Dalam pengamalan, seorang Muslim tidak boleh membeda-bedakan antara
al-Qur’an dan sunnah. Orang yang membeda-bedakan antara al-Qur’an dan
Sunnah dalam hal pengamalannya, sesungguhnya ia telah membeda-bedakan
pula antara taat kepada Allah Azza wa Jalla dan taat kepada Rosul-Nya.
Ini adalah sikap yang dianggap menyelisihi al-Qur’an itu sendiri,
berdasarkan firman Allah Azza wa Jalla.
إِنَّ الَّذِينَ يَكْفُرُونَ بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ وَيُرِيدُونَ أَنْ
يُفَرِّقُوا بَيْنَ اللَّهِ وَرُسُلِهِ وَيَقُولُونَ نُؤْمِنُ بِبَعْضٍ
وَنَكْفُرُ بِبَعْضٍ وَيُرِيدُونَ أَنْ يَتَّخِذُوا بَيْنَ ذَٰلِكَ
سَبِيلًا أُولَٰئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ حَقًّا ۚ وَأَعْتَدْنَا
لِلْكَافِرِينَ عَذَابًا مُهِينًا
”Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada Allah dan rasul-rasul-Nya,
dan bermaksud memperbedakan antara (keimanan kepada) Allah dan
rasul-rasul-Nya, dengan mengatakan: "Kami beriman kepada yang sebahagian
dan kami kafir terhadap sebahagian (yang lain)", serta bermaksud
(dengan perkataan itu) mengambil jalan (tengah) di antara yang demikian
(iman atau kafir), merekalah orang-orang yang kafir sebenar-benarnya.
Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir itu siksaan yang
menghinakan”. [an-Nisâ/4/150-151]
Sebagian orang di masa sekarang ada yang meremehkan orang-orang yang
mempelajari dan mengamalkan al-Qur’an dalam berakidah, beribadah,
bermu'alah dan berakhlak. Apalagi yang mengajak untuk menjalankan
al-Qur’an dalam segala aspekkehidupan. Mereka dianggap sebagai kaum
terbelakang dan anti moderenisme. Mereka diejek dengan berbagai
tuduhan-tuduhan dusta. Sebaliknya, orang-orang yang merusak ajaran
al-Qur’an justru disanjung dan dipuji. Bahkan sebahagian mereka berani
mengatakan bahwa sebab keterbelakangan adalah akibat menjalankan
al-Qur’an. Mereka menganggap teori-teori mereka jauh lebih jitu dan
lebih hebat daripada al-Qur’an. Demi Allah Azza wa Jalla , sesungguhnya
ini adalah suatu kekufuran dan kebohongan yang nyata terhadap al-Qur’an.
Hal ini tidak beda dengan sikap kaum kafir, mereka sudah merasa cukup
dengan ilmu pengetahuan yang ada pada mereka. Mereka tidak merasa perlu
lagi dengan ilmu pengetahuan yang diajarkan oleh rosul-rosul. Justru,
mereka memandang enteng dan memperolok-olok keterangan yang dibawa
rosul-rosul itu. Allah Azza wa Jalla berfirman :
فَلَمَّا جَاءَتْهُمْ رُسُلُهُمْ بِالْبَيِّنَاتِ فَرِحُوا بِمَا
عِنْدَهُمْ مِنَ الْعِلْمِ وَحَاقَ بِهِمْ مَا كَانُوا بِهِ
يَسْتَهْزِئُونَ
Maka tatkala datang kepada mereka rosul-rosul (yang diutus kepada)
mereka dengan membawa keterangan-keterangan, mereka merasa senang dengan
pengetahuan yang ada pada mereka dan mereka dikepung oleh azab Allah
yang senantiasa mereka perolok-olokkan [al-Mukmin/40:83].
Firman Allah Azza wa Jalla :
فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ
بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ
وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
Maka demi rabbmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka
menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan,
kemudian mereka tidak merasakan dalam hati mereka sesuatu keberatan
terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan
sepenuhnya.[an-Nisâ`/4:65].
Dalam segala hal yang kita berbeda pandangan baik secara akidah
maupunibadah dan seterusnya; maka kita wajib mengembalikannya kepada
al-Qur’an dan sunnah berdasarkan firman Allah Azza wa Jalla :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ
وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ ۖ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ
إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ
وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا
Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rosul-Nya, dan
ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang
sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (al Qur`an) dan Rosul
(sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari
kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik
akibatnya. [an-Nisâ`/4:59].
قاَلَ الشَّافِعِيُّ : «كُلُّ مُتَكَلِّمٍ عَلَى اْلكِتاَبِ وَالسُّنَّةِ
فَهُوَ الْحَدُّ الَّذِيْ يَجِبُ، وَكُلُّ مُتَكَلِّمٍ عَلىَ غَيْرِ أَصْلِ
كِتَابٍ وَلاَ سُنَّةٍ فَهُوَ هَذَيَانٌ» (أخرجه البيهقي في «مناقب الإمام
الشافعي(
Imam Syafi'i berkata: "Setiap orang yang berbicara berdasarkan al-Qur’an
dan Sunnah, maka (ucapan) itu adalah ketentuan yang wajib diikuti. Dan
setiap orang yang berbicara tidak berlandaskan kepada al-Qur’ân dan
Sunnah, maka (ucapannya) itu adalah kebingungan" ( Manaqib Asy Syafi'i":
470. ).
Allâh Subhanahu wa Ta’ala menciptakan makhluk dengan qudrah-Nya,
kemudian dengan anugerah-Nya, Allah Azza wa Jalla memberikan hidayah
kepada siapa yang dikehendaki-Nya; dan dengan keadilan-Nya, Allah Azza
wa Jalla menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya. Semua ini tertulis pada
lauhul mahfûdz. Allâh berfirman :
هُوَ الَّذِي خَلَقَكُمْ فَمِنْكُمْ كَافِرٌ وَمِنْكُمْ مُؤْمِنٌ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ
Dia-lah yang menciptakan kamu maka di antara kamu ada yang kafir dan di
antaramu ada yang mukmin. dan Allâh Maha melihat apa yang kamu
kerjakan.” [at-Taghâbun/64 : 2]
Allah Azza wa Jalla telah menjelaskan jalan orang-orang yang mendapatkan
kebahagiaan serta orang-orang yang celaka. Allah Azza wa Jalla memuji
para hamba yang bertakwa dan mencela orang-orang kafir. Allah Azza wa
Jalla juga mengingatkan para hamba-Nya agar tidak latah meniru
sifat-sifat orang kafir. Dalam al-Qur’ân banyak penjelasan tentang
perbuatan dan keyakinan rusak orang-orang kafir serta perangai dan
sifat-sifat mereka yang buruk. Diantaranya, mengingkari hari kebangkitan
dan menganggapnya mustahil, tidak beriman kepada takdir, mengeluh dan
berkeluh kesah ketika tertimpa musibah, tidak punya harapan kepada Allah
Azza wa Jalla , dusta, sombong, berpaling dari ayat-ayat-Nya, hati
mereka penuh hasad (rasa iri) terhadap kaum Mukminin yang telah
mendapatkan nikmat iman dan mereka berharap nikmat iman itu sirna dari
kaum Muslimin. Hasad inilah yang mendorong mereka berusaha menyesatkan
orang beriman. Allah Azza wa Jalla berfirman :
وَدُّوا لَوْ تَكْفُرُونَ كَمَا كَفَرُوا فَتَكُونُونَ سَوَاءً
Mereka ingin supaya kamu menjadi kafir sebagaimana mereka telah menjadi
kafir, lalu kamu menjadi sama (dengan mereka).[an-Nisâ/4:89]
Tak henti-hentinya, orang-orang kafir membuat makar dan menipu kaum
Muslimin, berusaha mencelakakan dan merampas kenikmatan dari kaum
Muslimin. Mereka berpura-pura amanah, berprilaku dan berperangai terpuji
supaya bisa mengambil manfaat dibalik semua ini. Namun, Allah Azza wa
Jalla membongkar kedok mereka. Allah Azza wa Jalla berfirman,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا بِطَانَةً مِنْ دُونِكُمْ
لَا يَأْلُونَكُمْ خَبَالًا وَدُّوا مَا عَنِتُّمْ قَدْ بَدَتِ
الْبَغْضَاءُ مِنْ أَفْوَاهِهِمْ وَمَا تُخْفِي صُدُورُهُمْ أَكْبَرُ ۚ
قَدْ بَيَّنَّا لَكُمُ الْآيَاتِ
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil orang-orang yang di
luar kalanganmu menjadi teman kepercayaanmu (karena) mereka tidak
henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. mereka menyukai apa
yang menyusahkan kamu. telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa
yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi.” [Ali
Imrân/3:118)]
Membungkus kedustaan dengan kejujuran, khianat dengan amanah, sering
membela kebatilan dan menyembunyikan kebenaran. Meski tipu daya mereka
terhadap kaum Muslimin sangat luar biasa, namun Allah Azza wa Jalla
tidak akan tinggal diam. Allah Azza wa Jalla pasti akan menghancur
leburkan tipu daya mereka serta akan merendahkan dan menghinakan mereka.
Allah melarang rasul-Nya mentaati orang-orang kafir. Allah Azza wa Jalla berfirman :
يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ اتَّقِ اللَّهَ وَلَا تُطِعِ الْكَافِرِينَ وَالْمُنَافِقِينَ
Hai Nabi, bertakwalah kepada Allâh dan janganlah kamu menuruti
(keinginan) orang-orang kafir dan orang-orang munafik. [al-Ahzâb/33:1]
Gambaran Sifat Orang Munafik
Alloh Subhanahu Wata'ala Berfirman;
{أَوْ كَصَيِّبٍ مِنَ السَّمَاءِ فِيهِ ظُلُمَاتٌ وَرَعْدٌ وَبَرْقٌ
يَجْعَلُونَ أَصَابِعَهُمْ فِي آذَانِهِمْ مِنَ الصَّوَاعِقِ حَذَرَ
الْمَوْتِ وَاللَّهُ مُحِيطٌ بِالْكَافِرِينَ (19) يَكَادُ الْبَرْقُ
يَخْطَفُ أَبْصَارَهُمْ كُلَّمَا أَضَاءَ لَهُمْ مَشَوْا فِيهِ وَإِذَا
أَظْلَمَ عَلَيْهِمْ قَامُوا وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَذَهَبَ بِسَمْعِهِمْ
وَأَبْصَارِهِمْ إِنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ (20)
Atau seperti (orang-orang yang ditimpa) hujan lebat dari langit disertai
gelap gulita, guruh, dan kilat; mereka menyumbat telinganya dengan anak
jarinya, karena (mendengar suara) petir, sebab takut akan mati. Dan
Allah meliputi orang-orang yang kafir. Hampir-hampir kilat itu menyambar
penglihatan mereka. Setiap kali kilat itu menyinari mereka, mereka
berjalan di bawah sinar itu; dan bila gelap menimpa mereka, mereka
berhenti. Jikalau Allah menghendaki, niscaya Dia melenyapkan pendengaran
dan penglihatan mereka. Sesungguhnya Allah berkuasa atas segala
sesuatu.(Al-Baqarah ayat 19-20)
Ayat ini merupakan perumpamaan lain yang dibuat oleh Allah Swt. yang
menggambarkan keadaan orang-orang munafik. Mereka adalah kaum yang
lahiriahnya kadangkala menampakkan Islam, dan kadangkala di lain waktu
mereka ragu terhadapnya. Hati mereka yang berada dalam keraguan,
kekufuran, dan kebimbangan itu diserupakan dengan sayyib; makna sayyib
ialah hujan. Demikianlah menurut Ibnu Mas'ud, Ibnu Abbas, dan sejumlah
sahabat; juga menurut Abu Aliyah, Mu-jahid, Sa'id ibnu Jubair, Ata,
Al-Hasan Al-Basri, Qatadah, Atiyyah, Al-Aufi, Ata Al-Khurrasani,
As-Saddi, dan Ar-Rabi' ibnu Anas.
Menurut Ad-Dahhak, makna sayyibun adalah awan.
Tetapi menurut pendapat yang terkenal, artinya hujan yang turun dari
langit. Dalam keadaan gelap gulita maksudnya keraguan, kekufuran, dan
kemunafikan; sedangkan maksud dari suara guruh ialah rasa takut yang
mencekam hati, mengingat orang munafik itu selalu berada dalam ketakutan
yang sangat dan rasa ngeri, sebagaimana yang dinyatakan di dalam firman
Lainnya, yaitu:
يَحْسَبُونَ كُلَّ صَيْحَةٍ عَلَيْهِمْ
Mereka mengira bahwa tiap-tiap teriakan yang keras ditujukan kepada mereka. (Al-Munafiqun: 4)
{وَيَحْلِفُونَ بِاللَّهِ إِنَّهُمْ لَمِنْكُمْ وَمَا هُمْ مِنْكُمْ
وَلَكِنَّهُمْ قَوْمٌ يَفْرَقُونَ * لَوْ يَجِدُونَ مَلْجَأً أَوْ
مَغَارَاتٍ أَوْ مُدَّخَلا لَوَلَّوْا إِلَيْهِ وَهُمْ يَجْمَحُونَ}
Dan mereka (orang-orang munafik) bersumpah dengan (nama) Allah, bahwa
sesungguhnya mereka termasuk golongan kalian; padahal mereka bukanlah
dari golongan kalian, tetapi mereka adalah orang-orang yang sangat takut
(kepada kalian). Jikalau mereka memperoleh tempat perlindungan atau
gua-gua atau lubang-lubang (dalam tanah), niscaya mereka pergi kepadanya
dengan secepat-cepatnya. (At-Taubah: 56-57)
Al-barqu artinya kilat, sedangkan yang dimaksud ialah suatu hal yang
berkilat di dalam hati golongan orang-orang munafik sebagai pertanda
cahaya iman, hanya dalam waktu sebentar dan sekali-kali. Karena itu,
Allah Swt. berfirman dalam ayat selanjutnya:
{يَجْعَلُونَ أَصَابِعَهُمْ فِي آذَانِهِمْ مِنَ الصَّوَاعِقِ حَذَرَ الْمَوْتِ وَاللَّهُ مُحِيطٌ بِالْكَافِرِينَ}
mereka menyumbat telinganya dengan anak jarinya, karena (mendengar
suara) petir, sebab takut akan mati. Dan Allah meliputi orang-orang yang
kafir. (Al-Baqarah: 19)
Dengan kata lain, tiada gunanya sama sekali sikap waspada mereka, karena
Allah dengan kekuasaan-Nya Maha Meliputi; mereka berada di bawah
kehendak dan kekuasaan-Nya, sebagaimana yang dikatakan di dalam
firman-Nya:
{هَلْ أَتَاكَ حَدِيثُ الْجُنُودِ * فِرْعَوْنَ وَثَمُودَ * بَلِ الَّذِينَ
كَفَرُوا فِي تَكْذِيبٍ * وَاللَّهُ مِنْ وَرَائِهِمْ مُحِيطٌ}
Sudahkah datang kepadamu berita kaum-kaum penentang, (yakni kaum)
Fir'aun dan (kaum) Sarnud? Sesungguhnya orang-orang kafir selalu
mendustakan, padahal Allah mengepung mereka dari belakang mereka.
(Al-Buruj: 17-20)
Kemudian dalam firman selanjutnya disebutkan, "Hampir-hampir kilat itu
menyambar penglihatan mereka." Dikatakan demikian karena sifat cahaya
kilat tersebut kuat dan keras, sedangkan pandangan mata mereka
(orang-orang munafik) lemah, dan hati mereka tidak mantap keimanannya.
Ali ibnu Abu Talhah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan
firman-Nya, "Yakadul barqu yakhtafu absarahum" artinya "hampir-hampir
ayat-ayat muhkam Al-Qur'an membuka kedok orang-orang munafik".
Ibnu Ishaq mengatakan, telah menceritakan kepadaku Muhammad ibnu Abu
Muhammad, dari Ikrimah atau Sa'id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas
sehubungan dengan firman-Nya,"Hampir-hampir kilat itu menyambar
penglihatan mereka." Dikatakan demikian karena kuatnya cahaya
kebenaran.”Setiap kali kilat itu menyinari mereka, mereka berjalan di
bawah sinar itu; bila gelap gulita menimpa mereka, mereka berhenti."
Manakala muncul seberkas cahaya iman di dalam diri mereka, lalu mereka
merasa kangen dan mengikutinya, tetapi di lain waktu muncul keraguan
yang membuat hati mereka gelap dan berhenti dalam keadaan kebingungan.
Ali ibnu Abu Talhah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna
firman-Nya, "Kullama ada-a lahum masyau fihi," artinya "manakala
orang-orang munafik itu beroleh manfaat dari kejayaan Islam, mereka
merasa tenang; tetapi bila Islam tertimpa cobaan, mereka bangkit kembali
kepada kekufuran", sebagaimana pengertian yang terkandung di dalam
firman Allah Swt.:
{وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَعْبُدُ اللَّهَ عَلَى حَرْفٍ فَإِنْ أَصَابَهُ خَيْرٌ اطْمَأَنَّ بِهِ [وَإِنْ أَصَابَتْهُ فِتْنَةٌ] }
Dan di antara manusia ada orang yang menyembah Allah dengan berada di
tepi; maka jika ia memperoleh kebajikan, tetaplah ia dalam keadaan itu;
dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana berbaliklah ia ke belakang.
(Al-Hajj: 11)
Muhammad ibnu Ishaq meriwayatkan dari Muhammad ibnu Abu Muhammad, dari
Ikrimah atau Sa'id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas mengenai firman-Nya,
"Kullama ada-a lahum masyau fihi, wa iza azla-ma 'alaihim qamu" artinya
"manakala mereka mengetahui perkara yang hak dan membicarakannya, hal
ini dimengerti melalui percakapan mereka berada dalam jalan yang lurus.
Tetapi manakala mereka berbalik dari iman menjadi kafir, mereka
berhenti, maksudnya kebingungan. Demikianlah takwil Abul Aliyah,
Al-Hasan Al-Basri, Qatadah, Ar-Rabi' ibnu Anas, dan As-Saddu berikut
sanadnya, dari sejumlah sahabat. Pendapat inilah yang paling sahih dan
paling kuat.
Demikianlah keadaan orang-orang munafik kelak di hari kiamat, yaitu di
saat manusia diberi nur sesuai dengan kadar keimanan masing-masing. Di
antara mereka ada orang yang diberi nur yang dapat menerangi perjalanan
yang jaraknya berpos-pos buatnya, bahkan lebih dari itu atau kurang dari
itu. Di antara mereka ada yang nur-nya kadangkala padam dan kadangkala
bercahaya. Di antara mereka ada yang dapat berjalan di atas sirat di
suatu waktu, sedangkan di waktu lainnya dia berhenti. Di antara mereka
ada yang nur-nya padam (tidak menyala) sama sekali, mereka adalah
orang-orang munafik militan yang digambarkan oleh firman-Nya:
{يَوْمَ يَقُولُ الْمُنَافِقُونَ وَالْمُنَافِقَاتُ لِلَّذِينَ آمَنُوا
انْظُرُونَا نَقْتَبِسْ مِنْ نُورِكُمْ قِيلَ ارْجِعُوا وَرَاءَكُمْ
فَالْتَمِسُوا نُورًا}
Pada hari ketika orang-orang munafik laki-laki dan perempuan berkata
kepada orang-orang yang beriman, "Tunggulah kami supaya kami dapat
mengambil sebagian cahaya kalian." Dikatakan (kepada mereka),
"Kembalilah kalian ke belakang dan carilah sendiri cahaya (untuk
kalian)." (Al-Hadid: 13)
Sehubungan dengan orang-orang mukmin di hari kiamat nanti, Allah Swt. menceritakan perihal mereka melalui firman-Nya:
{يَوْمَ تَرَى الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ يَسْعَى نُورُهُمْ بَيْنَ
أَيْدِيهِمْ وَبِأَيْمَانِهِمْ بُشْرَاكُمُ الْيَوْمَ جَنَّاتٌ}
Pada hari ketika kamu melihat orang mukmin laki-laki dan perempuan,
sedangkan cahaya mereka bersinar di hadapan dan di sebelah kanan mereka,
(dikatakan kepada mereka), "Pada hari ini ada berita gembira untuk
kalian, (yaitu) surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai."
(Al-Hadid: 12)
Dalam firman lainnya Allah Swt. mengatakan:
{يَوْمَ لَا يُخْزِي اللَّهُ النَّبِيَّ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ
نُورُهُمْ يَسْعَى بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَبِأَيْمَانِهِمْ يَقُولُونَ
رَبَّنَا أَتْمِمْ لَنَا نُورَنَا وَاغْفِرْ لَنَا إِنَّكَ عَلَى كُلِّ
شَيْءٍ قَدِيرٌ}
Pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang yang
beriman bersama dia; sedangkan cahaya mereka memancar di hadapan dan di
sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan, "Ya Tuhan kami,
sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami; sesungguhnya
Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu. (At-Tahrim: 8)
Sa'id ibnu Abu Arubah meriwayatkan dari Qatadah sehubungan dengan firman-Nya:
{يَوْمَ تَرَى الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ}
Pada hari ketika kamu melihat orang mukmin laki-laki dan perempuan, hingga akhir ayat. (Al-Hadid: 12)
Disebutkan bahwa Nabi Saw. pernah bersabda:
"مِنَ الْمُؤْمِنِينَ مَنْ يُضِيءُ نُورُهُ مِنَ الْمَدِينَةِ إِلَى
عَدَنَ، أَوْ بَيْنَ صَنْعَاءَ وَدُونَ ذَلِكَ، حَتَّى إِنَّ مِنَ
الْمُؤْمِنِينَ مَنْ لَا يُضِيءُ نُورُهُ إِلَّا مَوْضِعَ قَدَمَيْهِ"
Di antara orang-orang mukmin ada yang cahayanya dapat menyinari sejauh
antara Madinah sampai 'Adn yang lebih jauh dari San'a, dan ada pula yang
kurang dari itu, hingga sesungguhnya di antara orang-orang mukmin ada
yang cahayanya hanya dapat menyinari tempat kedua telapak kakinya saja.
Hadis riwayat Ibnu Jarir, diriwayatkan pula oleh Ibnu Abu Hatim melalui
hadis Imran ibnu Daud Al-Qattan, dari Qatadah hadis yang semisal.
Hadis ini sama dengan apa yang dikatakan oleh Al-Minhal ibnu Amr, dari
Qais ibnus Sakan, dari Abdullah ibnu Mas'ud yang me-ngatakan bahwa
kepada mereka diberikan cahaya yang sesuai dengan amal perbuatan
masing-masing; di antara mereka ada yang diberi cahaya seperti pohon
kurma, ada yang seperti seorang lelaki berdiri, se-dangkan yang paling
kecil cahayanya di antara mereka ialah sebesar ibu jari, terkadang padam
dan terkadang menyala. Begitu pula menurut riwayat Ibnu Jarir, dari
Ibnu Musanna, dari Ibnu Idris, dari ayahnya, dari Al-Minhal.
Ibnu Abu Hatim meriwayatkan, telah menceritakan kepada kami ayahku,
telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ali ibnu Muhammad
At-Tanafisi, telah menceritakan kepada kami Ibnu Idris yang pernah
mendengar dari ayahnya yang menceritakan dari Al-Minhal ibnu Amr, dari
Qais ibnus Sakan, dari Abdullah ibnu Mas'ud sehubungan dengan makna
firmannya: sedangkan cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah
kanan mereka. (At-Tahrim: 8) Yakni sesuai dengan kadar amal perbuatan
masing-masing. Mereka melewati sirat, di antara mereka ada yang
cahayanya semisal gunung, ada pula yang seperti pohon kurma, dan orang
yang paling kecil cahayanya di antara mereka ialah yang sebesar ibu
jarinya, adakalanya bercahaya dan adakalanya padam.
Ibnu Abu Hatim meriwayatkan, telah menceritakan kepada kami Muhammad
ibnu Ismail Al-Ahmasi, telah menceritakan kepada kami Abu Yahya
Al-Hammani, telah menceritakan kepada kami Uqbah ib-nul Yaqzan, dari
Ikrimah, dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa tiada seorang pun dari
kalangan ahli tauhid melainkan diberi cahaya di hari kiamat kelak. Orang
munafik cahayanya padam, orang muk-min merasa kasihan melihat
orang-orang munafik padam cahayanya, lalu orang-orang mukmin berkata,
"Wahai Tuhan kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami."
Ad-Dahhak ibnu Muzahim mengatakan, setiap orang yang menampakkan
keimanan di dunia kelak di hari kiamat akan diberi cahaya. Tetapi bila
sampai di sirat, maka padamlah cahaya orang-orang munafik. Ketika
orang-orang mukmin melihat hal itu, mereka merasa kasihan, lalu berkata,
"Wahai Tuhan kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami."
Berdasarkan pengertian ini, maka manusia itu terbagi menjadi beberapa macam:
Pertama, yang mukmin secara murni, yaitu mereka yang sifat-sifatnya disebut pada keempat ayat dari permulaan surat Al-Baqarah.
Kedua, orang-orang kafir murni, yaitu mereka yang sifat-sifatnya disebut dalam dua ayat berikutnya.
Ketika orang-orang munafik terbagi menjadi dua golongan, yaitu munafik
militan —yang dibuat perumpamaan api bagi mereka— dan orang-orang
munafik yang masih terombang-ambing dalam kemunafikannya.
Adakalanya tampak bagi mereka berkas sinar iman, dan terkadang sinar
iman padam dalam diri mereka; mereka adalah orang-orang yang diumpamakan
dengan air hujan. Golongan yang terakhir ini lebih ringan daripada
golongan sebelumnya.
Perumpamaan mengenai diri seorang mukmin ini ditinjau dari berbagai
segi, mirip dengan apa yang disebut di dalam surat An-Nur, yaitu tentang
apa yang dijadikan oleh Allah di dalam kalbunya berupa hidayah dan
cahaya. Hal ini diserupakan dengan pelita yang berada di dalam kaca,
sedangkan kaca tersebut seakan-akan bintang mutiara yang bercahaya
dengan sendirinya. Demikianlah keadaan kalbu orang mukmin yang dijadikan
secara fitrah beriman dan mendapat siraman dari syariah yang jernih
secara langsung menyentuhnya tanpa kekeruhan dan tanpa ada campuran,
sebagaimana yang akan dijelaskan nanti pada tempatnya, insya Allah.
Kemudian Allah membuat perumpamaan buat hamba-hamba yang kafir, yaitu
mereka yang menduga bahwa diri mereka beroleh suatu manfaat, padahal
tiada suatu manfaat pun yang mereka peroleh. Mereka adalah orang-orang
yang jahil murakkab, sebagaimana yang disebut di dalam firman-Nya:
{وَالَّذِينَ كَفَرُوا أَعْمَالُهُمْ كَسَرَابٍ بِقِيعَةٍ يَحْسَبُهُ الظَّمْآنُ مَاءً حَتَّى إِذَا جَاءَهُ لَمْ يَجِدْهُ شَيْئًا}
Dan orang-orang yang kafir amal-amal mereka adalah laksana fatamorgana
di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga,
tetapi bila didatanginya air itu dia tidak mendapatinya sesuatu apa pun.
(An-Nur. 39)
Kemudian Allah Swt. membuat perumpamaan bagi orang-orang kafir yang
kebodohannya tidak terlalu parah. Mereka adalah orang-orang yang disebut
di dalam firman-Nya:
{أَوْ كَظُلُمَاتٍ فِي بَحْرٍ لُجِّيٍّ يَغْشَاهُ مَوْجٌ مِنْ فَوْقِهِ
مَوْجٌ مِنْ فَوْقِهِ سَحَابٌ ظُلُمَاتٌ بَعْضُهَا فَوْقَ بَعْضٍ إِذَا
أَخْرَجَ يَدَهُ لَمْ يَكَدْ يَرَاهَا وَمَنْ لَمْ يَجْعَلِ اللَّهُ لَهُ
نُورًا فَمَا لَهُ مِنْ نُورٍ}
Atau seperti gelap gulita di lautan yang dalam, yang diliputi oleh
ombak, yang di atasnya ombak (pula), di atasnya (lagi) awan; gelap
gulita yang tindih-bertindih, apabila dia mengeluarkan tangannya,
tiadalah dia dapat melihatnya; (dan) barang siapa yang tiada diberi
cahaya (petunjuk) oleh Allah, tiadalah dia mempunyai cahaya sedikit pun.
(An-Nur: 40)
Berdasarkan hal ini orang-orang kafir pun terbagi menjadi dua bagian,
yaitu orang kafir militan dan orang kafir ikut-ikutan, sebagaimana
keduanya disebut di dalam permulaan surat Al-Hajj melalui firman-Nya:
{وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يُجَادِلُ فِي اللَّهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ وَيَتَّبِعُ كُلَّ شَيْطَانٍ مَرِيدٍ}
Di antara manusia ada orang yang membantah tentang Allah tanpa ilmu
pengetahuan dan mengikuti setiap setan yang sangat jahat. (Al-Hajj: 3)
{وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يُجَادِلُ فِي اللَّهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ وَلا هُدًى وَلا كِتَابٍ مُنِيرٍ}
Dan di antara manusia ada orang-orang yang membantah tentang Allah tanpa
ilmu pengetahuan, tanpa petunjuk, dan tanpa kitab (wahyu) yang
bercahaya. (Al-Hajj: 8)
Allah telah mengklasifikasikan orang-orang mukmin pada permulaan surat
Al-Waqi'ah dan bagian akhirnya, sedangkan di dalam surat Al-Insan mereka
terbagi menjadi dua bagian, yaitu orang-orang yang terdahulu mereka
adalah golongan orang-orang muqarrabin (dekat dengan Allah); dan
golongan as-habul yamin, yaitu orang-orang yang bertakwa.
Dari ayat-ayat di atas dapat disimpulkan bahwa orang-orang mukmin itu
terdiri atas dua golongan, yaitu orang-orang yang dekat dengan Allah dan
orang-orang yang bertakwa. Orang-orang kafir pun terbagi menjadi dua
golongan, yaitu orang-orang kafir militan dan orang-orang kafir muqallid
(ikut-ikutan). Orang-orang munafik pun terbagi menjadi dua golongan,
yaitu munafik militan dan munafik dari salah satu seginya saja,
sebagaimana yang disebut di dalam kitab Sahihain melalui Abdullah ibnu
Amr, bahwa Nabi Saw. pernah bersabda:
"ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ كَانَ مُنَافِقًا خَالِصًا، وَمَنْ كَانَتْ
فِيهِ وَاحِدَةٌ مِنْهُنَّ كَانَتْ فِيهِ خَصْلَةٌ مِنَ النِّفَاقِ حَتَّى
يَدَعها: مَنْ إِذَا حَدّث كَذَبَ، وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ، وَإِذَا
اؤْتُمِنَ خَانَ"
Ada tiga perkara, barang siapa menyandang ketiganya, maka dia adalah
orang munafik militan; dan barang siapa yang menyandang salah satunya,
maka di dalam dirinya terdapat suatu pekerti munafik hingga ia
meninggalkannya. Yaitu orang yang apabila berbicara berdusta, apabila
berjanji ingkar, dan apabila dipercaya khianat.
Berdasarkan hadis ini para ulama menyimpulkan bahwa di dalam diri
seseorang itu adakalanya terdapat suatu cabang dari iman dan suatu
cabang dari sifat munafik, yang dalam realisasinya adakalanya berupa
amali (perbuatan) berdasarkan hadis ini, atau berupa i'tiqadi
(keyakinan) berdasarkan apa yang telah ditunjukkan oleh ayat tadi.
Demikian pendapat segolongan ulama Salaf dan sejumlah ulama yang telah disebut di atas.
قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا أَبُو النَّضْرِ، حَدَّثَنَا أَبُو
مُعَاوِيَةَ يَعْنِي شَيْبَانَ، عَنْ لَيْثٍ، عَنْ عَمْرِو بْنِ مُرَّةَ،
عَنْ أَبِي الْبَخْتَرِيِّ، عَنْ أَبِي سَعِيدٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ
اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "الْقُلُوبُ أَرْبَعَةٌ:
قَلْبٌ أَجْرَدُ، فِيهِ مِثْلُ السِّرَاجِ يُزْهر، وَقَلْبٌ أَغْلَفُ
مَرْبُوطٌ عَلَى غِلَافِهِ، وَقَلْبٌ مَنْكُوسٌ، وَقَلْبٌ مُصَفَّح،
فَأَمَّا الْقَلْبُ الْأَجْرَدُ فَقَلْبُ الْمُؤْمِنِ، سِرَاجُهُ فِيهِ
نُورُهُ، وَأَمَّا الْقَلْبُ الْأَغْلَفُ فَقَلْبُ الْكَافِرِ، وَأَمَّا
الْقَلْبُ الْمَنْكُوسُ فَقَلْبُ الْمُنَافِقِ الْخَالِصِ، عَرَفَ ثُمَّ
أَنْكَرَ، وَأَمَّا الْقَلْبُ الْمُصَفَّحُ فَقَلْبٌ فِيهِ إِيمَانٌ
وَنِفَاقٌ، ومَثَل الْإِيمَانِ فِيهِ كَمَثَلِ الْبَقْلَةِ، يَمُدُّهَا
الْمَاءُ الطَّيِّبُ، وَمَثَلُ النِّفَاقِ فِيهِ كَمَثَلِ الْقُرْحَةِ
يَمُدّها الْقَيْحُ وَالدَّمُ، فَأَيُّ الْمَدَّتَيْنِ غَلَبَتْ عَلَى
الْأُخْرَى غَلَبَتْ عَلَيْهِ"
Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abun Nadr, telah
menceritakan kepada kami Abu Mu'awiyah (yakni Syaiban), dari Lais, dari
Amr ibnu Murrah, dari Abul Bukhturi, dari Abu Sa'id yang menceritakan
bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda:
Kalbu (manusia) itu ada empat macam, yaitu kalbu yang jernih, bagian
dalamnya seperti pelita yang bercahaya, kalbu yang terbungkus dalam
keadaan terikat oleh pembungkusnya, kalbu yang layu, dan kalbu yang
terlapisi. Adapun kalbu yang jernih ialah kalbu orang mukmin, sedangkan
pelita yang di dalam adalah cahayanya. Adapun kalbu yang terbungkus
ialah (perumpamaan) kalbu orang kafir, sedangkan kalbu yang layu ialah
kalbu orang munafik murni (militan); pada mulanya mengetahui (perkara
yang hak), kemudian mengingkarinya. Kalbu yang terlapisi ialah kalbu
yang di dalamnya terdapat iman dan kemunafikan. Perumpamaan iman di
dalam kalbu adalah seperti sayuran yang selalu diberi air yang baik,
sedangkan perumpamaan nifaq adalah seperti luka yang selalu mengeluarkan
nanah dan darah. Maka yang mana pun di antara kedua benda yang
diperumpamakan itu lebih kuat daripada yang lainnya, berarti ia dapat
mengalahkannya.
Hadis ini berpredikat jayyid lagi hasan.
Allah SWT telah berfirman:
{وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَذَهَبَ بِسَمْعِهِمْ وَأَبْصَارِهِمْ}
Jikalau Allah menghendaki, niscaya Dia melenyapkan pendengaran dan
penglihatan mereka. Sesungguhnya Allah berkuasa atas segala sesuatu.
(Al-Baqarah: 20)
Muhammad ibnu Ishaq mengatakan, telah menceritakan kepadaku Muhammad
ibnu Abu Muhammad, dari Ikrimah atau Sa'id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas
sehubungan dengan makna ayat ini, bahwa demikian itu terjadi setelah
mereka mengetahui perkara hak, lalu mereka meninggalkannya.
Innallaha 'ala kulli syaiin qadir, menurut Ibnu Abbas artinya 'bahwa
sesungguhnya Allah Mahakuasa terhadap semua hal yang di-kehendaki-Nya
atas hamba-hamba-Nya berupa pembalasan atau ampunan'.
Ibnu Jarir mengatakan, sesungguhnya Allah Swt. menyifati diri-Nya dengan
sifat Kuasa terhadap segala sesuatu dalam hal ini, karena Dia bertindak
memperingatkan terhadap orang-orang munafik akan azab dan siksanya.
Allah memberitakan kepada mereka bahwa Dia Maha Meliputi mereka dan
Mahakuasa untuk menghilangkan pendengaran dan penglihatan mereka. Makna
lafaz qadir adalah qadir, sama halnya dengan lafaz 'alim bermakna 'alim.
Ibnu Jarir dan orang-orang yang mengikutinya dari kebanyakan ahli tafsir
berpendapat bahwa kedua perumpamaan yang dibuat oleh Allah ini
menggambarkan keadaan suatu golongan dari orang-orang munafik. Dengan
demikian, berarti huruf au yang terdapat di dalam firman-Nya, "Au
kasayyibim minas sama," bermakna wawu. Perihalnya sama dengan yang
terdapat di dalam firman lainnya, yaitu:
{وَلا تُطِعْ مِنْهُمْ آثِمًا أَوْ كَفُورًا}
Dan janganlah kamu ikuti orang yang berdosa dan orang yang kafir di antara mereka. (Al-Insan: 24)
Atau huruf au ini bermakna takhyir (pilihan), dengan kata lain 'aku
buatkan perumpamaan ini bagi mereka atau jika kamu suka perumpamaan
lainnya'.
Imam Qurtubi mengatakan bahwa huruf au di sini menunjukkan makna tasawi
(persamaan atau pembanding), misalnya dikatakan: "Bergaullah kamu dengan
Al-Hasan atau Ibnu Sirin." Demikian yang dikemukakan oleh
Az-Zamakhsyari, yaitu masing-masing dari keduanya memiliki persamaan
dengan yang lain dalam hal boleh bergaul. Dengan demikian, berarti makna
ayat menunjukkan mana saja di antara perumpamaan ini atau yang lainnya
untuk menggambarkan mereka dinilai sesuai dengan keadaan mereka.
Menurut kami, perumpamaan ini dikemukakan berdasarkan jenis orang-orang
munafik, karena sesungguhnya mereka terdiri atas berbagai macam
tingkatan dan memiliki keadaan serta sifat masing-masing, sebagaimana
yang disebut di dalam surat Bara-ah (At-Taubah) dengan memakai ungkapan
waminhum (dan di antara mereka) secara berulang-ulang. Setiap kali
disebut lafaz waminhum, dijelaskan keadaan dan sifat-sifat mereka, ciri
khas perbuatan serta ucapan mereka. Maka menginterpretasikan kedua
perumpamaan ini buat dua golongan di antara mereka (orang-orang munaflk)
lebih tepat dan lebih sesuai dengan keadaan dan sifat-sifat mereka.
Allah Swt. telah membuat dua perumpamaan bagi dua jenis orang-orang
kafir —yaitu orang kafir militan dan orang kafir ikut-ikutan— melalui
firman-Nya di dalam surat An-Nur, yaitu:
{وَالَّذِينَ كَفَرُوا أَعْمَالُهُمْ كَسَرَابٍ بِقِيعَةٍ}
Dan orang-orang yang kafir amal-amal mereka adalah laksana fatamorgana di tanah yang datar. (An-Nur: 39)
{أَوْ كَظُلُمَاتٍ فِي بَحْرٍ لُجِّيٍّ يَغْشَاهُ مَوْجٌ}
Atau seperti gelap gulita di lautan yang dalam. (An-Nur: 40)
Perumpamaan yang pertama ditujukan untuk orang kafir militan, yaitu
mereka yang jahil murakkab (mereka tidak mengetahui bahwa dirinya tidak
tahu); sedangkan yang kedua ditujukan untuk orang kafir yang
kebodohannya tidak terlalu parah, yaitu mereka dari kalangan para
pengikut dan yang membebek kepada para pemimpinnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar