya bahwa [Syufaiya Al Ashbahi] telah menceritakan
padanya bahwa ia masuk ke Madina, ternyata ada seseorang yang dikerumuni
orang-orang. Syufaiya bertanya: Siapa dia? Mereka menjawab: Abu
Hurairah. Aku mendekatinya hingga aku duduk di hadapannya sementara ia
tengah menceritakan kepada orang-orang. Saat diam dan selesai, aku
berkata padanya: Aku menyumpahmu dengan kebenaran dan dengan kebenaran,
ceritakanlah suatu hadits padaku yang kau dengar dari Rasulullah
Shallallahu 'alahi wa Salam yang kau fahami dan yang kau ketahui.
Berkata [Abu Hurairah]: Baik, aku akan menceritakan suatu hadits
kepadamu yang diceritakan Rasulullah Shallallahu 'alahi wa Salam
kepadaku yang aku fahami dan aku ketahui. Abu Hurairah terisak-isak,
setelah itu ia diam sejenak, setelah sadar ia berkata: Aku akan
menceritakan kepada hadits yang diceritakan Rasulullah Shallallahu
'alahi wa Salam kepadaku di rumah ini, tidak ada orang lain bersamaku.
Setelah itu Abu Hurairah terisak-isak lagi, setelah mereda ia membasuh
wajahnya lalu berkata: Aku akan menceritakan kepadamu hadits yang
diceritakan Rasulullah Shallallahu 'alahi wa Salam kepadaku, aku dan
beliau di rumah ini, tidak ada orang lain bersamamu. Setelah itu Abu
Hurairah terisak-isak lagi, setelah mereda ia membeslah wajahnya lalu
berkata: Baik, aku akan menceritakan suatu hadis kepadamu yang
diceritakan Rasulullah Shallallahu 'alahi wa Salam kepadaku, aku bersama
beliau di rumah ini, tidak ada orang lain bersama beliau selain aku.
Setelah itu Abu Hurairah terisak-isak dengan keras, setelah itu ia
miring tersungkur di atas wajahnya lalu aku menyandarkannya dibadanku
selang berapa lama, setelah sadar ia berkata: Telah menceritakan
kepadaku Rasulullah Shallallahu 'alahi wa Salam, bahwa Allah Tabaaraka
wa Ta'ala pada hari kiamat akan turun kepada para hamba untuk memutuskan
di antara mereka dan masing-masing ummat berlutut. Orang pertama yang
dipanggil adalah orang hafal al-Qur`an, orang yang terbunuh di jalan
Allah dan orang yang banyak hartanya lalu Allah berkata kepada penghafal
al-Qur`an: Bukankah Aku mengajarimu sesuatu yang Aku turunkan pada
rasulKu? Ia menjawab: Benar, wahai Rabb. Allah bertanya: Apa yang kau
amalkan dari ilmu yang diajarkan padamu? Ia menjawab: Dengannya, dulu
aku bangun shalat di malam hari dan di siang hari. Allah berfirman
padanya: Kau dusta. Para malaikat berkata padanya: Kau dusta. Allah
berfirman: Tapi kau ingin memperoleh pujian bahwa si fulan ahli baca
al-Qur`an dan memang telah kau peroleh ujian itu. Setelah itu pemilik
harta didatangkan lalu Allah bertanya kepadanya: Bukankah Aku
melapangkan rizkimu hingga Aku tidak membiarkanmu memerlukan kepada
siapa pun? Orang itu menjawab: Benar, wahai Rabb. Allah bertanya: Lalu
apa yang kau lakukan dengan apa yang Aku berikan padamu? Ia menjawab:
Aku menyambung silaturrahim dan bersedekah. Allah berfirman padanya: Kau
dusta. para malaikat berkata padanya: Kau dusta. Allah berfirman: Tapi
kau ingin peroleh gelar bahwa si fulan dermawan dan memang telah kau
peroleh gelar itu. Kemudian orang yang terbunuh di jalan Allah
didatangkan, Allah bertanya kepadanya: Karena apa kau terbunuh? Ia
menjawab: Aku diperintahkan berjihad di jalanMu lalu aku berperang
hingga aku terbunuh. Allah berfirman padanya: Kau dusta. para malaikat
berkata padanya: Kau dusta. Allah berfirman: Tapi kau ingin peroleh
gelar si fulan pemberani dan menag telah kau peroleh gelar itu." Setelah
itu Rasulullah Shallallahu 'alahi wa Salam memukul lututku dan
bersabda: "Hai Abu Hurairah, ketiga orang itulah makhluk Allah
pertama-tama yang neraka dinyalakan karena mereka pada hari kiamat."
Berkata Al Walid Abu 'Utsman: telah mengkhabarkan kepadaku 'Uqbah bin
Muslim bahwa Syufaiya dialah yang menemui Mu'awiyah lalu memberitahukan
hadits ini padanya. Berkata [Abu 'Utsman]: telah menceritakan kepadaku
[Al 'Alla` bin Abu Hakim] ia adalah algojo Mu'awiyah, ia memasuki
kediamannya, ia bersama seseorang lalu ia memberitahukan hadits dari Abu
Hurairah ini padanya lalu Mu'awiyah berkata: Mereka diperlakukan
seperti itu lalu bagaimana sekiranya dengan semua orang? Mu'awiyah
menangis dengan keras hingga kami mengira ia meninggal. Kami berkata:
Orang ini datang membawa keburukan. Setelah itu Mu'awiyah sadar dan
membeslah wajahnya, ia berkata: Maha Benar Allah dan rasulNya:
"Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya
kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan
sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah
orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan
lenyaplah di akhirat itu apa yang Telah mereka usahakan di dunia dan
sia-sialah apa yang Telah mereka kerjakan." (Huud: 15-16) Berkata Abu
Isa: Hadits ini hasan gharib. (HR Tirmidzi 2304)
MACAM-MACAM RIYA'
1. Riya' yang berasal dari badan, seperti memperlihatkan bentuk tubuh
yang kurus dan pucat agar tampak telah berusaha sedemikian rupa dalam
beribadah dan takut pada akhirat. Atau memperlihatkan rambut yang
acak-acakkan (kusut) agar dianggap terlalu sibuk dalam urusan agama
sehingga merapikan rambutnya pun tidak sempat., atau dengan
memperlihatkan suara yang parau, mata cekung (sayu) dan bibir kering
agar dianggap terus-menerus berpuasa. Riya' semacam ini sering dilakukan
oleh para ahli ibadah. Adapun orang-orang yang sibuk dengan urusan
dunia, maka riya' mereka dengan memperlihatkan badan yang gemuk,
penampilan yang bersih, wajah yang ganteng dan rambut yang kelimis.
2. Riya' yang berasal dari pakaian dan gaya, seperti menundukkan kepala
ketika berjalan, sengaja membiarkan bekas sujud di wajah, memakai
pakaian tebal, mengenakan kain wol, menggulung lengan baju dan
memendekkannya serta sengaja berpakaian lusuh (agar dianggap ahli
ibadah). Atau dengan mengenakan pakaian tambalan, berwarna biru, meniru
orang-orang thariqat shufiyyah padahal batinnya kosong (dari
keikhlasan). Atau mengenakan tutup kepala di atas sorban supaya orang
melihat adanya perbedaan dengan kebiasaan yang ada.
Orang-orang yang melakukan riya' dalam hal ini, ada beberapa tingkatan.
Di antara mereka ada yang yang mengharap kedudukan di kalangan orang
yang baik dengan menampakkan kezuhudan dengan pakaian yang lusuh. Jika
dia berpakaian sederhana, namun bersih seperti kebiasaan Salafush
Shalih, maka ia merasa seperti hewan korban yang siap disembelih karena
dia takut akan dikomentari sebagai “biasanya ia menampakkan kezuhudan,
tapi rupanya sudah berbalik dari jalan itu”. Sedangkan riya' para pemuja
dunia ialah dengan pakaian yang mahal, kendaraan yang bagus dan perabot
rumah yang mewah.
3. Riya' dengan perkataan, seperti dalam hal memberi nasihat,
peringatan, menghapal kisah-kisah terdahulu dan atsar dengan maksud
untuk berdebat atau memperlihatkan kedalaman ilmunya dan perhatiannya
terhadap keadaan para salaf. Atau dengan menggerakkan bibir dengan
dzikir di hadapan orang banyak, memperlihatkan amarah saat kemungkaran
di hadapan orang banyak, membaca al Qur`an dengan suara perlahan dan
memperindahnya untuk menunjukkan rasa takut dan kesedihan, atau yang
seperti itu. Wallahu a'lam. Sedangkan riya' para pemuja dunia adalah
dengan menghapalkan syair-syair atau pepatah dan berpura-pura fasih
dalam perkataan.
4. Riya' dengan perbuatan, seperti riya' yang dilakukan orang yang
shalat dengan memanjangkan bacaan saat berdiri, memanjangkan ruku' dan
sujud atau menampakkan kekhusyuan atau yang lainnya. Begitu pula dalam
hal puasa, haji, shadaqah dan lain-lain. Sedangkan riya' para pemuja
dunia ialah dengan berjalan penuh lagak dan gaya, angkuh, congkak,
menggerak-gerakkan tangan, melangkah perlahan-lahan, menjulurkan ujung
pakaian; semuanya dimaksudkan untuk menunjukkan penampilan dirinya.
5. Riya' dengan teman atau orang-orang yang berkunjung kepadanya,
seperti seseorang memaksakan dirinya supaya dikunjungi oleh ulama atau
ahli ibadah ke rumahnya, agar dikatakan “si fulan telah dikunjungi ulama
dan banyak ulama yang sering datang ke rumahnya”. Ada juga orang yang
berlaku riya' dengan banyak syaikh atau gurunya, agar orang berkomentar
tentang dirinya “dia sudah bertemu dengan sekian banyak syaikh dan
menimba ilmu dari mereka”. Dia berbuat seperti itu untuk membanggakan
diri. Begitulah yang biasa dilakukan orang-orang yang berlaku riya'
untuk mencari ketenaran, kehormatan dan kedudukan di hati manusia.
Kita memohon keselamatan kepada Allah dari semua macam riya' ini. Ya,
Allah. Janganlah Engkau sesatkan hati kami setelah Engkau memberi
petunjuk kepada kami, dan jauhkanlah diri kami dan amal kami dari riya'.
Amin.
BEBERAPA PERKARA YANG BUKAN TERMASUK RIYA’
1. Seseorang yang beramal dengan ikhlas, namun mendapatkan pujian dari manusia tanpa ia kehendaki.
Diriwayatkan oleh Al Imam Muslim dari shahabat Abu Dzar, bahwa ada
seorang shahabat bertanya kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam :
“Apa pendapatmu tentang seseorang yang beramal (secara ikhlas) dengan
amal kebaikan yang kemudian manusia memujinya?” Maka Rasulullah
shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab: “Itu adalah kabar gembira yang
disegerakan bagi seorang mukmin”.
2. Seseorang yang memperindah penampilan karena keindahan Islam.
Diriwayatkan oleh Al Imam Muslim dari shahabat Ibnu Mas’ud, bahwa
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda: “Tidaklah masuk
Al Jannah seseorang yang di dalam hatinya ada seberat dzarrah (setitik)
dari kesombongan.” Berkata seseorang: “(Bagaimana jika) seseorang
menyukai untuk memperindah pakaian dan sandal yang ia kenakan? Seraya
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab: “Sesungguhnya Allah
subhanahu wata’ala itu indah dan menyukai keindahan, kesombongan itu
adalah menolak kebenaran dan merendahkan orang lain”.
3. Beramal karena memberikan teladan bagi orang lain.
Hal ini sering dilakukan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam.
Seperti Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam shalat diatas mimbar
bertujuan supaya para shahabat bisa mencontohnya. Demikian pula seorang
pendidik, hendaknya dia memberikan dan menampakkan suri tauladan atau
figur yang baik agar dapat diteladani oleh anak didiknya. Ini bukanlah
bagian dari riya’, bahkan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam
bersabda:
مَنْ سَنَّ فِي الإِْسْلاَمِ سُنَّةً حَسَنَةً فَعُمِلَ بِهَا بَعْدَهُ
كُتِبَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِ مَنْ عَمِلَ بِهَا وَلاَ يَنْقُصُ مِنْ
أُجُورِهِمْ شَيْءٌ
“Barangsiapa yang memberikan teladan yang baik dalam Islam, kemudian ada
yang mengamalkannya, maka dicatat baginya kebaikan seperti orang yang
mengamalkannya tanpa mengurangi sedikitpun dari kebaikannya.” (HR.
Muslim no. 1017)
4. Bukan termasuk riya’ pula bila ia semangat beramal ketika berada
ditengah orang-orang yang lagi semangat beramal. Karena ia merasa
terpacu dan terdorong untuk beramal shalih. Namun hendaknya orang ini
selalu mewaspadai niat dalam hatinya dan berusaha untuk selalu semangat
beramal meskipun tidak ada orang yang mendorongnya.
Semoga risalah ini mendorong kita untuk memperbanyak ibadah dan selalu
waspada dari bahaya perbuatan riya’. Amin ya Rabbal ‘alamin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar